Friday, 31 May 2013

Tugas-2 Biografi Nisya Putri Shaliha

Nenek Emi, Selalu Aktif di Usia 70 Tahun

BIOGRAFI

         Nenek Emidar lahir pada tahun 7 Oktober 1942 di Padang, Sumatera Barat. Nenek lahir dari pasangan Aziz dan Alidar. Nenek dulu sembilan bersaudara, tetapi satu meninggal saat masih kecil. Dari delapan bersaudara, hanya satu yang laki-laki. Sekarang, seluruhnya masih ada. 4 orang tinggal di Padang dan 4 orang tinggal di Jakarta.
Nenek menghabiskan masa kecil sampai remajanya di sana. Pendidikan awal yang dijalani Nenek masih berupa SR atau Sekolah Rakyat, bukan Sekolah Dasar. Setelah itu Nenek bersekolah di SMP dan SMA. Namun, pada saat itu sebenarnya ada SGB atau Sekolah Guru Bantu yang sederajat dengan SMA.
           Menikah pada tangal 18 Januari 1962 dengan Kakek (alm) Suhaimiyatim, yang lahir pada tanggal 13 Maret 1933, jadi beda umurnya cukup jauh yaitu 9 tahun. Kakek adalah lulusan fakultas Teknik Sipil di UGM. Seusai menikah, Nenek pindah ke Jakarta.
Sejak bersama suami, tempat tinggal Nenek berpindah-pindah mengikuti kegiatan Kakek. Anak pertama mereka lahir pada tanggal 8 Oktober 1962, bernama Sudarto yang berasal dari awal nama Kakek, Su (Suhaimi), nama tengah Nenek, Dar (Emidar), dan To karena lahir pada bulan Oktober. Nenek sempat merasa aneh dengan nama Om Totok yang sangat Jawa, tetapi Kakek hanya akan menjawab, “ya siapa tau jadi Presiden dari Padang.” Setelah Om Totok berumur 2 bulan, keluarga kecil itu pindah ke Pontianak. Di sana, Kakek bekerja sebagai kontraktor BUMN.
         Tangal 17 Juli 1964, putri pertama yaitu Tante Lili lahir. Nama panjang Tante Lili adalah Emilia yang berasal dari nama Nenek. Setahun kemudian, mereka semua kembali ke Jakarta.
        Anak ketiga yaitu Tante Yati lahir pada tanggal 29 Oktober tahun 1966. Nama panjangnya yaitu Sri Hidayati menjadi aneh kembali karena Nenek dan Kakek sama-sama dari Padang. Awalnya Sri karena ingin dari nama Kakek yang juga berawalan S. Tak lama setelahnya, keluarga yang semakin besar itu pindah ke Semarang. Tahun 1968, lahir si bungsu pelengkap keluarga, Om Emilius.
Nenek tinggal di daerah Praja, Arteri Pondok Indah, Kebayoran Lama ini sejak 1975. Dulu, jalan depan rumah Nenek belum diaspal seperti sekarang. Saat musim hujan, sepatu anak-anak Nenek harus dibungkus dengan plastik agar tanah yang basah tidak menempel di sepatu.
        Tahun 1976, tarawih bersama antar warga mulai dilaksanakan. Awalnya, Nenek dan Kakek memutuskan untuk tarawih berjamaah di rumah saja, karena anak-anak mereka masih kecil dan listrik juga belum ada saat itu. Tetangga kanan kiri mulai ikut berjamaah di rumah Nenek, lalu menawarkan untuk mengadakan jamaah di rumah mereka supaya bergantian, dan akhirnya menjadi tarawih bergilir yang rutin diadakan tiap tahun sampai sekarang. Saking ramainya tarawih Praja, warga Bungur sering datang untuk  ikut tarawih. Rumah Nenek sendiri masih menjadi tempat yang paling sering diadakan tarawih, karena tidak semua tetangga mau dan mampu menyediakan rumahnya, dan rumah Nenek selalu terbuka.
           Kini, di usia 70 tahun, Nenek masih aktif berorganisasi. Sekarang Nenek menjabat sebagai Ketua Majelis Ta’lim. Majelis Ta’lim yang diberi nama Praja ini—“Kalau An-Nisa atau An-Nur sudah pasaran, kalau daerah Praja kan ya di sini saja,” kata Nenek—dimulai sejak tahun 1979. Jika ada yang bersedia rumahnya ditempati, di sanalah pengajian akan dilaksanakan. Jika tidak, di rumah Nenek, seperti sholat tarawih. Ustadznya juga sudah berganti-gant, sampai akhirnya ada satu Ustadz tetap yaitu Ustadz Anis. Ustadz Anis telah menjadi ustadz selama 20 tahunan, mulai dari materi yang ditentukan oleh warga, mengupas Al-Qur’an dari Al-fatihah, sampai membahas makalah-makalah Ustadz Anis yang memang suka menulis. Selain Majelis Ta’lim di lingkungan warga, Nenek yang juga menjadi ketua Persatuan Istri-Istri Insinyur Indonesia atau PIII wilayah Kebayoran 1, juga mengurus Majelis Ta’lim di organisasi ini yang sudah berjalan selama 19 tahun. 
