Thursday, 30 May 2013

Tugas 2 Biografi Narendra Pradipta Abhisatya XI-IPS-1

"Pelajar Pada Saat Penjajahan Belanda dan Jepang"

Biografi Narasumber
Adang Abdullah, lahir di Garut tanggal 27 Agustus 1935, putra dari R. Abdullah, aktivis Koperasi di Jawa Barat yang wafat pada tahun 1973. Pendidikan tamat Fakultas Hukum & Pengetahuan Masyarakat Universitas Indonesia tahun 1963.  Tahun 2003 memperoleh gelar Ph.D dari International University of Chicago, bidang International Business Law. Bekerja sebagai Kepala Biro Hukum dan Organisasi Departemen Perindustrian dan Perdagangan sampai tahun 1993 dilanjutkan sebagai Staf Ahli Khusus Menteri dan Pensiun tahun 1999. Menulis beberapa buku mengenai Hukum Industri dan Perdagangan, Buku Roman Sejarah, dan mengelola beberapa Bulletin Club dan Keluarga Hobby Musik dan Olahraga gerak jalan sehat dan pernafaasan.
Kisah dan Saksi Mata Penjajahan serta Pasca Kemerdekaan Indonesia
Pada saat jepang mendarat  di Indonesia tahun 1940, ibu yangkung saya meninggal bersama adiknya, yangkung masih SD kelas 1, pada waktu itu diawali dengan ingatan jaman australia. Pada waktu tentara australia datang bertujuan untuk melindungi dari  serangan tentara Jepang, tetapi kenyataannya mereka menjadi “momok”, membeuat masyarakat takut dengan tindakan asusila yang dilakukan terhadap masyarakat Indonesia. Untuk beberapa waktu tentara Australia meninggalkan Indonesia selama 1 bulan, dalam kurun waktu itu, Jepang masuk di daratan pulau Jawa dan langsung mengambil kekuasaan dari pemerintahan hindia belanda. Jepang datang dengan tujuan untuk bersama-sama menghadapi kaum imperialis dan kapitalis Amerika dan Inggris, dan Jepang akan menjadi pelindung dibawah panji-panji Hinomaru untuk menguasai Asia Timur Raya. Pada awalnya mereka sangat baik, tetapi dalam tempo singkat, perilaku mereka menjadi kejam dan mereka mulai menampakan sifatnya yang serakah. Dalam 6 bulan, ekonomi bangsa jatuh dan melahirkan keluarga-keluarga miskin. Ia biasa melihat orang-orang yang kurus kering yang hanya menggunakan pakaian yang dibuat dengan karung goni, berbondong-bondong mencari makan di tempat sampah.Keadaan ini berlanjut menjadi lebih parah, sumber-sumber pangan masyarakat dikuasai Jepang, pane-panen dikuasai Jepang, termasuk tanaman, sayuran, palawija, beras, dll. Masyarakat pun tidak dip[erbolehkan memetik semaunya. Masyarakat dipaksa untuk melakukan hal-hal yang diluar kemampunan mereka. Contohnya Romusha dan kerja rodi lainnya untuk kepentingan tentara Jepang alias Dai-Nippon. Dalam 1 tahun, gambaran kemiskinan bangsa sudah sangat memilukan. Rakyat disuruh mengumpulkan barang-barang aluminium untuk membuat pesawat-pesawat. Pelajar-pelajar pun diwajibkan untuk membawa barang-barang aluminium ke sekolah, apabila tidak, mereka akan dihukum. Masyarakt juga diwajibkan untuk menanam Pohon Jarak. Buah Jaraknya pun akan digunakan untuk memproduksi oli pesawat udara. Pada tahun 1942, beliau bersama 2 orang kakak perempuan diminta untuk bpindah ke Surabaya untuk bergabung dengan kakak tertua untuk menghindari penderitaan kemiskinan dan tekanan ekonomi. Disana disekolahkan di sekolah rakyat, masuk dikelas 2.Disitu beliau tinggal selama 3 tahun, hingga tahun 1945. Di Surabaa, beliau melihat kejahatan-kejahatan Jepang terhadap rakyat kecil di jalanan setiap hari, melihat orang dibunuh pun pernah. Beliau sebagai murid harus dibotakan kepalanya, hingga pelontos. Jepang mendidik bangsa Indonesia dengan disiplin tinggi tanpa memberikan hadiah tetapi memberikan hukuman bagi yang salah. Seluruh