Sunday, 19 May 2013

Tugas-2 Biografi Nindya Aristia Pratiwi


Kakek Bedjo Adi Sudirjo – Seorang TNI AD Bagian Logistik dan Saksi Hidup Segelintir Peristiwa Sejarah

            Ketika waktu bergulir dari tahun ke tahun seakan ingin melupakan kenangan-kenangan masa lalu yang pernah terlewati, namun tetap akan ada beberapa kenangan yang akan teringat di ingatan masing-masing individu dan tak lekang oleh waktu. Peristiwa-peristiwa yang disaksikan dan dirasakan hingga menorehkan ingatan tersendiri dalam benak manusia itu. Manusia yang merupakan saksi hidup segelintir peristiwa sejarah yang pernah dialami oleh Indonesia. Manusia yang dapat membagikan pengalamannya untuk dinikmati dan dikhayati banyak rakyat Indonesia.
                Salah satu saksi hidup dari segelintir peristiwa sejarah yang pernah dialami oleh Indonesia adalah seorang laki-laki yang sedang menikmati masa tuanya ini. Beliau adalah kakek saya yang bernama Bedjo Adi Sudirjo. Berikut adalah sedikit cerita dari kesaksian dan pengalaman hidup beliau.

Biografi
                Bedjo Adi Sudirjo merupakan seorang anak tunggal dari pasangan Bapak Tasimin dan Ibu Watiyem yang lahir di Semarang, 27 Februari 1936. Beliau telah melewati hari-hari pada masa kecilnya di sebuah kampung yang saat ini dikenal dengan Kampung Abimanyu, Semarang. Beliau tumbuh dan dibesarkan di tengah-tengah keluarga yang hidup biasa saja tanpa berlebihan. Beliau melewati masa kecilnya dengan sangat gembira. Layaknya anak laki-laki lainnya, beliau sangat gemar bermain di lingkungan rumahnya bersama teman-teman masa kecilnya. Beliau sangat senang bermain layang-layang, bermain gundu, dan bermain permainan lainnya.
                Beliau memulai pendidikannya pada tahun 1945 di sebuah SD di Semarang bernama SD Pendrikan. Beliau lulus dari SD tersebut pada sekitar tahun 1952. Setelah itu beliau melanjutkan pendidikannya di SMPN 3 yang terletak di Jalan Bebecoan, Semarang. Semasa beliau SMP, beliau selalu menempuh perjalanan menuju sekolahnya yang berjarak sekitar 5 KM dengan berjalan kaki dikarenakan minimnya fasilitas kendaraan saat itu. Namun karena beliau bersemangat sekolah, beliau pun rela berjalan meski hal itu bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Selain itu, ketika beliau SMP, beliau sangat gemar melakukan olahraga. Olahraga favorit beliau ketika SMP antara lain, sepak bola dan volly. Beliau senang melakukan olahraga tersebut bersama teman-temannya. Setelah lulus dari SMP pada tahun 1955, beliau melanjutkan pendidikannya di SMA Masehi yang terletak di Jalan Dr. Sucipto, Semarang. Sama seperti ketika beliau di SMP, beliau juga sangat gemar bermain sepak bola dan volly. Namun beliau tidak dapat mengembangkan kegemarannya tersebut di program ekstrakurikuler karena tidak seperti sekolah-sekolah pada zaman sekarang, sekolah pada zaman dahulu tidak memiliki program ekstrakurikuler untuk mengembangkan bakat-bakat para muridnya. Beliau pun hanya bermain bersama teman-temannya untuk mengembangkan kegemarannya tersebut.
                Lalu setelah beliau lulus SMA pada tahun 1958, beliau tidak melanjutkan pendidikannya ke jenjang kuliah dikarenakan beliau tidak menaruh minat terhadap dunia kuliah dan juga karena pada saat itu beliau bisa mendapatkan pekerjaan dengan mudah. Sehingga beliau lebih memilih untuk bekerja dibandingkan dengan melanjutkan kuliah. Beliau memilih untuk bekerja di sebuah perusahaan kereta yang sekarang dikenal dengan PT Kereta Api Indonesia (Persero). Beliau menduduki posisi sebagai administrasi kantor di daerah Pati. Ketika beliau bekerja di perusahaan kereta tersebut, beliau menyempatkan sedikit waktunya untuk melanjutkan kuliah program B1 Kimia hampir 1 tahun. Namun beliau tidak menyelesaikan kuliahnya tersebut. Setelah 1 tahun beliau bekerja menjadi administrasi kantor, beliau harus meninggalkan pekerjaannya tersebut karena pada akhir tahun 1959 beliau mendapat panggilan untuk mengikuti pendidikan militer di Cimahi, Jawa Barat. Panggilan tersebut merupakan panggilan dari presiden Soekarno dalam rangka wajib militer darurat untuk kegiatan operasi trikora merebut Irian Barat dari tangan Belanda.
                Selama kurang lebih 1 tahun beliau melewati hari-harinya dengan melakukan berbagai latihan berat di Cimahi demi menjadi militer. Tiada hari dilewati tanpa latihan berat. Namun beliau tidak pernah mengeluh dan juga tidak menganggap bahwa latihan berat tersebut merupakan siksaan. Hal itu dikarenakan beliau berasa dari keluarga yang biasa saja sehingga hal-hal yang berat merupakan hal yang biasa dan juga sering dijalankan oleh beliau ketika masih kecil. Beliau pun menikmati hari-harinya di pelatihan karena beliau dapat menambah teman baru dan juga mendapatkan kesempatan untuk menjadi TNI. Progam wajib militer darurat itu pun berakhir pada tahun 1961.
                Ketika beliau melewati hari-harinya dengan kegiatan wajib militer, beliau bertemu dengan seorang perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya yaitu nenek saya yang bernama Sringatin. Saat itu nenek saya sedang menjalankan pendidikan di sekolah perawat RS Dustira Cimahi Jawa Barat. Mereka pun menikah pada tanggal 02 Oktober 1963. Pernikahan beliau dan nenek saya dikaruniai 3 orang anak perempuan yang salah satunya merupakan mama saya yang bernama Riris Oktantrias Hermasari.

