Friday, 31 May 2013

Tugas 2 - Biografi Ozsadevi Sonia


Nahason Manurung, seorang saksi sejarah

Indonesia sudah berdiri untuk waktu yang sangat lama. Tentunya Indonesia mempunyai banyak sekali kejadian yang bersejarah, dan tentunya banyak sekali orang-orang yang berkontribusi dan menjadi saksi pada kejadian-kejadian ini. Di masa-masa perang, pemberontakan, pendudukan Belanda, dan lainnya.
Saya mendapatkan tugas untuk mewawancarai orang segenerasi kakek tentang kontribusinya terhadap Indonesia atau kesaksian terhadap sesuatu peristiwa sejarah. Tugas ini menarik, karena dengan tugas ini kami semua memiliki kesempatan untuk mengetahui tentang sebuah peristiwa sejarah menurut sudut pandang seseorang yang melihatnya dengan mata kepala sendiri, bukan dengan sekedar mendengar cerita. Ketika diberi  ini, awalnya saya bingung. Sebenarnya saya ingin mewawancarai nenek dari ayah saya mengenai kakek saya yang dulunya TNI AD, namun saya tidak sempat untuk bertemu dengannya dan memutuskan untuk mewawancarai kakek dari ibu saya.  Saya biasa memanggilnya dengan sebutan ‘Ompung’, sebutan yang biasa dipakai oleh orang batak untuk memanggil kakek atau neneknya.

Biografi :

Nahason Manurung, itulah nama Ompung saya. Beliau lahir pada tanggal 14 September 1932. Opung saya adalah anak paling kecil di keluarganya.

Masa kecilnya Ia lalui di daerah Jangga, suatu desa kecil di daerah Tapanuli Utara, propinsi Sumatera Utara.  Desa ini terletak di daerah gabungan perbukitan dan lembah yang luas dengan persawahan. Sejak kecil, Ompung saya sudah tidak asing lagi dengan alam sekitarnya. Beliau berkata bahwa hutan merupakan sesuatu yang sangat berharga pada saat itu, karena dari sana orang-orang di kampung itu mendapatkan apa yang diperlukan. Bahkan pada saat pendudukan Jepang, dimana makanan langka dan sulit diperoleh, Ompung dan keluarganya tidak mengalami kelaparan karena dari hutan di sekitar rumah mereka, mereka bisa mengolah banyak bahan makanan dan keperluan. Latar belakang ini memberi sumbangan besar pada masa depan Ompung saya yang akhirnya menjadi Sarjana Pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB) (pada waktu itu dikenal sebagai Fakultas Pertanian Universitas Indonesia) dan kemudian bekerja hingga pension dari perusahaan perkebunan negara di Sumatera Utara.

Masa sekolah Ompung saya tidak berjalan terlalu lancar karena berbagai hal. Saat kecil, tubuh Ompung lemah, sering sakit-sakitan, dan berperawakan kecil. Hal ini membuat Ompung saya harus tinggal lebih lama di Sekolah Sending di desanya yang memiliki kelas hanya sampai kelas 3, dan tidak diijinkan langsung melanjutkan ke kelas 4 karena letaknya cukup jauh dari desa Jangga. Bahkan, setelah berhasil melanjutkan ke kelas 4, Ompung saya harus pindah sekolah lagi yang lokasi nya lebih dekat ke desa Jangga pada waktu di kelas 5. Setelah menyelesaikan SD pada tahun 1947, Ompung saya tidak langsung melanjutkan ke SMP, tetapi dia bekerja menjadi penggembala kerbau di desa nya selama 1 tahun. Berkat dorongan seorang kepala sekolah di desa itu, Ompung dan teman-temannya mendaftar ke SMP Narumonda. Hanya 6 orang, termasuk Ompung saya yang terpilih. Untuk masa penyesuaian, Ompung dan teman-temannya diharuskan mengikuti kursus selama kurang lebih 3 bulan sebelum bisa mengikuti pelajaran di SMP Narumonda.  Ompung saya belajar di SMP Narumonda di tahun 1948 – 1952.

