Thursday, 2 May 2013

Tugas 2 Biografi - Adilla Nityasari XI IPA 1

Nenek Rosmawar, Perawat Kodam Jaya

Setiap hal di dunia memiliki sejarahnya masing-masing. Sejarah itulah yang membuat sesuatu berarti. Sejarah dapat diartikan sebagai kejadian masa lampau atau asal-usul terjadinya sesuatu. Tidak hanya benda, manusiapun memiliki sejarah hidup mereka masing-masing. Dari awal pertama kali mereka menangis saat lahir di dunia ini, sampai akhirnya mereka menghembuskan nafas terakhir mereka saat meninggal.

Negara-negara di dunia juga memiliki sejarahnya masing-masing. Dari masa penjajahan mereka, masa perang, masa kemerdekaan, pemberontakan, dan lain sebagainya. Perkembangan sejarah negara-negara inilah yang membuat setiap negara berbeda satu sama lain. Sejarah suatu negara sangat dipengaruhi oleh aktifitas dan peranan setiap individu manusia. Dapat dikatakan, bahwa sejarah hidup seorang manusia dapat mempengaruhi sejarah perkembangan sebuah negara.

Pahlawan-pahlawan yang sudah kita kenal seperti, Ir. Soekarno, RA. Kartini, Moh. Hatta, dan lain-lain, tentunya memiliki peranan besar dalam perkembangan sejarah Negara Indonesia. Tetapi selain pahlawan-pahlawan tersebut, sebenarnya banyak sekali orang lain yang ikut turut serta berperan di Indonesia. Tidak perlu jauh-jauh, siapa sangka, kadang-kadang orang terdekat kita sendiri ternya pernah berperanan dalam situasi penting di Indonesia.


A. Biografi

Rosmawar, atau lebih sering dipanggil “nekban” oleh keluarga, adalah nenek dari seorang teman saya yang sekarang sudah berusia 73 tahun. Ia lahir pada tanggal 16 September 1940 di Kota Lubuk Basung, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.

Nekban merupakan anak dari seorang petani dan pedagang. Tidak hanya Nekban, pasangan tersebut juga melahirkan 3 orang anak sebelumnya. Mereka adalah Nenek Mak Tuo, Kakek Mak Dang dan Nenek Mak Tuo Newan. Nenek Mak Tuo dan Nenek Mak Tuo Newan masih hidup sampai sekarang, sedangkan Kakek Mak Dang sudah meninggal dunia.

Nekban menghabiskan sebagian besar masa kecilnya di Kota Lubuk Basung. Pada saat ia berumur kira-kira 15 tahun, ia ikut ibunya untuk merantau ke Jakarta. Entah apa yang sebenarnya dirasakannya saat itu, tetapi ia sangat ingin untuk melanjutkan sekolahnya ke Sekolah Perawat. Saat ini, mungkin sekolah itu bisa dibilang setingkat SMA. Nekban tidak sempat melanjutkan pendidikannya sampai ke kuliah, tetapi ia benar-benar menekuni keperawatan yang ia pelajari. Hingga pada akhirnya, ia bergabung ke Perawat Kesehatan Kodam Jaya.

Nekban memiliki suami, yang merupakan kakek saya, yang bernama (Alm.) Adenan bin Aladdin. Awalnya, nekban sudah dijodohkan dengan sepupunya sendiri. Tapi pada suatu saat pada pertemuan keluarga besar, datanglah Kakek Adenan, yang ternyata merupakan saudara (sangat) jauh dari Nekban sendiri. Perasaan cinta mulai muncul mulai saat itu. Walaupun tahu nekban sudah dijodohkan, Kakek Adenan tidak menyerah.

Dengan rasa pantang menyerah itu, akhirnya Kakek Adenan berhasil mendapatkan Nekban. Nekban menikah dengan Kakek Adenan pada tanggal 8 Oktober 1958. Nekban dianugrahi 9 orang anak. 8 anak laki-laki, dan 1 anak perempuan yang paling kecil, yang saya panggil Tante Leni. Konon, dalam adat Minangkabau, anak perempuan merupakan anak yang paling ditunggu-tunggu dan dibanggakan. Karena itu, kehadiran Tante Leni menjadi sebuah kelegaan tersendiri bagi Nekban dan Kakek Adenan.


