Friday, 31 May 2013

Tugas 2- Biografi Niken Rahadiani Maheswari XI IPA 1


Eyang Djoko,  Anak Kampung Menjadi Penerbang Tempur 


Foto resmi beliau dengan pangkat Pati semenkaj 3 Maret 1999.
Saat itu beliau menjabat sebagai Komandan Pangkalan Iswahjudi



Ada kegairahan luar biasa saat aku terobsesi mengenai dunia penerbangan, bagian tak terpisahkan dari keinginan anak kampung yang lugu. Kalau aku nanti pada akhirnya dapat duduk di kokpit pesawat tempur, itu karena Tuhan mengabulkan cita-citaku sejak kecil untuk dapat menjadi penerbang tempur.”
-F. Djoko Poerwoko-



A.      BIOGRAFI

Nostalgia Djoko Cilik

Memori Masa Kecil

Djoko Poerwoko lahir di desa kecil bernama Kuncen, di kaki gunung Merapi, Jawa Tengah pada Sabtu tanggal 9 September 1950 pukul 22.00 di Rumah Sakit Bersalin Bu Ratmo, Tegalyoso, Klaten, Jawa Tengah yang berjarak sekitar 500 meter dari tempat tinggal keluarga beliau di Asrama Polisi Klaten, yang merupakan salah satu yang terbaik di Klaten.

Berstatus sebagai anak ketiga dari 10 bersaudara, orangtua beliau memberikan nama “Djoko Poerwoko” pada beliau. “Djoko” bagi masyarakat Jawa berarti anak muda laki-laki yang sehat dan kuat, sedangkan “Poerwoko” bermakna tetap kokoh ketika harus menghadapi badai kehidupan. Jelas kiranya bahwa beliau diharapkan menjadi manusia laki-laki yang kokoh dalam menghadapi badai kehidupan.

Dibesarkan di lingkungan yang saleh beragama, terekam dalam ingatan beliau saat ia berumur 10 tahun, bertepatan dengan hari Natal tahun 1960, beliau dibaptis dan resmi memeluk agama Katolik dengan memakai nama baptis “Faustinus”.

Sebagai anak anggota DPKN (Dinas Pengawas Keamanan Negara) yang saat ini telah berubah nama menjadi korps intelijen kepolisian, tidak heran bila beliau terbiasa dengan kehidupan dalam tangsi (asrama). Sehingga, model permainan perang-perangan, berenang di sungai, mencuri tebu di ladang dan berkelahi ala wrestling telah ikut menjadi penghias kehidupan beliau.

Saat beliau dan kesembilan saudaranya mulai tumbuh besar, orangtua beliaupun semakin kerepotan menghadapi ulah anak-anaknya. Hingga pada tahun 1959, atas pertimbangan keluarga, beliau beserta 9 saudaranya yang lain diboyong ke rumah kakek di Desa Kuncen, yang letaknya masih di wilayah Delanggu, tetapi di pelosok kampung. Keputusan ini juga disebabkan karena seringnya terlibat perkelahian dengan geng anak tangsi lainnya.

Berbeda dengan rumah beliau sewaktu di asrama, di Delanggu, rumah kakek beliau jauh lebih besar. Mengambil napaspun rasanya lega sehingga beliau dan saudara-saudaranya bisa sangat leluasa bermain dan belajar.

Berbasis keserhanaan dan kebersahajaan sebagai kunci kehidupan, beliau yakin bahwa masa-masa d Kuncen sangat berpengaruh pada kehidupan beliau di masa depannya.


Teladan Dari Keluarga


Foto lengkap beliau bersama kakak dan adik saat memperingati 1000
hari wafatnya ibunda beliau

Hidup di desa yang jauh dari kota bukan halangan untuk berpikiran maju. Sedari kecil, beliau sudah dididik untuk selalu hidup rapi, taat kepada peraturan namun tetap berusaha mengikuti perkembangan zaman. Beliau dan kesembilan saudaranya sejak kecil sudah dilengkapi masing-masing akte kelahiran oleh Bapak, meski banyak dari teman beliau yang sampai sekarang tidak memiliki akte kelahiran. Setiap bulan bapak beliau juga rutin membawa anak-anaknya ke rumah sakit utnuk memeriksakan gigi. Meski untuk itu, mereka harus pergi ke solo yang berjarak 20 km dari Delanggu, karena tenaga kesehatan pada masa itu belum sebanyak sekarang.

