Friday, 31 May 2013

Tugas 2 - Biografi Nabilla Khairunnisa Ishadi XI IPA 1


"Si Kupu-Kupu Berbagai Organisasi Sosial" 


Satu minggu yang lalu, pada hari Jumat, 24 Mei 2013 saya berkesempatan untuk mengunjungi seorang wanita yang bernama ibu Mamiek Srie Atmodjo. Beliau adalah tetangga saya, yang juga kebetulan adalah kerabat dekat nenek dan kakek saya. Rumahnya asri, banyak ditumbuhi pepohonan dan tanaman-tanaman di halam rumahnya.

Saya disambut oleh pengurus rumah tangganya, yang mengatakan bahwa ibu Atmodjo sedang bersiap-siap. Saya yang datang bersama nenek saya mengunggu di ruang tamu.

Siang hari seperti saat itu adalah waktu bagi seorang nenek untuk beristirahat, seperti tidur siang. Namun, tidak bagi nenek yang satu ini. Beliau aktif sekali di hari-harinya, bahkan di waktu senjanya.

Percakapan saya dengan ibu Atmodjo pun dimulai dengan “Lho, cucunya sudah besar toh, bu? Saya sudah lama sekali nggak melihat. Saya ingetnya masih TK saja,” ujarnya dengan logat Jawa yang kental sekali.

SINGKAT KATA
Ibu Mamie Srie Atmodjo lahir di kota Solo, tanggal 19 Januari tujuh puluh dua tahun yang lalu. Pendidikan dasar (Sekolah Dasar) beliau tempuh di sebuah Sekolah Rakyat (SR) di kota Solo, dari tahun 1947 hingga selesai tahun 1955. Beliau menuturkan, sekolah dasarnya sempat terhenti di tahun kedua karena adanya Agresi Militer Belanda tahun 1948, yang menyebabkan sekolah harus ditutup. Kemudian, setelah lulus SMP tahun 1958, beliau melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi yaitu SPSA atau Sekolah Pekerjaan Sosial Atas (School of Social Work) yang setingkat dengan SMA. “Saya selalu senang melihat seseorang yang bekerja untuk orang lain,” begitu tuturnya ketika ditanya mengenai pilihannya untuk melanjutkan ke SPSA.


PERANANAN
Di SPSA, beliau aktif di segala organisasi, khususnya PMR atau Palang Merah Remaja. Sebagai siswi dari sekolah pekerja sosial, beliau sempat ditugaskan sebagai asisten suster di sebuah rumah sakit. Sebagai asisten suster, beliau benar-benar merawat pasien tersebut, lain dengan sekarang yakni ketika keluarga pasien yang mengurusi. Termasuk menyuapi makanan, hingga membersihkan tubuh pasien.

“Tahun 1958, saya mendengar Dinas Sosial Jakarta sedang mencari kader-kader pekerja sosial dari sekolah-sekolah, tapi nilainya harus sangat baik, dengan kata lain berpengalaman. Kebetulan, saya baru saja menyelesaikan SPSA tahun itu,” Selepas lulus dari SPSA, tahun 1964 beliau hijrah ke Jakarta.

“Tanggal 2 Agustus 1958, saya sampai di Stasiun Gambir. Sejujurnya, saya sama sekali tidak memiliki saudara yang berdomisili di Jakarta. Hanya ada beberapa teman saja. Dulu itu, belum populer yang namanya telepon, jadi saya telegram saja mereka untuk menjemput dan menampung saya” katanya berkelakar seraya tertawa. Di usianya yang sudah senja, ibu Atmodjo dengan sangat mengangumkan masih mengingat detail-detail yang sekecil itu.

Dengan ditunjuknya beliau untuk bergabung dengan Dinas Sosial di Jakarta adalah suatu keberuntungan baginya. “Teman-teman saya sibuk ingin ke Jakarta mencari pekerjaan. Saya yang ngga nyari pekerjaan malah ditawari untuk bekerja hahahaha” tuturnya dengan bercanda.
Beliau menuturkan bahwa banyak sekali penyesuaian yang harus ia buat ketika sampai di Jakarta. Sebelum ke Jakarta, beliau menetap di Semarang, bersama pamannya yang saat itu sedang bertugas sebagai salah satu anggota DPD. Dengan segala kemewahan yang dimiliki saat itu, rumah yang lengkap dengan telepon dan berbagai fasilitasnya beserta mobil, harus dilepaskan.

“Di Jakarta rumahnya sempit, sampai-sampai teman-teman saya harus gambreng untuk menentukan saya dengan siapa. Saya kira mereka memperebutkan saya untuk tinggal di rumah mereka, tetahunya mereka bingung akan menempatkan saya di mana” senyumnya mengembang mengingat bagaimana ia dahulu.

Awalnya, beliau bertugas di Dinas Sosial Jakarta, namun setelah beberapa saat beliau ditempatkan di bagian Psikologi Anak, sesuai dengan latar belakangnya di SPSA dahulu. Beliau berkantor di Jalan Diponegoro Nomor 82, Jakarta Pusat, di depan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.

“Urusan saya saat itu lebih seperti konsultan, anamnesi namanya. Orang tua datang membawa anaknya yang keterbelakangan mental, autisme, ataupun cerebral palse” tuturnya.

Kesehariannya berpusat pada bagaimana ia menangani ”kekurangan” dari kejiwaan pasiennya, dan melatih bagaimana setidaknya mereka bisa berperilaku, bahkan dengan kekurangan mereka tersebut.