bangsa Indonesia apabila bertemu dengan orang Jepang harus menundukan kepala atau bisa disebut dengan Seikirei, apabila tidak, mereka akan ditampar di depan umum. Bagi anak-anak sekolahan, setiap pagi diwajibkan seikirei menghadap ke Tokyo, bertujuan untuk memberi hormat kepada kaisar Jepang, Hirohito, yang bersemayam di Tokyo setelah itu melakukan gerak badan yang bernama Taisho. Tentara Jepang melaksanakan propaganda perang untuk melawan Inggris, Belanda dan negara Imperialis yang lain, dan anak-anak muda tergiring oleh propaganda tersebut dan termotivasi untuk menghancurkan negara-negara tersebut. Tentara Jepang juga mendorong pemuda-pemuda Indonesia untuk bergabung dengan PETA dan Heiho. PETA dan Heiho ini ditujukan untuk menghadapi negara-negara imperialis, tetapi pada akhir kekuasaan Jepang, PETA dan Heiho ini berubah menjadi kekuatan negara yang patriotis dan nasionalis. Mereka itu adalah cikal-bakal dari perwira-perwira muda dalam Tentara Nasional Indonesia (TNI). Menjelang pertengahan tahun 1944, keadaan ekonomi bangsa sudah semakin hancur. Kemiskinan dan kemelaratan terjadi diseluruh tanah air. Banyak orang yang “papa” dan “nestapa”. Amerika dan sekutunya sudah mendesak dan menyerang balik tentara Jepang dan tentara Jerman, sehingga peta kemenangan perang dunia ke-2 berada di tangan sekutu. Di perang Pasifik, Jendral McArthur, telah mendesak tentara Jepang sehingga terpukul mundur dari daerah-daerah yang didudukinya seperti di sekitar Filipina dan Papua atau Irian Barat. Menjeang akhir tahun 1944, kemunduran tentara Jepang semakin jelas. Mereka sudah tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan logistik yang diperlukan untuk , melawan sekutu. Dalam waktu itu, gerakan kebangsaan Indonesia bangkit semakin mantap dan mempersiapkan diri untuk membebaskan belenggu dari kaum penjajah-Jepang. PETA dan Heiho disana-sini melakukan pemberontakan terhadap Jepang, diawali oleh pemberontakan PETA di Blitar yang dipimpin oleh Daidanchou Supriyadi. Namun pemberontakan ini gagal, dan Supriyadi menghilang. Memasuki tahun 1945, kedudukan tentara tentara Jepang sudah semakin melemah dalam hubungannya dengan negara asalnya, dan mereka hanya mempercayakan pada kebijakan komandan-komandannya dalam menghadapi situasi. Intimidasi terhadap balatentara Jepang dari pihak pejuang-pejuang Indonesia dibawah tanah. Hal ini menimbulkan kepanikan pihak Jepang yang mengakibatkan semakin ganasnya mereka dalam menghadapi bangsa Indonesia, tidak lagi mereka dapat menguasai lapangan dengan tertib dan terarah. Menjelang bulan Agustus 1945, Jepang sudah diambang kehancuran ditanga sekutu dan mereka menyerah di Tokyo dengan di bomnya Hiroshima dan Nagasaki. Keadaan ini menjadai “cemeti” bagi pejuang-pejuang bangsa Indonesia, yang dipimpin oleh Soekarno-Hatta yang didukung oleh segala lapisan masyarakat untuk segara membebaskan diri dari belenggu tentara Jepang. Soearno dan Hata sempat diculik oleh pemuda-pemuda ke Rengasdengklok, didesak untuk secepatnya mendeklarasikan kebebasan Indonesia. Tidak lama setelah itu, Bung Karno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945. Pada saat itu, beliau sedang libur naik kelas 3. Keadaan di tempat tinggal genting sekali dan pemuda-pemuda berisap-siap membentuk kesautan-kesatuan juang untuk menghadapi serangan tentara Jepang dan tentara sekutu yang ditunggangi oleh tentara NICA ( Nederlands Indische Civile Adminstration) yang dengan gigih mencoba untuk kembali menjajah bangsa Indonesia dan merebut kekuasaan dari tentara Jepang.
