Friday, 31 May 2013

Tugas 2 - Biografi Nabila Radityanti XI IPS 3


Kakek Saelan, Dari Penjaga Gawang Hingga Penjaga Presiden 


  Untuk memenuhi tugas ini, awalnya saya mendapat kesulitan untuk mecari tokoh yang seumuran dengan kakek saya dan memiliki peran nasional. Karena, kedua kakeknya saya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu dan tidak ada lagi kenalan ayah atau ibu saya yang sempat untuk saya wawancarai. Menurut, kedua orang tua saya orang-orang kenalan mereka itu sulit diwawancara karena sibuk dan sering tidak ada di dalam kota. Lalu, ibu saya yang menyarankan saya untuk mewawancarai ketua yayasan sekolah saya dulu, Bapak Maulwi Saelan. Karena, menurut ibu saya peranan beliau sudah cukup jelas.

   Saya mendapat kesempatan untuk bertemu dengan Maulwi Saelan atau yang biasa saya sebut “Pak Saelan”, beliau merupakan kakek dari teman dekat saya sejak SD, Mulyazahra. Pak Saelan merupakan ketua dan pendiri Yayasan Al-Azhar Syifa Budi yang pusatnya berada di kawasan Kemang, Jakarta Selatan tempat saya menuntut ilmu pada saat tingkat sekolah dasar.

   Dari saya masih bersekolah disana, sampai baru-baru ini ketika saya bertemu beliau lagi setelah bertahun-tahun, beliau tidak banyak berubah. Baru-baru ini saya bertemu lagi dengan Pak Saelan di acara wisuda SMP adik saya di SMP Al-Azhar Syifabudi Jakarta. Pak Saelan yang saya ingat ketika saya masih duduk dibangku sekolah dasar dan Pak Saelan yang sekarang hampir tidak ada bedanya.

   Saya dan orang tua saya terlambat datang pada acara wisuda adik saya, dan kebetulan bertepatan dengan pidato dari Pak Saelan. Saya dan orang tua saya datang di tengah-tengah pidato Pak Saelan sebagai ketua yayasan. Dari waktu saya masih SD, beliau masih sama. Pidato beliau selalu diselingi dengan kata-kata yang tujuannya untuk membangun semangat perjuangan anak muda. Ya, beliau memang berperan dalam kemerdekaan Indonesia dan dekat dengan presiden RI pertama, Soekarno.

   Bapak Maulwi Saelan lahir di Makassar, 8 Agustus 1928. Tahun ini beliau akan berusia 85 tahun. Berikut bio data lengkap Bapak Maulwi Saelan.

Saya dan Pak Saelan

Maulwi Saelan,
Lahir di Makasar, 8 Agustus 1928
Ayah dari 6 anak.

Pendidikan :
Frater School Makassar, HBS Makassar, Tokubetsu Tjugako, SMA C Makassar, Physical Security, The Provost Marshal General’s School, Fort Gordon-USA

Karir :
Sebelum kemerdekaan sampai kemerdekaan RI sebagai Pemimpin harimau Indonesia dan Pimpinan laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi
1949-Letnan Satu Polisi Militer TNI AD, Yogyakarta
1949-Perwira POM Komisi Militer Teritorial Indonesia
1951-Komandan Detasemen CPM, Bandung
1952-Komandan detasemen CPM, Purwakarta
1953-Komandan Detasemen CPM Makassar
1954, Wakil Komandan Batalyon VII CPM, Makassar
1962-Komandan POMAD PARA
1962-Komandan POMAD TJADUAD/MANDAL/TRIKORA, Makassar
1962-Kepala Staf Resimen Tjakrabirawa, Jakarta
1963- Pangkat Kolonel, wakil Komandan Resimen Tjakrabirawa
1966- Ajudan Presiden RI Bung Karno