Sekarang, Nekban sudah menikmati masa tuanya di kediamannya, yaitu di Jakarta, tepatnya di daerah Paseban. Tempat Nekban tinggalini juga merupakan asal-usul kenapa ia dipanggil Nekban. Nekban sebenarnya merukan singkata dari “NEnek paseBAN”. Anak Nekban yang ada 9 sudah meninggal 1 saat masih breumur kira-kira belasan tahun. Saat ini, Nekban memiliki 8 anak beserta 8 menantu dan sudah memiliki 31 cucu, dari yang sudah kerja hingga masih berumur 1 tahun.


B. Peranan

Saya sendiri sebenarnya sudah diberitahu bahwa Nekban merupakan perawat semasa hidupnya. Tetapi, saya belum pernah diceritakan olehnya tentang kisahnya dulu saat menjadi perawat. Tentang apa yang pernah terjadi padanya atau apa yang pernah dia saksikan.

Saat saya bertanya, apa yang menyebabkan Nekban ingin menjadi perawat, ia mengatakan bahwa ia sudah samar-samar mengingatnya.

“Intinya, saya ingin membantu orang yang kesulitan”, papar Nekban. Dari tujuan yang mulia itu, akhirnya ia dapat menjadi perawat yang giat dan ikut berperan dalam sejarah penting Negara Indonesia.

Dulu, Nekban tidak hanya menjadi perawat biasa. Tetapi ia menjadi Perawat Kesehatan Kodam Jaya. Banyak yang telah dialami oleh Nekban saat ia masih menjadi Perawat Kesehatan Kodam Jaya. Salah satu peranan Nekban adalah dengan menjadi perawat pada kejadian G30S/PKI yang sangat terkenal itu.

Pada tanggal 29 september 1965 pukul 14.00 siang, Nekban sedang di rumah sambil menimang-nimang anak keempatnya yang bernama Martediansyah, ayah saya. Ayah saya masih berumur 6 bulan saat itu. Tiba-tiba, Nekban kedatangan tamu yang merupakan tetangganya sebelah rumahnya sendiri. Tetangga tersebut bernama Suprapto.

“Om Adenan, Tante Ros, besok akan ada kejadian”, kata Suprapto kepada Nekban. Nekban tidak terlalu mengerti apa maksud perkataanya. Setelah mengatakan hal tersebut, Suprapto langsung minta izin pamit pulang.

Kakek Adenan dan Nekban

Keesokan paginya, terdengar bunyi-bunyi tembakkan dari rumah Nekban. Kejadian G30S/PKI yang kita tahu terjadi saat itu. Nekban menceritakan bahwa ia langsung dipanggil oleh atasannya untuk siap sedia menjaga dan mengobati korban-korban dari kejadian tersebut. Ia menceritakan bahwa banyak sekali korban yang masuk.
            
“Saat itu, sudah tidak tahu lagi mana yang lawan dan mana yang kawan. Pokoknya, saat ada yang treluka, nenek harus langsung nyembuhin mereka”, ungkap Nekban.

Dari perkataan Nekban tersebut, saya langsung penasaran apakah ada orang penting yang sempat ia obati atau urusi. Lalu akhirnya Nekban bercerita bahwa ia sempat merawat kaki Pak Nasution, bapak dari Ade, yang terluka. Saat itu, Pak Nasution dirawat di RSPAD.

“Pada kejadian G30S/PKI, Jakarta benar-benar terasa mencengkam dan mengerikan,” kata Nekban saat saya tanya tentang keadaan waktu itu. Nekban juga menceritakan bahwa pada kejadian ini, saat ia  ditugaskan untuk mengurus dan mengobati korban-korban, sebenarnya pikirannya tidak jauh-jauh dari anaknya juga yang saat itu masih berumur 6 bulan.