Walaupun memakai mobil pick up pinjaman dari pabrik gula, beliau tetap menikmati piknik bersama  keluarga. Setiap tanggal 17 Agustus, bertepatan dengan hari kemerdekaan, beliau membuat foto keluarga. Bapak beliau berpendapat bahwa dengan menjajarkan kembali rangkain foto, akan bisa disaksikan pertumbuhan serta perkembangan keluarga.

Bila saat ini di lingkungan TNI Angkatan Udara ada motto “disiplin, on time dan bersih di mana-mana”, maka sedari kecil bapak sudah selalu mengajarkannya. Setiap hari, beliau dan saudara-saudarnya harus bangun pagi sekali, membersihkan kamar, mematikan lampu, menimba air dan menyiapkan segala sesuatu bagi kehidupan tanpa dibantu oleh siapa pun.

Tak heran bahwa hingga beliau berada di penghujung karirnya sebagai seorang prajurit angkatan udara, ayahandanya lah yang sangat beliau rindukan setelah ibunda yang sangat beliau cintai.

Masa Kanak-Kanak

Sejak sekolah dasar (SD), beliau sudah menyukai bentuk-bentuk pesawat bahkan sering mengkhayalkannya. Ada kegairahan luar biasa saat beliau terobsesi dengan dunia pesawat. Selain itu, beliau juga sudah menggeluti hobi menggabar sejak dulu. Mungkin inilah yang beliau sebut bakat terpendam. Namun, beliau tidak pernah bercita-cita menjadi pelukis.

SDN Nggatak II, tempat beliau menuntut ilmu, jaraknya sekitar satu kilometer dari rumah. Pulang sekolah, bersama teman-teman desa, beliau biasa ikut angon (menggembala) kerbau tetangga. Menjelang sore, acara dilanjutkan dengan mandi bersama di sungai. Sebagaimana kebiasaan anak-anak desa masa itu, tidak ada cerita beliau mengenakan alas kaki. Sehingga kaki tertempa oleh alam. Saat hujan tiba, bermain hujan-hujanan sudah menjadi makan sehari-hari.

Majalah Angkasa, Favorit Dari Dulu

Beliau sudah mulai berlangganan majalah Angkasa dan harian Kompas sejak remaja. Pada awalnya, sebuah majalah Angkasa dibawa Mas Julious Pour, kakak kandung beliau sepulang sekolah. Walaupun saat itu masih sangat sederhana penampilan majalahnya dan agak buram, entah mengapa beliau langsung tertarik untuk membaca dan malah ketagihan hingga beliau rajin menabun agar bisa membeli majalah Angkasa tiap bulan.

Santo Yosef Solo
Bertepatan waktu ujian akhir SMP, beliau sempat asakit dan tidak bisa mengikuti ujian akhir. Tragisnya, di seluruh Kabupaten Klaten, hanya beliau sendiri yang tidak mengikuti ujian akhir tepat waktu. Kemudian, beliau mengikuti ujian susulan seorang diri di SD Kristen, dekat Lembaga Permasyarakatan Klaten.

Beliau memerlukan waktu 3 setengah tahun untuk menyelesaikan pendidikan SMP nya, dikarenakan saat itu terjadi pemberontakan G-30-S.  Sehingga ujian yang harusnya di laksanakan pada bulan Agustus 1967 terpaksa diundur ke bulan November.
Santo Yosef membawa kenangan tersendiri bagi beliau, khususnya terhadap Bruder Bonifasio, yang masa itu memimpinnya.

Pada saat pendaftaran masuk SMP Santo Yosef, beliau bersikeras meminta ayahandanya untuk mendaftarkan di sana, mengingat sekolah tersebut memang favorit di Solo. Namun, sebuah masaah timbul sesaat setelah menjalani pendidikan. Semua siswa diwajibkan membayar uang pangkal seribu rupiah. Namun, karena pernah mejadi pelayan altar ketika upacara Misa di gereja, jumlah tanggungan itu didiskon menjadi 900 rupiah. Namun, jumlah itu masih cukup tinggi bagi seorang perwira polisi, ayahanda beliau. Maka, ayahanda beliau meminta kemudahan, untuk melunasinya dengan cara pembayaran, diangsur 300 rupiah selama 3 bulan.