Lainnya :
Penjaga gawang;
Kapten kesebelasan nasional Indonesia (PSSI) pada Asian games di New Delhi, Tokyo, Olympic Games di Melbourne 1956, Juara Asia pra FIFA 1958;
Ketua PSSI 1964-1967;
Mengarang buku Sepakbola tahun 1970;
Buku “Dari Revolusi ’45 Sampai Kudeta ’66 : Kesaksian Wakil Komandan Tjakrabirawa” tahun 2002
Ketua Yayasan Al-Azhar Syifabudi

   Dari saat saya masih bersekolah di SDI Al-Azhar Syifabudi Jakarta dan menurut penuturan adik saya yang baru saja lulus dari SMP Al-Azhar Syifabudi dan merupakan murid Al-Azhar Syifabudi semenjak TK, semua tradisi yang biasanya ada di sekolah masih dilaksanakan sampai sekarang. Seperti, upacara bendera dimana beliau akan datang dan melaksanakan upacara bendera bersama dengan murid-murid di Al-Azhar Syifabudi Jakarta lalu, memberikan pidato yang tentunya ada hubungannya dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia serta sedikit cerita beliau tentang perjuangan dan perannya dalam meraih kemerdekaan bangsa ini. Biasanya pada upacara bendera 17 Agustus, beliau akan mengenakan pakaian TNI AD beliau beserta dengan tanda jasa-jasanya. Dan dari yang saya lihat dan ingat, tanda jasa beliau banyak sekali sampai hampir penuh menutupi baju beliau. Dulu, seluruh murid Al-Azhar Syifabudi Jakarta tetap masuk sekolah dan melaksanakan upacara bendera pada tanggal 17 Agustus yang kalau dikalender merupakan tanggal merah yang artinya libur nasional, baru nanti pada tanggal 18 Agustus siswa dan siswi Al-Azhar Syifabudi Jakarta di liburkan.

Awal masa perjuangan
  Seperti yang saya sudah ceritakan diatas, dapat disimpulkan bahwa nasionalisme Pak Saelan sangatlah tinggi. Latar belakang beliau sebagai veteran atau pejuang kemerdekaan Republik Indonesia tidak dapat dipungkiri lagi merupakan salah satu penyebab sangat berkobarnya rasa nasionalisme beliau di depan murid-muridnya atau generasi muda. Berikut ini adalah peranan-peranan nasional beliau.

   Pak Saelan merupakan putra dari Amin Saelan, yang merupakan pendiri organisasi Taman Siswa di Makassar dan seorang tokoh pejuang nasionalis. Beliau memilih untuk ikut berjuang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia pada umur kurang lebih sekitar 20 tahun. Sebelum itu, saat masih menjadi pelajar SMP Nasional, beliau dan pelajar-pelajar lainnya mengorganisir penyerbuan di Empress Hotel, yang saat itu berfungsi sebagai markas NICA. Beliau ditahan karena kejadian itu. Dari kejadian itu, disitulah beliau bertemu dengan Wolter Monginsidi yang kelak kemudian menjadi salah satu pemimpin perlawanan di Makassar. Pak Saelan bersama dengan Wolter Monginsidi membentuk laskar geriliya yang  diberi nama “Harimau Indonesia” yang anggotanya kebanyakan merupakan berasal dari golongan pelajar. Salah satunya adalah kakak beliau, yaitu Emmy Saelan. Emmy Saelan adalah kakak perempuan beliau yang gugur dalam pertempuran di Kassi-Kassi, Makassar. Kakak dari beliau ini adalah salah satu tokoh pejuang wanita di Indonesia, Emmy Saelan gugur karena tidak mau menyerah pada Belanda ketika sudah dikepung, ia malah melemparkan granat ke pasukan Belanda, namun akhirnya gugur. Di kota Makassar terdapat monumen Emmy Saelan tepat berada ditempat Emmy Saelan gugur untuk mengingat jasanya.

  Pada saat berjuang di kota Makassar, Belanda mengira Pak Saelan sudah gugur dalam medan perang. Sehingga, Belanda menyebarkan koran atau selebaran tentang berita gugurnya Maulwi Saelan. Bentuk photocopy seleberan berita keguguran Pak Saelan tersebut pernah dibagikan ke murid Al-Azhar Syifabudi Jakarta, termasuk saya ketika masih bersekolah disana. Seingat saya, selebaran itu dibagikan pada saat setelah upacara 17 Agustus di sekolah.

