Wednesday, 29 May 2013

Tugas-2 Biografi Raqa Kharisma Hasli XI IPS 3

“Bambang Wahyudiono - Tentara Pelajar Yang Bukan Hanya Sekedar Tentara”

Orang yang saya angkat untuk dituliskan profilnya adalah eyang kakung saya sendiri, yaitu (Almarhum) Bambang Wahyudiono.  Bambang Wahyudiono merupakan Tentara Pelajar republik Indonesia. Hubungan keluarga saya dengan beliau adalah beliau menikah dengan nenek saya, mereka pun melahirkan ibu saya yang akhirnya melahirkan saya sendiri beserta adik adik saya serta cucu cucunya dari Bambang Wahyudiono itu sendiri.  Pada kesehari-harian saya memanggilnya dengan sebutan Eyang Kakung karena dia orang Jawa. Sayang, karena sudah meninggal saya tidak bisa berbicara langsung dengan beliau.  Tetapi saya bisa berbicara dengan istrinya yang bisa menjadi saksi dari Beliau yaitu Sri Kandini.  Dan dari beliaulah saya mendapatkan informasi tentang kepribadian dari seorang Bambang Wahyudiono.  Sebelumnya saya hanya tahu dia merupakan orang “besar”.  Besar dalam artian beliau sangat terpandang.  Tetapi ketika saya mewawancarai eyang saya, saya baru menyadari bahwa dia lebih “besar” dari apa yang saya kira.  Berikut ini adalah biografi tentang beliau dan apa saja yang pernah beliau lakukan selama hidupnya.

BIOGRAFI

Bambang Wahyudiono, seorang anak laki laki yang terlahir pada tanggal 11 Desember 1932 di purwokerto, lahir sebagai anak keempat, dari Perkawinan bapaknya yang bernama Raden Walidi, dan ibunya yang biasa dipanggil dengan nama Ibu Suki yang akhirnya melahirkan sistematika anak-anaknya yaitu berisikan 5 bersaudara, 4 bersaudara laki laki serta satu anak terlahir sebagai perempuan. Mereka antara lain bernama Bintang Soetedjo sebagai anak pertama, Hardosoemeroe sebagai anak kedua, Bangun Samudro sebagai anak ketiga, Selama kehidupannya, Bambang Wahyudiono pernah bersekolah masing-masing SD di purwokerto, SMP di Purwokerto, SMA di Jogjakarta, pada kuliah, beliau sempat masuk Universitas Gajah Mada (UGM) bidang kedokteran kemudian mengundurkan diri, setelah mengundurkan diri, beliau langsung masuk AIP (Akademi Ilmu Pelayaran) angkatan pertama. Semenjak di Akademi Ilmu Pelayaran, beliau adalah perenang sekolah, jadi ketika sekolah beliau melawan sekolah sekolah di daerah curuk yang bermayoritaskan sekolah penerbangan, Akademi Ilmu Pelayaran selalu menjadi pemenang dengan beliau sebagai aktor utama

Bambang Wahyudiono sebagai anak keempat, serta Laksmi Nengseh sebagai anak terakhir. Bambang Wahyudiono terkenal memiliki badan yang bertubuh besar dan tinggi serta dengan sifat kedermawannya dan selera humornya yang tinggi. Ketika setiap kali saya datang ke rumah eyang saya pada saat eyang Bambang Wahyudiono masih dapat bernafas di dunia ini, ia selalu membuat saya tertawa dengan selera humornya, salah satu bahan humor yang paling saya ingat adalah ketika dia menutup mata dan membiarkan saya bersembunyi di suatu tempat, lalu setelah selesai, ia berkata “Mu, Dimana mu..” setiap kali ia melontarkan kata kata itu, saya tidak bisa berhenti tertawa dan akhirnya dengan mudah ditemukan saya di tempat bersembunyinya. Sebelum pada saat Bambang Wahyudiono masih berjuang menjadi sukarelawan serta menjadi tentara republik Indonesia, memang Indonesia sendiri sebelum merdeka sudah dijajah oleh bangsa belanda, ketika berlangsung upacara tanda Republik Indonesia sedang memasuki tahap merdeka, memang di hari itu, orang orang di Indonesia yang ikut dalam perayaan kemerdekaan itu sontak berbahagia dan sempat optimis akan kebenarannya jika benar benar merdeka dan keadaan sempat terlihat damai, aman, dan sejahtera, tapi pada akhirnya tidak berjalan dengan mulus setelah Belanda kembali merusak Indonesia beserta penduduknya.

