Friday, 31 May 2013

Tugas-2 Biografi Prayogo Prima Wahyudi

Abdurrahman The Messenger

Di tugas Sejarah semester kedua ini yang isi tugasnya adalah membuat biografi dan peranan seorang saksi sejarah, saya mewawancarai nenek saya sendiri yaitu Ibu dari Ibu saya yang bernama Fatoyah, nenek saya ini bercerita tentang pengalaman kakek saya dan kakek buyut saya yang berjuang pada jaman Belanda secara gerilya, saya mewawancarai nenek saya ini di dua kesempatan, yang pertama saat saya mengunjungi rumah nenek saya di Banyuwangi tanggal 6 April di Banyuwangi, saat kesempatan libur itu saya diajak ibu saya pulang kampung karena ibu saya ada acara reuni dan kesempatan itu saya manfaatkan untuk mewawancarai dan bertanya untuk memenuhi tugas sejarah semester dua ini namun sayang sekali dengan keterbatasan manusia yang bisa lupa saya lupa untuk mendokumentasikan foto saya dengan nenek saya. Wawancara kedua dengan nenek saya saya lakukan via telepon karena keterbatasan jarak dan waktu. berikut saya lampirkan rekamannya

Biografi

Fatoyah adalah nama dari ibunya ibu saya cucu-cucunya memanggil dia dengan sebutan eyang, lahir dan besar di desa Genteng, Banyuwangi. beliau adalah anak ke enam dari sembilan bersaudara, beliau lahir dari keluarga sederhana, bapaknya bekerja sebagai guru dan tukang emas (bekerja sebagai pembuat gelang) nenek saya ini mengenyam pendidikan SD lalu SMP lalu melanjutkan ke SGA atau sekolah guru atas
Lama pelajaranuntukjenjang SGA adalah 3 tahun,  eyang putri ini bekerja sebagai guru selama hidupnya lalu menjadi seorang kepala sekolah sd negeri dan pensiun di tahun 2005.

Sedangkan suami dari beliau ini bernama Abdurrahman, kakek saya inilah yang akan  menjadi subjek pembicaraan selanjutnya. Beliau lahir tanggal 13 Maret 1920 kata eyang putri kakek saya ini lahir dari keluarga berkecukupan, beliau anak ke dua dari tiga bersaudara. Lahir di Desa Temu Guruh Banyuwangi dan mendapat pendidikan di Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama lalu melanjutkan untuk mondok di Gontor, beliau menikah di tanggal 16 - Maret – 1962 dan mempunyai empat orang anak yaitu Yunan Helmi, Wildania Aminie (Ibu Saya), Yudi Hermawan (Almarhum) dan yang terakhir Fatma Wijayanti, saya masih memiliki foto keluarga yang teridiri dari kakek,nenek berserta empat orang anaknya saat anak-anaknya masih kecil dan saya simpan di binder saya sebagai kenang-kenangan. Kakek saya bekerja sebagai pegawai di Departemen Agama dan menyambi bertani padi dan ustad kakek saya ini wafat tanggal 27 – Mei – 2002 

Peranan:
Di dua kesempatan wawancara, kali ini saya akan merangkum dan mengupas kesaksian nenek saya tentang kisah pengalaman dan perjuangan kakek dan kakek buyut saya namun dengan segala keterbatasan sulit untuk merincinya karena ingatan eyang putri saya yang sudah mulai lupa karena termakan usia selain itu juga dibantu sedikit-sedikit dengan cerita adik dari ibu saya atau tante saya.

Pada saat eyang putri bercerita awalnya saya menanyakan tentang cerita hantu lalu lama-lama saya kaitkan dengan cerita pengalaman eyang waktu jaman penjajahan. Beliau bercerita dulu eyang kakung lahir dari keluarga berkucukupan dan bisa dibilang kaya, rumahnya di desa temu guruh besar dan bagus di jamannya dan bergaya aksitektur Inggris, sekarang rumah tersebut sudah dijual oleh adiknya eyang kakung dan dijadikan sebagai sarang burung walet namun tetap dijaga keasliannya dan tidak dibongkar sedikitpun oleh pemilik baru rumah tersebut, saya sendiri ingin datang dan membuktikan sendiri sekalian melihat burung walet namun karena saya hanya menghabiskan waktu kurang dari dua hari karena hari seninnya masuk sekolah niat saya untuk mengunjungi rumah tersebut urung dilakukan. lanjut ke cerita, eyang saya mondok di pesantren Gontor yang berada di Ponorogo.

Pondok Gontor didirikan pada 10 April 1926 di PonorogoJawa Timur oleh tiga bersaudara putra Kiai Santoso Anom Besari. Tiga bersaudara ini adalah KH Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fananie, dan KH Imam Zarkasy yang kemudian dikenal dengan istilah Trimurti.
Pada masa itu pesantren ditempatkan di luar garis modernisasi, para santri pesantren oleh masyarakat dianggap pintar soal agama tetapi buta akan pengetahuan umum. Trimurti kemudian menerapkan format baru dan mendirikan Pondok Gontor dengan mempertahankan sebagian tradisi pesantren salaf dan mengubah metode pengajaran pesantren yang menggunakan sistem watonan(massal) dan sorogan (individu) diganti dengan sistem klasik seperti sekolah umum. Pada awalnya Pondok Gontor hanya memilikiTarbiyatul Atfhfal (setingkat taman kanak-kanak) lalu meningkat dengan didirikannya Kulliyatul Mu'alimin Al-Islamiah (KMI) yang setara dengan lulusan sekolah menengah. Pada tahun 1963 Pondok Gontor mendirikan Institut Studi Islam Darussalam (ISID).
Menurut kesaksian nenek saya bilamana perang meletus sewaktu-waktu santri-santrinya disuruh pulang ke rumah sampai keadaan aman dan kondusif setelah itu baru diperbolehkan kembali ke pondok.

Kakek buyut saya yang rumahnya besar dijadikan markas kelompok pemuda muhamadiyah untuk bergerilya, kakek buyut saya ikut membantu para gerilyawan dengan menyuplai bahan makanan dan memberi tempat berlindung,  kakek saya sendiri pun saat itu ikut ambil bagian sebagai pengirim pesan, kakek saya juga anggota dari pemuda muhammadiyah, berikut adalah sejarah singkat pemuda muhammadiyah

Awal berdirinya Pemuda Muhammadiyah secara kronologis dapat dikaitkan denga keberadaan Siswo Proyo Priyo (SPP), suatu gerakan yang sejak awal diharapkan K.H. Ahmad Dahlandapat melakukan kegiatan pembinaan terhadap remaja/pemuda Islam. Dalam perkembangannya SPP mengalami kemajuan yang pesat, hingga pada Konggres Muhammadiyah ke-21 di Makasar pada tahun 1932 diputuskan berdirinya Muhammadiyah Bagian Pemuda, yang merupakan bagian dari organisasi dalam Muhammadiyah yang secara khusus mengasuh dan mendidik para pemuda keluarga Muhammadiyah. Keputusan Muhammadiyah tersebut mendapat sambutan luar biasa dari kalangan pemuda keluarga Muhammadiyah, sehingga dalam waktu relatif singkat Muhammadiyah Bagian Pemuda telah terbentuk di hampir semua ranting dan cabang Muhammadiyah. Dengan demikian pembinaan Pemuda Muhammadiyah menjadi tanggung jawab pimpinan Muhammadiyah di masing-masing level. Misalnya, di tingkat Pimpinan Pusat Muhammadiyah tanggung jawab mengasuh, mendidik dan membimbing Pemuda Muhammadiyah diserahkan kepada Majelis Pemuda, yaitu lembaga yang menjadi kepanjangan tangan dan pembantu Pimpinan Pusat yang memimpin gerakan pemuda.
Selanjutnya dengan persetujuan Majelis Tanwir, Muhammadiyah Bagian Pemuda dijadikan suatu ortom yang mempunyai kewenangan mengurusi rumah tangga organisasinya sendiri. Akhirnya pada 26 Dzulhijjah 1350 H bertepatan dengan 2 Mei 1932 secara resmi Pemuda Muhammadiyah berdiri sebagai ortom. 