Saat SMA, pelajaran favorit beluai adalah matematika dan menggambar. Beliau selalu mendapat nilai ekselen pada mata pelajaran itu. Pelajaran lain yang beliau senangi adalah Analit dan Ilmu Ukur Ruang, yang kemuadian berbuah hasil ujian akhir yang memperoleh nilai 10 pada ijasah SMA beliau.


Kenek Part Time

Di Solo, beliau tinggal di rumah kakek dari pihak Bapak, seorang pensiunan polisi yang sempat menyewa rumah di Jalan Mangkuyudan 57 Solo. Karena sudah pensiunan, kakek beliau mencari uang tambahan dengan menjadi supir bemo. Mungkin daripada keluyuran tidak karuan, maka setiap hari libur kakek beliau mengajak beliau untuk menjadi kenek-nya.
Kondisi rumah kakek di Solo bisa dibilang jauh dari nyaman karena terlalu kecil dan sempit. Sebelumnya, dua kakak beliau , Eyang Jup dan Eyang Djoko Gede sudah tinggal di sana. Sehingga, Beliau yang berstatus the youngest , setiap malam harus tidur di dalam bemo kakek. Rutinitas ini berlangsung selama dua tahun. Menurut beliau, mungkin inilah yang menyebabkan badan beliau cukup kuat pada saat mengikuti pendidikan dan latihan Akabri di Udara, yang terkenal angker di mata anak-anak baru.

Saat duduk di kelas tiga SMA, Mbah Putri, nenek beliau, meninggal dunia. Rumah di Mangkuyudan pun hanya ditinggali beliau dengan adiknya, Eyang Pom, karena Eyang Jup sudah lulus SMA dan kuliah di Yogya. Enam bulan kemudian, kakek beliau menyusul Mbah Putri. Mulai saat itulah, Beliau dan adiknya, Eyang Pom harus mandiri dalam segala hal.

Setiap hari mereka berangkat sekolah naik sepeda jengki dan menempuh jarak 3 kilometer. Untuk menghilangkan kepenatan, setiap Sabtu mereka mudik ke Delanggu utnuk melepas kangen pada Bapak dan Ibu beliau. Ibu beliau pun selalu mengisi ulang bekal logistik untuk persediaan selama minggu depan di rumah kos mereka di Mangkuyudan dengan bahan-bahan yang berkualiats baik. Terutama berasnya. Namun, di rumah kos mereka sering kedatangan tamu. Sehingga perbekalan yang harusnya untuk jatah seminggu, bisa kandas dalam waktu lima hari.

Kadang pula, cerita beliau dalam bukunya, beliau dan adiknya sering menukar beras bekal dari desa dengan dengan beras di warung yang tentunya berbeda kualitas, agar mendapat kelebihan untuk membeli lauk-pauk. 

Impian Jadi Nyata

Nekad ke “Panasan”

Ketika masih duduk di bangku SD, bersama seorang teman beliau nekat naik sepeda ke Delanggu menuju Panasan, sekarang Lanud Adi Soemarmo. Dengan stu tujuan, melihat pesawat AURI. Berbekal semagat keingintahuan dan melupakan risiko yang akan dihadapi, beliau bersama temannya maju terus pantang mundur.

Setelah beristirahat beberapa kali, akhirnya sampai juga beliu di depan pintu gerbang Pangkalan Panasan. Betapa girang hati beliau waktu itu, melihat peawat dari dekat. Akhirnya, tanpa pikir panjang mereka langsung nyelonong lewat pos. Akhirnya, mereka berdua diberhentikan oleh petugas jaga.

Mereka dimarahi dan dihukum berdiri di atas tong. Setelah beberapa saat hukuman berlangsung, mungkin karena merasa kasihan melihat dua anak kecil yang gemetaran, akhirnya tentara yang menghukum beliau memanggil beliau dan temannya untuk menanyakan beberapa hal. Barulah saat itu beliau sadar bahwa di depan pintu gerbang tertulis peraturan mengenai tata cara untuk masuk ke kompleks militer. Beliaupun menjawab dengan “.....mboten ngertos. Saking Delanggu bade nonton motor mabur Pak” .

Mungkin perasaan penjaga tersebut luluh juga oleh perkataan beliau yang datang dari jauh hanya untuk melihat pesawat. Singkat cerita, beliau dan temannya diajak ke tepi landasan sambil diterangkan mengenai seluk-beluk pesawat yang ada di pangkalan tersebut.

