Sunday, 19 May 2013

Tugas-2 Biografi Nabila Shaza


Mbah Siti Riffiah, Saksi Peristiwa Agresi Militer Belanda II di Jogjakarta



Dalam memenuhi tugas sejarah kali ini, saya mewawancarai nenek saya yang merupakan pelaku dan saksi peristiwa sejarah. Mbah putri, begitu biasanya ibu 6 anak ini disapa oleh 15 cucunya.

A.    Biografi Pelaku Sejarah

Mbah putri saya bernama Siti Riffiah, lahir di Medan pada tanggal 23 Desember 1932. Ayahnya yang bernama Soerip Soemodihardjo, orang asli Bantul Jogjakarta yang melakukan pengabdian untuk negara dengan cara menjadi seorang polisi. Sedangkan ibunya bernama Samilah, adalah orang Karang Anyar, Gombong. Mbah merupakan anak pertama dar 3 bersaudara yang semuanya adalah perempuan. Adik pertamanya bernama Siti Sarifah (sudah meninggal karena sakit), dan adik yang paling kecil bernama Siti Sumirah.

Masa kecil mbah putri dihabiskan di Medan, Sumatera Utara hingga dia mencapai umur 5 tahun. Setelah usia 5 tahun tersebut mbah dibawa ke Jogjakarta yang merupakan kampung halaman asli ayahnya. Di Jogja, mbah dibesarkan di sebuah Tangsi Polisi, di Patoek Jogjakarta.

            Setelah lulus Sekolah Rakjat atau sekarang lebih dikenal dengan nama Sekolah Dasar (SD), mbah lalu masuk ke SMP Muhammadiyah Jogjakarta. Pada saat itu, ayahanda dari mbah putri pensiun dari jabatannya sebagai polisi, sehingga mbah harus pindah dari Tangsi polisi ke rumah barunya yang berada di Kampung Ngadiwinatan NG 2 no. 34. Letaknya berada di seberang Tangsi polisi, namun jalannya agak masuk ke daerah perkampungan.

Mbah melanjutkan pendidikan SMP nya hingga tamat. Namun saat bersekolah SMA BOBKRI, mbah putri tidak melanjutkan pendidikannya, dia hanya bersekolah hingga kelas satu SMA. Setelah keluar dari SMA, ada tawan untuk melanjutkan pendidikan di sekolah guru, akhirnya mbah pun bersekolah disana. Karena ada ikatan dinas, mbah bekerja sebagai guru namun hanya satu tahun saja.

Selain itu mbah juga pernah berkerja menjadi tukang ketik di sebuah sekolah dagang yang bernama Bintaran. Itu juga hanya selama satu tahun.

Mbah putri pun berhenti bekerja setelah dilamar oleh mbah kakung. Mbah kakung bernama Soegiri, dia adalah seorang cacat veteran yang turut membantu mempertahankan perjuangan Indonesia di Ambarawa, dibawah pimpinan Kolonel Soeharto. Setelah terjadi kecelakaan dan akhirnya kondisi fisik mbah kakung sudah tidak memungkinkan, mbah kakung memutuskan untuk pensiun saja. Beberapa bulan setelah kecelakaan tersebut mbah kakung baru bertemu dengan mbah putri dan akhirnya menikah. Mereka menikah pada bulan Agustus 1955.

Pada bulan September 1955, mbah putri dan mbah kakung pindah ke Jakarta. Setibanya di Jakarta, mereka tinggal di mes milik kantor cacat veteran yang berada di Jalan Gajah Mada no. 25 Jakarta Barat. Mes ini letaknya berada di belakang lingkungan kantor. Yang tinggal disana adalah staf-staf yang bekerja di kantor cacat veteran.

Satu tahun setelah kelahiran anak pertama, mbah putri dan mbah kakung pindah ke mes cacat veteran yang berada di Jalan Nusantara 3 letaknya berada di belakang istana negara. Di mes ini satu rumah berisi 3 keluarga, yang asalnya berada dari luar Jakarta. Kantor cacat veteran tempat mbah kakung bekerja juga pindah ke Jalan Tambak no. 11. Dulu kantor ini memiliki usaha percetakan yang bernama PENCA (Penderita Cacat). Namun percetakan ini akhirnya ditutup dan dijual. Kantor yang berada di Jalan Tambak juga sudah tidak ada dan sudah di ratakan dengan tanah menjadi sebuah sejarah.

            Setelah kelahiran anak keenam yaitu anak terakhir sekitar tahun 1970, mbah pindah ke rumah mereka sendiri yang berada di Jalan Gelong Baru Timur 7 no. 33, Grogol Petamburan, Jakarta Barat. Rumah ini mereka beli saat anak kelima lahir. Sehingga mereka membubuhkan nama Redjeki pada nama anak kelima.