Peranan
            Selama hidupnya, beliau telah menyaksikan berbagai peristiwa-peristiwa sejarah. Berawal dari ketika beliau masih berumur sekitar 7-8 tahun. Saat itu beliau masih tinggal di Semarang bersama orang tua beliau. Peristiwa yang beliau ingat adalah pertempuran 5 hari di Semarang melawan Jepang. Suasana di hari itu sangat ramai dan tidak aman. Kampung beliau diserang oleh Jepang. Bunyi tembakan dan deru pesawat terdengar dimana-mana. Seperti anak-anak lainnya, beliau merasa sangat takut dan hanya bisa melihat bagaimana pertempuran itu terjadi dari hari ke hari. Beliau selalu melihat pesawat-pesawat yang berlalu lalang di langit Semarang.  Pemuda-pemuda Indonesia berlalu lalang sambil membawa bambu runcing dan siap berperang. Salah satu dari pemuda itu adalah ayah beliau karena umur ayah beliau yang masih terbilang muda. Karena dari hari ke hari keadaan semakin membahayakan, beliau dan ibu beliau pun pergi mengungsi dari rumahnya tanpa disertai ayah beliau karena ayah beliau harus ikut berperang. Setelah keadaan aman, beliau dan ibu beliau pun kembali ke rumah nya dan menjalankan hari-hari nya seperti biasa. Beliau pun melihat bagaimana Jepang kalah dan senjata-senjata Jepang diambil oleh badan perjuangan Indonesia. 

