Wednesday, 29 May 2013

Tugas-2 Biografi Nurani Rahma Arafah XI IPA1


“Kakek RM. Bambang Murtiyoso, saksi sejarah politik dekrit presiden yang belum dikenal namun memiliki peranan yang besar untuk bangsa”


“Tidak perlu terkenal, untuk bermanfaat untuk bangsa kita,” ucap kakek RM. Bambang Murtiyoso sebelum berpulang ke sisi tuhan. Kata-kata tersebut sangat menyentuh hati saya, ditambah lagi begitu saya diceritakan tentang perjalanan hidupnya. Perjalanan hidup yang sulit untuk di jalani, namun beliau tetap berjuang untuk menjadi orang yang bermanfaat untuk bangsa.
Satu alasan beliau untuk menempuh perjalanan hidupnya yang sulit tersebut, yaitu, agar anak-cucunya nanti dapat bahagia menjalani kehidupannya tidak seperti beliau. Sungguh cerita yang sangat menyentuh hati saya. Di bawah ini akan saya jelaskan lebih lanjut tentang perjalanan hidup dari Kakek RM. Bambang Murtiyoso ini.
Untuk memenuhi tugas sejarah kali ini, saya akan membuat biografi kakek saya sendiri yang merupakan saksi sejaarah yang memiliki peranan bagi kehidupan bangsa ini. Dikarenakan kakek saya sudah berpulang dari tahun 2010 yang lalu, saya tidak dapat mewawancarai langsung kakek saya tersebut. Wawancara yang seharusnya langsung dengan saksi sejarah kali ini diwakilkan olwh anaknya yang merupakan tante saya dan istrinya yang merupakan nenek saya.
Memang saya tidak langsung mewawancarai kakek saya yang merupakan saksi sejarah. Namun, tidak berarti biografi tentang kakek saya yang saya buat ini tidak terjamin keasliannya. Saya mewawancarai anak dari kakek saya dan istri dari kakek saya yang mengetahui dengan persis perjalan dari hidup kakek saya, dan peranan beliau untuk bangsa ini. Mulai dari  beliau lahir lalu menjadi saksi sejarah hingga dia berpulang ke rahmattullah. Termasuk bagaimana beliau memiliki peranan untuk bangsa ini. Hal tersebut disebabkan, kakek saya gemar menceritakan tentang perjalanan kehidupannya kepada mereka. Sehingga biografi tentang saksi sejarah ini sudah terjamin isinya.  

