Friday, 31 May 2013

Tugas 2 Biografi - Nur Azzahra M XI IPA 3


Kisah hidup Hj. Tien Quraisyin

Untuk memenuhi tugas-2 biografi, saya mewawancarai nenek saya yang bernama Tien Quraisin atau yang sering saya panggil dengan sebutan ‘Nenek Tin’. Nenek Tin adalah Ibu dari Ibu saya. Saya teringat beberapa tahun yang lalu, saat sedang melewati sebuah gunung di Jawa Barat, Nenek Tin bercerita tentang ayahnya yang hampir di bantai oleh anggota PKI. Maka itu, saya memilih nenek saya sebagai narasumber untuk tugas ini.

Biografi
Kakek saya dengan Nenek Tin


            Nenek Tin lahir di Bandung tanggal 28 November tahun 1944. Beliau adalah anak tunggal dari Haji Sambas Gozali dan anak dari Hajah Siti Fatimah. Nenek Tin mempunyai satu ibu angkat yang bernama ibu Hajah Emi. Ibu Emi adalah salah satu istri dari Haji Sambas Gozali. Nenek Tin mempunyai satu saudara tiri dari ibunya, Hajah Siti Fatimah yang sering ibu saya panggil dengan sebutan ‘Uwa Nana’ atau ‘Wa Nana’ (Uwa/Wa adalah panggilan orang sunda untuk kakak dari orangtua). Wa Nana mempunyai seorang istri yang biasa dipanggil oleh ibu saya ‘Wa Emin’. Wa Emin mempunyai hubungan dekat dengan Nenek Tin, bahkan sampai setelah Wa Nana meninggal. Dulu, saat Nenek Tin tinggal di Bandung, Wa Emin kadang tinggal di rumah Nenek Tin untuk beberapa bulan.
            Ayahanda Nenek Tin, Haji Sambas Gozali adalah seorang kontraktor dan pengusaha. Beliau pernah bekerja sama dengan orang Belanda untuk membangun sistem perairan di Bandung. Berhubung dengan kerjanya sebagai kontraktor, beliau dulu juga mempunyai toko yang menjual alat-alat bangunan. Selain kontraktor dan pengusaha, beliau juga mempunyai sawah. Haji Sambas Gozali dulu adalah orang ke-10 terkaya di Bandung. Beliau mempunyai sekitar lima belas orang istri. Beliau juga dulu mempunyai sejumlah rumah di kota Bandung. Saking kayanya, ibu saya pernah bercerita bahwa bahkan kancing bajunya terbuat atau dilapisi oleh emas. Jika salah satu kancing copot, ibu saya biasanya menyimpannya.
            Pada tahun 1954, Nenek Tin pernah pergi haji dengan orangtuanya. Nenek Tin pernah bercerita karena transportasi zaman dulu tidak secepat sekarang, perjalanan ke Mekkah membutuhkan waktu 6 bulan. Selama berbulan-bulan beliau berada di kapal, setelah sampai di darat, beliau menaiki unta agar dapat sampai ke kota Mekkah.
            Nenek Tin merupakan orang yang religius. Salah satu faktor yang membuat Nenek Tin religius adalah karena beliau dulu bersekolah di sebuah pesantren bernama Pesantren Persis yang terletak di Jawa Barat. Nenek Tin bersekolah di Pesantren Persis selama 9 tahun sampai setingkatan SMP. Setelah selesai bersekolah di pesantren, pada umur 14 tahun Nenek Tin menikah. Nenek Tin menikah dengan seorang lulusan arsitektur ITB bernama Slamet. Dari pernikahan tersebut, Nenek Tin mempunyai dua anak. Anak pertamanya adalah anak laki-laki bernama Jordan, dan anak keduanya merupakan anak perempuan bernama Mirna. Karena masih muda, anak-anak beliau diurus oleh orangtua beliau. Sayangnya, pernikahan tersebut tidak bertahan. Nenek Tin akhirnya bercerai dari suami pertamanya tersebut,
            Setelah itu, Nenek Tin bertemu dengan kakek saya yang bernama Soemarno. Kakek saya merupakan co-founder dari PT Pupuk Kaltim. Kakek saya merupakan keturunan Palembang, Jawa, dan Cina. Nenek Tin akhirnya menikahi  kakek saya dan mempunyai 4 anak sehingga beliau akhirnya mempunyai 6 orang anak. Anak ketiga adalah seorang perempuan yang cantik bernama Neneng, anak keempat adalah kakak laki-laki ibu saya yang bernama Andri, anak kelima adalah Ibu saya yang bernama Nila, dan anak terakhir adalah anak perempuan bernama Sarah.
            Selama hidupnya, Nenek Tin tidak hanya tinggal di Bandung. Karena pekerjaan kakek saya, Nenek Tin bersama anak-anaknya ikut berpindah bersama kakek saya. Nenek Tin sempat harus pindah dari Bandung ke Bontang, Kalimantan Timur pada sekitar tahun 1980an. Pada saat itu, Bontang masih dipenuhi hutan. Karena belum mempunyai rumah, maka mereka membuat rumah tinggi yang terbuat dari kayu bersama orang-orang berkulit putih  yang tinggal disitu. Selain bontang, Nenek Tin juga sempat tinggal di Jakarta selama beberapa tahun. Pada saat itu, uwa saya yang bernama Neneng berumur sekitar 12 tahun. Karena kecantikannya, ia menjadi model di suatu majalah remaja. Namun karena makanan yang tidak streil, Wa Neneng terkena tifus dan meninggal. Setelah itu, Nenek Tin Pindah kembali ke Bandung. Pernikahan Nenek Tin dengan kakek saya juga tidak bertahan, sehingga saat saya masih sangat kecil, Nenek Tin cerai dengan kakek saya.
            Untuk mendapatkan uang dan menghidupi diri sendiri, Nenek Tin sempat memiliki usaha perikanan kecil. Setiap minggu, ia mendatangi tanah berukuran kurang lebih satu hektar yang di dalamnya terdapat kolam ikan besar untuk mengawasi orang yang bekerja disitu menangkap ikannya yang kemudian akan dijual ke penjual-penjual ikan.
            Beberapa tahun yang lalu, Nenek Tin menjual rumah yang telah ditinggalinya selama kurang lebih 40 tahun dan yang pernah saya tinggali selama 2 tahun pertama hidup saya, dan memutuskan untuk pindah ke Jakarta agar bisa lebih dekat dengan anak-anaknya dan karena beliau merasa lebih nyaman di Jakarta. Saat ini Nenek Tin tinggal di BSD, Tangerang.

