Friday, 31 May 2013

TUGAS 2 BIOGRAFI - Nadhira Khanza XI IPA 4

Emas Hitam Penyelamat Nusantara

Minyak bumi, yang juga dijuluki sebagai emas hitam atau bahan bakar fosil adalah minyak yang berasal dari dalam perut bumi, berupa cairan kental berwarna gelap atau kehijauan yang mudah terbakar. Para ahli geologi minyak pada umumnya sepakat bahwa minyak bumi dan gas bumi terbentuk dari senyawa – senyawa organik, baik tumbuh – tumbuhan maupun hewan, terutama jasad – jasad renik (mikroorganisme) yang hidup di daratan atau lautan jutaan tahun lalu. Sisa – sisa organisme tersebut ditransportasi dan diendapkan bersama bantuan hasil pelapukan dan erosi dalam cekungan – cekungan sedimen yang disebut dapur (kitchen) baik di laut, danau, sungai maupun rawa – rawa. Batuan – batuan sedimen yang kaya mikroorganisme tersebut dinamakan batuan induk (source rock) setelah mengalami proses kima, perubahan temperatur, dan tekanan tertentu dalam waktu yang lama, sisa – sisa organisme tersebut oleh bakteri diurai dan diubah menjadi minyak dan atau gas bumi. Minyak dan atau gas bumi yang terbentuk dalam batuan induk didasar – dasar cekungan berimigrasi ke tempat yang lebih tinggi dan terperangkap atau terakumulasi dalam batuan reservoir (reservoir rock). Minyak dan gas bumi yang terjebak dalam batuan reservoir itulah yang dieksplorasi dan dieksploitasi untuk dimanfaatkan manusia sebagai sumber energi primer.

Minyak bumi telah menjadi bagian dari peradaban manusia sejak ratusan tahun lalu. Dalam catatan sejarah, pada tahap awal berbagai bangsa telah memanfaatkan minyak bumi ini dengan cara sederhana. Kini minyak bumi menjadi bagian penting dalam peradaban manusia modern.

Dari penelusuran sejarah migas di Indonesia, diketahui bahwa sampai dengan pra kemerdekaan Republik Indonesia, seluruh kegiatan operasi migas di Indonesia ternyata semuanya masih dikuasai oleh perusahaan – perusahaan asing. Hal ini tidak terlepas dari kenyataan bahwa migas merupakan sumber daya alam yang sangat strategis, khususnya sebagai bahan baku energi utama sangat dibutuhkan ketika itu, bahkan sampai saat ini dan di waktu mendatang.

Upaya memiliki dan menguasai sumber daya alam migas dengan jelas terlihat dalam Perang Dunia II pecah. Invasi Jepang ke negara – negara Asia Tenggara, terutama Indonesia yang saat itu masih dikenal sebagai Hindia Belanda, tidak terlepas dari pertimbangan penguasaan pasokan migas dari Indonesia ke Jepang. Sejarah perminyakan Indonesia berubah drastis setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945. Semangat perjuangan dan nilai – nilai nasionalisme tumbuh disegenap aspek kehidupan rakyat, termasuk di sektor migas. Hal ini dibuktikan ketika agresi Belanda I dan II mendapat perlawan sengit dan heroik dari para pejuang yang dimotori oleh laskar minyak diseluruh daerah perminyakan, termasuk daerah – daerah di Sumatra seperti di Pangkalan Brandan, Plaju, Prabumulih, Pendopo, dan lain – lain. Bahkan terjadi peristiwa bersejarah migas Indonesia yakni melalui peristiwa di Bulan Juni 1957. 

Ketika itu, sekitar 15.000 anggota masyarakat mendesak agar nasionalisasi Tambang Minyak Sumatra segera direalisasikan dan tidak dikemalikan kepada Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM) sebagaimana daerah – daerah lain. Peristiwa tersebut telah mendorong pemerintah Indonesia saat itu untuk menugasan Angkatan Darat mengelola Tambang Minyak Sumatra dengan membentuk perusahaan nasional migas yang disebut PT Eksploitasi Tambang Minyak Sumatera Utara (PT ETMSU). Beberapa bulan kemudian tepatnya pada 10 Desember 1957, PT ETMSU diubah menjadi PT Pertamina. Perusahaan ini merupakan perusahaan migas nasional pertama di Indonesia. Tanggal tersebut kemudian disepakati sebagai hari kelahiran Pertamina sampai saat ini.