a)  Biografi


Kakek Alm. RM. Bambang Murtiyoso

Saksi sejarah yang saya wawancarai merupakan kakek dari pihak ayah bernama kakek RM. Bambang Murtiyoso. RM dari namanya tersebut merupakan gelar yang merupakan singkatan dari Raden Mas, Saya sangat mengaguminya, karena pernah mendengar cerita perjuangan dan kesuksesan beliau di jamannya. Dan cerita tentang perjuangan hidupnya itu sangat mengaggumkan. Selain itu beliau juga memiliki peranan untuk bangsa Indonesia ini. Bagaimana saya tidak kagum? Memiliki kakek yang dapat dijadikan teladan bagi kehidupan saya kelak.
Kakek RM. Bambang Murtiyoso ini lahir di kota Boyolali tanggal 24 Juli 1933. Beliau adalah anak ke 3 dari 8 bersaudara. Ayah beliau bernama R. Soedali Atmo Hudiono, seorang juru penerang di wilayah Boyolali dan sekitarnya, suatu daerah pegunungan di Jawa Tengah, pada jaman perjuangan kemerdekaan. Ibu beliau bernama Suyanah, seorang ibu rumah tangga yang sangat menyayangi beliau dan saudara-saudaranya. Menjadi anak ketiga dari 8 bersaudara merupakan hal yang cukup sulit bagi beliau. Karena beliau di haruskan untuk membatu ayahnya untuk menopang kehidupan keluarnya. Karena perannya sebagai kakak sangat besar di jaman tersebut.
Masa kecil dari kakek RM. Bambang Murtiyoso dilalui di Boyolali, tempat dimana beliau lahir dan melalui masa kecilnya. Sesuai dengan suasana jaman perjuangan pada waktu itu, yaitu sekitar tahun 1945-an, masa kecil kakek RM. Bambang Murtiyoso pun dilalui tidak terlalu myenangkan layaknya masa kecil yang biasa dialami kita pada saat ini. Masa kecil yang dialami beliau dilalui dalam suasana keprihatinan.
Sebagai seorang juru penerang yang membela rakyat ayahanda dari Kakek RM. Bambang Murtiyoso, yaitu Kakek buyut R. Soedali Atmo Hudiono, menjadi orang yang diburu oleh pemerintah Hindia Belanda di Jawa Tengah. Hal ini menyebabkan Kakek buyut R. Soedali Atmo Hudiono  harus membawa seluruh keluarganya bersembunyi di kaki gunung Merbabu, yaitu desa Selo, tanpa perbekalan yang cukup. Karena kesulitan mendapatkan makanan pada waktu itu, tidak jarang Kakek RM, Bambang beserta kakak adiknya hanya makan dari rerumputan tumbuhan seadanya yang ada disekitarnya, sehingga beberapa adik dari Kakek RM. Bambang menderita penyakit kekurangan gizi yaitu Hongeroedem. Untunglah seluruh keluarga Eyang R. Sodali Atmo Hudiono dapat melalui masa sulit ini dengan baik. Meskipun salah satu kakak Kakek RM. Bambang Murtiyoso mengalami musibah terkena granat saat bersembunyi di Desa Selo Boyolali tersebut.
            Dikarenakan kakak dari beliau mengalami  musibah terkena granat, kakak dari Kakek RM. Bambang Murtiyoso sedikit mengalami ke idiot-an. Sungguh bukan merupakan masa kecil yang membahagiakan yang seharusnya dialami setiap orang dimasa kecilnya. Kakek RM. Bambang Murtiyoso diharuskan mengurus adik-adiknya karena beliau merupakan anak ketiga. Datambah lagi setelah kakaknya terkena musibah, beliau pun harus mengurus kakaknya tersebut.
Sampai dengan tumbuh remaja Kakek RM. Bambang Murtiyoso dalam asuhan ayah dan bundanya, hingga berhasil lulus SMA di Boyolali pada tahun 1948. Pendidikan pada jaman itu merupakan hal tersulit yang harus dialami oleh Kakek RM. Bambang Murtiyoso. Hidup dibawah tekanan Hindia Belanda , sulit sekali untuk mendapatkan pendidikan yang memadai. Bayangkan untuk bertahan hidup saja sudah sulit bagaimana untuk mendapatkan pendidikan. Hal tersebut membuat beliau tidak mendapatkan pendidikan yang seharusnya seperti yang kita alami pada sekarang ini. Namun beliau tidak merasa menjadi orang yang bodoh, karena beliau mendapatkan pendidikan tentang kehidup dari pengalaman-pengalaman yang dia jalani di hidupnya. Tentu pendidikan tentang kehidupan tersebut tidak dapat dengan mudah kita dapaatkan. Hal tersebut membua beliau menjadi orang yang bijaksana dalam mengajari anak-anal dan cucu nya.