Nenek Tin dengan suami dan anak-anaknya


Peran

Gerakan 30 September merupakan sebuah peristiwa dimana enam perwira militer beserta beberapa orang lainya dibunuh dalam suatu usaha percobaan kudeta yang dituduhkan kepada anggota-anggota Partai Komunis Indonesia (PKI).
Pada awalnya PKI adalah gerakan yang berasimilasi ke dalam Sarekat Islam. Keadaan yang semakin parah dimana ada perselisihan antara para anggotanya, terutama di Semarang dan Yogyakarta membuat Sarekat Islam melaksanakan disiplin partai. Yakni melarang anggotanya mendapat gelar ganda di kancah perjuangan pergerakan indonesia. Keputusan tersebut tentu saja membuat para anggota yang beraliran komunis kesal dan keluar dari partai dan membentuk partai baru yang disebut ISDV.
Pada Kongres ISDV di Semarang (Mei 1920), nama organisasi ini diubah menjadi Perserikatan Komunis di Hindia. Semaoen diangkat sebagai ketua partai. PKH adalah partai komunis pertama di Asia yang menjadi bagian dari Komunis Internasional. Henk Sneevliet mewakili partai ini pada kongresnya kedua Komunis Internasional pada 1920. Pada 1924 nama partai ini sekali lagi diubah, kali ini adalah menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI).
Partai Komunis Indonesia (PKI) adalah partai politik di Indonesia yang berideologi komunis. Partai Komunis Indonesia merupakan partai komunis terbesar ketiga di dunia. Kadernya berjumlah sekitar 300.000, sementara anggotanya diperkirakan sebanyak dua juta orang. Selain itu PKI juga mengatur serikat-serikat buruh.  Dalam sejarahnya, PKI pernah berusaha melakukan pemberontakan melawan pemerintah kolonial Belanda pada 1926, mendalangi pemberontakan PKI Madiun pada tahun 1948, serta dituduh membunuh 6 jenderal TNI AD di Jakarta pada tanggal 30 September 1965 yang di kenal dengan peristiwa G30S/PKI.
PKI mendapatkan banyak kekuatan dari kalangan buruh.Pada 1924, PKI menyebarkan pengaruhnya ke pedesaan Jawa dan luar Jawa.Sejak itulah partai menyiapkan untuk mengadakan revolusi. PKI menganggap pemberontakan untuk menggulingkan Belanda lebih baik ketimbang menerima dominasi dari pemerintah kolonial. Sebenarnya tujuan dari PKI yaitu Untuk menyebarkan komunisme di kalangan kaum buruh dan masyarakat Indonesia.
            Salah satu tokoh penting PKI adalah Muso. Muso datang ke Indonesia untuk menjalankan suatu kebijaksanaan baru dari Gerakan Komunis Internasional yang dikenal dengan nama Doktrin Dimitrov. Doktrin ini menyatakan bahwa gerakan komunis harus bekerja sama dengan kekuatan manapun. Dengan doktrin ini, kegiatan komunis di Indonesia digiatkan kembali. Tapi tidak begitu terlaksana karena Muso terlebih dulu ditangkap.
Dukungan terhadap kepresidenan Soekarno bergantung pada koalisi "Nasakom" antara militer, kelompok agama, dan komunis. Perkembangan pengaruh dan kemilitanan PKI, serta dukungan Soekarno terhadap partai tersebut, menumbuhkan kekhawatiran pada kelompok Muslim dan militer. Ketegangan mulai menyelimuti perpolitikan Indonesia pada awal dan pertengahan tahun 1960-an. Upaya PKI untuk mempercepat reformasi tanah menggusarkan tuan-tuan tanah dan mengancam posisi sosial para kyai.
Pada November 1926 PKI memimpin pemberontakan melawan pemerintahan kolonial di Jawa Barat dan Sumatera Barat. PKI mengumumkan terbentuknya sebuah republik. Pemberontakan ini dihancurkan dengan brutal oleh penguasa kolonial. Ribuan orang dibunuh dan sekitar 13.000 orang ditahan. Sejumlah 1.308 orang, umumnya kader-kader partai, dikirim ke Boven Digul, sebuah kamp tahanan di Papua. Beberapa orang meninggal di dalam tahanan. Banyak aktivis politik non-komunis yang juga menjadi sasaran pemerintahan kolonial, dengan alasan menindas pemberontakan kaum komunis.