Karbol Sebagai Takdir Tuhan
Karena mencintai dunia penerbangan, setelah lulus SMP beliau berinisiatif mencari sekolah yang menyiapkan siswanya menjadi penerbang. Akhirnya timbul niat beliau mendaftar di Sekolah Penerbangan Curug.

Sayangnya saat itu, pendaftar yang lulusan SMP hanya bisa diterima dalam jurusan PLLU. Akhirnya dengan berat hati, beliau membatalkan niat tersebut. Akhirnya, beliau banting setir dan mendaftar sekolah ke SMA agar nanti bisa mendaftar menjadi penerbang. Lulus dari SMA Santo Yosef, beliau mendaftar di Akari Udara melalui Lanud Adisutjipto.

Selama menjadi Karbol yunior, untuk pertama kalinya ia mengenal istilah “lima menit di udara”. Yaitu saat antara sadar dan tidak sadar karena stress yang menumpuk akibat tempaan fisik dan mental yang dialami selama menjadi Cakar ( calon Karbol).

Selama pendidikan terbang, beliau dikenal sebagai salah satu prajurit yang bisa dibilang terlalu berani untuk melakukan manuver-manuver berbahaya saat latihan. Bahkan hingga nyaris merenggut jiwa beliau.




“The Future Is Not Ours To See”

“Aku sadar menjadi penerbang tempur adalah profesi yang membanggakan, namun juga penuh dengan resiko seperti halnya pekerjaan lain ada kurang dan lebihnya. Setidaknya, karena sudah menjadi cita-citaku, semua kujalani tanpa beban dan menyikapinya secara wajar, maka risiko pekerjaan tidak terlalu merisaukan”
-F. Djoko Poerwoko-


B.       PERANAN

Misi Rahasia
Proyek Alpha

Memasuki tahun 1979, isu tentang bakal dilakukannya pergantian kekuatan-kekuatan pesawat tempur TNI AU sudah ulai bergulir. Dari penggalian informasi intelejen, Mabes ABRI ternyata kemudian mendapatkan berita, bahwa negara yang selama ini tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Indonesia bermaksud akan melepaskan armada A-4 yang mereka miliki, karena akan diganti oleh pesawat-pesawat yang lebih modern. Singkat cerita, beliau beserta 9 orang lainnya ditugaskan untuk belajar menerbangkan pesawat A-4 skyhawk tersebut, di negara yang bersangkutan. Perjalananpun tidak berjalan mulus seperti yang beliau kira sebelumnya. Semua barang yang akan dibawa selama misi tersebut tidak boleh masuk ke bagasi. Semua harus masuk ke dalam overhead cabin dalam pesawat. Pakaian yang dipakai juga tidak boleh berlebihan, tidak boleh menunjukkan merek apapun. Harus polos dan tanpa jejak.

Jika misi berhasil, beliau akan pulang dengan kebanggan tak terkira dan limpahan ucapan selamat dari atasan-atasannya. Namun bila misi gagal, maka tak ada lagi seseorang bernama Djoko Poerwoko. Jejaknya akan dihapus dari arsip nasional dan paspor serta visa juga dihanguskan. Jadilah beliau seeorang tanpa kewarganegaraan, nama dan rumah tinggal. Tak ada masa lalu.

Pada misi awal, beliau dan kawan-kawan sama sekali tidak tahu tujuan kemana mereka akan pergi. Tujuannya sengaja dibuat kabur untuk mengaga kerahasiaan misi yang mereka jalani.

Sampai di Bandara Frankrut, beliau dan kawan-kawanya disodorkan boarding pass untuk penerbangan menuju bandaradi negara tempat dimana latihan terbang akan di adakan. Atas pertimbangan keamanan, beliau dan ke sembilan kawannya yang akan menuju negara tujuan lewat Bandara Frankfrut disarankan menumpang bukan maskapai penerbangan negara yang dituju tersebut. Kemudian harus check in agak belakangan agar tidak terlalu lama menunggu di waiting room.

Sampai di negara tujuan, beliau menggambarkan pengamanannya sangat ketat. Setelah melewati beberapa pos jaga, akhirnya mobil van yan ditumbangi beliau dan kawan-kawan sampai ke wilayah pangkalan tempur besar di wilayah barat salah satu kota di negara tersebut.