Pemuda muhammadiyah ini berjuang secara gerilya dengan senjata seadanya seperti bambu runcing, kelompok pemuda muhammadiyah ini menggunakan rumah eyang buyut sebagai markas karena dianggap besar, saat terjadi perang penghuni rumah dilarikan ke tempat yang aman atau diungsikan, pernah ketika suatu saat kegiatan kelompok ini dicurigai oleh Belanda lalu kakek saya menyembunyikan senjata di bawah kasur agar tidak ketahuan oleh Belanda. Nenek saya lalu menyebutkan di jaman itu banyak organisasi pemuda seperti Pemuda NU, Pemuda Muhammadiyah dan lain-lain saya lantas menanyakan tujuan dari berbagai organisasi tersebut, menurut beliau semuanya memiliki tujuan satu yaitu merdeka bilamana meletus perang mereka tidak akan berjuang sendiri sesuai kepentingan mereka sendiri namun mereka bersatu untuk Indonesia.
Kakek saya yang bertugas sebagai pengirim surat tugasnya memang terlihat mudah dan simpel namun ternyata tak segampang yang dibayangkan, diceritakan oleh nenek saya tugas seorang pengirim pesan pada dasarnya memang hanya mengirim pesan namun dalam prosesnya banyak terjadi berbagai halangan dan rintangan, tugas pengirim pesan adalah salah satu pekerjaan yang vital seperti peribahasa tua dari jepang yang berbunyi karenasatupaku, tapalkudaterlepas...karenatapalkudaterlepas, kudatakbisa...bisalari, pesantakterkirim...karenapesantakterkirim, kalahdalamperang . pernah kakek saya bercerita ke tante saya pada suatu saat beliau mengirim surat ke daerah Jember di tengah perjalanan terjadi hujan deras yang memaksa beliau untuk berhenti dan menunggu selama sehari di rumah seorang tentara Belanda,beliau diizinkan untuk menepi karena tentara Belanda kasihan melihat kakek saya kehujanan padahal isi pesan surat yang dibawa kakek saya adalah tentang permintaan logistik untuk memerangi Belanda. Di lain cerita nenek saya bercerita kalau pernah suatu saat pesan yang diantar kakek saya hilang ditengah jalan akibatnya kakek saya harus kembali untuk melaporkan kejadian dan mengambil surat baru. Tugas kakek saya yaitu pengantar surat tidak selamanya disuruh untuk mengirim surat pernah juga kakek saya ditugaskan untuk mengirim buku dan makanan


Setrelah Indonesia merdeka kakek saya juga menjadi saksi tragedi cemetuk, teman dari kakek saya hampir menjadi korban tragedi cemetuk namun oleh kakek saya dan kerabat-kerabatnya diungsikan terlbih dahulu, tragedi ini adalah bukti keganasan PKI di Indonesia

Peristiwa Madiun 18 September 1948 dan kematiaan pemimpin PKI Muso, tidak mematikan gerakan-gerakan PKI. Karena secara nasional pula, PKI tetap diperbolehkan berfungsi. Di bawah kepemimpinan PKI Pusat D.N Aidit, gerakan ditata kembali sehingga mengalami perkembangan anggota yang cukup pesat.
Itu dibuktikan dengan pemilu 1955, PKI di Banyuwangi mampu masuk menjadi 3 besar dengan memperoleh 60 ribu suara. Jumlah ini tidak berbeda jauh dengan Partai NU yang berada di posisi pertama dengan perolehan 100 ribu suara dan Partai Nasional Indonesia (PNI) dengan 90 ribu suara. Sedangkan Partai Masyumi di tingkat keempat dengan perolehan 30 ribu suara.
Pesatnya perkembangan PKI di Banyuwangi tidak lepas dari kemampuan PKI mengorganisir basis-basis dari kalangan akar rumput -yang tidak dilakukan oleh 3 partai pemenang pemilu lainnya, dengan berbagai organisasi-organisasi underbownya, seperti Barisan Tani Indonesia (BTI), Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra), Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSHI), dan Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani).

Monumen Pancasila Untuk Mengenang Tragedi Pembantaian 18 Oktober 1965 Di Dusun CemethukDusun Cemethuk, Desa Cluring, Kecamatan Cluring Banyuwangi adalah saksi berdarah peristiwa pembantaian 62 orang-orang Anshor oleh anggota PKI. Di bekas 3 sumur tempat penguburan massal para korban pembantaian ini, telah dibangun sebuah Monumen Pancasila untuk mengenang peristiwa yang cukup penting dalam sejarah Banyuwangi.
Tragedi Cemethuk sekaligus menjadi penanda bahwa kabupaten paling timur dari pulau jawa ini tidak luput dari pengembangan jaringan Partai berlambang palu dan arit ini. Tragedi ini terjadi setelah pembunuhan para jenderal di Jakarta yang kemudian dikenal dengan Gerakan 30 September. Tragedi Cemethuk juga menunjukkan bahwa tingkat konflik di akar rumput antara pengikut PKI dan non-PKI setelah peristiwa G 30 S berlangsung dalam tingkat tinggi.
Namun Sejarah Nasional hanya sedikit sekali menyediakan ruang untuk mengungkap sejarah PKI di Dusun Cemethuk. Itu bisa dibuktikan dengan minimnya buku-buku sejarah yang bisa menjelaskan tragedi di Cemethuk secara komprehensif.

Padahal bila melihat pada banyaknya korban dan juga saling keterkaitan dengan perkembangan PKI di Nusantara, seharusnya Tragedi Cemethuk sangat relevan untuk menjadi bagian tak terpisahkan dari Sejarah Nasional.


Demikian tugas sejarah saya tentang kakek saya sendiri yang diceritakan oleh nenek saya , hanya sedikit memang informasi yang bisa saya berikan berdasarkan rekaman telepon karena memang sudah diceritakan saat saya bertemu langsung oleh nenek saya.



Rekaman Pembicaraan

No comments:

Post a Comment