Friday, 31 May 2013

Tugas-2 Biografi Nadya Luthfiyah

Koesbiyanto, Seorang Mantan Polisi yang Turut Serta dalam Pemberantasan Pemberontakan PRRI/Permesta



Indonesia adalah salah satu dari beberapa negara berkembang yang ada di dunia. Walaupun sebagai negara berkembang Indonesia masih belum semaju negara maju, Indonesia memiliki banyak potensi untuk terus berkembang dan bersaing dalam tingkat internasional. Sebelum dapat menjadi negara yang merdeka seperti sekarang, Indonesia harus melewati berbagai macam masalah yang timbul dari masa sebelum kemerdekaan hingga masa sesudah kemerdekaan. Masalah keuangan, politik, penjajahan, pemberontakan dan masalah-masalah pra dan pasca kemerdekaan lainnya dapat dilewati berkat perjuangan dan pengorbanan rakyat Indonesia yang tidak kenal lelah. Tanpa jasa para pahlawan terdahulu, kita tidak akan bisa hidup nyaman seperti sekarang. Orang-orang yang berjasa terhadap negara bukanlah hanya pahlawan yang ikut berperang, tetapi dapat juga berupa pahlawan reformasi, tokoh politik, tokoh pendidikan, orang-orang yang turut serta dalam memajukan atau melindungi bangsa,  dan banyak lainnya.

Pak Koes yang merupakan kakek saya dari bagian ibu adalah salah satu orang yang turut serta dalam pemberantasan salah satu pergolakan di Indonesia—yaitu  pergolakan PRRI di Sumatera Barat. Untuk mengetahui biografi kakek saya yang biasa saya panggil ‘Oppa’ tersebut, saya melakukan wawancara dengannya pada suatu kesempatan.

Pada hari Kamis sore, sepulang sekolah, saya berkunjung ke rumah kakek saya yang merupakan  seorang mantan polisi. Walaupun saya sudah sering berkunjung tiap bulannya karena letaknya yang tidak jauh dari rumah saya sendiri, nenek dan kakek saya dengan senang hati menerima kunjungan saya yang baru saya kabarkan beberapa menit sebelum kedatangan. Saat itu hari sudah menjelang Maghrib ketika saya, ayah saya, dan kakak saya tiba di rumah  kakek dan nenek saya yang terletak di Villa Bintaro Indah, Tangerang, Banten. Seusai sholat Maghrib, saya bersama kakek dan nenek saya duduk di kursi ruang tengah untuk memulai wawancara.


Saya bersama Oppa Koes dan Omma


Kakek saya, Oppa Koes, lahir ke dunia pada tanggal 4 Agustus 1932 di Nganjuk, Jawa Timur, dengan nama Koesbiyanto. Beliau merupakan anak pertama dari 7 bersaudara, dengan lima adik perempuan dan satu adik laki-laki yang merupakan anak keempat. Ayahnya yang bernama Soemo Wisastro  adalah seorang kepala sekolah sebuah sekolah dasar—yang pada masa penjajahan Jepang disebut dengan Sekolah Rakyat (SR)—di Nganjuk.

Dari kecil, Oppa Koes hobi bermain sepak bola dan berolah raga. Beliau ikut serta dalam klub sepak bola cilik di sekolahnya saat beliau masih berada di sekolah dasar. Beliau juga sempat menerima tanda jasa atlet di bidang lari jauh, lari cepat, lompat tinggi, dan lompat jauh di sekolahnya.

Saat kelas 4 SD, ibu beliau meninggal dunia, meninggalkan dirinya dan adik-adiknya yang masih kecil.  Saat itu, adik perempuannya yang terkecil masih berumur 5 hari. Masa itu merupakan salah satu masa tersedih dalam hidupnya, ditambah lagi dengan beban tanggung jawabnya sebagai anak pertama dari keluarga yang sudah tidak memiliki ibu, padahal ia sendiri masih  merupakan seorang anak kecil yang duduk di bangku SD.

Setelah melewati masa SD, Oppa Koes melanjutkan pendidikannya ke ST, kemudian ke STM. Setelah menempuh pendidikan terakhirnya di STM dan lulus pada tahun 1951, beliau memutuskan untuk pergi ke ibu kota tempat ia tinggal, yaitu kota Surabaya, untuk mencari kerja.