Pada tahun 1950an, Kakek buyut R. Soedali Atmo Hudiono dipindahtugaskan ke Palembang. Seluruh keluarganya beliau diboyong ke Palembang termasuk Kakek RM. Bambang Murtiyoso. Kehidupan keluarga Kakek buyut R. Soedali Atmo Hudiono sudah mulai membaik dari kehidupab yang sebelumnya meskipun tetap dalam kesederhanaan. Kakek buyut R. Soedali Atmo Hudiono kemudian diangkat sebagai Kepala Kantor Penerangan Republik Indonesia, di wilayah kota Palembang.
Dalam suasana kesederhanaan, Kakek RM. Bambang Murtiyoso kemudian mendapat kesempatan melanjutkan kuliah di Universitas Tujuh Belas Agustus yang terletak di kota Palembang. Rupanya saat melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi Kakek Bambang Murtiyoso mulai tertarik terhadap politik, sehingga beliau memilih Jurusan Ilmu Sosial Politik sebagai minat pendidikannya. Selama berkuliah, Kakek RM. Bambang Murtiyoso sudah aktif di organisasi kemahasiswaan, yang bernama Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) hingga Kakek RM. Bambang Murtiyoso berhasil menyelesaikan pendidikannya, dan lulus dari Jurusan Ilmu Sosial Politik Universitas Tujuh Belas Agustus Palembang pada tahun 1952.
Setelah menyelesaikan pendidikan di perguruan tingginya kakek RM. Bambang Murtioso pun mulai berkiprah di organisasi sosial dan kepemudaan. Berbagai kegiatan organisasi sosial dan kepemudaan digelutinya. Beliau banyak mengikuti organisasi sosial dan kepemudaan dikarenakan beliau memiliki cita-cita yaitu untuk membuat Indonesia menjadi lebih baik kelak. Beliau yakin langkah kecil yang beliau ambil di awal akan membawanya ke kebahagian kelak. Langkah demi langkahpun beliau jalani denngan yakin dan tekad yang kuat. Satu yang beliau yakini, bahwa dia akan membuat anak cucunya kelak mendapat kebahagiaan tanpa mengalami penderitaan yang beliau alami selama ini.
Berkiprah di organisasi sosial dan kepemudaan bukan hal yang mudah. Memiliki dasar pendidikan yang cukup, sangan membantu kakek RM. Bambang Murtiyoso untuk dapat menjalani segala yang ada di dalam organisasi-organisasi tesebut. Dengan bergabung di organisai sosial dan kepemudaan tersebut merupakan bantu loncatan agar beliau dapat mendalami politik secara lebih dalam.
Setelah puas berkiprah di organisai sosial dan kepemudaan, beliau mengambil langkah selanjutnya yang cukup besar. Beliau bergabung dalam Partai Nasional Indonesia (PNI) dan Organisasi Perhimpunan Kerukunan Tani di kota Palembang, dimana beliau melalui masa mudanya yang sudah mulai berkecukupan. Pada jamannya tersebut, yaitu pada tahun 1953, kakek RM. Bambang Murtiyoso dipercaya sebagai Ketua Perhimpunan Kerukunan Tani Indonesia Cabang kota Palembang. Mulai dari sinilah kakek RM. Bambang Murtiyoso dikenal sampai tingkat nasional, karena konsep konsep yang dilontarkan oleh kakek RM. Bambang Murtiyoso dapat diterima oleh kalangan masyarakat yang lebih luas.
Pada tahun 1954, melalui Musyawarah Besar Tani Nasional, Kakek RM. Bambang Murtiyoso terpilih sebagai Sekertaris Jendral (sekjen) Perhimpunan Kerukunan Petani Indonesia. Oleh karena itu Kakek RM. Bambang Murtiyoso pindah didomisili ke kota Jakarta. Jakarta, ibukota Indonsia dimana politik berpusat disana pada jaman itu merupakan suatu kehormatan jika dipindahkan kerja ke kota Jakarta. Sejak saat itu Kakek RM. Bambang Murtiyoso juga dipercaya untuk duduk sebagai anggota Dewan Produksi Nasional (DPN).
Tidak hanya itu, Kakek RM. Bambang Murtiyoso juga aktif terlibat sebagai anggota Penyusun Undang Undang Pokok Agraria (Land Reform). Beliau juga dipercaya menjadi salah satu anggota Dewan Pengawas Pabrik Gula Seluruh Indonesia. Sebagai anggota Dewan Pengawas Pabrik Gula Seluruh Indonesia Kakek RM. Bambang Murtiyoso sering bertugas keliling Indonesia mengawasi PNP/ Pabrik Gula. Kehidupan Kakek RM. Bambang Murtiyoso sudah jauh lebih membaik dari sembelumnya. Berkecukupan merupakan kata yang tepat untuk menggambarkan kehidupan Kakek RM. Bambang Murtiyoso pada saat itu.