Setahun setelah kemerdekaan telah dikumandangkan oleh Ir. Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta, tepatnya pada tahun 1946, kedua anak paling besar mengikuti clash (perang) pertama dan kedua. Pada clash pertama, anak pertama yang bernama eyang Bintang Soedtedjo menginggal karena ditembak mati oleh belanda dengan ditembak langsung ke mulutnya hingga kepala belakang bolong. Pada clash kedua, waktu perang muso, eyang Hardosoemoroe meninggal dibunuh oleh PKI, kabarnya bahwa beliau meninggalnya karena disembelih, lalu dimasukkan ke satu lubang bersama empat orang lain. Ketika Bambang Wahyudiono mencari cari keberadaan jenazah Hardoesoemeroe, empat orang lain membusuk, tetapi eyang hardosoemeroe tidak demikian, Alhamdulillah dengan segala mukjizat yang ada, jenazah beliau tidak membusuk tidak seperti jenazah yang lainnya dan akhirnya eyang Bintang Soedtedjo dan eyang Hardosoemoroe disemayamkan di Taman Makan Pahlawan Jogjakarta dalam keadaan khusnul khotimah. Di sebuah desa Pracimantoro didirikan tugu-tugu untuk para pahlawan yang dibunuh oleh PKI dan salah satunya adalah terdapat nama dari eyang Hardosoemeroe. Bintang Soedtedjo pernah bersekolah di sekolah belanda yang bernama TH yaitu “Techniese Hogeschool” yang sekarang telah berubah namanya menjadi Institut Teknologi Bandung, sedangkan Hardosoemeroe sendiri bersekolah di sekolah kemiliteran milik belanda yaitu “Militere Academi” yang sekarang berubah namanya menjadi AKABRI.

PERANAN

Bambang Wahyudiono adalah salah satu orang yang sempat mengikuti program tentara pelajar. Tentara Pelajar itu adalah suatu kesatuan militer yang ikut mempertahankan kemerdekaan Indonesia dimana para anggotanya dari para pelajar. Terdapat beberapa istilah untuk penyebutan Tentara Pelajar yaitu di Jawa Timur Tentara Republik Indonesi Pelajar (TRIP) , di Jawa TengahTentara Pelajar (TP) ,di Jawa Barat Corps Pelajar Siliwangi (CPS).

Cikal bakal berdirinya Tentara Pelajar bermula dari para pelajar yang pada awal kemerdekaan tergabung dalam satu-satunya organisasi pelajar yaitu Ikatan Pelajar Indonesia (IPI). Sewaktu Pemerintah Pusat Republik Indonesia hijrah dari Jakarta ke Yogyakarta, maka Pengurus IPI yang waktu itu diketuai oleh Tatang Machmud ikut pula hijrah ke Yogyakarta. Memenuhi tuntutan banyak anggota IPI yang menginginkan agar IPI mempunyai pasukan tempur sendiri, juga supaya pelajar-pelajar yang sudah bergabung dalam pasukan kelaskaran lain yang anggotanya bukan pelajar, maka dibentuklah apa yang waktu itu disebut IPI Bagian Pertahanan yang kemudian berubah nama menjadi Markas Pertahanan Pelajar (MPP) . MPP ini terdiri dari 3 resimen yaitu: Resimen A di Jawa Timur dipimpin oleh Isman, Resimen B di Jawa Tengah dipimpin oleh Soebroto, Resimen C di Jawa Barat dipimpin oleh Mahatma.