           Nenek juga aktif menjadi pengurus Rukun Tetangga. Posisi Nenek adalah bendahara. Di rumah Nenek terdapat tumpukan kartu iuran, bukti keanggotaan warga sejak Nenek menjabat menjadi bendahara. Setiap tanggal 1, satpam penjaga lingkungan RT 05 berkumpul malam-malam di rumah Nenek, karena tanggal tersebut adalah tanggal gajian. Nenek akrab dengan satpam-satpam itu dan suka membelikan nasi goreng yang lewat malam-malam. Laporan dan keluhan biasa disampaikan ke Nenek pada malam itu, misalnya soal gaji yang dirasa kurang. Nenek jadi bisa menyampaikan ke Pak RT dan pengurus yang lain, agar surat persetujuan naiknya iuran bisa disebarkan ke warga.
            Majelis Ta’lim iya, pengurus RT iya, arisan juga iya. Nenek seperti tidak ada capainya.
            Menurut Nenek, arisan membantu warga untuk saling kenal. Nenek tak segan mengajak dan menelepon warga yang baru pindah, karena Nenek ingin minimal warga yang baru pindah bisa diketahui nama dan tempat tinggalnya, apalagi di zaman individualis ini. Dulu ada warga yang jarang sekali bersosialisasi, sehingga saat sang suami meninggal hanya sedikit tetangga yang melayat. Nenek tidak ingin itu terjadi lagi.
              Kesibukan Nenek di bidang sosial ini membuat beliau selalu sehat. Ingatan Nenek juga masih baik sekali, karena selama wawancara semua cerita yang sangat detail ini diceritakan sendiri oleh Nenek, bahkan sampai tanggal kejadiannya.
Pada suatu kesempatan, Kakek harus bekerja di Padang, sementara anak-anak Kakek dan Nenek sudah besar dan tidak mau pindah. Akhirnya, Nenek tinggal di Jakarta selama 6 minggu, lalu 2 minggu mengunjungi Kakek dan orangtua di Padang. Kakek sendiri pulang untuk mengunjungi anak-anaknya sebulan sekali. Rutinitas ini berlangsung sampai 5 tahun.
              Nenek juga mengalami masa di mana nenek harus menjemput Om Totok yang bersekolah di SMAN 70. Nenek dihentikan oleh polisi karena bahaya, dan akhirnya siswa dipulangkan memakai bus. Saat Om Totok ditanya oleh nenek apakah ia dan adik-adiknya ikut tawuran, Om Totok hanya menjawab, “nggak ikut nanti dibilang nggak solider, jadi Totok ambil aja batu, terus Totok lempar, tapi nggak kena siapa-siapa.”. Dari 4 bersaudara itu, semua SMA-nya di SMAN 70 kecuali Tante Yati di SMAN 6. Om Totok lulusan Ekonomi UI, Tante Yati lulusan Ekonomi Pancasila, Tante Lili lulusan Akademi Bahasa Inggris, dan Om Emilius di Teknik Sipil.
              Saat Kakek pensiun di usia 60 tahun, anak-anak Nenek dan Kakek sudah berkeluarga. Nenek senang memiliki 4 cucu yang sehat. Tiga cucu dari Om Totok dan 1 dari tante Lili. Cucu paling tua atau pertama yaitu Kharisa, umurnya sekitar 22 tahun, sudah lulus Sarjana Ekonomi di Prasetya Mulya dan sudah bekerja. Cucu kedua, Furqan, 20 tahun, masih kuliah. Cucu ketiga, Yasmin, sedang kuliah juga di Bina Nusantara. Kharisa dan Yasmin ini keduanya lulusan SMA Labschool Kebayoran. “Kayaknya dulu Kharisa dan Yasmin nggak ada tugas menulis biografi seseorang seperti ini,” ujar Nenek. Cucu terakhir, Arsyad, kelas 2 SD. “Jarak dari Yasmin ke adiknya itu 12 tahun,” kata Nenek.
“Si kecil”, panggilan Nenek untuk cucunya yang masih SD itu pernah ingin merasakan naik kereta. Akhirnya sekeluarga bersama Nenek ikut ke Semarang. Kata anak-anak Nenek, “menapak tilas”, karena dulu sempat tinggal di sana.
               Tante Lili mengusulkan untuk mengadakan arisan bagi 4 keluarga besar Nenek yang tinggal di Jakarta. Seluruhnya jika berkumpul bisa sampai 30 orang. Namanya adalah Arisan Anak Cucu AA, AA sendiri maksudnya Alizar-Aziz. Nenek senang karena dengan adanya arisan ini, walaupun hanya 2 bulan sekali, keluarganya jadi lebih ramai. Kalau tidak ada, ketemu saja susah. Di zaman individualis ini kalau menelepon mau datang saja belum tentu bisa ketemu.
               Nenek sempat merasa kesepian karena ditinggal Kakek 2 tahun lalu di usia 77 tahun, tetapi Nenek sudah ikhlas. Sebelum meninggal, Kakek seperti memberi tanda-tanda. Yang diberi justru anak dan cucu Kakek, bukan Nenek. Nenek bercerita bahwa saat pergi mengantar  Yasmin untuk Misi Budaya ke Eropa saat masih bersekolah di SMA Lasbchool Kebayoran dulu, Kakek sempat berkata bahwa pulang dari sana Yasmin tidak akan bertemu dengannya lagi. Yasmin tentu hanya akan menganggap itu becanda. Namun ternyata, benar, di tengah-tengah Misi Budaya itu Kakek pergi meninggalkan dunia untuk selama-lamanya. Yasmin sebenarnya ingin pulang, tetapi tidak bisa karena harus ikut kompetisi. Sementara itu istri Om Totok atau Ibu Yasmin yang ikut mendampingi Misi Budaya pulang.