  Pada tahun 1947, tepatnya setelah perjanjian Linggarjati, Pak Saelan pada bulan Maret meneruskan perjuangan di Pulau Jawa. “Saya dan rekan-rekan meneruskan perjuangan di Jawa, meninggalkan Sulawesi dengan perahu.” Tuturnya. Setelah Konfrensi Meja Bundar pada tahun 1949, Pak Saelan ditunjuk sebagi Wakil Komandan Yon VII/CPM Makassar.

Apa yang awalnya menarik Bapak untuk terjun dalam dunia olahraga?
  Ketika bersekolah dasari di Frater School Makassar, ia menonton film tentang Olimpiade Berlin, oada tahun 1936. Jesse (James Cleveland) Owens seorang atlet kulit hitam Amerika Serikat yang tampil memukau dengan berhasil membawa pulang empat medali emas. Ketika masa kecil, Pak Saelan bercita-cita untuk bisa tampil di olimpiade. Beliau sudah gemar bermain sepak bola sejak kecil, tentu ia sangat membayang-bayangkan  untuk tampil di arena olimpiade. Dari cerita Pak Saelan, pada umur 30 tahun, impian beliau sejak kecil itu akhirnya terwujud. Pada tanggal 17 November 1956, ia menjaga gawang PSSI mewakili Indonesia dalam Olimpiade XVI di Melbourne, Australia. Tentunya, pada masa kini, usia tersebut sudah relative tua untuk seorang peseopak bola professional untuk tetap melanjutkan kariernya. Kesebelasan Indonesia setelah lolos seleksi Asia, langsung bertanding melawan Uni Soviet pada babak perempat final. Namun Indonesia kalah pada pertandingan kedua yang diadakan. Pertandingan tersebut diadakan karena skor akhirnya adalah 0-0, dan pada saat itu belum ada aturan penalty, sehingga diadakan pertandingan kedua 36 jam kemudian.
  Sebelumnya, Pak Saelan sudah ikut serta dalam PON (Pekan Olahraga Nasional) pertama di Solo pada tahun 1948. Pak Saelan adalah atlet yang berasal dari luar Jawa, dimasukkan ke kontingen Jakarta. Selain itu Pak Saelan juga mengikuti ajang Asian Games pertama di New Delhi pada tahun 1951.

Bagaimana Bapak bisa menjadi Komandan Tjakrabirawa dan merangkap menjadi Ketua Umum PSSI?
   Pak Saelan mendapat izin langsung dari Soekarno untuk merangkap jabatan ketika terpilih menjadi Ketua Umum PSSI pada tahun 1964.
Karier Sepak Bola
   Pada bukaln Juni tahun 2008, Pak Saelan mendapat penghargaan sepak bola bersama dengan 21 pemain sepak bola Indonesia legendaris lainnya. Peran Pak Saelan dalam dunia sepak bola Indonesia adalah dengan menjadi Kiper Timnas Indonesia pada tahun 1951 sampai dengan tahun 1958 dengan julukan terkenalnya, “Benteng Beton”. Rekor Timnas Indonesia untuk mencapai perempat final pada Olimpiade Melbourne sampai saat ini merupakan prestasi tertinggi yang pernah diraih Timnas PSSI Indonesia dan belum terpecahkan sampai sekarang.

