Sunday, 26 May 2013

Tugas-2 Biografi Nadia Khairunnisa


NENEK SRI SURILAH, PUTRI DARI SEORANG PENGURUS PNI YANG SANGAT PEDULI DENGAN LINGKUNGAN SEKITARNYA


A.      Biografi
Lahir pada tahun 1944, tepatnya pada bulan Desember tanggal 25. Anak perempuan pertama dari pasangan Bapak Harjo dan Ibu Oneng Istias. Dilahirkan di Cirebon, tepatnya di Haeur Geulis. Bukan berarti jika lahir di daerah Jawa Barat, Nenek Sri Surilah adalah orang Jawa Barat, tapi ia merupakan orang yang berasal dari keluarga Jawa Tengah. Nenek Sri Surilah menetap di kota tersebut bersama ibu, bapak, dan keenam saudara laki-lakinya yang lain. Karena pekerjaan bapaknya yang merupakan kepala kantor pos pada zaman itu, tak heran jika mereka sudah siap jika harus mengikuti bapaknya yang berpindah dari satu kota ke kota lainnya.
Nenek Sri Surilah merupakan anak ke 7 dari 10 bersaudara, tapi ia adalah anak perempuan yang paling pertama. Semua kakaknya adalah laki-laki. Hanya ada seorang adiknya saja yang perempuan, yang lahir tepat setelah Nenek Sri Surilah. Adik bungsunya, telah meninggal dunia ketika masih kanak-kanak karena hanyut disungai ketika hujan deras. Jadi, dari 10 bersaudara, hanya 9 yang bertahan sampai masa dewasa. Tapi, sekarang, semua saudara beliau telah kembali ke Sang Pencipta. Hanya tersisa Nenek Sri Surilah dan adik yang merupakan anak ke 8, yang perempuan, Eyang Cicik.

Nenek Sri Surilah (paling kiri)  bersama saudara-saudaranya dan kedua orang tuanya