                Selain itu beliau juga menyaksikan bagaimana sekutu dan Belanda kembali masuk ke Indonesia dan melakukan berbagai macam penyerangan. Lalu terjadi berbagai revolusi dan keramaian di mana beliau tinggal dan memaksa beliau untuk mengungsi kembali bersama kedua orang tua beliau. Beliau mengungsi ke daerah yang dikuasai RI, bukan yang dikuasai oleh Belanda. Pada saat itu beliau juga melihat keadaan dimana para pejuang menembaki pesawat Belanda dan berjuang agar daerah RI tidak dikuasai kembali oleh Belanda.
1.1. Opa menjadi komandan kompi
                Peristiwa selanjutnya adalah G30SPKI di tahun 1965 dimana terjadi peristiwa Jend.Ahmad Yani meninggal karena dibunuh. Saat itu beliau bertugas sebagai komandan kompi. Beliau ditugaskan untuk melakukan pengamanan tidak langsung di Jakarta agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Beliau melakukan patroli ke berbagai daerah untuk mengecek keamanan wilayah-wilayah di Jalan Jogja dan juga asrama rumah di Jalan Padang dan Jalan Salak. Beliau mengatakan bahwa G30SPKI itu berawal dari rapat umum sarjana teknik di Senayan yang dipimpin oleh Bung Karno dan salah satu yang hadir adalah Jend. Ahmad Yani. Rapat itu selesai sekitar jam 12 malam. Jend. Ahmad Yani pun pulang namun tidak ke rumahnya yang di bappenas melainkan ke rumahnya yang kecil yang terletak di Jalan Krakatau. Lalu Jend. Ahmad Yani dibunuh oleh kelompok dari Letnan Kolonel Luntung yang sekarang disebut pampres. Dan pada pagi harinya, berita mengenai Jend. Ahmad Yani dan asisten-asistennya yang hilang pun gempar dan mayatnya dikubur di Lubang Buaya. Lalu dilakukanlah operasi dibawah pimpinan Soeharto sebagai panglima kostrad dan ditemukan mayat-mayat para korban yang dikubur di Lubang Buaya tersebut. Mayat Jend.Ahmad Yani dan korban lainnya pun dibawa menuju Taman Makam Pahlawan Kalibata menggunakan panser dan dikawal oleh pasukan khusus termasuk Kapt.Pierre Tendean. Setelah ditemukannya mayat Jend.Ahmad Yani, beliau pun melakukan operasi pengamanan kembali dan sudah tidak terjadi pembunuhan-pembunuhan lagi.
                Selain menjadi saksi-saksi beberapa peristiwa penting, beliau juga berperan dalam menyediakan dan menyalurkan bahan-bahan logistik para TNI angkatan darat sesuai dengan posisi beliau di bagian penyediaan logistik. Sebelum masuk ke TNI, beliau sempat bekerja sebagai administrasi kantor di PT Kereta Api Indonesia (persero) dan juga mengikuti program wajib militer terlebih dahulu.
1.2. Ketika opa menjadi komandan kompi
                Setelah melewati program wajib militer tersebut, beliau pun dinas sebagai komandan peleton pasukan angkutan bermotor di Jalan Jogja, Jakarta selama 2 tahun. Setelah menjadi komandan peleton, beliau menandatangani ikatan dinas pendek. Beliau pun menjadi militer sukarela (milsuk) di Jakarta selama 9 tahun. Selama beliau menjadi militer sukarela, beliau bertugas sebagai komandan kompi hingga pangkat letnan 1. Perbedaan antara bertugas sebagai komandan peleton dan komandan kompi antara lain, ketika menjadi komandan peleton jumlah anak buahnya sedikit hanya sekitar 30 orang, namun ketika menjadi komandan kompi jumlah anak buahnya jauh lebih banyak sekitar 100 orang tentara dan 200 warga sipil. Tugas beliau ketika menjadi komandan peleton maupun komandan kompi adalah mengatur penugasan anak buahnya di dalam mendukung gerakan-gerakan pasukan kodam jaya yang ada di Jakarta dan juga turut membantu menyelesaikan masalah jika terdapat kecelakaan yang menyangkut pasukan. Selama menjadi komandan peleton maupun komandan kompi, beliau juga pernah mengalami hal-hal yang tidak enak seperti ketika anak buahnya melakukan disersi atau pergi tanpa izin sehingga beliau diharuskan mencari anak buahnya tersebut dengan bantuan PM.
1.3 Ketika Opa menjadi komandan kompi