Pada tahun 1959, di ibu kota Surabaya, saat itu diberitahukan pengumuman bahwa negara sedang membutuhkan tenaga pemuda-pemuda Indonesia untuk dijadikan polisi negara di ibu kota. Oppa Koes yang mendengar hal itu  menjadi tertarik dan memutuskan untuk ikut bergabung dengan kesatuan polisi. Ia pun mengikuti pendidikan kepolisian di Kramat Jati, Jakarta, sebelum lulus pada tahun 60 dan resmi menjadi seorang polisi.

Pada masa awal karier Oppa Koes sebagai polisi, ia ditugaskan ke Sumatera Barat untuk memberantas pergolakan yang ada di sana, yaitu pemberontakan PRRI/Permesta. Perdjuangan Semesta atau yang biasa disingkat Permesta tersebut adalah sebuah gerakan militer di Indonesia yang dideklarasikan oleh pemimpin sipil dan militer Indonesia Timur pada 2 Maret 1957 oleh Letkol Ventje Sumual. PRRI atau yang berkepanjangan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia merupakan salah satu gerakan pertentangan antara pemerintah daerah dengan pemerintah pusat (Jakarta) yang dideklarasikan pada tanggal 15 Februari 1958 dengan keluarnya ultimatum dari Dewan Perjuangan yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Ahmad Husein di Padang, Sumatera Barat, Indonesia.

Pada masa itu, kondisi pemerintahan di Indonesia masih belum stabil setelah agresi Belanda. Hal ini mempengaruhi hubungan pemerintah pusat dengan daerah serta menimbulkan berbagai hambatan dalam pembangunan negara, terutama pada daerah-daerah di luar pulau Jawa. Maka dari itu, dibutuhkanlah  pasukan yang siap memberantas pergolakan tersebut demi kesejahteraan bangsa. Pasukan kesatuan kepolisian tempat Oppa Koes bekerja merupakan salah satu pasukan yang turut berjasa dalam pemberantasan pemberontakan tersebut hingga tahun 1962, di mana pemberontakan itu pada akhirnya dapat di berantas.

Di tahun 1963, Oppa Koes bertemu dengan seorang gadis bernama Chairani binti Jaya Ada yang kelak menjadi nenek saya. Nenek saya, atau yang biasa saya panggil ‘Omma’, lahir pada tanggal 17 Agustus 1942, membuatnya 10 tahun lebih muda dari Oppa Koes. Beliau merupakan anak yang sering berprestasi dari kecil. Beliau adalah anak yang cerdas sehingga ia selalu mendapat juara di sekolahnya. Ia juga sering berprestasi pada lomba-lomba non-akademik seperti lomba gerak jalan, lomba menari, lomba paduan suara, serta lomba deklamasi sajak. Kecerdasan nenek saya itulah yang membuat kakek saya menjadi tertarik.

Oppa Koes yang pada saat itu sedang ditugaskan di Polres 317 Batusangkar, Tanah Datar, Sumatera Barat , dapat bertemu setiap hari dengan nenek saya karena ia harus melewati sekolah tempat nenek saya bersekolah untuk sampai ke kantornya. Kebetulan, dua orang guru yang mengajar di sekolah nenek saya merupakan teman dekat Oppa Koes yang juga berasal dari Jawa dan bernama Soedi Sulastro serta Koesno. Menurut Oppa Koes, hubungan mereka bertiga sangatlah dekat—mereka sering makan bersama-sama dan tidur bersama-sama. Mereka berdualah yang membantu hubungan kakek dan nenek saya agar menjadi dekat hingga pada akhirnya mereka menikah dan mempunyai empat orang anak, yang salah satunya merupakan ibu saya.

 Anak mereka yang pertama merupakan tante saya yang bernama Sri Rahayu Ningsih. Ia lahir pada tanggal 10 Oktober 1965 dan menikah dengan seorang laki-laki Palembang bernama Ibnu Hajar. Anak kedua yang merupakan ibu saya lahir pada tanggal 20 Februari 1968 dengan nama Tati Febriyanti. Anak ketiga yang bernama Yenny Maidonna  lahir pada tanggal 20 Mei 1971, dan anak yang keempat adalah Liza Yuliana yang lahir pada tanggal 13 Juli 1973. Kakek dan nenek saya beserta keempat putrinya tinggal di rumah yang sederhana dengan berkehidupan sebagai polisi dan sekretaris bhayangkari polisi.

