Thursday, 30 May 2013

Tugas 2 Biografi Naila Rana Andira XI IPA 2

Ir. Suwarno Somoprawiro, memajukan Indonesia dengan pembangunan

Pada kesempatan kali ini saya mewawancarai kakek saya sendiri yaitu Ir. Suwarno Somoprawiro. Ia adalah seorang Insinyur sekaligus pengusaha yang bergerak dibidang konsulan. Selain itu, pada masa kecilnya ia pernah merasakan Agresi Militer Belanda yang memaksanya sekaligus keluarganya untuk mengungsi kesebuah desa kecil disebelah selatan Gunung Kelud. Ia juga pernah telibat proyek-proyek besar yang menguntungkan Indonesia pada semasa ia bekerja di PT Hutama Karya. Salah satu proyek itu adalah Jembatan Ampera yang menghubungkan dua wilayah Palembang yang terpisah oleh sebuah sungai besar yaitu Sungai Musi dan Krakatau Steel di Cilegon, Banten yang sekarang adalah perusahaan industri baja terbesar di Indonesia. Setelah itu ia memutuskan untuk menjadi pengusaha yang bekerja dibidang konsultan. Selama menjadi pengusaha ia pernah ikut dalam tim BKBN ke Amerika Serikat dan Kanada.


BIOGRAFI
Ir. Suwarno Somoprawiro, atau yang saya biasa panggil eyang karena ia berasal dari Jawa Timur lahir pada 20 Februari 1938 di kota Blitar. Pada semasa kecilnya ia tinggal dikota kecil yaitu Wlingi. Wlingi adalah sebuah kecamatan kecil di kota Blitar, Jawa Timur yang terletak di kaki gunung Kelud. Karena wilayahnya yang terdapat di kaki Gunung Kelud, kakek saya pernah mengalami hujan abu.
Kakek saya memulai sekolah dasar yang saat itu masih bernama sekolah rakyat di Wlingi. Pada waktu ia bersekolah di Sekolah dasar tepatnya di kelas 4 terjadi Agresi Militer yang dilakukan oleh Belanda. Sehingga kota Wlingi diduduki dan dikuasai oleh Belanda. Karena Agresi Militer itu, kakek saya den keluarganya mengungsi ke Pedalaman gunung di bagian selatan yaitu desa Seropulo. Ia mengungsi do Seropulo sampai kira-kira satu tahun kemudian. Kemudian mereka kembali lagi ke Wlingi, tetapi saat itu di Wlingi masih terdapat tentara Belanda sehingga ia bersekolah didaerah kedudukan Belanda di sekolah milik pemerintah Belanda. Saat Perundingan Meja Bundar telah disepakati dan tentara – tentara telah pergi, dan tentara Republik Indonesia masuk maka diadakanlah penyambutan tentara Republik Indonesia. Karena kakek saya dapat menari, maka ia menari pada acara penyambutan tentara Republik Indonesia tersebut. Karena banyak teman kakek saya yang belajar menari juga.
Lulus dari sekolah rakyat, ia melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama di Blitar yang jaraknya kira-kira 20 km. Untuk mencapai kesana kakek saya naik kerta api umum, sehingga ia harus berangkat pagi dan pulang pada sore hari. Selama tiga tahun ia selalu berangkat sekolah dengan cara itu. Kemudian, ia melanjutan ke Sekolah Menengah Atas di Kediri pada tahun 1957. Ketika melaksanakan studinya di Kediri, ia tinggal dirumah orang lain karena jarak yang jauh. Ia tinggal dirumah orang tersebut selama tiga tahun hingga lulus Sekolah Menengah Atas.  