Namun, kebangkitan pejuang-pejuang bangsa Indonesia yang serentak diseluruh nusantara merupakan tantangan bagi sekutu dan NICA. Inggris akhirnya dibawah kuasa Commando Jendral Christison dan Jendral Mallaby mengintimidasi penduduk Surabaya agar menyerah kepada sekutu dan di ultimatum jika dalam tempo 3 hari tidak menyaerah, mereka akan dibumi hanguskan dan dipukul mundur bangsa kita keluar dari Surabaya. Ancaman ini justru membangkitkan semangat seluruh bangsa Indonesia untuk melawan keangkaramurkaan tersebut. Mengalirlah tentara-tentara dari seluruh nusantara untuk membantu pemuda-pemuda Surabaya. Akhirnya terjadilah kontak senjata yang melahirkan pertempuran frontal yang tidak seimbang antara tentara sekutu dan NICA dengan pemuda-pemuda Indonesia yang hanya bersenjatakan sederhana dan senjata sitaan Jepang, sedangkan tenara sekutu menggunakan persenjataan modern. Pada tanggal 10 November 1945, tidak mustahil berguguranlah pejuang-pejuang muda nusantara, termakan peluru-peluru tersebut. Ribuan pejuang telah gugur sebagai bunga bangsa. Hari tersebut sekarang diperingati sebagai hari pahlawan.
Beliau dan keluarga, mempersiapkan diri untuk lari dari Kota Surabay ddengan menggunakan mobil buick yang dicuri dari orang Belanda. Menjelang matahari terbit, 3 keluarga masuk kedalam 1 mobil tersebut, meluncur menuju Kota Mojokerto, dan tiba disana, siang menjelang sore. Kota masih dikuasai oleh bangsa Indonesia, dan tentara Jepang masih terjebak di dalam beberapa kamp diluar kota yang pada waktunya akan diserang oleh tentara-tentara Indonesia. Hal ini ditujukan untuk mengambil senjata-senjata mereka. Di kota ini pun, pemuda-pemuda sudah bergabung bahu-membahu mneghadapi sekutu dan tentara Jepang, dan sering terjadi kontak senjata yang menyebabkan gugurnya pejuang-pejuang tersebut. Disini pun keadaan ekonomi juga berat, namun masih bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari berkat bantuan petani-petani diluar kota.
Datang berita dari Garut, bahwa Ayahanda dan Kakak laki-laki beliau telah dibebaskan dari tahanan Jepang selama satu tahun setengah. Mereka meminta kepada beliau agar beliau dan kakak-kakaknya kembali pulang ke Garut. Pada saat beliau kembali ke Garut, kondisi politik pemerintah Republik Indonesia sedang menghadapi penyerahan kedaulatan dari tentara Belanda yang sempat berusaha menguasai kembali tanah air sejak Jepang menyerah. Setibanya di Garut, beliau masuk sekolah rakyat kelas 3 dan memulai pendidikan dalalm alam kemerdekaan yang masih muda. Berbagai kekurangan dan keterbatasan alami dalam menuntut ilmu disebabkan oleh masih terbatasnya persediaan buku-buku dan peralatan studi.Pada suatu seketika, terjadi serangan udara dari tentara Belanda secara serentak diberbagai kota yang telah dikuasai Republik Indonesia, diantara lain ialah Jakarta, Jogjakarta, Medan, Palembang, termasuk Kota Garut dimana beliau menetap. Serangan tersebut telah meluluhlantahkan kekuatan kekuasaan sosial dan militer yang telah terbina oleh pemerintah Republik Indonesia. Bung Karno dan Bung Hatta, termasuk juga Sutan Syahrir. Panglima Soedirman tidak mau menyerah dan tidak tertangkap oleh Belanda dan bersama seluruh pasukannya meninggalkan Kota Jogjakarta untuk bergerilya. Hal ini diikuti oleh seluruh tentara nasional Indonesia diseluruh Indonesia. Beliau sekeluarga mengungsi meninggalkan Kota Garut ke daerah Bagendit-Kabungrendeng untuk selama kurang lebih 2 tahun. Menjelang penyerahan kedaulatan tahun 1949, beliau sekeluarga kembali ke Kota Garut dan rumah sudah diduduki oleh keluarga Belanda, sehingga beliau terpaksa menumpang ke rumah kerabat untuk sementara. Setelah