Setelah Nenek Sri Surilah berusia 2 tahun, karena pekerjaan bapaknya mengharuskan Nenek Sri Surilah dan keluarganya untuk pindah lagi, kali ini ke Kajen di daerah Pati, Jawa Tengah. Dan juga, karena bapak dari Nenek Sri Surilah adalah seorang ketua Kantor Pos Indonesia, yang pada masa itu merupakan jabatan yang lumayan bagus, maka bapak Nenek Sri Surilah menjadi salah seorang anggota pengurus PNI (Partai Nasional Indonesia) yang dulu merupakan sebuah partai berhalauan Nasionalis. “Tidak begitu agamis, tapi endak komunis”, begitu papar Nenek Sri Surilah.
Dan menjadi seorang anak perempuan dari seorang bapak yang diluar dari urusan kerjanya adalah sebagai pengurus PNI, tidak begitu amat menyenangkan. Karena pada saat itu, Belanda dan Jepang masih mencurigai organisasi seperti itu. Ditambah lagi, dulu, pada waktu itu, rumah keluarga Nenek Sri Surilah bisa dibilang yang paling besar di daerahnya – karena bapak Nenek Sri Surilah yang merupakan kepala kantor pos – diantara rumah-rumah lain yang modelnya gubuk. Maka tak jarang, rumah Nenek Sri Surilah sering digeledah oeh tentara belanda. Sehingga beberapa baju bagus yang dimiliki ibu Nenek Sri Surilah sering kali dikubur didalam peti ketika kiranya tentara belanda akan melakukan pengeledahan.
Tidak hanya penggeledahan, Nenek Sri Surilah mengatakan juga bahwa bapaknya pernah di kejar-kejar, bukan dengan pihak Belanda, tapi dengan pihak komunis pada waktu itu. Hal itu juga sangat membuat keluarga khawatir. Walaupun hidup di zaman yang sudah merdeka, tapi keamanan masih belum sangat mendukung pada zaman sekitar itu.
Karena keadaan situasi seperti ini yang sangat tidak memungkinkan keselaman bagi anak kecil, apa lagi perempuan, Nenek Sri Surilah terpaksa harus diungsikan ke rumah budhe nya di desa. Disana, karena Nenek Sri Surilah hanya kabur dengan pakaian yang melekat di badannya, maka tak jarang ia selama di desa memakai hanya kain yang dibelah dua, untuk pagi dan yang satu lagi untuk sore. Atau jika keadaan sangat mendesak, pernah juga Nenek Sri Surilah harus memakai karung goni bekas bungkus beras.
Tapi tidak hanya Nenek Sri Surilah yang mengalami keadaan ini, yang harus keluar dari rumah untuk diungsikan ke desa. Tapi kakak-kakak Nenek Sri Surilah juga diungsikan ke tempat saudara-saudaranya yang berdeda. Jadi walaupun mereka semua satu keluarga, di masa kecil mereka tinggalnya secara terpisah. Baru saat mereka sudah mulai usia  sekitar 7 tahun, mereka kembali ke rumah mereka dan tinggal bersama ibu dan bapak mereka.
Pada tahun 1951, bapak dari Nenek Sri Surilah dipindahkan lagi untuk urusan kerja, ke Kudus, Jawa Tengah. Baru disana ibu dan bapak dari Nenek Sri Surilah membeli sebuah rumah yang besar lagi. Karena sekarang semua anak-anak mereka tinggal bersama mereka lagi. Sudah tidak adalagi pengeledahan dan pemeriksaan rumah oleh prajurit Belanda ataupun Jepang pada saat itu. Semua saudara Nenek Sri Surilah dan Nenek Sri Surilah sendiri melanjutkan sekolahnya yang sewaktu di desa sekolahnya kurang begitu terurus.  
Pada masa kecilnya – sekitar usia 8 tahun –  Nenek Sri Surilah menceritakan bahwa, bagaimana seorang perempuan,  biarpun masih anak-anak, tetap harus bekerja di dapur. Dalam arti lain, anak perempuan lah yang mengurus pekerjaan rumah tangga suatu keluarga. Biarpun ia bersekolah, tapi segala pekerjaan rumah sampai momong adik-adiknya juga sudah rutin ia kerjakan, karena itu juga merupakan kewajiban sehari-hari baginya. Seperti hal nya, semua piring kotor bekas kakak-kakaknya makan, Nenek Sri Surilah lah  yang harus membereskannya. Saat pagi hari, ibunya yang membuatkan sarapan. Setelah semuanya sarapan, semuanya berangkat sekolah, bapkanya berangkat kerja, dan ibunya pergi untuk kegiatan. Tinggalah Nenek Sri Surilah yang membereskan meja makan. Ditemani dengan satu adik perempuannya yang merupakan anak bungsu. Barulah setelah semua sudah rapih, ia bisa berangkat sekolah. Dan ketika itu Nenek Sri Surilah masih duduk di kelas 4 Sekolah Dasar.
Ada beberapa faktor yang mewajibkan ia melakukan segala hal rumah tanngga walaupun ia masih anak-anak, selain dari dorongan zaman pada masa itu adalah karena ibunya yang merupakan anggota dari PERWARI (Persatuan Wanita Republik Indonesia). Ya, ibu dari Nenek Sri Surilah ini adalah termasuk wanita yang terpelajar. Nenek Sri Surilah menjelaskan bahwa ibunya dulu adalah lulusan HIS (Hollandsch Inlandsche School). Wanita yang pada zaman itu mengikuti sebuah organisasi, ternyata tidak jarang akan sibuk dengan segala kegiatan organisasinya itu. Sehingga anak perempuannya yang dibebani segala urusan rumah tangganya.  Ibu yang seharusnya melakukan segala kesibukan dan rutinitas rumah tangga ini sudah sibuk, sehingga sang anak perempuan pun hanya bisa menurut dan memahami kesibukan ibunya itu.
Nenek Sri Surilah melanjutkan pendidikannya sampai tingkat SMA. Setelah lulus SMA, Nenek Sri Surilah memutuskan untuk menikah dengan seorang laki-laki yang merupakan kakak kelasnya ketika dahula bersekolah, ia bernama Yudi Achmadi. Setelah itu mereka berdua, Nenek Sri Surilah dan suaminya pindah ke Jakarta, mengikut dengan beberapa kakak dari Nenek Sri Surilah yang telah lebih dahulu bekerja di Jakarta. Di Jakarta, Nenek Sri Surilah pertama-tama bekerja membuka toko makanan kecil, disekitar proyek-proyek. Dan suaminya yang saat itu bekerja di BRI (Bank Rakyat Indonesia). Saat di Jakarta itulah Nenek Sri Surilah mulai memiliki anak. Anak beliau ada tiga. Yang pertama bernama Arief Yusrianto, yang kedua bernama A.  Imron, dan yang terakhir Lukman.H. Beliau tinggal di daerah Tanah Kusir  sampai sekarang.