Saat ia pulang untuk menjenguk keadaan anaknya, tiba-tiba datang orang-orang kodam 5 jaya ke depan rumahnya. Ia kira, orang-orang tersebut akan masuk ke rumahnya, tetapi mereka malah datang ke rumah Suprapto dan mendobraknya.

“Saya keluar rumah dan tiba-tiba ada tentara yang saya kenal” kata Nekban saat menceritakan kejadian ini.

“Saya langsung bertanya pada mereka, mau apa kemari? Tidak disangka, ternyata mereka datang untuk menangkap Suprapto”, jelas Nekban. Tentara-tentara tersebut mengatakan bahwa Suprapto adalah anggota PKI.

“Saya benar-benar bingung dan tidak menyangka. Ternyata Suprapto merupakan PKI. Saya kaget, ternyata di sebelah rumah saya sendiri ada PKI”, jelas Nekban. Rumah Suprapto berada tepat di sebelah rumah Nekban. Tetangga yang selama ini dikenalnya baik ternyata memiliki sesuatu di belakangnya.

Setelah menjadi saksi penangkapan tetangganya sendiri, Nekban akhirnya memutuskan untuk membawa Martediansyah, ayah Saya yang saat itu masih bayi, bersamanya saat dia shift jaga malam di rumah sakit. “Daripada saya kehilangan anak saya, mending saya bawa sekalian ke tempat kerja saya”, jelas Nekban.

Beberapa hari setelah kejadian penangkapan Suprapto, Istri dari Suprapto menitipkan 2 anak mereka yang saat itu masih balita ke rumah Nekban. Anak-anak itu bernama Rita dan Nunung. Rita dan Nunung diorawat oleh nekban hinggar kira-kira umur belasan tahun.

Selang beberapa minggu dari penangkapan Suprapto, Istri Suprapto dan 3 anak laki-laki Suprapto ternyaa juga ikut ditangkap. Hal ini benar-benar tidak disangka oleh Nekban. Untungnya Rita dan Nunung masih aman di rumah Nekban.

Pada tanggal 4 Oktober 1965, Nekban ikut ke Lubang Buaya untuk mengangkat jenazah jendral-jendral yang diculik pada kejadi G30S/PKI. Keadaan jenazah-jenazah tersebut benar-benar menyedihkan. Walau merasa tidak enak, tetapi tuntutan pekerjaan membuatnya harus tetap mengurus dan mengangkat jenazah-jenazah tersebut.

Nekban bersama Kakek Adenan juga ikut memakamkan para jendral-jendral pada tanggal 5 Oktober 1965. Nekban tidak menjelaskan secara detail kronologis pemakamannya. Ia sudah samar-samar mengingatnya, tetapi yang jelas, ia ikut memakamkan jendral-jendral tersebut

Selain itu, Nekban juga ikut membersihkan kali di sepanjang istana gajah mada sampai ke kota. Ia mengatakan bahwa banyak sekali jenazah-jenazah di sepanjang kali tersebut. Keadaannya pun juga sudah mengenaskan. Setelah mengangkut jenazah-jenazah tersebut dari kali, jenazah-jenazah itupun dibawa ambulans ke jilinjing.

Mungkin masih banyak pengalaman Nekban lainnya yang secara langsung maupun tidak menjadi faktor yang mempengaruhi perkembangan sejarah Indonesia. Tetapi saat saya mewawancarainya, ia hanya bercerita seingkat itu.

Saya merasa kaget sejujurnya mengetahui bahwa nenek saya sendiri memilki peranannya pada peristiwa G30S/PKI yang terkenal itu. Ternyata yang menjadi saksi pada banyak kejadian di G30S/PKI. Saya bangga kepada nenek saya yang telah berperan kepada Indonesia. Ternyata benar, bahwa sebenarnya, kita tidak perlu jauh-jauh mencari pahlawan negeri kita ini. Siapa sangka, ternyata nenek kita sendiri bisa jadi memiliki sebuah peranan di negeri tercinta kita, Indonesia.


No comments:

Post a Comment