            Nenek Tin  adalah salah satu orang yang telah menyaksikan pemberontakan PKI di Indonesia pada tahun 1965. Pada saat itu, beliau masih berumur 21 tahun. Ayah beliau adalah seorang haji yang tinggal di dalam sebuah kaum yang terletak di Buah Batu, Bandung. Pada saat itu, beliau masih tinggal dengan ayah dan keluarganya. Menurut kesaksian Nenek Tin, ayahnya adalah salah satu orang yang termasuk di dalam daftar pembantaian PKI karena ayahnya merupakan seorang haji dan termasuk orang yang berada.
            Upaya PKI dalam mewujudkan dan menyebarkan komunisme dan sosialisme di Indonesia salah satunya adalah memberantas pakar-pakar agama dan para priyayi. Untuk itu, pada tahun 1965 pembantaian oleh oknum-oknum yang diduga PKI juga ditujukan kepada haji-haji, kyai-yiai, dan pesantren-pesantren yang ada.
            Nenek Tin bercerita bahwa saat itu pasukan gerwani melewati depan rumahnya di Buah Batu. Mereka memeriksa setiap rumah-rumah yang mereka lewati. Tetangga-tetangga beliau sebagian besar merupakan haji dan tuan tanah. Tujuan mereka memeriksa rumah-rumah tersebut dicurigai untuk memberi tanda pada setiap rumah yang berisi orang-orang yang ada di dalam daftar pembantaian.
            Gerakan Wanita Indonesia atau Gerwani adalah organisasi wanita yang aktif di Indonesia pada tahun 1950-an dan 1960-an. Kelompok ini memiliki hubungan yang kuat dengan Partai Komunis Indonesia, namun sebenarnya merupakan organisasi independen yang memperhatikan masalah-masalah sosialisme dan feminisme.
            Keesokan harinya, di hampir seluruh rumah dalam kaum di Buah Batu ditandai oleh cabai merah dan bawang merah. Cabai dan bawang tersebut di paku di gerbang depan rumah-rumah dalam kaum tersebut. Tanda cabai dan bawang tersebut adalah tanda untuk menandai rumah orang-orang yang akan di bantai. Rumah yang ditinggali nenek Tin saat itu merupakan salah satu rumah yang ditandai dengan cabai dan bawang. Mendengar kabar-kabar tentang pemberontakan PKI, orang-orang yang tinggal di rumah-rumah tersebut tidak berani keluar rumah sama sekali. Nenek Tin juga bilang bahwa buruh-buruh dan petani-petani yang kerja di sawah tetangga-tetangganya mulai memberontak.
            Hari Jumat tanggal 1 Oktober 1965, sekelompok besar orang melewati rumah-rumah tersebut. Orang-orang itu menyanyikan yel-yel PKI dengan suara nyaring. Orang-orang yang tinggal di dalam rumah-rumah tersebut semakin takut.
            Ayah Nenek Tin sudah tahu kabar tentang pemberontakan PKI. Saat mendengar orang-orang menyanyikan yel-yel PKI, ayah Nenek Tin sangat ketakutan karena beliau tahu bahwa beliau sedang dalam bahaya. Saat Nenek Tin mendengar ketukan, ayah Nenek Tin langsung jatuh pingsan. Orang-orang yang ada di rumah tersebut menggotong ayah Nenek Tin. Akhirnya, ayah Nenek Tin bersembunyi di dekat genting rumah agar tidak ditemukan oleh anggota-anggota PKI yang memburunya. Saat ditanya apakah beliau ada, orang-orang yang ada di rumah tersebut menjawab tidak ada. Setelah melihat semua orang yang ada di rumah, akhirnya orang yang diduga anggota PKI tersebut akhirnya pergi.
            Banyak saudara-saudara dan tetangga-tetangga Nenek Tin yang diculik oleh anggota-anggota PKi lalu hilang tanpa jejak. Pengalaman tersebut merupakan salah satu pengalaman yang cukup menegangkan dan mengerikan bagi Nenek Tin.  






Nenek Tin dengan anak dan cucunya


Nenek Tin dengan cucu-cucunya



1 comment: