Thursday, 30 May 2013

Tugas 2 Biografi - Naryndra Nastiti XI IPA 2

Edi Suardi; Sang Pencinta Pendidikan Saksi Peperangan

Menuntut ilmu tidak mengenal waktu. Kapanpun dan di manapun kita dapat menuntut ilmu, dari hal-hal yang kecil maupun hal-hal yang eksak serta teoritis dan membutuhkan pendidikan khusus yang formal. Pendidikan bersifat universal, tidak mengenal kalangan manapun dan masing-masing individu harus memilikinya agar dapat tetap hidup.

Sebagian kalangan juga mencintai pendidikan sebagai pekerjaan. Sebagian orang mencintai diri mereka saat mereka menuntut ilmu, dan sebagian mencintai diri mereka saat menyebarkan ilmu yang mereka miliki. Kakek saya, Edi Suardi, menghabiskan hampir setengah abad dalam hidupnya untuk berkecimpung dalam dunia pendidikan. Walaupun beliau tidak sepenuhnya membela negeri ini dalam bentuk permiliteran, beliau menjadi salah satu saksi terjadinya perang antara tentara Hindia Belanda melawan tentara Jepang dan pernah menjadi salah satu anggota BKR.

Saya berkesempatan mewawancarai kakek saya saat weekend ketika kedua orang tua saya ingin menjenguk keluarga kami yang berada di Bandung. Kakek saya memiliki ingatan fotografi yang sangat kuat. Walaupun usianya yang terbilang sudah tua, yakni 87 tahun, beliau masih mengingat bentuk rumah yang ia tinggali saat muda, hingga mengingat letak perabotan dan tanaman yang beliau tanam di halaman rumahnya.

BIOGRAFI

Kakek saya bernama panjang Edi Suardi, dan biasa disapa Bapak Edi/ Opa Edi oleh keluarga dan kerabatnya. Beliau lahir pada hari Selasa, 23 Maret 1926 di Sumedang, di sebuah rumah dekat dengan alun-alun. Kakek saya merupakan sembilan bersaudara, namun yang hidup hingga dewasa hanya tujuh orang, termasuk kakek saya. Ia mengenyam pendidikan pertama di Sekolah Desa yang diprakarsai pendiriannya oleh Gubernur Jenderal Van Heutsen pada tahun 1904. Beliau selanjutnya melanjutkan pendidikan di HIS (Hollands Inlandse School) Sumedang. Kakek saya sempat mengalami pindah rumah beberapa kali, yang menyebabkan ia harus menyesuaikan diri dengan tempat yang baru. Beliau juga harus mengulang HIS lagi saat ia pindah ke Ciamis.

Kakek saya dulu sempat mengalami kegalauan dalam memilih sekolah tingkat lanjut. Beliau sempat ingin masuk ke sekolah teknik dan sekolah pertanian. Akhirnya, pada tahun 1943, kakek saya mendaftarkan diri ke Sihan Gakko, yakni sekolah guru empat tahun versi pemerintah Jepang, yang terletak di Jl. Margoyudan, Solo.

Dulu, kakek saya dituntut untuk bisa berbahasa Belanda saat pemerintah Hindia Belanda masih menguasai Indonesia, dan pula harus fasih berbicara bahasa Jepang saat pemerintah Jepang masih menguasai Indonesia. Lucunya, walaupun 36 tahun sudah tidak memakai bahasa Belanda, beliau masih cakap dalam berbahasa Belanda saat berkesempatan mengadakan pertemuan dengan orang Belanda. Namun, kakek saya hanya mengingat segelintir kata-kata dalam bahasa Jepang, yakni wakarimasen (tidak mengerti), ohayou gozaimasu (selamat pagi), dan konbanwa (selamat malam). Kata-kata tersebut hanyalah salam, dan beliau mengingat wakarimasen karena saat pembelajaran dengan bahasa Jepang, hampir seluruh waktu ia tidak mengerti karena kesulitan dalam memahami bahasa.

Setelah keluar dari Sihan Gakko, pada tahun 1949, kakek saya pulang ke Semarang. Beliau sempat mengalami kebimbangan untuk melanjutkan sekolah lagi atau tidak. Pada akhirnya, beliau melanjutkan sekolah lagi di Kweekschool Nieuwe Stijl (Sekolah Pendidikan Guru gaya baru) yang merupakan cikal bakal dari SGA (Sekolah Guru A). Di sekolah inilah kakek saya bertemu almarhumah istrinya, nenek saya, Aisyah Keksiati.

