Thursday, 30 May 2013

Tugas-2 Biografi Randy Adianto Prathama XI IPS 2

Eyang Djonhar, Pahlawan di Dunia Medical Ketentaraan
Di sore hari jam 4 di kawasan Cilandak yang berawan, saya bertemu dengan seseorang pensiunan medical angkatan laut yang bernama Eyang Donar Djonhar. Gayanya yang simple tetapi rapih, menggunakan batik, dan memegang Blackberry memberi saya kesan bahwa dia orang yang sibuk, sering keluar rumah, dan masih aktif di dunia medical walaupun beliau sudah pensiun. Beliau juga sangat fasih berbahasa Inggris yang akhirnya saya ketahui bahwa beliau sempat bersekolah di Amerika. 

Eyang Djonhar pun mempersilahkan saya masuk ruang tamu dan duduk di kursi. Sopan dan baiknya, beliau memberi saya sebuah botol Coca – Cola untuk saya minum seiring wawancara. 

Pada kesempatan tersebut saya mewawancara Eyang Djonhar serta menulis laporan wawancara mengenai beliau dan perannya bagi Indonesia untuk tugas ke-dua sejarah saya. Semoga pembaca yang membaca mendapat informasi mengenai sejarah Indonesia dan peran beliau untuk bangsa Indonesia.

1. Biografi Eyang Donar Djonhar

Eyang Donar Djonhar lahir di Kotanopan, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara pada tanggal 22 maret 1935. Beliau sekarang berumur 78 tahun. Keluarga beliau asli orang Padang Sumatera Barat. 

Pada tahun 1940, ayah beliau yang pada waktu itu berkerja sebagai seorang guru sebelum perang dunia ke 2 pindah ke Solo karena ingin melanjutkan sekolah D3 di Sekolah guru belanda. Tetapi pada tahun 1942 jepang menginvasi Indonesia sehingga beliau dan keluarganya tidak dapat pulang ke Kotanopan. Pada waktu Jepang sudah menduduki Indonesia, beliau mengungsi ke Blitar. Ayahnya yang sudah mengungsi di kota Blitar berkerja sebagai guru sekolah tingkat SMA untuk guru.

Pada tahun 1945, setelah Indonesia merdeka dan Belanda masuk ke Indonesia, beliau masih sekolah di Blitar tingkat SD hingga SMA. Pada saat itu di Blitar banyak terjadi gerilya – gerilya pasukan Indonesia sehingga dia menjadi saksi peristiwa gerilya.

Di tahun 1950 beliau pindah ke Malang untuk memasuki jenjang SMA dan kemudian pada tahun 1954 lulus dan beliau masuk kuliah di ITB yang pada saat itu masih bernama “Fakultas Teknik dan Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam Universitas Indonesia”, dibidang farmasi. Ketika di ITB pada tahun 1955, beliau mengikuti program Beasiswa PTPAL (Pelajar Calon Perwira Angkatan Laut).

 Eyang Djonhar mendapatkan SatyaLencana Penegak, yaitu 
penghargaan satyalencana yang diberikan kepada anggota 
TNI / ABRI yang membantu menumpas G-30-S PKI 
dalam tenggat waktu tertentu.
Test PTPAL sangat ketat, terbukti dari 600 mahasiswa yang mengikuti tes tetapi hanya 12 orang yang diterima oleh PTPAL. Syarat beliau mendapat beasiswa dari angkatan laut (PTPAL) adalah dengan syarat beliau harus berkerja di angkatan laut setelah lulus ITB. Hebatnya beliau diterima setelah melewati banyak ujian – ujian dan mendapatkan beasiswa PTPAL yang hanya didapatkan 12 orang. Disaat kuliah beliau mendapat sponsor beasiswa berupa buku, alat laboratorium, obat mikroskop, dan barang – barang keperluan kuliah farmasi lainnya, semua disponsori program angkatan laut PTPAL. 

Pada tahun 1962 beliau tamat kuliah dan mendapat ijazah dari ITB (sudah berubah nama dari Fakultas Teknik dan Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam Universitas Indonesia menjadi Institut Teknologi Bandung).

Karena mengikuti PTPAL, setelah lulus dari ITB di tahun 1962 beliau menjadi Letnan 1 Angkatan Laut di bagian Medical Service Officer.

Ketika dia masih perwira muda, ada dispute atau masalah dengan Malaysia sehingga beliau ditugaskan di Kalimantan utara dengan marinir sebagai perwira kesehatan di marinir, persisnya di Pulau Nunukan.

Setelah itu pada tahun 1963 beliau dipindahkan ke Malaysia (masa orde lama) dan di tempatkan di Tanjung Pinang, Riau. Beliau di attach dengan Korps Komando Angkatan Laut. Di saat bertugas di Tanjung Pinang beliau naik pangkat dari letnan hingga kapten. Beliau diletakkan di bagian operasi. 

Saat tahun 1965 dan terjadi  G30SPKI, beliau masih di riau tetapi karena kejadian itu pada tahun 1966, beliau ditarik ke Ibukota Jakarta tetap berkerja di angkatan laut tetapi di bagian pabrik farmasi untuk obat – obatan Tentara. Beliau dijadikan Direktur pabrik farmasi angkatan laut Jakarta di kompleks kesehatan angkatan laut dan berkerja lama di pabrik tersebut. Saat kembali ke Jakarta, beliau mendapat pendidikan dahulu di sekolah tentara. Karena tidak pegang komando seperti di seskoal, beliau belajar di SESPA (Sekolah Pimpinan Administrasi).

Selama di angkatan laut Eyang Djonhar pernah mendapatkan pendidikan, di Naval Post Graduate School di Monterrey, Amerika Serikat, di tahun 1978. Disana beliau belajar Defense Management dan juga menjadi mahir bahasa Inggris sehingga skill berbicara bahasa inggris beliau terbawa sekarang.