“Banyak dari anak-anak yang saya tangani itu tidak bisa menginterpretasikan apa yang mereka ingin lakukan terhadap gerak atau motorik mereka. Misalnya, mereka mengerti bagaimana menuangkan air ke dalam gelas, mengerti bagaimana mereka harus bergerak, namun airnya selalu tumpah ketika diarahkan ke dalam gelas.” Begitu katanya mengenai pasien-pasiennya. Saat itu, beliau mengaku dibayar sebesai 3000 rupiah setiap minggunya.

Sebagai Psiokolog di Dinas Sosial Jakarta, beliau tidak dibebani dengan banyaknya jam kerja karena diakui hanya sedikit yang datang untuk berkonsultasi. Sehingga beliau hanya bekerja hingga pukul dua belas siang, dari total waktu bekerjanya yang harusnya hingga pukul dua. Akhirnya, beliau menerima tawaran home visit untuk membantu yang lebih intensif. Kembali ke masa SPSA, ternyata beliau pernah ditempatkan di sebuah yayasan anak cacat selama enam bulan masa praktek.

“Saya itu orangnya pecicilan, tidak pernah bisa diam, tidak pernah bisa lepas dari sebuah organisasi. Sosial, tentu saja” ujarnya sembari menggambarkan dirinya. Di tahun 1964, Presiden Republik Indonesia saat itu, Ir. Soekarno sedang menggencarkan paham NASAKOM yang merupakan akronim dari Nasionalis, Agamis, dan Komunis, dalam rangka menyatukan paham-paham rakyat Republik Indonesia.

Dalam rangka mendukung gerakan tersebut, akhirnya terbentuklah suatu Lembaga Pembina Kesatuan Bangsa atau LPKB. Atas rekomendasi dari kantor Dinas Sosial Jakarta, tempat beliau bernaung dan bekerja, ibu Atmodjo pun bergabung menjadi salah satu dari kader-kader LPKB. Tujuan dari LPKB sendiri adalah untuk merangkum berbagai susku bangsa yang ada di Indonesia supaya betul-betul memiliki niat dan perasaan akan Indonesia-sentris.

“Orang Arab yang ada di Indonesia saat itu sudah banyak, jangan sampai mereka mencari nafkah di Indonesia, tapi yang mereka hasilkan semata-mata untuk bangsanya sendiri, bukan untuk Indonesia. Begitu juga orang Cina, mereka banyak bekerja dan meraup keuntungan dari orang pribumi Indonesia, sementara hasilnya mereka bawa atas nama nenek moyang mereka di Cina sana” tuturnya berapi-api. Saat itu, saya tertegun bagaimana jiwa-jiwa LPKB yang tertanam pada pemikiran ibu Atmodjo masih tertanam hingga kini, setelah lebih dari setengah abad lamanya.

Keberagaman sangat terasa saat di LPKB. Pemimpin dari LPKB saat itu adalah seorang tentara berpangkat Kolonel yang bernama Hindunata dan Junus Jahja. Keduanya berdarah Cina. Selama bergabung di LPKB dan menjabat sebagai kader di organisasi tersebut, tugas ibu Mamie adalah berkeliling Jakarta untuk memberikan ceramah-ceramah mengenai Nation and Character Building. Selama menjadi kader, beliau diberikan upah 2000 rupiah setiap kali beliau memberikan ceramah.

Terang saja, hal ini membuatnya lebih semangat lagi untuk mendalami materi mengenai Nation and Character Building. Alasan pertama, beliau menyenangi bekerja untuk dunia sosial yang terjun langsung, dan yang kedua adalah upahnya yang tentu saja lebih tinggi. Di tahun 1966, dengan jatuhnya Presiden Soekarno, organisasi LPKB ini disinyalir memiliki keterikatan dengan PKI. Oleh karena itu, LPKB ini dibubarkan.

Ada cerita menarik yang dituturkan ibu Atmodjo. Beliau akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri dari Lembaga Psikologi tersebut karena alasan ketidakcocokan. “Saya dibesarkan oleh seorang Tentara Pejuang Kemerdekaan Indonesia, bapak saya sendiri. Beliau mengajarkan saya untuk terus menerapkan kejujuran di segala waktu di dalam hidup saya. Kejujuran itu ibarat ujung peluru. Nah, selama di Lembaga Psikologi tersebut saya sering diminta untuk menandatangani upah yang bukan hak saya. Karena itu, saya lebih baik mundur.” Katanya tegas, seraya memberi saya suatu firman Allah yang dikutipnya dari Al-Quran terkait kejujuran.

DI USIA TUJUH PULUH DUA TAHUN
“Saya minta maaf, semua dokumentasi saya ditinggal di Solo, tidak ada yang di Jakarta,” katanya ketika saya menanyakan dokumentasi pribadinya.

Hingga kini, ibu Atmodjo tercatat sebagai ketua perkumpulan Lansia di sekitaran wilayah tempat tinggalnya. Selain itu, beliau juga aktif sebagai Ketua Organisasi di dalam suatu pengajian, yang juga bergerak sebagai konsultan bagi para pengidap kanker. Dengan pengalamannya sebagai konsultan di bidang psikologi, beliau kala itu ditunjuk agar mengetuai kelompok pengajian tersebut.

Di usianya yang sudah mengnjak kepala tujuh,  ibu Atmodjo mengaku belum terlalu banyak halangan di segala aktivitas yang masih dijalaninya,  terutama sebagai ketua di berbagai organisasi. “Saya senang melakukannya, dan itu yang membuat saya terus kuat dan bahagia. Dan saya ini sebenarnya kalau di organisasi ngga pernah mau jadi anggota. Saya terus jadi ketua, biar saya terus bisa bermanfaat, berkarya, dan selalu terus didengarkan.” Begitu katanya.

Bersama Cucu

Saya dan ibu Atmodjo (kanan-kiri)

No comments:

Post a Comment