Kakek dan nenek saya menikah pada tanggal 26 Desember 1951, dan memiliki sembilan orang anak, yakni Nurul, Ken Zuraida, Nila Kesuma, Lily Hidayati, Yusuf Setiawan, Edyana Ramadhani, Dinar Setiasih, Bachtiar dan Luki Setiawan. Ibu saya, Dinar Setiasih, merupakan anak ketujuh dari kesembilan bersaudara tersebut.

Setelah lulus dan bekerja menjadi guru, kakek saya sering berpindah tempat dinas. Hal ini salah satunya memicu kakek saya untuk mengingat berbagai hal mengenai kehidupannya di masa lalu; beliau melewati berbagai fase yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Beliau sempat berdinas di Salatiga, dan empat putri pertamanya lahir di kota tersebut. Beliau juga pernah berdinas di Subang, dan pada akhirnya menetap di Bandung hingga saat ini.

Dalam bidang pendidikan, kakek saya banyak berkecimpung sebagai pengajar di berbagai sekolah. Beliau juga aktif sebagai pengurus PGRI Jawa Barat. Beliau juga sempat menjadi kepala sekolah di beberapa sekolah di Jawa Barat dan terakhir menjadi Ketua II PGRI Jawa Barat.

Dunia pendidikan sungguh merupakan dunia yang beliau cintai. Sebagian besar hidupnya dihabiskan dengan menuntut ilmu dan menyebarkan ilmu yang beliau punyai. Saya bangga terhadap kakek saya yang dahulu hidup di masa penjajahan serta peralihan kekuasaan Hindia Belanda ke kekuasaan Jepang, namun semangat belajarnya tidak pernah pudar.

PERANAN

Peran yang dilakukan kakek saya mungkin tidak sebesar dan berjasa para pahlawan lain yang terjun langsung dalam medan perang, namun memberikan kontribusi dalam perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia walaupun dalam skala yang kecil.

Kakek saya sempat bersekolah di HIS, yang merupakan salah satu bagian dari Politik Etis Pemerintahan Hindia Belanda. Dulu, pendidikan terbatas hanya untuk beberapa kalangan tertentu saja.

Sekitar tahun 1940-1942, Pemerintah Hindia Belanda bersiap untuk menghadapi serbuan tentara Jepang. Berbagai usaha dilakukan, di samping mengadakan milisi penduduk disiapkan pengamanan rakyat terutama jika terjadi serangan udara. Lubang perlindungan dibuat di tiap tempat, bahkan di rumah-rumah, anak-anak dilatih untuk menggunakan sepotong karet yang dipakai dengan cara menggigitnya untuk menahan tekanan udara di saat ada ledakan bom. Beliau mengatakan bahwa terjadilah pemandangan yang lucu, karena setiap anak berkalungkan tali penggantung karet yang berukuran kira-kira 3 x 4 x 1 cm. Pada keadaan itulah, kakek saya yang masih berusia 14 tahun dan anak-anak sekolah dihalau ke permukiman untuk mengumpulkan berbagai barang bekas yang terbuat dari aluminium. Konon semua itu dikumpulkan untuk pembuatan pesawat terbang.

Menjelang serbuan Jepang itu rupanya Belanda makin meningkatkan usahanya diantaranya kakek saya dan teman-temannya pernah melihat satu pasukan infanteri Hindia Belanda (KNIL) yang dipindahkan dari daerah Cirebon menuju pertahanan di sebelah barat. Mereka datang dan pergi dengan istirahat di Ciamis (tempat tinggal kakek saya semasa ia kecil hingga remaja) beberapa lama dengan meriam dan peralatan besar lainnya. Penduduk makin sering dilatih untuk berlindung dari serangan udara. Pada saat itu seringkali sirene dibunyikan sebagai tanda seolah-olah ada serangan udara. Maka kami pun juga penduduk lainnya beramai-ramai berlindung di tempat-tempat perlindungan yang telah diceritakan di sebelumnya, dengan tidak lupa menggigit karet.

Serbuan pun terjadi. Jika awalnya arus pertahanan itu menyebabkan perpindahan ke barat, maka sekarang sebaliknya yang terjadi. Semula pertahanan dipusatkan di bagian barat Pulau Jawa, tetapi sebaliknya setelah Ter Poorten sebagai Panglima Tertinggi Tentara Belanda menyerah tanpa syarat di Lanud Kalijati, pasukan mengungsi ke Timur mendekati Cilacap untuk menuju ke Australia. Berbagai pasukan KNIL melewati daerah tempat kakek saya tinggal ke arah timur menuju Cilacap untuk mengungsi ke Australia. Juga para “Ausis” (sebutan untuk serdadu Australia) pada mengungsi ke arah itu. Mereka sudah tercerai-berai dari induk pasukan masing-masing dan bergerombol sekenanya membentuk sisa-sisa pasukan yang tidak terorganisasi. Mereka terpaksa mengurus diri sendiri masing-masing tanpa dukungan transportasi dan logistik, dan bahkan diantaranya banyak yang berkeliaran ke kampung-kampung untuk mencari bahan makanan, di antaranya yang banyak dicari adalah telur.