Bagaimana awal kenal dengan Soekarno hingga menjadi penjaga Soekarno?
  Bung Karno pertama kali mendengar nama Pak Saelan pada saat Olympiade di Melbourne. “Bung Karno tanya siapa ayah saya,” kata Pak Saelan. Beliaupun menjawab, “Amin Saelan, seorang pendiri taman siswa di Makassar.”
   Pak Saelan kembali bertemu dengan Bung Karno pada tahun 1958 saat beliau berkunjung ke Sulawesi Selatan. Pak Saelan bertemu Soekarno di Pare-Pare.
   Pada tahun 1962, Resimen Tjakrabirawa dibentuk. Pak Saelan dipanggil oleh Soekarno untuk mengisi jabatan sebagai staff, dan kemudian menjadi wakil Komandan menjelang peristiwa Gestok meletus.
  Kemudian, pada tahun 1966, Pak Saelan menjadi ajudan Bung Karno. Pak Saelan menjadi penjaga Soekarno yang paling setia. Ia menemani Soekarno hingga akhir hidup Bung Karno. “Bung Karno meninggalkan Istana memakai kaus oblong, piyama, serta sandal using. Bajunya disampirkan ke punda,” tutur Pak Saelan.
   Tidak mengherankan, ketika Bung Karno sudah meninggal dan Soeharto naik mengambil alih kekuasaan, Pak Saelan sempat dipenjara beberapa tahun tanpa pengadilan. Beliau, sebagaimana tahanan yang dianggap terlibat G/30/S, menurutnya ia  mendapatkan diskriminasi politik ketika orde baru berkuasa.
   Ketika beberapa penulis asing banyak yang berusaha melibatkan Soekarno sebagai pelaku G/30/S, Pak Saelan tampil ke depan untuk membantah pernyataan tersebut secara habis-habisan. Bahkan ketika seorang mantat ajudan Soerkarno lainnya  membuat kesaksian bahwa Soekarno terlibat G/30/S.
Masa Menjadi Anggota Tjakrabirawa
   Soekarno awalnya mengenal Pak Saelan karena penampilannya yang mengesankan sebagai kipper PSSI dalam olimpiade Melbourne tahun 1956. Setelah terjadi beberapa percobaan pembunuhan terhadap Soekarno seperti misalnya pada Idul Adha tahun 1962 dan beberapa percobaan sebelumnya. Maka diputuskan untuk dibentuknya resimen Tjakrabirawa untuk mengawal keselamatan presiden.
   Pak Saelan dipangggil dari Makassar dan diangkat menjadi kepala staff, kemudian diangkat menjadi wakil komandan. Tanggal dibentuknya resimen ini adalah sama dengan hari lahir Soekarno yaitu, 6 Juni.
   Pada tanggal 1 Oktober tahun 1965 patroli pasukan Tjakrabirawa menemukan seorang agen polisi bernama Kitman di depan kantor Penas, By Pass, dan membawanya ke markas untuk diintrogasi. Kitman dan hasil pemeriksaannya diserahkan kepada Kodam Jaya dan selanjutnya dibawa ke Kostrad. Kitman adalah polisi yang kebetulan ditangkap ketika terjadi penculikan para jendral dan dibawa ke Lubang Buaya. Menurut sumber yang beredar di masyarakat, ada beberapa versi mengenai penggalian Lubang Buaya tersebut antara Pak Saelan dengan Kapten Bardi, ajudan Jendral Ahmad Yani. Menurut Bardi, mereka sedang mencari lokasi di Lubang Buaya ketika Pak Saelan datang. Tetapi versi Pak Saelan adalah sebaliknya, mereka sudah lebih dulu berada disana.
   Pada bulan Maret 1966, para anggota Tjakrabirawa dikembalikan ke induk pasukan masing-masing, sedangkan tugas pengamanan presiden diserahkan kepada Polisi Militer.
Kejatuhan Soekarno
   Setelah kejatuhan Soekarno, Pak Saelan sempat pernah ditahan  beberapa tahun sebelum awalnya terjun dalam bidang pendidikan dengan menjadi pendiri dan pemimpin Yayasan Al-Azhar Syifabudi Jakarta yang berada di Jalan Kemang Raya Jakarta Selatan.

   Saya merasa beruntung dapat bertemu,mewawancarai dan mengenal tokoh seperti Pak Saelan sejak saya kecil mengingat banyaknya peran beliau pada bangsa ini, mulai dari pejuang daerah, penjaga gawang Timnas, penjaga presiden RI, hingga pejuang pendidikan Indonesia.





  

 

  

 
  

No comments:

Post a Comment