melalui beberapa siasat, beliau berhasil menguasai kembali rumah beliau dan beliau tinggal dirumah itu cukup lama hingga tahun 1950. Pada tahun 1950, beliau pindah ke Bandung untuk melanjutkan pendidikan SMA, hingga tahun 1955. Setelah itu beliau melanjutkan studi di fakultas Hukum Universitas Indonesia dan selesai pada tahun 1963. Pada tahun 1965, beliau menikah bersama dengan meletusnya G30SPKI yang merupakan puncak 2 kubu politik yang bertentangan akibat kebijaka-kebijakan politik yang ditempuh oleh Bung Karno selaku Pemimpin Besar Revolusi Indonesia (PBRI) dimana Bung Karno menghadapi New Colonialism telah menggerakan kekuatan New Emerging Forces di beberapa negara Asia-Afrika dan Bung Karno menjadi eksponen kelompok New Emerging Forces tersebut. Bung Karno telah membangun sarana-saran perjuangan dalam menghadapi berkecamuknya Neo Colonialisme dan Neo-Imperialisme dalam bentuk gelombang ekonomi kapitalis yang menekan negara-negara yang baru berkembang, seperti antara lain diselenggarakannya Konvensi Asia-Afrika pada tahun 1955, disusul dengan didirikannya New Emerging Forces (negara-negara non-blok) yang anti terhadap Neo Colonialsme dan Neo Imperialisme. Karena cita-citanya ini tidak membedakan warna kulit maupun haluan sosial politik sebab yang utama adalah anti Neo Colonialsme dan Neo Imperialisme, maka oleh kelompok negara-negara komunis (Rusia, RRC) dirasakan ada kesesuaian. Karena adanya kesesuaian ini, maka terlahirlah poros Jakarta-Peking dan Jakarta-Mosco dalam hal mana mereka telah memberikan dukungan penuh terhadap Konvensi Asia-Afrika dan New Emerging Forces, seperti dalam pesta-pesta olahraga dunia baru yang disebut The Games of New Emerging Forces (Ganefu). Karena semakin derasnya tekanan Amerika dan Inggris terhadap kecemerlangan  politik Soekarno yang telah membangkitkan solidaritas Asia-Afrika (Afroasia), maka Soekarno dengan berhasil merebut Irian Barat, maka Bung Karno mencanangkan politik ganyang Malaysia antara kurung Singapura karena dianggap sebagai antek-antek kolonialisme Inggris. Maka bergemalah diseluruh tanah air tekad mengganyang Malaysia dari segala lapisan masyarakat. Terlahirlah sukarelawan sebagai tentara pendamping TNI untuk mengganyang Malaysia, dan terjadilah penyusupan ke daerah musuh (Malaysia dan Singapura). Akibatnya sangat besar terhadap performa ekonomi bangsa. Strategi politik Soekarno ini yang di satu pihak meningkatkan derajat bangsa Indonesia dan di pihak lain telah menyengsarakan ekonomi bangsa karena tertundanya rencana-rencana pembangunan yang telah dibahas dan ditetapkan, maka terjadi sengketa-sengketa diantara kubu-kubu kekuatan yang ada pada saat itu. Dianatar lain ialah kubu militer, kubu agama, kubu cendakiawan, kubu nasionalis, dan lain-lainnya. Sedangkan kelompok komunis yang tergabung di kelompok komunis Indonesia (PKI) yang memanfaatkan semangat internasionalisme Bung Karno sebagai ikatan kesamaan tujuan yang dibalik itu memiliki tujuan yang jauh berbeda dengan tuntutan humanisme Bung Karno sejak beliau muda hingga menjadi seorang pemimpin bangsa, sehingga telah diragukan kesetiaannnya terhadap tujuan revolusi bangsa Indonesia. Inilah yang menimbulkan awal kebencian pihak tentara nasional Indonesia yang pernah disakiti dalam sejarah komunisme di tanah air dalam peristiwa Madiun (Madiun Affair) disekitar tahun 1947. Sedangkan Bung Karno berpijak pada kesatuan tekad yang sama dalam menggempur Neo Colonialisme dan Neo Imperialisme.


Maka semakin kedepan, semakin parah pertentangan tersebut dan menimbulkan huru-hara politik yang diakhiri dengan terjadinya G30SPKI.

No comments:

Post a Comment