Friday, 31 May 2013

Tugas 2 (Biografi) Putri Naura XI IPA 2

       Pada postingan kali ini saya akan memaparkan hasil wawancara saya dengan PRT saya, yang biasa saya panggil Ibuk. Jujur awalnya saya kebingungan mencari narasumber untuk tugas kali ini, karena kebetulan nenek dan kakek saya yang asli Palembang dari pihak ayah sudah meninggal sebelum kedua orangtua saya menikah. Begitu juga kakek dari pihak ibu saya. Sebetulnya saya masih mempunyai nenek dari pihak ibu, namun beliau menetap di Batusangkar dan sering bepergian untuk mengobati penyakitnya. Selain itu, beliau selalu berkomunikasi dalam bahasa daerah yang saya kurang mengerti. Mewawancarai papa dan mama saya untuk menanyakan informasi tentang salah satu orang tua mereka juga tidak memungkinkan karena mama saya tahun 2013 ini rutin melakukan kunjungan mingguan ke Sukabumi untuk urusan pekerjaan dari hari Jumat sampai hari Minggu. Terkadang papa saya ikut menyusul pada hari Sabtunya. Pada hari kerja pun, papa saya selalu pulang larut malam dan berangkat setelah saya Shalat Subuh agar tidak terkena three in one  karena kantor beliau terletak di jalan Budi Kemuliaan. Singkat kata, saya memutuskan untuk mewawancarai Ibuk yang usianya hampir 60 tahun.

            Beliau mempunyai nama Sumini, namun saya dan keluarga satu atap saya memanggilnya Ibuk, karena ia lebih tua dari kami semua. Beliau telah bekerja selama hampir 3 tahun kepada keluarga saya. Biasanya walaupun sering berganti-ganti PRT setiap setelah lebaran, keluarga saya selalu mendapat PRT yang usianya masih muda-muda bahkan ada yang seumuran dengan saya, maka itu kami selalu memanggilnya mbak, namun tiga tahun lalu kami kedatangan perempuan pekerja keras yang mampu menjaga dan merawat rumah kami walaupun sering hanya sendirian. Saya pun baru mengetahui usianya pada saat wawancara dilakukan di ruang tamu saya sambil tertawa-tawa, dan saya agak terkejut karena ia tidak terlihat terlalu tua seperti yang ia sebut saat saya tanya ia lahir tahun berapa. Akhirnya papa saya menyarankan untuk memanggil dia dengan sebutan ibuk, bukan lagi mbak seperti selama ini.

Sejarah Kecil Sumini

            Lahir di Bojonegoro, Sumini menghabiskan masa kecilnya di salah satu kecamatan dari kabupaten tersebut, yaitu Kecamatan Baleng. Kedua orang tuanya berprofesi sebagai pedagang yang komoditinya tidak tetap, tergantung berapa jumlah modal yang mereka miliki saat itu. Seingat Sumini, kedua orangtuanya pernah berdagang beras, lontong, hingga pakaian dalam untuk menghidupi kesembilan anaknya yang rata-rata hanya beda usia setahun atau dua tahun. Sumini adalah anak tertua dari sembilan bersaudara.

            “hidupku iki yo pahit dulu, Ra……”

Begitu jawabannya ketika saya bertanya tentang masa kecilnya. Ternyata dahulu ia hanya mampu sekolah hingga kelas 2 SD, setelah itu ia ditugaskan untuk ngemong, alias mengurusi adik-adiknya yang terdiri dari 4 laki-laki dan 4 perempuan. Namun salah satu adik laki-lakinya meninggal sewaktu balita dan semejak itu ia putus sekolah.

            Selain berdagang, ternyata dulu orang tua Sumini di kampung juga terkadang menjadi petani musiman dan menggarap sawah orang lain. Panen biasanya hanya setahun sekali. Memang sangat sulit hidup pada zaman itu, namun, kedua orangtua Sumini selalu mengusahakan anaknya bisa pergi ke TPA dan belajar mengaji, walau tidak bisa baca-tulis karena putus sekolah. Selain pergi ke TPA, Sumini jarang meninggalkan rumah atau kampungnya, maka itu ia tidak mempunyai banyak teman, hanya beberapa tetangga seumuran.

            Sumini menikah ketika ia berumur 13 tahun, ia dijodohkan dengan laki-laki berumur 21 tahun yang ikut bertani bersama bapaknya. Katanya, dulu tradisi orang Jawa saklek jikalau punya anak pertama perempuan dan ada yang melamar walaupun masih kecil sebaiknya dinikahkan saja, takutnya setelah itu tidak ada yang melamar lagi. Alhasil banyak anak-anak di kampung Sumini yang masih bertingkah dan bermental remaja  namun sudah kawin dan kebanyakan anak perempuan tidak kuasa menolak ketika dijodohkan oleh kedua orangtuanya. Sumini bercerita, dulu di kampung walaupun sudah menikah ia masih sering bermain bersama suaminya dan teman-temannya yang juga sudah menikah, mereka biasanya mengambil semangka dari pohon orang atau mengambil mangga muda dan dijadikan rujak. Dan biasanya pada malam 14 dan 15 Wage dimana bulan bersinar sangat terang mereka akan bermain-main keluar rumah.