Kemudian pada 17 Juli 1946 di Lapangan Pingit Yogyakarta atas perintah Markas Besar Tentara Keamanan Rakyat, oleh Mayor Jendral dr. Moestopo, seorang petinggi di MBTKR, telah dikukuhkan dan dilantik pasukan pelajar menjadi Tentara Pelajar.

Tentara Pelajar secara resmi dibubarkan pada awal 1951 dalam sebuah upacara demobilisasi. Masing-masing anggota diberi penghargaan dari Pemerintah RI mewakili negara berupa "uang jasa", semacam beasiswa, yang disebut KUDP dan besarnya variatif. Juga diberikan pilihan untuk melanjutkan studi yang terbengkelai selama menjadi tentara pejuang. Atau melanjutkan karir militer di TNI maupun Polri bagi yang berminat. Untuk menghormati jasa para anggota Tentara Pelajar kini nama Tentara Pelajar diabadikan menjadi sebuah nama jalan di kota besar di Indonesia.

Bambang Wahyudiono ikut eyang Hardosoemeroe ke tempat perang pada waktu itu. Ketika Belanda menyerang pasukan Indonesia, beliau pernah bersembunyi di kebon salak, kebon salak terkenal dengan buah salaknya yang bercirikan tajam-tajam sampai punggung belakang dari Bambang Wahyudiono itu terlihat bolong bolong, dan pada saat itu darahnya bisa dibilang sangat banyak. Dan dari pengorbanan itu, terlihat pengorbanannya itu apapun dilakukannya untuk negaranya. Pada tahun 1960 PRRI yaitu pemberontak bersama PERMESTA ingin membuat republic islam sedangkan Indonesia itu republic pancasila. Setelah itu pada tahun 1966 beliau membawa pasukan ke Malaysia (Ganyang Malaysia) Beliau itu tertangkap oleh pasukan inggris, yang menyebabkan ia bolak balik menjadi pahlawan di indonesia. Dia tidak mau berbahasa belanda karena kakaknya dibunuh oleh belanda dan membenci PKI karena tidak berpegang teguh pada Islam padahal ber-KTP islam dan memaksa untuk bekerja sama. Pada masa penagkapan tentara inggris, senjata dari beliau di sembunyikan ke dalam oli di dalam kapal inggris yang berlabuh di Malaysia. Beliau ditelantarkan di Pelabuhan tanjung pinang (Malaysia-Batam), bersama sukarelawan lain yang ditangkap oleh ratusan tentara inggris itu sendiri. Lepasnya beliau itu awalnya karena ia tidak pakai baju tentara, ia ikut kapal nelayan yang hanya mencari ikan ikan bukan kapal yang bagus yang menuju ke Indonesia. Dia didaulat oleh ali sadikin (dulu mentri perhubungan) menjadi penguasa pelabuhan di tanjung pinang yang berada di front terdepan pada waktu ada program Ganyang Malaysia.

Ganyang Malaysia itu awalnya berlatar belakang Kalimantan yang dibagi menjadi empat administrasi. Kalimantan, sebuah provinsi di Indonesia, terletak di selatan Kalimantan. Di utara adalah Kerajaan Brunei dan dua koloni Inggris; Sarawak dan Britania Borneo Utara, kemudian dinamakan Sabah. Sebagai bagian dari penarikannya dari koloninya di Asia Tenggara, Inggris mencoba menggabungkan koloninya di Kalimantan dengan Semenanjung Malaya untuk membentuk Malaysia.

Rencana ini ditentang oleh Pemerintahan Indonesia. Presiden Soekarno berpendapat bahwa Malaysia hanya sebuah boneka Inggris, dan konsolidasi Malaysia hanya akan menambah kontrol Inggris di kawasan ini, sehingga mengancam kemerdekaan Indonesia. Filipina juga membuat klaim atas Sabah, dengan alasan daerah itu memiliki hubungan sejarah dengan Filipina melalui Kepulauan Sulu.

Bambang Wahyudiono kemudian wafat pada tanggal 17 September 2001 karena terkena penyakit jantung. Sebagai peninggalan, eyang saya menyimpan segudang tanda penghargaan dari pemerintah maupun sebagai pegawai negeri yang berjasa terhadap negara republik Indonesia itu sendiri yang akan dihias di musholla keluarga. Sedangkan Bangun Samoedro, yang lahir pada tanggal 9 september 1929 di Jakarta sendiri meninggal karena sakit terhadap gula darah. Mereka berdua disemayamkan di Taman Makam Pahlawan di Kalibata.

Taman Makam Pahlawan Kalibata atau TMP Kalibata adalah nama sebuah pekuburan yang berlokasi di wilayah Kalibata, Jakarta Selatan, dan dikhususkan bagi mereka yang telah berjasa kepada negara kesatuan Republik Indonesia, termasuk para pahlawan nasional, anggota militer, dan pejabat tinggi negara. Lebih dari 7.000 orang korban militer dan veteran dari Perang Kemerdekaan Indonesia dikuburkan di sini. Veteran Tentara Kekaisaran Jepang yang tinggal di Indonesia setelah Perang Dunia II atas kehendak bebas mereka sendiri dan berjuang untuk kemerdekaan Indonesia juga dikuburkan di sini.

Untuk sekedar tambahan saja, di dalam museum angkatan bersenjata (di daerah slipi) itu ada paman dari eyang kakung saya yang bernama Bintang Soegiri. Beliau adalah orang dari angkatan darat yang pada saat itu bertugas memanggul pangeran jendral soedirman ketika pangeran jendral soedirman sudah tidak bisa berjalan lagi.

Dari perkawinan antara Bambang Wahyudiono dan Sri Kandini, melahirkan  4 anak kandung yang terdiri dari Sri Uki Irawati Wahyudiono sebagai anak pertama, Dadit Ontoseno Wahyudiono sebagai anak kedua, Sri Saras Mundisari sebagai anak ketiga, dan Saraswati Wahyudiono sebagai anak keempat. Dari keempat anak yang dilahirkan Bambang Wahyudiono dan Sri Kandini tersebut, Sri Saras Mundisari yang biasa dipanggil Ninies adalah Ibu saya. Cita cita dari Bambang Wahyudiono sendiri adalah menjadikan salah satu dari anak anak atau cucu cucu dapat terpilih terhadap bagian upacara pada setiap tanggal 17 agustus yang tidak lain dan tidak bukan adalah hari kemerdekaan republik Indonesia, tapi saying cita cita dari Bambang Wahyudiono itu belum terlaksana sampai sekarang ini. Dan semoga di lain waktu, ada yang menjadi paskibraka sebagaimana yang diharapkan oleh eyang Bambang Wahyudiono sendiri. Amin. Sekarang eyang Sri Kandini hidup sendiri dengan 7 Cucu dan 4 anak. Beliau pun saat ini hidup berbahagia dengan keadaan yang sudah ada.

Demikian sudah biografi dari eyang Bambang Wahyudiono beserta pengalamannya yang berperan dalam kebangkitan nasional republik Indonesia yang sampai pada saat ini Alhamdulillah sudah tidak ada yang namanya perang antara Indonesia terhadap bangsa bangsa/negara negara lain khususnya negara belanda. Namun demikian, di negeri ini seiring berjalannya waktu, masih ada saja orang orang di Indonesia khususnya anak pelajar, yang suka melakukan kegiatan tawuran antar sekolah maupun antar suku. Tentu hal ini harus dihindarkan oleh masyarakat Indonesia supaya kehidupan negara ini lebih damai, lebih aman, dan juga tidak lupa lebih sejahtera. Semoga dari pengalaman ini, dapat memberikan motivasi dan inspirasi kepada pembaca. Sekian, dan terima kasih.

Dokumentasi :

 Foto pertama ini adalah foto Eyang Bambang dan Eyang Sri Kandini

Foto pertama ini adalah foto Eyang Bambang dan Eyang Sri Kandini, yaitu istri beliau yang menjadi saksi hidup seorang Bambang Wahyudiono



Berikut adalah medali medali yang dianugerahkan kepada beliau, antara lain pahlawan gerilja, perang kemerdekaan I dan II, GOM I, penegak republik Indonesia, dan lain lain

No comments:

Post a Comment