Satyalencana Eyang Djonhar yang didapatkan pada
tahun ke - 8, Satyalencana adalah penghargaan yang 
diberikan kepada anggota prajurit TNI / ABRI yang telah
 setia dan sungguh-sungguh berdinas terus menerus 
selama 8, 16 atau 24 tahun
Pada tahun 1980 beliau dipindah ke markas besar angkatan laut, persisnya di kantor Direktorat Kesehatan Angkatan Laut  yang dahulu di jl. Gunung Sari, sebagai kepala logistic kesehatan AL dengan pangkat Letnan Kolonel.

Pada pertengahan tahun 1985 dengan pangkat Kolonel, beliau menjadi wakil kepala rumah sakit angkatan laut Mintohardjo. Kemudian pada tahun 1990 Eyang Djonhar pensiun sebagai angkatan laut dengan pangkat terakhir Kolonel di umur 55 tahun dikarenakan dahulu pensiun tentara (TNI) adalah pada umur 55 tahun.

Setelah Eyang Djonhar pensiun, masih ada pengalaman manajemen yang beliau miliki sehingga beliau diterima di perusahaan swasta menjadi Presiden Direktur yang bergerak di pihak elektronik ekspor impor industri telivisi Grundigh, perusahaan dari Jerman.

Perusahaan beliau juga mengekspor mabel rotan yang pada tahun 1990-an keatas sedang laku. Beliau juga mengekspor jamur dari Indonesia ke Jerman. Eyang berkerja sebagai holding ekspor impor. Sesudah itu setelah tahun 1995, Eyang Djonhar pindah kerja ke perminyakan di PT Indahsana yang berkerjasama dalam bidang minyak di Pekanbaru, Riau (Caltex) dan mendirikan pabrik kertas di Banyuwangi serta Magellang. Pada tahun 2000 beliau pensiun di umur 65 tahun.

Sekarang beliau bertempat tinggal di Cilandak bersama istri beliau dan pekerjaan beliau sekarang  hanya mengantar cucu – cucunya masuk sekolah di pagi hari.

2. Peran dan saksi peristiwa – peristiwa di Indonesia 

Ketika beliau masih kecil dan tinggal di Blitar, beliau menjadi saksi pemberontakan PETA yang dilakukan pada tanggal 14 Februari 1945. Pasukan PETA di Blitar di bawah p
impinan Supriadi melakukan sebuah pemberontakan tetapi sayangnya pemberontakan tersebut berhasil dipadamkan oleh pihak tentara Jepang.
Surat tanda penghargaan Satyalencana kesetiaan
 Eyang Djonhar setelah 16  tahun bertugas,
berpangkat Letnan Kolonel

Beliau juga menjadi saksi gerilya – gerilya pasukan Indonesia pada saat di agresi oleh pihak sekutu dan Belanda. Tetapi pada saat itu beliau hanya bisa menjadi saksi, tidak bisa berperan karena masih terlalu muda.

Di jaman Eyang Djonhar di angkatan laut pada tahun 1962 hingga 1990, beliau sempat mengikuti operasi langsung Trikora ( Yang terjadi ketika Belanda menyerahkan Indonesia tetapi irian barat belum diserahkan ) selain sebagai saksi, tetapi juga berperan dalam bidang kesehatan para pasukan TNI Angkatan Laut, serta disaat Malaysia dan Indonesia saling mengklaim wilayah.

Pengalaman beliau di bidang kesehatan membuat dia membantu pasukan TNI Angkatan Laut yang sedang berperang seperti dengan bantuan logistic kesehatan. Beliau mendukung operasi angkatan laut dengan bantuan kesehatan kepada personil tentara dan  obat - obatan mendukung operasi TNI Angkatan Laut disaat operasi Trikora dan penjagaan perbatasan Malaysia dan Indonesia.

Saat kuliah dia menjadi saksi berubahnya nama “Fakultas Teknik dan Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam Universitas Indonesia” menjadi “Institut Teknologi Bandung” atau biasa disebut ITB. Beliau pun menjadi beberapa mahasiswa awal yang berijazah ITB.

Satyalencana kesetiaan di tahun ke - 24 dan
penghargaan Satyalencana terakhir Eyang Djonhar
Kegiatan beliau sehari – hari di base camp perang adalah memantau agar Angkatan Laut sehat dengan melakukan penjagaan kesehatan dengan menyiapkan obat – obat dan vitamin untuk para pasukan agar tetap sehat, melakukan check up, dan harus siap kondisi personil Angkatan laut dan keluarganya, karena biasanya ketika keluarga pasukan sakit, mereka menjadi khawatir  dan tidak fokus dalam bertugas.

Tugas beliau lebih banyak rutin di base tentara dan pada Operasi Trikora akhirnya tidak pernah perang besar - besaran di tempat dia bertugas. Tetapi beliau juga mengoperasi pasukan – pasukan yang tercederai saat bertugas. 

Tanpa Eyang Djonhar dan teman - teman medicnya, kesehatan para tentara angkatan laut indonesia tidak akan terawat dan terjaga.  

Beliau setelah ditarik kembali ke Jakarta dijadikan Direktur pabrik farmasi angkatan laut Jakarta di kompleks kesehatan angkatan laut dan berkerja lama di pabrik tersebut membuat obat – obatan untuk pasukan pasukan TNI angkatan laut.

Di akhir masa jabatan Eyang Djonhar, beliau mendapat beberapa penghargaan, tetapi yang saya dapat informasi hanya beberapa seperti penghargaan Satyalencana Kesetiaan dan Satyalencana Penegak.


Foto saya bersama Eyang Djonhar di kediaman beliau


No comments:

Post a Comment