Pada tahun 1955 pemuda Kakek RM, Bambang Murtiyoso menyunting gadis bernama Muranti (nenek saya), yang sudah dikenalnya sejak di Palembang. Perkenalan kakek pemuda RM. Bambang Murtiyoso dan gadis nenek Muranti terjadi karena dekatnya hubungan pekerjaan antara ayahanda kakek RM. Bambamng Mutiyoso yaitu kakek buyut R. Soedali Ahmad Hudiono sebagai Juru Penerang dengan kakak dari  gadis nenek Muranti, yaitu Bapak Sumirin sebagai Kepala Radio Republik Indonesia Stasiun Palembang. Hubungan pekerjaan keduanya ini menyebabkan pernah bertemunya pemuda kakek RM. Bambang Murtiyoso dan gadis nenek Muranti yang waktu itu juga bertugas sebagai penyiar Radio Republik Indonesia Statsiun Palembang. Dari perkawinannnya dengan gadis nenek Muranti ini, Kakek RM. Bambang Murtiyoso dikaruniai 6 anak. Putra ketiganya adalah Aryo Gajah Seno Condro Agung, yang merupakan ayah saya.
Kakek Bambang dengan Presiden pertama RI
Di tahun 1959 merupakan tahun dicapainya Puncak karir Kakek RM. Bambang Murtiyoso dengan diangkatnya beliau sebagai anggota Dewan Penasehat Presiden, yaitu Dewan Pertimbangan Agung (DPA). Dewan Pertimbangan Agung merupakan dewan yang dibentuk oleh Presiden Soekarno setelah dekritnya sebagai pengganti konstituante. Kakek RM. Bambang Murtiyoso merupakan anggota termuda dari semua anggota Dewan Petimbangan Agung (DPA) tersebut, dengan usianya yang baru 26 tahun. Kakek RM. Bambang Murtiyoso menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung Republik Indonesia sampai dengan tahun 1967. Di saat itulah beliau menjadi orang yang berkecukupan dan mengambil langkah yang paling besar yang pernah beliau buat.
Setelah Kakek RM. Bambang Murtiyoso terpilih sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) dan berkedudukan di Jakarta, secara kebetulan Kakek buyut R. Soedali Ahmad Hudiono juga terpilih sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPR-GR) perwakilan dari Palembang.  DPRGR juga merupakan dewan yang dibentuk setelah dekrit sebgai pengganti DPR. Seluruh anggota DPR-GR merupakan orang-orang yang ditunjuk dan diangkat langsung oleh Presiden Soekarno, suatu kehormataan bagi kakek buyut R. Soedali Ahmad Hudiono untuk dapat menjadi salah satu anggota dari DPR-GR. Karena hal tersebut,  Kakek buyut R. Soedali Ahmad Hudiono pun membawa keluarganya menyusul pindah ke Jakarta.
Di belakang Presiden Ir. Soekarno
Kakek RM. Bambang Murtiyoso merupakan pejabat yang jujur. Hal ini terbukti bahwa meskipun memegang berbagai Jabatan antara lain Sebagai Anggota Dewan Pengawas Pabrik Gula Seluruh Indonesia, Dewan Produksi Nasional dan Dewan Pertimbangan Agung (DPN), sampai memasuki usia pensiun, Kakek RM. Bambang Murtiyoso tetap hidup dalam keadaan sederhana, dan tidak bermewah-mewah. Kakek RM. Bambang Murtiyoso hanya memliki satu rumah di Tamtaman Solo dan itu pun merupakan pemberian dari kakaknya yang kebetulan adalah istri selir Pakubuwono X, yaitu Nenek R Ay. Laksmintorukmi.
Sampai dengan meninggalnya pada tanggal 10 November 2010, Kakek RM. Bambang Murtiyoso bersama nenek Muranti tinggal di ruamh Jalan Tamtaman No 139, Baluwarti, Solo, Jawa Tengah. Sebagai anggota trah Yososdipuro kakek RM. Bambang Murtiyoso dimakamkan di Pemakaman Pengging Boyolali, Jawa Tengah. Di komplek pemakaman ini juga disemayamkan Almarhum Pujangga Yosodipuro.

b) Peranan

            Peranan Kakek RM. Bambang Murtiyoso untuk Indonesia ialah beliau berkelut di bidang politik. Diantaranya adalah:
·      Bergabung dalam Partai Nasional Indonesia (PNI)
·      Menjadi anggota Organisasi Perhimpunan Kerukunan Tani di kota Palembang
·      Terpilih menjadi Sekertaris Jendral (sekjen) Perhimpunan Kerukunan Petani Indonesia
·      Menjadi anggota Dewan Produksi Nasional (DPN)
·      Aktif terlibat sebagai anggota Penyusun Undang Undang Pokok Agraria (Land Reform)
·      Dipercaya menjadi salah satu anggota Dewan Pengawas Pabrik Gula Seluruh Indonesia
·      Menjadi anggota Dewan Penasehat Presiden, yaitu Dewan Pertimbangan Agung (DPA)

No comments:

Post a Comment