Thursday, 30 May 2013

Tugas-2 Biografi Raquel Dhita N.G XI IPS 2

Nenek Sri Suhartini , Peristiwa Surabaya, Istri Tentara Sukarelawan

“Kasih Sayang.” Apakah yang teringat pada diri kita saat mendengar kata kasih sayang? Pernahkah anda merasakan kasih sayang yang  teramat besar dari seseorang atau kepada seseorang? Beberapa waktu yang lalu saya mendapatkan kesempatan untuk mewawancara seorang nenek berasal asli dari jawa bernama Sri Suhartini. Beliau adalah eyang dari salah seorang teman baik saya yang sudah saya kenal sejak masih kecil. “Menurut lo apa satu hal yang sangat menggambarkan eyang lo?” Tanya saya kepada teman baik saya ini. “overprotective .” Jawabnya singkat, “tapi itu semua karna kasih sayangnya yang luar biasa, dia Mother Theresa bagi gua.” Lanjutnya. Dari situ saya langsung dapat mengetahui bahwa Nenek Sri ini adalah seseorang dengan kasih sayang yang sangat besar di dalam dirinya. Beliau adalah sosok nenek yang sangat penyayang pada orang-orang di sekitarnya.
                                          
BIOGRAFI                  
Nenek Sri Suhartini namanya. Di kalangan keluarga dan orang-orang yang dekat dengan Nenek Sri, beliau selalu dipanggil dengan sebutan “eyang” yaitu istilah untuk memanggil nenek dalam bahasa jawa. Dari sini dapat kita ketahui bahwa Nenek Sri berasal dari Jawa. Nenek Sri Suhartini ini lahir di Blitar, Jawa Timur pada tanggal 18 Oktober di tahun 1940. Meskipun biasanya orang jawa pada zaman Nenek Sri rata – rata beragama Muslim, namun Nenek Sri adalah orang asli jawa yang beragama Kristen.

Nenek Sri Suhartini merupakan orang jawa asli yang masih tradisional. Nenek Sri orangnya lembut dan halus, saat berbicara dengan beliau, terdengar dengan jelas logat jawa nya yang masih kental. Malah sesekali beliau masih menggunakan bahasa jawa saat saya berbicara kepadanya. Nenek Sri berparas kejawaan, kulitnya sawo matang dan tubuhnya tidak terlalu tinggi juga tidak termasuk pendek, bisa dibilang tingginya normal atau rata-rata untuk wanita di zamannya.  Matanya bulat berwarna hitam dan cukup besar, namun karna suda termakan usia sekarang Nenek Sri menggunakan kacamata.

Nenek Sri menghabiskan masa kecilnya hidup di Blitar dan Surabaya. Nenek Sri memiliki keluarga yang cukup besar untuk ukuran masyarakat di Indonesia zaman kini. Beliau adalah anak ke-7 dari 11 bersaudara. Dari kecil Nenek Sri merupakan anak yang cukup periang, halus, lembut, dan baik hati. Bisa dibilang mungkin karna Nenek Sri adalah asli orang jawa, sehingga karakternya yang penyayang itu terbentuk secara alami. