Friday, 31 May 2013

Tugas 2 - Biografi Nabilla Arsyafira

Irawan Satjadipura: Sebuah Kapal di Samudera Tak Berujung



Irawan Satjadipura


Perbincangan saya sore itu tidak jauh dari filosofi “...hidup itu, ya, mengalir saja.”
Semayup suara bernada terpelajar yang datang dari channel berita nasional di layar kaca. Gagang telepon di ruang kerja yang masih hangat hasil diskusi selama berjam-jam. Jajaran boneka matryoshka yang menyimpan kerinduan pada tanah Rusia. Asap rokok yang berhasil menyusup ke dalam kedua lubang hidung. Setiap detail familiar yang selalu mengantar saya pada citra rumah nenek dan kakek saya—yang secara pribadi saya anggap sebagai sebuah equilibrium zone alias zona keseimbangan. Rumah itu tidak pernah sepi dari kejutan, namun tidak juga penuh dengan keributan. Rumah mereka yang satu ini memiliki aura yang lebih kasual dibandingkan rumah-rumah mereka yang sebelumnya, mungkin karena jaraknya yang hanya tiga menit berjalan kaki dari rumah saya sendiri. Rumah itu hampir selalu ramai dengan kehadiran saya dan sepupu-sepupu saya, tetapi hari itu, hanya ada saya, Lola (panggilan kami yang diambil dari kata Tagalog untuk nenek, karena putra pertamanya menikahi seorang Filipina), dan Engkang.



Beberapa diantara koleksi boneka matryoshka


Saat itu saya sedang berada dalam mood Michael Bublé. Musik slow beat imajiner bermain dalam benak saya. Biasanya saya berkunjung dengan perasaan ringan dan tanpa beban, dan demikian pula di hari itu. Ketenangan memang sering kali datang dengan kecenderungan yang agak dramatis. Tujuan saya hari itu cukup sederhana. Sebuah tugas mengharuskan saya mendengarkan kisah-kisah lama dari kakek saya. Bukannya saya belum pernah mendengarkan cerita-cerita masa lalu dari mulut beliau, tetapi kali ini, saya ingin mendengarkan segalanya sebagai sebuah kesatuan yang utuh. Setelah serangkaian pembukaan dan penjelasan yang panjang (kakek saya adalah orang yang lumayan rumit dan sangat memperhatikan detail, dan tanda-tanda telah menunjukkan sifat ini ikut menurun kepada saya), akhirnya Engkang mengajak saya untuk duduk di teras bersamanya dengan anggukan persetujuan.




Irawan Satjadipura

Ia meraih pemantik dan menyulut sebatang rokok sebelum menyisipkannya diantara dua jemarinya, dan ketika itu, lebih dari biasanya, saya menyeringai kecil sambil berpikir, kakek saya seorang pelaut. Meskipun hal ini tidak relevan. Tetapi cerutu memang identik dengan para pelaut, dan kakek saya memang seorang pria laut. Ketika saya kecil, Lola pernah bercanda bahwa dahulu ia adalah seorang putri duyung dan Engkang adalah seorang kapten laut, dan lautlah yang memperkenalkan mereka berdua. Lola mungkin menyesal pernah menceritakan hal tersebut kepada saya, karena sampai saat ini, saya masih sering menggodanya dengan cerita tersebut.
Tetapi saya tahu lebih baik dari itu. Sekarang dan selamanya, Irawan Satjadipura adalah seorang pria dengan pemikiran sedalam (dan serumit) samudera.

Biografi
2 April 1938, sebuah tanggal yang tercatat sebagai sebuah hari Sabtu dalam sejarah. Irawan Satjadipura lahir di Bandung dari pasangan Achda Satjadipura dan Qoryati sebagai seorang putra pertama. Seperti orang-orang kebanyakan di masa itu, Aki Achda menunjang hidupnya dengan bertani. Bertahun-tahun setelah kelahiran putra sulungnya, pasangan ini dikaruniai sepuluh orang anak oleh Sang Pencipta—bahkan lebih jika dijumlahkan dengan beberapa calon bayi mereka yang gugur sebelum lahir.
Tidak ada yang terlalu istimewa dalam masa kecil Engkang. Seperti anak-anak lainnya, ia bersekolah di Sekolah Rakyat ketika umurnya telah mencukupi. Di masa Sekolah Rakyat, ia mengikuti kegiatan Pramuka. Ketika usianya menginjak 9 tahun, keluarganya memilih untuk mengungsi ke rumah keluarga mereka di Sumedang untuk menghindari Agresi Militer Belanda. Setelah mengungsi selama kurang lebih dua tahun, mereka kembali ke kediaman mereka di Bandung, dan menurut Engkang, tidak ada yang berubah dengan rumah mereka. Rumah mereka tidak terkena dampak Agresi Belanda. Setelah mereka kembali ke Bandung, kurang lebih pada awal tahun 1950, Aki Achda beralih profesi menjadi seorang karyawan di Perusahaan Telkom. Kata Engkang, setelah Agresi Belanda, kehidupannya nyaman-nyaman saja, damai-damai saja. Tidak ada pengaruh perjangan pasca kemerdekaan yang terlalu signifikan.



Irawan Satjadipura bersama komputer kesayangannya yang bertahan hingga 2011


Ketika saya bertanya, “Waktu dulu, cita-cita Engkang apa?” beliau menjawab, “Nggak ada. Apa adanya.” Lalu saya bertanya lagi dengan bingung, “Kalo gitu gimana taunya nanti mau jadi apa?” Ia mendesis sedikit mendengar respon skeptis saya yang, kelihatannya, ia rasa tidak perlu, dan dengan singkat menjawab, “Ya begitu. Mengalir saja.” Jawaban bernada gemas ini membuat saya tertawa.
Engkang meneruskan pendidikannya di SMP 5 Bandung. Saat SMP, memang ada organisasi semacam OSIS meskipun saat itu namanya bukan OSIS, tetapi Engkang tidak mengikutinya. Ia bilang, ketika SMP (dan berlanjut sampai SMA), ia senang bermain sepak bola (“Iya, mainnya memang dari SMP, tapi baru pakai sepatu waktu SMA kelas 2, habisnya mahal sepatu saat itu!”). Posisi andalannya adalah gelandang. Sampai sekarang, ia masih suka mengikuti pertandingan-pertandingan sepak bola, meski bukan merupakan sebuah keharusan seperti saya yang cukup fanatik. Ia adalah pengamat, ia adalah penggemar olahraga sepak bola yang obyektif; dan ia suka menganalisis pertandingan.
Engkang melanjutkan sekolahnya di SMA 1 Bandung (sekarang berganti nama menjadi SMA 2). Menurut beliau, penjurusan sudah dilakukan sejak jenjang SMP kelas 3. Pelajaran favoritnya, sejak dulu, adalah matematika dan IPA. Tidak mengherankan ketika ia menjawab dengan bangga pertanyaan saya tentang jurusan yang ia dapatkan, “IPA dong.”


Lukisan diri bersama istri


Foto keluarga besar pada tahun 2005


Selepas SMA, setelah kelulusannya di tahun 1957, Engkang melamar ke Akademi Angkatan Laut (AAL), Surabaya. Ia mendapatkan informasi tentang AAL melalui koran. Ia tidak punya alasan khusus yang mendorongnya bergabung. Ia menjalani proses tes yang berlangsung selama 3 minggu; di antara tes-tes yang dijalaninya adalah tes kesehatan, tes tertulis, dan tes psikologi. Kedua orang tuanya memberikan restu ketika ia menerima sepucuk surat yang menyatakan bahwa ia diterima di AAL. Padahal, dari sekitar 6.000 orang yang mendaftar, hanya kurang lebih 80 orang yang diterima—termasuk beliau sendiri. Masa pelatihan di AAL tidak terlalu lama, meskipun pelatihannya sangat intensif, karena kadet-kadet AAL dipersiapkan untuk langsung bergabung dengan TNI AL. Pada tahun 1960, ia sudah lulus. Selama di AAL, ia tidak banyak pulang ke Bandung, kecuali ia mendapatkan kesempatan untuk mampir saat sedang berlayar.



Irawan Satjadipura bersama istri, Hemmy Soewadi


Di masa depan, Engkang menjalani karier di TNI AL, kemudian beliau di kirim ke Leningrad, Rusia untuk belajar. Ia bertemu dengan istrinya, yakni Lola saya, Hemmy Soewadi, sepulang dari Rusia. Ia diperkenalkan dengan istrinya oleh seorang teman. Di samping itu, kakak dari Lola merupakan junior dari Engkang di AL. Setahun setelah bertemu, mereka menikah pada 27 Februari 1965. Bulan September di tahun yang sama, mereka dikaruniai seorang putra yang lahir lebih cepat dari seharusnya, yaitu paman saya sendiri, yang akrab dengan panggilan Papa Nanan. Lola dan Engkang mendapat empat orang putri setelah kelahiran Papa Nanan, termasuk ibu saya sendiri yang merupakan anak ketiga. Dari kelima anak mereka, Lola dan Engkang memiliki 14 orang cucu. Saya sendiri merupakan cucu nomor tiga.


Irawan Satjadipura bersama istri dan putri ketiga (ibu saya) Rahmasari Sacadipura



Peranan
Lulus dari AAL, Engkang ditugaskan di kapal Buru Selam. Kapal tersebut berlayar untuk berpatroli di daerah barat (Sumatera dan sekitarnya). Diantara misi-misi kapal tersebut adalah memeriksa dan menangkap orang-orang atau penyelundup yang dicurigai. Pangkat pertamanya yang didapatkan Engkang adalah Letnan Muda (Letda), dan kurang lebih 2 tahun kemudian, ia naik pangkat menjadi seorang Letnan.
Salah satu dari misi-misi pertama yang diikuti oleh Engkang adalah Operasi Trikora (Tri Komando Rakyat) untuk mempertahankan Irian dari Belanda. Saat itu, pangkat Engkang adalah Letnan. Ada ratusan kapal AL yang turut mengepung Irian, dan Engkang bertugas dalam salah satunya. Dalam peristiwa itu, Indonesia sukses mengusir Belanda.


Irawan Satjadipura dalam sebuah bussiness trip (sebelah kiri)


Pada tahun 1962, Engkang, bersama 5 orang rekannya dari armada, dikirim ke Leningrad Higher Naval Engineering College, sebuah perguruan tinggi yang ternama di Uni Soviet selama dua tahun untuk mengikuti sebuah program master marine powerplant. Memang tidak lama, karena AAL sudah setara dengan S1. Lokasi tepatnya berada di Pusykin, Leningrad. Di masa inilah Engkang mulai memperdalam ilmunya di bidang perkapalan. Di antara 6 orang yang diberangkatkan, 2 orang merupakan Kapten, dan sisanya adalah Letnan, seperti Engkang. Di sana, fokus dari bidang yang Engkang geluti adalah bidang teknik, mempelajari mesin. Dua orang temannya memfokuskan di bidang kelistrikan. Semasa di AAL, Engkang memang tergabung dalam Korps Teknik. Bersekolah di Rusia, tentu saja membuat kemampuan berbahasa lokal menjadi sebuah kebutuhan. Menurut Engkang, ia berhasil berbahasa Rusia dengan lancar dalam 6 bulan. Tidak terlalu sulit karena bahasa Rusia adalah bahasa yang harus ia gunakan sehari-hari. Sebelum mampu berbahasa Rusia, ia sudah terlebih dahulu mengusai bahasa Inggris sebagai bahasa komunikasi internasional.
“Apa yang membedakan sistem pendidikan Rusia dan Indonesia?” saya bertanya, setelah Engkang memberitahu saya bahwa hasil riset Amerika menyatakan bahwa pendidikan dasar Rusia adalah nomor satu di dunia. Engkang mengisap rokoknya. “Sistem apa sih? Cuman, disana, misalnya Engkang ngajar. Kalo ada tes, nggak boleh Engkang yang ngetes. Engkang ngajar, tapi yang nguji orang lain. Disamping adil, kalo yang lulus sedikit, Engkang kena. ‘Nggak bisa ngajar ya anda’, begitu.”


Irawan Satjadipura (kanan) di Rusia


Banyak yang dikenang Engkang tentang Rusia. Mulai dari suhunya yang mencapai minus 30 sampai minus 35 di musim dingin, sampai pertunjukan-pertunjukan ballet Rusia yang terkenal dan orkestra yang didatanginya (Engkang adalah seorang penggemar musik klasik sejak SMA).
Sekembalinya dari Leningrad, ia kembali ke Surabaya dan bertugas lagi di AL selama setahun, dimana ia naik pangkat menjadi seorang Kapten. Pada tahun 1966, ia dialih tugaskan ke Departemen Perhubungan Laut di Jakarta. Di sana, ia ditugaskan di galangan kapal—dimana ia tergabung dalam Perusahaan Negara (PN) KODJA (akhirnya berganti nama menjadi PT KODJA, lalu berganti lagi menjadi PT Dok & Perkapalan Kodja Bahari). Pada mulanya, ia adalah seorang manager, kemudian ia menjadi direktur (1981-1989), dan pada akhirnya, ia menjabat sebagai direktur utama (1989-1995, pensiun).
Pada tahun 1970, Engkang mengikuti job training mengenai chemical cleaning and treatment di Rotterdam, Belanda. Kemudian, pada tahun 1978, Engkang mengikuti job training tentang pembangunan kapal-kapal ferosemen di Auckland, New Zealand. Di saat yang sama, sejak tahun 1970 hingga 1980, Engkang juga merupakan seorang dosen di Akademi Usaha Perikanan.



Irawan Satjadipura di Jerman


Bidang keahlian Engkang adalah sistem instalasi tenaga kapal. Pada awalnya, ia dan timnya menangani reparasi kapal. Lalu, selama setidaknya 20 tahun selanjutnya yang ia habiskan di PT KODJA, ia telah ikut membangun lebih dari 1.000 kapal baik yang berukuran kecil maupun yang berukuran besar. PT KODJA mendapat banyak order untuk mengekspor kapal-kapal buatannya ke luar negeri, termasuk Iran, Malaysia, Jerman, Swedia, dan lain-lain. Salah satu proyek terbesar yang ditangani oleh Engkang adalah pembangunan kapal Gotland yang dipesan oleh Swedia. Gotland merupakan sebuah kapal dengan fungsi pengangkutan trailer (200 kontainer), passenger (125 kabin), ferry. Besarnya bisa digambarkan sebagai sebuah gedung sepuluh tingkat. Gotland dibuat pada tahun 1993 dan selesai pada tahun 1996.







Kapal Gotland


Pada tahun 2001, Engkang dipilih sebagai ketua umum Ikatan Alumni Insan Nauka (alumni perguruan tinggi Uni Soviet/Rusia). Engkang sudah bergabung dengan Insan Nauka sejak 1992 saat statusnya masih sebatas perkumpulan, tetapi Insan Nauka baru diresmikan pada tahun 2001. Engkang menjadi ketua umum selama 3 tahun hingga tahun 2004. Pada tahun 2003, Engkang diundang ke Moskow dalam sebuah pertemuan alumni perguruan tinggi Rusia dari seluruh dunia. 113 negara turut berpartisipasi dalam acara itu. Dalam acara tersebut, Presiden Vladimir Putin datang dan meresmikan acara tersebut. Dan Engkang mendapatkan kesempatan untuk berjabat tangan secara langsung dengan beliau. Setelah turun jabatan di tahun 2004, Engkang masih berkontribusi dalam Insan Nauka sebagai penasihat.


Irawan Satjadipura, bersama istri dan duta besar Rusia


“Mengalir saja, ya kan, Kang.” Saya tertawa setelah Engkang selesai bercerita. Ia hanya terkekeh kecil sambil mematikan rokoknya. Kemudian saya menemaninya menghabiskan makan malamnya di meja makan sambil berbincang. Bisnis sudah selesai. Kembali lagi sebagai pasangan cucu dan kakek yang normal. Tanpa beban. Santai dan ringan.
Saat bel rumah tiba-tiba dibunyikan oleh tante saya yang datang, pikiran saya pergi ke beberapa bulan yang lalu. Sebelum bel sebelumnya rusak dan harus diganti dengan bel yang sekarang, saya ingat Engkang menyetel lagu bel tersebut menjadi sebuah lagu Rusia. Salah satu favoritnya. Lagu itu berjudul Pod Moskovsnye Vechera, yang artinya “Malam-Malam di Moskow.” Terkadang kecintaan Engkang pada Rusia yang menyaingi rasa nasionalismenya yang tidak kalah besar terhadap bangsa sendiri membuat saya tersenyum. Saya harap, jika tidak di kehidupan ini, di kehidupan lain saya bisa mendapatkan kesempatan untuk merasakan keterikatan yang sama terhadap suatu tempat yang telah membangun jati diri saya.
Karena kita semua adalah kapal yang bebas menentukan halauan kita masing-masing, bergerak dengan pasti dalam segala kemungkinan diatas arus yang mengalir.


Bersama Menteri Perindustrian saat itu, Hartarto


Mengantar Presiden Soeharto di airport Tehran, Iran


Bersama Menteri Perindustrian dan tamunya


Saya bersama Engkang saat wawancara


Foto bersama KODJA (baris pertama paling kanan)


Lukisan diri bersama istri


Saat pelantikan di PT Dok dan Perkapalan Kodja Bahari (nomor 5 dari kiri)

No comments:

Post a Comment