Setelah itu melanjutkan di Yogyakarta lebih tepatnya lagi di Universitas Gadjah Mada. Ia masuk ke Teknik Sipil Universitas Gadjah Mada dan lulus pada tahun 1963. Saat berkuliah di Fakulas Teknik Sipil Universitas Gadjah Mada ia mulai bekerja di PU. PU atau Departemen Pekerjaan Umum adalah perusahaan BUMN atau Badan Usaha Milik Negara yang bergerak di bidang pekerjaan umum sempat bernama Departemen Pemukiman dan Pengmbangan Wilayah, pernah disebut juga Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah.
Setelah lulus dari Fakultas Teknik Sipil Universitas Gadjah Mada, ia pindah ke Jakarta untuk bekerja di Hutama Karya yaitu perusahaan Badan Usaha Milik Negara atau BUMN yang bergerak dibidang di bidang konstruksi. Perusaan ini berawal dari perusahaan swasta Hollandsche Beton Maatschaappij milik Hindia-Belanda yang dinasionalisasi pada tahun 1961 menjadi PN Hutama Karya yang kemudian menjadi PT Hutama Karya. Selama bekerja di PT Utama Karya ia dipekerjakan di  Palembang, Sumatra Selatan pada Proyek Jembatan Musi.
Pada tanggal 10 April 1966 ia menikah dengan nenek saya yaitu Mazdiana di Palembang. Ia lahir pada 19 Desember 1943 di Palembang. Nenek saya berasal dari Palembang, Sumatra Selatan. Saat mereka melangsukan pernikahan nenek saya baru masuk kuliah di Insitut Teknologi Bandung Jurusan Arsitekur.
Kemudian ia dipindahkan ke Cilegon, Banten dalam proyek Krakatau Steel yaitu dalam proyek pabrik baja sampai tahun 1969. Saat bekerja di Cilegon ia mendapatkan dua putri yaitu ibu saya Ira Purwarni Kartika yang lahir pada 25 Februari 1967 dan adiknya yaitu tante saya Tiara Ratna Wulan yang lahir satu tahun kemudian. Kemudian ia dipindahkan lagi ke Jakarta. Di Jakarta ia bekerja di kantor pusat PT Hutama Karya. Selama bekerja di kantor pusat PT Hutama Karya ia pernah dikirim studi banding di Australia, Saat itu anakya yang ketiga lahir yaitu Yudhono Adi. Saat masih di Jakarta ia memounyai anak keempat yaitu Fajar Haryanto.
Pada tahun 1974 ia pindah dari PT Hutama Karya setelah bekerja selama Sembilan tahun ia mendirikan sendiri perusahaan konsultan yaitu PT Buana Arsicon yang masih berdiri sampai sekarang.  Saat itu ia menjadi Direktur Utama hingga tahun 2001. Saat ia menjadi direktur utama, ia pernah masuk dalam tim BKBN karena ia adalah seorang pengusaha. Ia dikirim ke Kanada dan Amerika Serikat bersama pegawai BKBN pada tahun 1995 sebelum terjadinya Krisis Moneter pada tahun 1998. BKBN sendiri adalah.  Ia sudah tidak aktif kembali tapi sekarang sudah menjadi Residen Komisaris pada perusahaan itu sampai sekarang.