Total waktu perencanaan latihan adalah 4 bulan. Selama itu, penerbang melaksanakan kegiatan pelatihan. Dari ground school hingga bina terbang agar mampu mengendalikan pesawat A-4 skyhawk.

Latihan terbang diawali dengan general flying  sebanyak 2 jam, ditemani seorang instruktur. Setelah itu, semua boleh terbang solo. Setelah itu masuk ke tingkat latihan yang lebih sulit lagi yaitu, harus mampu mengoperasikan A-4 Skyhawk sebagai alat perang.

Instruktur beliau selama masa pelatihan itu adalah seorang ahli komputer sipil yang mempunyai lisensi sebagai instruktur pesawat A-4 Skyhawk.

Singkat cerita, misi mendatangkan 34 pesawat A-4 Skyhawk secara rahasia dari negara yang sama sekali tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Indonesia itu, akhirnya berhasil.

Modifikasi Senjata T-33
T-33 adalah pesawat nbantuan Amerika Serikat, diberikan dalam program Defence Laisson Group (DLG) tanpa dukungan persenjataan. Para penerbangpun akhirnya meminta T33 untuk dipersenjatai . Pada bulan Mei 1978, prototipe pesawat T-33 berhasil di-assembly dengan sistem senjata oleh Tim Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI AU. Senjata yang dipasang adalah senjata bekas IL-28, pesawat Rusia yang sebelumnya pernah dipakai di Indonesia.

Sesudah dipersenjatai, pesawat T-33 ini kemudian dilibatkan dalam Operasi Integrasi Timor-Timur. Untuk membedakan antara pesawat yang telah dimodifikasi dengan pesawat non- modifikasi, maka diadakan perubahan cat pesawat. Kegiatan merancang ulang warna pesawat itu, dipercayakan pada beliau yang waktu itu adalah penerbang tempur yunior yang sedang “sibuk” belajar menerbangkan pesawat Sabre.

Saat sedang memandangi pesawat T-33 Bird itulah tiba-tiba beliau teringat pada sebuah model cat pesawat P-51 Mustang yang menggunakan corak ikan hiu (cocor merah). Lalu beliaupun memutuskan untuk membuat gigi ikan hiu sebagai konsep dasar pengecatan.

Ke Madiun
Saat situasi Timor-Timur mulai bergolak, sudah ada isu ABRI akan mengirim pasukan utnuk menyerbu Dilli. Malam harinya, semua penerbang Angkatan Udara dan Garuda dikumpulkan leh Komandan Lanud Iswahjudi, Kol Pnb Sudjatio Adi. Tanpa penjelasan yang rinci dimana target operasi sebenarnya, beliau hanya menjelaskan esok hari akan mendapat tugas terbang untuk melakukan dropping pasukan.

Garuda Indonesia bertugas menerbangkan pasukan sekaligus dukungan logistik ke Kupang. Beliau sendiri, walaupun tidak pernah secara langsung terlibat, ikut terbang dalam salah satu pesawat F-28 sebagai ekstra kru. Beliau memakai overall tanpa label identitas sama sekali, karena misi ini memang sangat rahasia. Hingga saat refuel di Ngurah Rai, dilakukan di tempat sepi.

Sebagai Dan Lanud Iswahjudi, beliau serin terbang dengan pesawat
Hawk MK-53, F-16 atau F-16



Bersama Pangkoopsau II, Marsda TNI Djoko Suyanto,
 berfoto dengan anggota team aerobatik


Saat kunjungan tiidak resmi Ibu Megawati Soekarnoputri
di Lanud Iswahjudi tahun2001



Menjadi Anggota Tim Aerobatik
Beliau mulai konversi di pesawat F-86 Avon Sabre bulan Desember 1977. Pertengahan 1978, lanud Iswahjudi menerima kunjungan Laksamana Soedomo, Wakil Panglima ABRI.

Pada KOMPAS 5 Oktober1978, diterbitkan hasil wawancara beliau mengenai Team Aerobatik F-86 yang akan tampil pada HUT ABRI tanggal 5 Oktober 1978 di Senayan. Berikut potongan artikel pada KOMPAS tersebut, yang menjadi bukti 

“Beliau adalah salah satu manusi dibalik kokpit penerbang-penerbang F-86 yang akan mempertunjukkan kebolehannya pada HUT ABRI

Lettu F. Djoko Poerwoko (28 thn), penerbang paling muda dalam team. Lulus AKABRI tahun 1973. Posisinya sebagai penerbang solo juga dicadangkan sebagai Left Wing Man. Nama panggilannya “Beaver” Jam terbangnya 900 jam.”