Ketika semua anak-anak mbah putri menikah, pada tahun 1999, mbah kakung menghembuskan nafas terakhir karena penyakit jantung dan komplikasi. Dan dikuburkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Anak pertama dari mbah putri pun harus terlebih dahulu menyusul ayahnya karena penyakit jantung, di usia 56 tahun pada 16 April 2013.

Hingga saat ini mbah putri masih sehat walafiat dan sudah berusia 80 tahun. Sekarang mbah sudah memiliki 15 cucu, 2 cicit dan satu cicit lagi masih ada dalam kandungan.

B. Peranan Pelaku Sejarah

Saat mbah berada di bangku setingkat Sekolah Menengah Pertama tersebut, terjadi clash atau agresi militer II dari Belanda. Jogja pada saat itu diduduki oleh Belanda kembali.

            Ingin seperti ayahnya yang memiliki konstribusi bagi negara, pada saat mbah masih berusia 16 tahun, dia bergabung dalam IPI (Ikatan Pelajar Indonesia). Saat itu, mbah ditugaskan ke luar dari lingkungan tempat tinggalnya, masih di Jogjakarta, namun Jogjakarta bagian utara. Di sana mbah bergabung dengan pelajar-pelajar lainnya, mahasiswa, dan juga tentara-tentara.

            Dalam tugasnya tersebut mbah di tempatkan dalam bagian kesehatan. Tugasnya adalah mencari obat-obatan di rumah sakit dan menemui dokter-dokter. Dengan kerjasama dari semua tim, obat-obatan tersebut berhasil dibawa keluar kota, untuk diberikan lagi kepada rakyat-rakyat yang membutuhkan.

            Setiap kali bekerja, mbah biasanya berempat atau berlima dengan teman-temannya. Mereka melakukan semacam patrol keliling untuk mengobati orang-orang di desa yang sedang sakit.

            Selama tugasnya mbah hanya bertugas untuk mengobati masyarakat desa saja. Tidak mengobati tentara atau pejuang. Karena jika ada pejuang yang terluka saat pulang dari bergerilya atau semacamnya mereka akan angsung dibawa ke tempat yang jauh, yaitu kaki gunung. Dan disana sudah ada petugas kesehatan lainnya yang lebih kompeten untuk mengobati dan menyembuhkan prajurit yang terluka saat bertugas. Luka yang biasanya diderita oleh pejuang-pejuang atau tentara tersebut memang lebih kompleks sehingga harus ada tindakan yang dilakukan oleh tim medis yang lebih ahli.

            Rakyat sekitar desa yang didatangi oleh mbah dan teman-temannya pun memberikan sambutan yang cukup baik. Mereka bisa menerima orang luar yang masuk ke desa mereka dan tidak ada penolakan, karena mbah dan teman-temannya bisa menyesuaikan diri dengan masyarakat sekitar dan dengan sigap menolong mereka jika ada yang membutuhkan obat-obatan.

            Sambutan yang baik dari rakyat diwujudkan dalam bentuk memberikan mbah dan teman-temannya jamuan makan, atau memberikan hasil ladang atau sawah yang sudah dipanen, misalnya ubi dan singkong, Jadi ada semacam timbal balik, rakyat memberikan makanan untuk para pejuang, sedangkan pejuang memberikan obat dan perlindungan.

Selain menjadi petugas kesehatan, mbah juga suka menjadi kurir untuk mengantarkan surat dari satu desa ke desa lain. Untuk mengambil dan mengantarkan suplai obat-obatan untuk rakyat dari satu desa ke desa yang lain maupun untuk dibawa ke kaki gunung dan diberikan kepada pejuang yang terluka, mbah putri dan teman-temannya harus sangat hati-hati. Karena Belanda ada di mana-mana. Sehingga ada cara khusus untuk mbah dan teman-temannya untuk ‘menyelundupkan’ obat-obatan dan barang-barang lain misalnya surat yang dititipkan dari luar untuk atasan mbah. Mbah dan teman-temannya membawa barang-barang tersebut dengan mengunakan tas yang berbentuk seperti tas untuk berbelanja namun terbuat dari anyaman daun pandan. Tas tersebut namanya tas kebo. Tas itu lumayan besar dan gemuk sehingga bisa menaruh lumayan banyak obat-obatan. Surat yang akan diberikan kepada atasan mbah akan disisipkan di bagian samping dalam tas tersebut kemudian tas tersebut dijahit lagi. Obat-obatan ditaruh dibagian paling bawah tas, sedangkan pada bagian atas, tas itu dikamuflase dengan sayur, buah, kerupuk atau barang belajaan lain yang membuat Belanda akan tertipu dan tidak akan curiga.

Faktor lain yang membuat tentara Belanda tidak curiga adalah, karena mbah dan teman-teman mbah yang masih remaja sehingga tidak terlalu dicurigai. Dan baju yang mereka pakaipun sangat tidak mencolok, sehingga saat bertugas mereka bisa hilir mudik diantara tentara belanda tanpa harus dicurigai. Karena jika ada yang ketahuan membawa barang-barang tersebut maka nyawalah taruhannya. Mereka pasti akan diberondong oleh Belanda dan mungkin tidak menutup kemungkinan untuk dihabisi nyawanya. 