            Usia 16 tahun, Sumini melahirkan anak pertamanya yang berjenis kelamin laki-laki, dan diberi nama Supardi. Pihak keluarganya sangat senang karena ada wong lanang penerus keturunan mereka. Dua tahun kemudian lahir adiknya, Suparmin. Ketika usia anak pertamanya mengecap pendidikan kelas 5 SD, suami Sumini meninggal akibat kecelakaan mobil. Akhirnya ia memboyong anak-anaknya pindah ke rumah orangtuanya dan setelah 100 hari kematian suaminya, ia pergi merantau ke Jakarta meninggalkan anak-anaknya.

            Pekerjaan pertama yang ia dapat saat di Jakarta pada tahun 1992 adalah menjadi pembantu di usaha katering rumahan di Rawa Belong, setelah tahunan berada di sana, ia alih profesi menjadi pembantu perias pengantin, dan mendapat pekerjaan tetap sebagai pengasuh anak di Haji Soleh 2. Ketika anak pertamanya, Supardi, lulus SMP, ia menyusul ibunya pergi ke Jakarta. Sang adik yang enggan ditinggal akhirnya ikut juga ke Jakarta meskipun belum sempat menyelesaikan pendidikan SMP.

            Di sesi selanjutnya saya lebih banyak menanyakan tentang kehidupan anak-anak Sumini, yang telah memberikannya 4 cucu. Si sulung, yaitu Supardi, setelah berpengalaman menjadi supir pribadi selama bertahun-tahun akhirnya memutuskan untuk bergabung ke usaha rental mobil. Supardi menikah dengan tetangganya di kampung. Anak pertamanya, bernama Dea Almira Supardi, sekarang masih bersekolah di Sekolah Dasar di Purwodadi. Sedangkan anak ke duanya juga baru memasuki Taman Kanak-Kanak di daerah Rawa Kemiri. Suparmin, anak kedua ibuk, bertemu dengan jodohnya di Jakarta dan sudah mempunyai momongan bernama Firmansyah yang akan berulang tahun tanggal 22 Juni ini.  Alhamdulillah anak-anak ibuk Sumini sudah membangun rumah di kampungnya.

            Bisa dibilang ibuk Sumini adalah saksi sejarah peristiwa 1998. Kebetulan, ujarnya, pada saat itu ia bekerja kepada keluarga keturunan Cina di daerah Tomang. Mendengar cerita ibuk membuat saya bergidik. Ia bilang ketika peristiwa Trisakti meledak, banyak oknum yang memanfaatkannya untuk berbuat kriminal seperti membobol ATM, menyerbu Tomang Plaza, menyetop mobil yang berplat pemerintah, dsb. Di jalan-jalan juga banyak tentara  bertebaran bahkan hampir masuk ke pemukiman penduduk, namun kata ibuk mereka hanya duduk-duduk tidak jelas. Ketua RT komplek tempat ibuk bekerja akhirnya saling berkoordinasi dengan warga setempat untuk memalang jalan. Listrik komplek juga sengaja dimatikan. Dan kepala keluarga disuruh untuk memasang sajadah di pagar rumah sangat ingat peristiwa itu.

            Ketika saya tanyakan pendapatnya tentang presiden sekarang, ibuk hanya tertawa seraya berkata “yo aku iki kan orang kecil, wis nrimo nrimo saja. nggak berani sing nglawan-nglawan. Tapi aku suka liat berita, serem-serem yo, Ra. Jadi mungkin enak’en jaman dulu? Ah, ndak tahu lah aku, aku ora ngurusi begituan”

            Banyak pelajaran yang dapat saya ambil dari wawancara saya bersama ibuk, jujur dari kecil memang saya selalu akrab dengan pembantu-pembantu saya karena orangtua saya sudah sibuk sedari saya kecil dan sering ke luar kota untuk urusan pekerjaan bahkan ketika saya belum TK. Ibuk adalah orang yang perhatian kepada saya maupun kakak saya dan ia selalu mengingatkan saya untuk sholat, jangan begadang, dst. Dan melihat kehidupannya sekarang, walaupun belum bisa dikatakan amat sejahtera, kedekatannya dengan Tuhan dan anak-anak serta cucunya sudah cukup membahagiakannya. Insya Allah saya berencana untuk mengajarinya menulis dan membaca agar tidak kalah dengan cucu-cucunya yang sudah pintar-pintar.


No comments:

Post a Comment