Pada masa awal bersekolah di SMP Narumonda, beberapa bulan setelah Ompung dan teman-temannya diterima di SMP Narumonda, kegiatan belajar-mengajar di SMP Narumonda terpaksa berhenti Karena ada agresi Belanda. Agresi Belanda ke-2 masuk ke desa itu pada tahun 1948, sebelum tahun baru. Serangan masuk ke desa Jangga dan sekitarnya terjadi sebelum Tahun Baru dan juga pada waktu libur sekolah. Belanda menduduki desa Jangga hanya selama 3 hari. Belanda keluar dari desa tersebut setelah beberapa jalan besar yang ada di sekitar desa Jangga dilongsorkan Tetapi Belanda menduduki kota-kota kecil diseluruh Tapanuli sampai masa penyerahan kedaulatan pada tahun 1950. Selama masa agresi ini, SMP tempat Ompung bersekolah tidak mengadakan proses belajar dan mengajar, walaupun di beberapa daerah yang diduduki Belanda, sekolah masih dapat terus berlangsung. Ompung saya menyelesaikan sekolah di tahun 1952, setelah sekolah kembali beroperasi di tahun 1950.

Ompung saya kemudian melanjutkan sekolah di SMA Soposurung Balige dan lulus dari SMA pada tahun 1955. Karena keterbatasan biaya sekolah yang bisa diberikan orang tua nya, Ompung  bertekad melanjutkan pendidikan dengan tidak membebani orang tua nya. Ompung kemudian merantau ke Jakarta dengan biaya terbatas. Akhirnya Ompung di terima di Fakultas Pertanian UI di Bogor (sekarang dikenal dengan nama IPB) dan mendapat beasiswa. Selain beasiswa, sejak tahun ke-dua Ompung bekerja menjadi asisten entomology (hama dan pestisida). Menurut Ompung, pendapatan yang diperolehnya melalui beasiswa dan juga gaji dari menjadi asisten dosen, hidup Ompung saat itu termasuk berkecukupan.

Ompung menyelesaikan tingkat C II di tahun 1959, dan kemudian pulang kampung  untuk bertemu orang tua setelah mendengar perang saudara antara PRRI/Permesta dan tentara nasional sudal selesai. Tapi Ompung sangat terkejut karena sesampainya di rumah, dia baru mengetahui bahwa ibu nya sudah meninggal pada tahun 1958. Berita duka itu tidak disampaikan kepada Ompung karena pertimbangan situasi yang tidak aman pada waktu itu dan komunikasi tidak gampang dilakukan. Setelah itu, Ompung kembali ke Bogor dengan pikiran yang kacau. Kondisi ini mempengaruhi kelancaran proses penyelesaian S1.

Pada tahun 1962 Ompung lulus sarjana dan melamar kerja ke Perusahaan ex Belanda. Ompung diterima di Perusahaan Perkebunan Negara (PPN) dan ditempatkan di daerah perkebunan yang bernama Bah Jambi. Perkebunan ini terletak di dekat kota Pematang Siantar, Sumatera Utara.

Curriculum vitae karir & politik :

1963-1964    : Bekerja di P.P.N SUMUT III sebagai Landbow Adviseur, dan mengikuti Latihan Kemiliteran Pegawai Sipil (LKPS)
1963 dst        : Perkappen SOKSI
1964-1965    : Wakil kepala Pertanaman Aneka Tanaman-3
1965-1968    : Kepala Pertanaman Aneka Tanaman-3, merangkap pembangunan pembukaan Perkebunan Bukit Exlima
1967-1983    : Ketua cabang Perkappen
1967 dst        : Aktif di GOLKAR Kabupaten Simalungun
1968-1970    : Kepala Bagian Tanaman PTPN VII – Bah Jambi
1970-1972    : Administratur di PTPN VII – Tonduhan
1972-1978    : Administratur di PTPN VII – Mayang & Bukit Exlima
1978               : Administratur di PTPN VII – Dolok Sinumbah & Tonduhan, team leader visibility study perkebunan kelapa sawit model PIR (Perkebunan Inti Rakyat) untuk PTP XI di Banten Selatan dalam tujuan untuk menerima bantuan dari World Bank, mengikuti penataran P4 di Medan dan setelah itu menjadi penatar di Pematang Siantar
1980               : Administratur di PTPN VII – Pasir Mandoge selama 6 bulan, Kepala bagian tanaman di PTPN Vii – Bah Jambi dan meliputi daerah pengembangan di Kalimantan Barat
1983-1989    : Direktur Produksi PTPN IV – Gunung Pamela
2001-2005    : Ketua BPM Distrik X Medan Aceh – bermitra dengan Distrik An der Agger, Germany


Peranan :

Pemberontakan Partai Komunis Indonesia terjadi beberapa kali di Indonesia. Tapi Ompung saya mengalami masa-masa yang cukup mencekam akibat peristiwa ini sejak Ompung bekerja di PPN. Pemberontakan G-30 S PKI (Partai Komunis Indonesia) di Jakarta – peristiwa pembunuhan / percobaan pembunukan para Jenderal  Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) khususnya dari Angkatan Darat, banyak mendapat perhatian. Peristiwa ini sampai sekarang masih selalu diperingati bangsa Indonesia, setiap tanggal 30 September. Akan tetapi, ternyata banyak juga peristiwa-peristiwa yang dikaitkan dengan pemberontakan PKI terjadi di berbagai daerah di Indonesia, termasuk di daerah perkebunan Bah Jambi, tempat Ompung saya bekerja.

Sejak masuk dan bekerja di Perusahaan Perkebunan Negara, Ompung merasa tidak pernah mengalami kekejaman PKI di daerah itu. Akan tetapi, beberapa rekan-rekan sekerjanya, yang lebih senior dari pada Ompung, menceritakan berbagai kekejaman anggota PKI di daerah tersebut yang sering menyiksa para pekerja di Perkebunan. Ternyata kekejaman yang diterima para pekerja tersebut sangat membekas bagi pekerja yang mengalaminya.
Setelah meletusnya Pemberontakan G-30 S PKI, dimana PKI berhasil dikalahkan oleh ABRI (sekarang disebut sebagai TNI – Tentara Nasional Indonesia), banyak terjadi peristiwa-peristiwa yang bisa dikategorikan sebagai tindakan pembalasan kepada para anggota PKI yang dianggap kejam.

Ompung pernah diajak oleh beberapa rekan sekerja nya, untuk melakukan penangkapan dan juga pembunuhan orang-orang yang dianggap sebagai anggota ataupun terlibat PKI. Tetapi Ompung tidak pernah mau mengikuti hal ini. Pertimbangan moral dan juga dengan alasan dia tidak pernah melihat ataupun mengalami kekejaman orang-orang yang dituduh sebagai anggota PKI.

Ompung menjelaskan, pada masa itu, dengan alasan ataupun tuduhan sebagai anggota atau terlibat PKI, seseorang ataupun satu kelurga bisa dihukum dan dieksekusi mati tanpa proses pengadilan untuk membuktikan tuduhan-tudahan yang diberikan. Di daerah Bah Jambi dan sekitarnya, banyak orang-orang yang dianggap anggota ataupun terlibat PKI di eksekusi mati. Proses penghukuman juga cukup kejam yaitu dengan cara dibunuh dan mayatnya dibuang di sungai yang terletak di dalam jurang yang sangat curam. Tidak adanya proses pengadilan yang memadai, seseorang dapat dituduh sebagai bagian atau pun simpatisan dari PKI dan kemudian dibunuh.

Menurut Ompung, situasi pada masa-masa itu sangat mencekam. Dengan maksud tertentu, seseorang dapat merekayasa cerita mengenai keterlibatan sesorang di PKI. Setelah cerita menyebar, orang tersebut dapat dijemput dari rumahnya dan di eksekusi mati di daerah sekitar Bah Jambi.

Peristiwa penangkapan dan pembunuhan  terhadap orang-orang yang dianggap terlibat PKI ini tidak saja terjadi di daerah sekitar Bah Jambi, tapi juga di banyak perkebunan dibawah PPN.

Trauma ataupun luka yang ditimbulkan oleh peristiwa ini sangat membekas di banyak orang. Pemerintahan Order Baru bahkan memelihara cerita mengenai kekejaman PKI selama bertahun-tahun setelah peristiwa pemberontakan G-30 S PKI.

Ompung mungkin tidak banyak terlibat ataupun menjadi tokoh pada suatu peristiwa penting di negara ini, namun berbagai peristiwa yang Ia saksikan ataupun alami mempunyai banyak pengaruh terhadap dirinya. Peristiwa-peristiwa ini membentuk karakternya menjadi seorang yang bisa dikategorikan sebagai ‘pejuang’. Ompung berjuang untuk mendapatkan pendidikan yang maksimal, dengan berbagai keterbatasan, dari segi latar belakang keluarga maupun lingkungan. Ompung mampu memperjuangkan perbaikan pendidikannya.


No comments:

Post a Comment