B.      Peranan
Peranan yang dilakukan oleh Nenek Sri Surilah semasa hidupnya berawal dari sewaktu ia sudah memiliki anak. Pada saat itu ia bertempat tinggal di Jakarta. Nenek Sri Surilah menceritakan bahwa mengapa ia pertama kali datang ke Jakarta dari Kudus bisa diterima sangat baik oleh warga sekitar, adalah karena Nenek Sri Surilah lumayan berpendidikan. Di komunitas tempat ia tinggal, di Tanah Kusir, dahulu pada tahun 1967 masih banyak warga-warga sekitar itu yang buta huruf. Kalaupun bisa membaca atau menulis, itu adalah huruf arab. Huruf alphabet mereka banyak yang tidak bisa. Oleh karena hal itu, Nenek Sri Surilah bersosialisasi dengan mereka yang tidak bisa baca tulis huruf alphabet itu  dengan cara menjadi pengajar suka rela di suatu perkumpulan ibu-ibu di daerah sekitaran Tanah Kusir. Tetapi tidak hanya mengajari membaca dan berhitung saja, Nenek Sri Surilah juga bertukar peran, menjadi yang diajari oleh beberapa temannya tentang cara membaca dan menulis huruf arab.
Tidak hanya member pengajaran tentang baca, tulis, dan menghitung saja. Di perkumpulan ibu-ibu yang mengembang menjadi PKK yang kepanjangannya adalah Pembinaan Kesejahteraan Keluarga. Di PKK tersebut, beliau sering berpidato dan mengajak perempuan-perempuan lain yang kegiatan sehari-harinya adalah ibu rumah tangga untuk bergabung di kegiatan PKK. Kegiatan-kegiatan tersebut diantaranya adalah memasak bersama, mensosialisasikan kesehatan, kebersihan, model-model baju saat itu, belajar menjahit, sampai membantu pemerintah pada zaman itu untuk menggalakan suatu program yang sangat gencar, yaitu sosialisasi tentang Keluarga Berencana. Dan banyak dari kegiatan-kegiatan tersebut diselenggarakan di rumah Nenek Sri Surilah sendiri, karena pada saat itu gedung RW setempat masih dalam proses pembangunan. Karena keaktifannya itu, Nenek Sri Surilah akhirnya dipilih untuk menjadi ketua PKK tersebut untuk wilayah Tanah Kusir - Kebayoran Lama.
Nenek Sri Surilah (kiri) sedang akan memberi sambutan

Nenek Sri Surilah (tengah) yang sedang dalam kegiatan PKK
Selain menjadi ketua PKK untuk wilayah Tanah Kusir – Kebayoran Lama, Nenek Sri Surilah juga sempat mengikuti pengajian yang dibina oleh partai Golkar, yang pada saat itu merupakan partai pemerintah. Dan karena dilihat sangat aktif dalam berbagai acara yang diselenggarakan oleh pengajian tersebut, maka Nenek Sri Surilah juga diberi suatu amanat untuk menjadi ketua pengajian Golkar di Jakarta. Dan karena Nenek Sri Surilah menjadi ketua pengajian Golkar, beliau pada tahun 1985 diberangkatkan naik haji tanpa membayar uang sepeser pun oleh partai Golkar dengan atas nama pengajian partai Golkar.
Memang, tidak terlalu banyak peranan untuk Indonesia yang dilakukan oleh Nenek Sri Surilah. Tapi, sumbangan-sumbangan semangat dan keaktifannya dalam beberapa organisasi yang bisa dibilang dibawah naungan pemerintahan, telah bisa memberi semangat kepada orang lain. Jika semua orang bisa berpartisipasi secara aktif seperti beliau, walaupun hanya di wilayah ia tinggal, itu akan menjadi suatu bantuan besar bagi bangsa kita, Indonesia untuk lebas dari keterpurukan yang harus dibenahi ini. Dan semoga tulisan ini bisa menjadi sebuah inspirasi penggerak yang memotivasi kita untuk menjadi seorang yang berguna dimana saja kita berada.
Saya (kiri) dan Nenek Sri Surilah (kanan) setelah menyelesaikan wawancara

No comments:

Post a Comment