Setelah bertugas di Batusangkar dan sempat menjadi komandan pos di sana, Oppa Koes dipindah tugaskan ke Padang Panjang. Barulah setelah itu di tahun 1979, Oppa beserta keluarga pindah ke Jakarta untuk bekerja di Polda Metro Jaya. Di Jakarta beliau bekerja sebagai polisi lalu lintas berkat dikabulkannya permintaan Omma ke salah satu atasan Oppa Koes untuk menjadikannya sebagai polisi lalu lintas. Hal itu dilakukan Omma karena selama di Padang Panjang Omma merasa bahwa sepertinya polisi lalu lintas merupakan pekerjaan yang bagus.

Beberapa bulan setelahnya, Oppa Koes didinaskan di bagian STNK hingga ia pensiun. Kira-kira 4 bulan sebelum pensiun, Oppa Koes sempat menangkap mata-mata dari Jerman Barat bersama teman-teman polisinya. Ketika itu, mata-mata dari Jerman Barat tersebut hendak kabur setelah tertangkap basah memiliki rekaman berisi rahasia negara yang hendak dibawanya kembali ke Jerman. Agar mata-mata itu tidak lolos bersama rekaman rahasia negara, Oppa Koes menembak orang itu hingga mengenai pipi kanannya dan tembus pipi kirinya.  Mata-mata tersebut yang tidak lagi bisa kabur karena kesakitan, akhirnya dibawa ke rumah sakit di daerah Senen, Jakarta Pusat.

Tidak lama setelah ia dimasukkan ke rumah sakit itu, teman-temannya yang juga berasal dari Jerman Barat berhasil membawanya kabur untuk dipindahkan ke RSPP (Rumah Sakit Pusat Pertamina) dengan rencana akan pulang kembali ke Jerman dengan membawa rekaman rahasia negara setelah ia sembuh. Namun, pada akhirnya Oppa Koes beserta teman-teman polisinya berhasil menemukan dan menangkap mereka di lantai 7 RSPP. Sang mata-mata yang ternyata salah satu perwira angkatan bersenjata Jerman Barat itu pun dibawa kembali ke RSTM untuk dijaga. Setelah sembuh, ia dipulangkan kembali ke Jerman sementara rekaman yang ia punya disita.

Setelah mengalami berbagai macam peristiwa dan pengalaman berharga selama bekerja sebagai polisi di beberapa daerah, Oppa Koes pun pensiun pada tahun 1984. Walaupun Oppa Koes sudah pensiun, ia tetap dikaryakan sebagai polisi pada bagian pengurusan STNK berkat permintaan Omma yang masih bekerja sebagai sekretaris lalu lintas.

Saat putri-putri Oppa dan Omma sudah mulai bekerja dan kuliah, Oppa dan Omma pun memutuskan untuk berhenti bekerja atas permintaan dari anak-anak mereka.

“Anak-anak menegur karena mereka sudah selesai kuliah dan bekerja. Kata mereka, ‘Mama, untuk apa mencari uang lagi, kami kan sudah selesai kuliah, sudah bekerja, bila mama papa butuh uang, kami yang akan memberikannya.’ Makanya mama akhirnya minta ke Ibu Komandan agar mama boleh berhenti bekerja,” cerita Omma sambil tertawa.

Sesudah berhenti bekerja, Oppa pindah ke Gandaria dan menjadi RT di sana. Walaupun sudah berhenti bekerja beliau masih sibuk mengikuti berbagai macam aktifitas sosial bersama Omma. Beberapa tahun setelahnya, Omma dan Oppa pindah ke tempat kediamannya yang sekarang yang terletak di Villa Bintaro Indah. Saat ini mereka tidak lagi ikut serta dalam kesibukan organisasi dan kepemimpinan seperti RT dan lainnya karena ingin menghabiskan sisa hidupnya untuk beribadah.


“Setelah pindah ke Villa Bintaro, Oppa ga ikut kegiatan-kegiatan lagi karena mau fokus beribadah,” ujarnya menutup wawancara.  Dengan itu berakhirlah wawancara saya dengan Oppa Koes.  

No comments:

Post a Comment