Kisah Badge Skadron dan Tukang Cat Pesawat Tempur

Sejak kecil beliau gemar menggambar, khususnya pesawat tempur. Beberapa hasil karya pengecatan yang masih dipakai hingga kini adalah gambar hiu pada pesawat T-33 Skadron 11 (tahun 1976), cat pada F-86 Skadron 3 (tahun 2011), pengecatan pesawat MK-53 Skadron 15 karena berpindah fungsi dari Skadik 103, da pesawat hibah AS-202 Bravo dari Ibu Megawati Soekarnoputri, yang kemudian diberi nama R-277.

Sementara itu, badge yang beliau ciptakan dan masih terpakai hingga sekarang adalah badge Skadron 14, Skadron 12 dan logo pada fin pesawat Lanud Iswahjudi, berupa 2 kilat. Beliau juga merancang badge bagi skadron A-4 yang akan dipecah menjadi dua skadron.


Di Mana Bumi Dipijak Di Situ Langit Dijunjung

Kupangku Tandus,Kupanku Sayang

Mengakhiri tugas dari skadron meninggalkan perasaan duka dan gembira bagi beliau. Pada saat menjabat sebagai Kadisops Lanud Hasanuddin, beliau masih sering mengajar di kokpit A-4. Tetapi, saat sudah pindah jabatan di Koopsau II, usai sudah pengabdian beliau sebagai penerbang tempur aktif.

Namun, beliau sangat terkejut karena hanya tiga bulan kemudian, beliau justru mendapat jabatan baru sebagai Komandan Lanud Kupang.




“Bersyukur Tuhan menganugerahi jabatan Panglima Komando Pertahanan Udara Nasional berita yang menggembirakan ini justru aku terima saat sedang melakukan kegiatan Retret bersama istri. Sudah 25 tahun aku tidak melakukan kegiatan itu, puji Tuhan aku mendapat anugerah sesudahnya”
-F. Djoko Poerwoko-

Selamat Pagi Panglima

Panglima Tertinggi





Setelah pelantikan sebagai Pangkohanudnas tanggal 3 desember 2003.
Beliau meninggalkan Kohanudnas pada 6 Maret 2006

Hari Kamis 3 Desember 2003, Panglima TNI Jenderal TNI Endriartono Sutarto melantik beliau, Fautinus Djoko Poerwoko, menjadi Panglima TNI Kohanudnas untuk menggantikan Marsekal Muda TNI Wresni Wiro. Upacara pelantikan dilakukan di Terminal Haji, Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta.

Pada hari itu, pertama kali beliau menjadi penerbang tempur, menyandang badge Kohanudnas dan pada hari itu kembali memakai badge Kohanudnas dan diberi kepercayaan untuk menjadi orang nomor satu di organisasi.




Mendapat penghrmatan resmi saat kunjungan kerja ke Polandia bulan
Agustus 2005. Beliau tidak menyangka akan disambut
secara resmi, sedangkan beliau hanya memakai pakaian PDH


Letjen Targos, Panglima Angkatan Udara Polandia menyaksikan beliau
mengisi buku tamu di Markas Angkatan Udara Polandia di kota Warsawa

Melihat MARK-2005 di Moscow bersama pak Victor dan
Alexander orang Rusia

Bulan November 2005, saat beliau mengunjungi fasilitas pertahanan
 udara Korea Utara di Timur Kota Pyongyang. Ini adalah perjalanan terakhir
beliau sebagai Panglima Kohanudnas.

Penerbangan Terakhir A-4

Tahun 2004 merupakan penerbangan terakhir pesawat A-4 TNI AU, ditandai dengan penerbangan ferry satu pesawat dari Makassar menuju Lanud Iswahjudi dan dua pesawat langsung ke Lanud Adisutjipto, Yogyakarta. Rencananya pesawat tersebut akan dimasukkan dalam Museum Angkatan Udara Dirgantara Mandala, yang terletak di pangkalan tersebut.

Beliau berpendapat bahwa penerbangan terakhir Skyhawk harus dipublikasi secara besar-besaran. Namun, Kasau dan beberapa pejabat lain memiliki pendapat lain, yang intinya penerbangan terakhir Skyhawk di Indoneia akan dilakukan tanpa publikasi dan inaugurasi.