                Dari tahun 1968 hingga tahun 1972, beliau pindah ke akabri Magelang dan bertugas sebagai kepala biro material dan juga merangkap sebagai pelatih. Tugas sebagai kepala biro material adalah pengadaan material-material kepentingan akabri yang dibutuhkan oleh taruna. Dan tugas sebagai pelatih adalah memberi petunjuk dan pelatihan mengenai pengoperasian kapal karet (LCR) bagi taruna baru. Hal ini rutin dilakukan tiap tahun oleh beliau tanpa ada variasi tugas.
                Setelah selesai masa dinas di akabri Magelang, beliau melanjutkan pendidikan TNI di Military Officer Specialist (MOS) di Cimahi. Beliau belajar mengenai pendidikan lanjutan perwira kejuruan. Beliau melaksanakan program pendidikan tersebut selama 6 bulan. Ketika beliau melanjutkan pendidikan di MOS, beliau mengalami kenaikan pangkat menjadi kapten. Lalu beliau pindah ke Direktorat Angkutan (Ditang) di Matraman, Jakarta. Tugas beliau dilaksanakan di kantor biasa dengan cara membantu staff aslebang (asisten penelitian dan pengembangan). Lalu berubah menjadi pusat angkutan dan komando angkutan. Beliau masuk ke bagian pusat angkutan (pusang) yang bertugas untuk membuat software dan semua doktrin-doktrin bidang keangkutan.
1.4. Catatan di belakang foto 1.3
                Pada tahun 1973, beliau melanjutkan bersekolah di Suslapa (kursus lanjutan perwira) di Cimahi selama kurang lebih 1 tahun. Selama bersekolah, beliau mendapatkan pengajaran mengenai pekerjaan staff. Lalu beliau kembali ke pusang dan tetap melakukan pekerjaan yang sama sebelum bersekolah di Suslapa. Tahun 1974, beliau naik pangkat menjadi mayor dan juga melanjutkan sekolah di SusJabLog (kursus jabatan logistik) di Cimahi. Selama bersekolah di SusJabLog, beliau belajar mengenai logistik tentara umum seperti, peralatan, angkutan, kesehatan, pembekalan, dan juga seni konstruksi. Setelah selesai bersekolah di SusJabLog, beliau kembali bekerja di pusang angkutan.
                Tahun 1977, beliau naik pangkat menjadi letnan kolonel dan dikirim untuk dinas ke KODAM 13 Manado. Selama di KODAM 13 Manado beliau bertugas sebagai komando angkutan kologdam 13 merdeka. Sekitar tahun 1979, kologdam bubar dan beliau berubah menjadi kepala angkutan kodam 13 merdeka yang meliputi 2 provinsi yaitu Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah hingga tahun 1982. Setelah itu beliau pun kembali ke Jakarta dan bertugas di jawatan angkutan darat militer (janangratmil) yang terletak dik Kramat Jati, Jakarta. Di sana beliau bertugas sebagai kepala pembinaan pengendalian angkutan seluruh TNI AD (Kabinadal). Tahun 1983, beliau naik pangkat menjadi kolonel. Dan pada tahun 1985 janangratmil berubah menjadi direktorat pembekalan dan angkutan. Selama 3 tahun beliau bertugas sebagai direktur pembinaan materil angkutan (dirbinmatang) di direktorat pembekalan dan angkutan tersebut. Bertugas untuk mengurus seluruh alat-alat TNI AD terutama pengangkutan seperti, kapal, payung udara, dan juga angkutan darat bermotor.
                Itu lah karier terakhir dari beliau karena setelah itu beliau mengajukan pensiun pada sekitar tahun 1990 dikarenakan usianya yang sudah tua. Setelah pensiun, beliau pun hanya berperan dalam mengurus anak dan keluarganya hingga sekarang. Selama beliau berada di bagian logistik, beliau telah banyak berperan dalam menyediakan logistik para TNI dan kegiatan-kegiatan yang penting bagi negara. Salah satunya beliau pernah menyediakan dan mengantarkan bahan-bahan yang diperlukan dalam proses pembuatan monumen nasional. Pada saat itu, proyek pembangunan monumen nasional (MONAS) merupakan proyek yang sangat besar dan melibatkan banyak pihak termasuk TNI Angkatan Darat. Selain itu beliau juga pernah menyediakan dan mengantarkan kebutuhan logistik dalam pelaksanaan GANEFO yang saat itu merupakan acara besar yang diselenggarakan oleh Indonesia dan diadakan di Jakarta.
Opa dan cucu-cucu nya
            Sekian tulisan saya mengenai biografi kakek saya ini, semoga dapat memberikan manfaat bagi siapapun yang membacanya dan memberikan informasi yang berharga dari tulisan ini.

No comments:

Post a Comment