Bermodalkan semangat juang dan nasionalisme yang tinggi PT Pertamina mampu merehablitasi puing – puing fasilitas peninggalan Belanda yang tersisa, sehingga mampu melaksanakan ekspor crude (minyak mentah) perdana dengan kapal Shuzui Maru dari Pangkalan Brandan (melalui pelabuhan Pangkalan Susu) ke Jepang pada bulan Mei 1958. Dalam perkembangan selanjutnya PT Pertamina kemudian menjai PN Pertamina dan berdasarkan Undang – undang Nomor 8 Tahun 1971 tentang Pertamina dikukuhkan menjadi Pertamina dengan berbagai capaian dan keberhasilannya.

Pengelolaan minyak di Indonesia mulai tahun 1915 dikuasai oleh perusahaan minyak Amerika Serikat melalui NKPM (Netherlandsche Koloniale Petroleum Maatschappij) khususnya didaerah Talang Akar, Pendopo - Sumatra Selatan. Daerah ini merupakan penemuan minyak bumi terbesar di wilayah Nusantara sebelum perang Dunia II. Sejak saat itu NKPM membangun kilang minyak hampir disemua wilayah Sumatera. NKPM membangun kilang di Sungai Gerong. NKPM membangun jaringan pipa untuk mengalirkan minyak mentah dari Talang Akar, Pendopo, ke kilang Sungai Gerong. Perusahaan minyak Amerika seperti Shell, Stanvac (Standart Vacuum Company), Texas Company (Texaco).

Berdasarkan uraian diatas, sejarah mencatat bahwa bumi Nusantara senantiasa menjadi ebutan perusahaan – perusahaan minyak asing. Selama 60 tahun sejak pertama kali minyak ditemukan (1885) sampai menjelang rakyat Indonesia menyatakan kemerdekaannya (1945), lapangan – lapangan minyak di berbagai wilayah Nusantara terus dikuras dan dikuasai oleh perusahaan Tiga besar (The Big Three) ketika itu, yaitu:
* Shell menguasai Sumatra Utara dan Papua
* Stanvac menguasai Sumatra Tengah dan Sumatra Selatan
* Caltex mengelola ladang minyak di Sumatra Tengah


Selain menguasai ladang minyak di berbagai wilayah, Shell dan Stanvac juga menguasai distribusi dan pemasaran BBM di seluruh Nusantara (Shell menguasai jaringan terluas). Sementara itu, Jepang hanya mampu bertahan menjajah selama tiga setengah tahun.


Disamping perjuangan memperebutkan kemerdekaan yang berlangsung secara nasional, di berbagai lapangan minyak di Nusantara satuan – satuan laskar minyak memperlihatkan semangat perjuangan yang luar biasa untuk merebut lapangan minyak dari Jepang dan mempertahankannya dari upaya penguasaan kembali oleh Belanda yang dibantu oleh sekutu. Disamping secara fisik, upaya politik pun berlangsung serius.


Proklamasi kemerdekaan RI sangat membawa pengaruh terhadap kepemilikan sumber daya migas di Indonesia. Meski de facto para pejuang menguasai secara fisik instalasi perminyakan di lapangan, tetapi secara de jure status aset lapangan minyak dan kilang masih menjadi milik pemegang konsesi. Hal tersebut karena belum ada penggan IMW 1899 buatan Belanda, sehingga pemeinta RI masih harus memakai hukum positif dimaksud. Dengan demikian berarti pemerintah Indonesia belum sepenuhnya berdaulat atas sumber daya alam minyak bumi di negri sendiri.