Sementara itu pasukan KNIL dan Australia makin banyak yang bergerak ke timur dengan berbagai angkutan. Sebagian kendaraan mereka kehabisan bahan bakar, atau rusak sehingga di seluruh jalan raya Bandung-Cilacap di Ciamis ini berserakan berbagai jenis kendaraan yang ditinggalkan begitu saja. Maka jadilah pemerintah Hindia Belanda bertekuk lutut dan pemerintah baru datang juga ke Ciamis. Kedatangan mereka didahului dengan gempuran terakhir ke lapangan terbang Cibeureum yang terletak di Tasikmalaya. Dari rumah kakek saya gempuran itu jelas sekali kelihatan karena jarak radiusnya tidak terlalu jauh. Dentuman bom-bom yang dijatuhkan terdengar sangat dekat. Kemudian tak lama dari peristiwa itu pendahulu pasukan penyerbu Jepang datang sewaktu kakek saya sedang bermain di alun-alun Ciamis.  Dua sepeda motor sebagai pendahulu pasukan muncul begitu saja di hadapan beliau dan berhenti di sisi alun-alun sebelah utara di depan kantor Asisten Residen. Mereka berpakaian tentara Jepang dengan topi berlencana putih dengan bulatan merah. Mereka melambaikan tangan kepadanya dan menyuruh kakek saya menyanyikan lagu Indonesia Raya. Walaupun kakek saya tak begitu biasa menyanyikannya akan tetapi beliau dengan agak takut menyuarakannya juga.

Kakek saya juga sempat menjadi anggota BKR (Badan Keamanan Rakyat). Saat kakek saya masih bersekolah di Sihan Gakko, pada tahun 1946 seluruh pelajar di sekolah tersebut dianjurkan oleh sang kepala sekolah untuk bergabung dalam BKR. Waktu itu senja hari di lapangan olah raga yang luas itu, kepala sekolah bercerita tentang keadaan negara Indonesia yang belum lama diproklamasikan, ditambah pula dengan memboncengnya Tentara Belanda, dan seterusnya sang kepala sekolah berharap para pelajar Sihan Gakko mau masuk menjadi anggota BKR untuk dapat ikut berjuang. Setelah melalui beberapa tes kesehatan dan fisik, kakek saya terkualifikasi untuk menjadi anggota BKR.

    Sebelum sang kepala menganjurkan pelajar Sihan Gakko masuk BKR, para pelajar sudah sering tidak masuk sekolah karena ikut mendatangi rumah tentara Jepang untuk mendapatkan senjata. Mereka mulai dengan rumah tentara yang ada dekat asrama untuk kemudian semakin berani dan mengepung satu asrama tentara Jepang di Villapark (sekitar Jalan Nias sekarang). Kakek saya pun ikut. Semalaman mereka bertiarap di sekeliling asrama itu dengan senjata seadanya. Senjata api hanya ada beberapa saja. Kakek saya sendiri membawa pisau dapur yang didapat dari istri guru menggambar beliau.

Bagian yang menegangkan ialah waktu kakek saya dan teman-temannya ramai-ramai menyerbu markas penting tentara Jepang (Kenpentai) yang terletak di tempat ramai. Para pelajar Sihan Gakko ikut pasukan yang mengambil tempat di bangunan sekolah, berseberangan dengan Istana Mangkunegaran. Pasukan penyerbu yang menjadi inti di situ umumnya adalah bekas anggota PETA. Menurut kakek saya, pimpinannya adalah seorang tinggi semampai dan berwajah simpatik. Kakek saya tidak menyangka, waktu itu, bahwa beberapa minggu kemudian pemimpin tersebut akan menjadi Komandan Kompi para pelajar yang menggabung ke Batalyon BKR, dan tidak mengira sedikitpun juga, bahwa 36 tahun kemudian kakek saya dan pemimpin tersebut akan bertemu lagi dalam kualitas lain di Jakarta.

Sekian hasil wawancara saya dengan kakek saya, Edi Suardi. Semoga bermanfaat.

No comments:

Post a Comment