Sebagai mantan penerbang A-4, beliau sebenarnya ingin pergi ke Yogyakarta, menyaksikan penerbangan terakhir ini. Jenis pesawat A-4 Skyhawk telah membesarkan nama beliau dan membentuk jiwanya sebagai penerbang tempur sekaligus mencelakakan jiwa beliau. Namun, karena ketidakjelasan kapan akan dilaksanakan, maka beliaupun gagal menyaksikan peristiwa tersebut.


Sayap yang Hilang


Kunjungan keluarga ke Lourdes bulan Maret 2003.
Nama yang hanya beliau kenal lewat lagu "Ave Maria" ini
akhirnya dapat beliau kunjungi bersama keluarga

Eyang Djoko telah berpulang kehadirat Tuhan saat bertugas di Rio De Janeiro, hari Selasa 9 Agustus 2011 di rumah sakit Brazil pukul 22.30 waktu setempat dalam rangka kunjungan ke pabrik pesawat Super Tucano atas undangan pihak Embraer. 

Beliau meninggal saat melihat desain pesawat buatannya yang akan ikut memperkuat pertahanan udara Indonesia. Beliau meninggal pagi hari setelah sarapan. Menurut nenek yang sawa wawancarai, beliau adalah sosok yang mempunyai pangkat tinggi sebagai Marsekal Muda. Eyang Djoko juga merupakan sosok yang rendah hati dan tidak sombong. Tegas dan disiplin serta sayang terhadap keluarga. Nenek mengakui bahwa beliau adalah menantu yang paling disayang oleh orangtuanya. Eyang Djoko merupakan orang yang betul-betul bisa dibanggakan.  Jujur dalam mengatakan sesuatu sudah menjadi prinsip Eyang Djoko. Nenek mengungkapkan bahwa, semakin tinggi pangkat Eyang Djoko, Makin Banyak yang bertentangan dengan hati nuraninya. Sehingga beliau merasa sudah cukup dengan jabatannya sebagai Pangkohanudnas. Sehingga kemudian beliau meletakkan jabatannya dan meminta pensiun dini. Hingga kemudian ia meluangkan waktu sepenuhnya untuk keluarga.

Nenek mengungkapkan jika ada acara keluarga, Eyang selalu menjadi sponsor utama. Saat ibunda nenek meninggal, Eyang Djokolah yang menyemangati keluarga untuk mengunjungi makam ibunda nenek. Eyang Djoko –lah sosok pengayom di keluarga.

Beliau juga seseorang yang suka bercanda, namun tidak pernah menyinggung perasaan orang lain, sehingga kita bisa menikmati candanya. Eyang Djoko merupakan sosok yang rendah hati. Hingga kepada pembantu-pembantunya, beliau bersikap hormat.

Salah satu pembantunya, bahkan, anaknya disekolahkan sebagai penerbang angkatan udara, oleh Eyang Djoko. Sehingga pembantunyapun sangat menghargai Eyang.

Sepenginggal Eyang Djoko, sanak saudara merasa seperti kehilangan salah satu sayap. Karena Eyang adalah sosok yang sangat dermawan, terutama kepada orang-orang kecil di sekitarnya.”Jarang...sekali orang seperti beliau” kata nenek. “pernah suatu waktu, sanak saudara yang membeli rumah dinas harus mencicil sebanyak 17 juta. Eyang dengan berita dari orang-orang. Belum sempat dimintai bantuan, tiba-tiba cicilan rumah sudah lunas” Cerita nenek.

“Makanya, bagi kita, Eyang Djoko adalah orang yang sangat luar biasa” Tutup nenek.

Eyang, mereka bilang seorang prajurit harus siap mati disetiap tugas dengan gagah di medan perang. Tapi bagi kami, eyang tetap hidup sebagai pejuang tangguh di hati kami.


Terima kasih Angkatan Udara
Kututup ceriteraku dalam kebanggaan yang dalam.
Kuakhiri pengabdianku dengan hati yang lapang.
Terima kasih kepada semua orang yang telah membantuku.
Terimakasih kepada anak dan isteriku terkasih.
Pintu kehidupan belumlah tertutup, kita masih terus berjuang.....

Jakarta, 9 September 2005
(Alm) (Purn). F. Djoko Poerwoko


No comments:

Post a Comment