Berdirinya PN Pertamina pada tahun 1968 menjadi tonggak sejarah bagi Indonesia untuk dapat mengelola minyak buminya sendiri. Hal mendasar yang menjadi prioritas Direksi PN Pertamina saat itu adalah konsolidasi sumber daya manusia (SDM). Peningkatan kemampuan dan kompetensi SDM menjadi faktor yang mendesak untuk secepatnya dilakukan, sesuai dengan motto “Bekerja Sambil Belajar dan Belajar Sambil Bekerja”. Langkah pertama yang dilakukan adalah integrasi secara maksimal karyawan dari PN Pertamina dan PN Pertamina termasuk karyawan yang berasal dari The Big Three.

Dalam pengoperasiannya, perusahaan – perusahaan minyak Amerika mempergunkan tenaga lokal. Artinya karyawan – karyawannya sebagian besar adalah masyarakat Indonesia, terutama untuk posisi – posisi yang berkaitan dengan kerja yang memerlukan tenaga kerja, sedangkan pekerjaan yang berkaitan dengan manajemen dan pengambilan keputusan, seutuhnya dipegang oleh orang – orang yang berasal dari Amerika. Akibatnya budaya oganisasi di perusahaan tersebut terbawa budaya Amerika. Banyak masyarakat Indonesia khususnya yang bekerja dengan perusahaan minyak Amerika, lebih merasa menjadi orang Amerika dibandingkan orang Amerika sendiri. Nyaris kehidupan sosial bermasyarakat diaerah kilang minyak benar – benar sudah melupakan tradisi Nusantara.

PN Permina beruapaya semaksimal mungkin untuk menciptakan tenaga kerja asli Indonesia yang handal di perminyakan. Saat itu, banyak tenaga ahli perminyakan diperoleh dari Akademi perminyakan yang didirikan oleh PN Permina dan lulusan dari ITB Bandung. Aulia Siagian (Kakekku) menyelesaikan kuliah perminyakannya di ITB Bandung. Setelah menyelesaikan kuliahnya di Bandung, Beliau kembali ke daerah asalnya yaitu ke Medang. Dengan waktu yang tidak terlalu lama, dengan keahliannya dibidang perminyakan membuat beliau mudah untuk meniti karir di PN Permina yang selanjutnya menjadi PT Pertamina.

Meniti karir mulai dari bawah ternyata membawa manfaat untuk karirnya dimasa datang, dimulai dengan turut serta melakukan pengeboran untuk mencari minyak bumi yang berati bekerja dengan alat – alat berat. Sampai suatu ketika beliau diberi kepercayaan untuk mengelola seluruh eksplorasi migas di Pendopo Sumatra Selatan. Kilang minyak di Pendopo ini adalah kilang minyak yang awalnya dikuasai oleh Stanvac, dengan memanfaatkan tenaga lokal. Sehingga tidak heran, budaya dan kebiasaan masyarakat sangat beroreintasi pada budaya Barat. Dengan mauknya Pertamina ke Pendopo, jelas ini membawa tantangan sendiri, Pertamina berusaha meng-Indonesikan rakyat Indonesia sendiri. Mengembalikan Budaya dan kebiasaan masyarakat kembali menjadi orang Indonesia.

Sejak Indonesia merdeka, Pendopo belum pernah melakukan upacara bendera Indonesia akibat banyaknya daerah – daerah di Sumatra Selatan yang masih dikuasai Perusahaan Amerika. Maka sejak Pendopo diambil alih oleh Pertamina, maka sejak itu aturan, budaya dan prilaku masyarakat akan dikembalikan sesuai dengan budaya Nusantara.

Pada tanggal 10 Desember 1983, dilakukanlah upacara bendera Indonesia pertama di Pendopo dengan pemimpin upacara Kakeknda Aulia Siagian sebagai Kepala Lapangan Pendopo. Saat upacar berlangsung sangat terasa bagaimana rasa nasionalisme mulai terbentuk, walaupun pada awalnya masih terdapat pertentangan diantara karyawan. Tetapi dengan semangat yang tinggi, konflik – konflik dapat diatasi dengan tujuan dapat membangun dan melaksanakan pengusahaan minyak dan gas bumi dalam arti seluas – luasnya untuk sebesar – besar kemakmuran rakyat dan negara serta menciptakan ketahanan nasional. Berjayalah Pertamina sebagai perusahaan negara yang dapat membawa kesejahteraan masyarakat Indonesia.

No comments:

Post a Comment