PERANAN
Kakek saya pernah menjadi saksi dalam agresi militer Belanda sehingga ia dan keluarga mengungsi ke desa kecil dikaki gunung Kelud bagian selatan yang bernama desa Seropulo. Selama didesa Serupulo, Wlingi diduduki oleh tentara Belanda. Ketika ia kembali lagi ke Kota Wlingi satu tahun kemudia Kota Wlingi masih diduduki oleh tentara Belanda sehingga memaksa kakek saya untuk bersekolah disekolah Belanda.
Ketika Perjanjian Meja Bundar sudah disepakati, tentara Belanda pergi meninggalkan Wlingi dan digantikan oleh tentata Republik Indonesia. Saat kembalinya tentara Republik Indonesia ke Wlingi, kakek saya yang dapat menari bersama teman – temannya yang lain menari diacara penyambutan kembalinya tentara Republik Indonesia ke Wlingi.
Saat ia kuliah, ia mulai bekerja di Departemen PU atau Departemen Pekerjaan Umum adalah perusahaan BUMN atau Badan Usaha Milik Negara yang bergerak di bidang pekerjaan umum sempat bernama Departemen Pemukiman dan Pengmbangan Wilayah, pernah disebut juga Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah. Karena Departemen PU atau Departemen Pekerjaan Umum adalah Perusahaan BUMN atau Badan Usaha Milik Negara maka kakek saya bekerja dibawah pemerintah Indonesia.
Setelah itu kakek saya meminta untuk dipindahkan ke PT Hutama Karya. PT Hutama Karya adalah perusahaan Badan Usaha Milik Negara atau BUMN yang bergerak dibidang di bidang konstruksi. Perusaan ini berawal dari perusahaan swasta Hollandsche Beton Maatschaappij milik Hindia-Belanda yang dinasionalisasi pada tahun 1961 menjadi PN Hutama Karya yang kemudian menjadi PT Hutama Karya.
Selama bekerja di PT Hutama Karya kakek saya mengerjakan proyek – proyek besar yang menguntungkan Indonesia seperti jembatan Ampera  pada Sungai Musi yang menggabungkan dua wilayah pada Palembang yang bernama Sebrang Ulu dan Sebrang Ilir yang terpisah oleh Sungai Musi. Sungai yang kini menjadi lambing kota Palembang itu berjarak 1.117 meter dengan lebar 22 meter dan tinggi 63  meter dengan 4 lajur kendaraan dengan berat 994 ton. Awalnya jembatan ini dinamakan Jembatan Bung Karno setelah pergelutan politik pada tahun 1966 ketika terdapat gerakan anti-Soekarno jembatan ini diumbah namanya menjadi Jembatan Ampera. Ampera sendiri kepanjangan dari Amanat Penderitaan Rakyat. Pada tahun 2002 terdapat rencana untuk mengembalikan nama Jembatan Ampera menjadi Jembatan Bung Karno tetapi rencana ini tidak mendapat dukungan dari pemerintah  dan sebagian masyarakat. Pada saat jembatan ini diresmikan, jembatan ini adalah jembatan terpanjang di Asia Tenggara.  Keistimewaan jembatan ini adalah Jembatan Ampera dapat diangkat sehingga tiang kapal yang melintas dibawahnya tidak dapat tersangkut.
Kakek saya juga pernah bekerja di proyek Krakatau Steel. Krakatau Steel sendiri adalah perusahaan BUMN atau kepanjangannya Badan Usaha Milik Negara yang bekerja di sektor industri baja. Krakatau Steel sendiri adalah perusahaan penghasil baja terbesar di Indonesia. Krakatau Steel memproduksi baja lembaran panas, baja lembaran dingin dan Baja batang kawat yang biasanya dilanjutkan ke industri selanjutnya. Dengan bekerja di proyek Krakatau Steel yang perusahaan itu sendiri adalah badan usaha milik Negara kakek saya telah membantu memajukan Indonesia dalam bidang industri baja. Krakatau Steel sendiri sekarang adalah Perusahaan Badan Usaha Milik Negara terbaik versi berbagai majalah.
Dengan menjadi seorang pengusaha, kakek saya telah membantu Indonesia dengan mengurangi jumlah pengangguran dan membuka lapangan kerja yang lebih luas bagi warga DKI Jakarta maupun Indonesia. Dengan menjadi pengusaha, kakek saya telah dapat mengembangkan ekonomi Negara Indonesia agar dapat lebih maju dan mandiri.
Ketika kakek saya telah menjadi seorang pengusaha, ia pernah ikut tim BKBN yang berisikan pengusaha-pengusaha Indonesia dan karyawan BKBN lainnya keluar negeri. Contohnya adalah Australia, Amerika Serikat dan Kanada. Disana terdapat pengusaha-pengusaha lain yang berasal dari Negara-negara lain berpartisipasi dalam acara tersebut dan berbagi pengalaman dan kegiatan-kegiatan lainnya. Menjadi salah satu anggota tim dari BKBN sendiri adalah suatu kebanggaan karena dapat mempresentasikan pengusaha-pengusaha di Indonesia.



Naila Rana Andira XI IPA 2

No comments:

Post a Comment