PERANAN

       Sebagai perempuan dengan banyak kegiatan, Nenek merasa hidupnya aman-aman saja. Tidak banyak juga peranan yang Nenek berikan pada Indonesia. Tiga hal dibawah iniilah yang sangat Nenek ingat sampai sekarang.
         Suatu hari di tahun 1947, Nenek dan keluarga sedang bersiap untuk sarapan. Tiba-tiba, tentara Belanda datang ke kampung tempat Nenek tinggal. Nenek bingung kenapa beliau mendengar suara banyak orang berlarian. Nenek mengintip dan melihat para tentara itu. “Ibu, ibu! Itu ada orang tingg-tinggi, hidungnya mancung!” deskripsi Nenek. “Ya itu yang Belanda, itu Belanda!” jawab ibu Nenek. Laki-laki dewasa banyak yang “diambil” untuk berperang secara paksa atau ditembaki dengan sengaja begitu saja. Suara tembakan dan bom juga kerap Nenek dengar. Akhirnya, Nenek dan keluarga mengungsi.
         Saat tinggal di Pontianak, tahun 1965 Indonesia dan Malaysia berkonfrontasi. Akibatnya daerah cukup rusuh, meskipun tidak separah kerusuhan Mei 1998. Saat itu. daerah Praja untungnya aman dari penjarahan, namun sepanjang jalan Arteri Pondok Indah, took-tokonya banyak sekali yang dijarah, dirampok, dan dibakar. Bahkan ada swalayan yang isinya habis diambil oleh massa, dan orang-orang di jalan membawa-bwa kasur dan barang lainnya sembari tetap rusuh di jalanan.
        Semasa hidupnya, Kakek berprofesi sebagai insinyur teknik.  Pada masa itu, Presiden Soeharto mewajibkan istri-istri pegawai negeri sipil menjadi anggota dalam suatu organisasi yang bernama Dharma Wanita, termasuk Nenek. Di organisasi ini, kedudukan istri mengikuti suami, sehingga Nenek menjadi ketua karena Kakek adalah bos di perusahannya.
        Bu Tin adalah orang yang sangat mendukunh organisasi ini. Kaum Wanita banyak terbantu karena program kegiatan sosial dari Dharma Wanita, contohnya di Semarang. Kegiatan dikhususkan pada PKK atau Pendidikan Kesejahteraan Keluarga. Banyak ibu-ibu yang mengikuti latihan keterampilan seperti kursus menjahit dan memasak dan akhirnya mempunyai usaha yang maju.
Namun sejak Bu Tin Soeharto meninggal, organisasi ini tidak terlalu aktif lagi, meskipun masih ada sampai sekarang.

     Bersama Nenek Emi di rumahnya. Nenek masih sangat sehat dan snagat cantik :)          

No comments:

Post a Comment