Mbah juga menceritakan, bahwa setiap malam teman-teman laki-lakinya yang merupakan tentara salah satunya dari CPM melakukan gerilya.

            Suatu hari saat mbah sedang menjalankan tugasnya, mbah yang umurnya masih remaja dan belia dikagetkan oleh kedatangan patroli pasukan Belanda ke markasnya, Ketika mendengar kabar patrol Belanda akan segera datang, teman-teman mbah yang laki-laki langsung lari untuk mengamankan daerah mereka tersebut. Sedangkan yang perempuan ditugaskan untuk membenahi dan menyembunyikan peralatan yang akan membuat para tentara Belanda tersebut curiga. Dengan sigapnya mbah dan teman-teman perempuannya menyembunyikan mesin tik di lemari kayu yang berada di dapur. Kemudian, surat-surat berharga mereka, disembuyikan semuanya di bawah tikar.

            Setelah semuanya berhasil disembunyikan untuk mengurangi rasa curiga pasukan  Belanda yang berpatroli, mbah dan teman-teman perempuannya berpura-pura duduk di teras. Mereka ber-akting seperti tidak ada apa-apa, hanya mengobrol seperti remaja perempuan pada umumnya di masa itu. Saat rombongan Belanda datang memang terasa sekali rasa takut itu sangat memuncak. Tapi mbah dan kawan-kawannya bisa sedikit bernapas lega ketika salah satu temannya bisa berbicara dalam bahasa Belanda. Temannya itu berbohong dan bilang bahwa dia sedang liburan di hari minggu di rumah tantenya. Kebetulan hari itu adalah hari minggu, ya hari minggu yang tenang namun harus diusik oleh segerombolan pasukan tentara Belanda. Tidak hanya sangar, mereka juga bertanya sambil menodongkan senjata dihadapan gadis-gadis belia yang rata-rata baru berumur 15-16 tahun tersebut.

            Mbah dalam ketakutannya melafalkan surat-surat pendek dalam Alquran yang terlintas di fikirannya saat itu. Walaupun dari luar mbah diam dan tidak mengucapkan apa-apa namun dalam hatinya dia sangat ketakutan dan mengharapkan ibunya berada didekatnya saat itu.

Akhirnya tentara-tentara itupun berhasil dikelabui oleh teman mbah yang bisa berbahasa Belanda tersebut. Tentara-tentara belanda tersebut pun menurunkan senjata mereka dan pergi melanjutkan patrol ke tempat lain. Syukurlah semuanya selamat tanpa luka sedikit pun.

Mereka menunggu beberapa lama, sampai mereka rasa bahwa tentara-tentara Belanda tersebut sudah pergi lumayan jauh, dan kondisi meyakinkan bahwa kondisi mereka sudah aman. Akhirnya dengan perasaan haru mbah dan teman-temannya berpelukan, dan memanjatkan syukur kepada Tuhan karena Tuhan masih melindungi sehingga mereka semua berhasil melewati marabahaya yang begitu menakutkan mereka.

Pada tahun 1950, Jogjakarta kembali ke tangan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Oleh karena itu, mbah kembali lagi bersekolah. Saat sudah kembali bersekolah, mbah mendapat panggilan dari negara untuk diberi penghormatan  sebagai veteran. Dia mendapatkan sertifikat dan surat keputusan sebagi veteran.

Walaupun dihargai sebagai veteran oleh negara, saat menjalankan tugasnya, tidak ada sedikitpun terlintas dalam fikiran mbah bahwa dia akan mendapatkan penghargaan seperti itu. Namun yang dia fikirkan adalah bagaimana caranya mengisi dan mempertahankan kemerdekan Indonesia.

PENUTUP

Kesimpulan

Dari hasil wawancara saya dengan nenek saya, dapat saya simpulkan bahwa sebagai generasi muda harusnya kita bersyukur dengan kondisi kita saat ini. Nenek dan kakek kita pada saat itu turut mempertahankan kemerdekaan yang ingin direnggut kembali oleh Belanda. Walaupun harus dengan nyawa sebagai taruhannya mereka tidak peduli, asalkan Indonesia bisa tetap merdeka,

Saran

Di zaman yang sudah serba mudah ini harusnya kita bisa lebih menghargai hasil jerih payah para pejuang kemerdekaan. Dengan cara mengisi kemerdekaan dengan tindakan positif, tetap semangat dalam belajar, dan membangun negara Indonesia kita tercinta ini menjadi negara yang lebih baik di masa mendatang.
 
Surat tanda demobilisasi pembebas tugasan

Surat Keterangan

kartu anggota veteran

Saat berada di salah satu acara KCVRI (Korps Cacat Veteran Repubik Indonesia)

saya dan mbah 



No comments:

Post a Comment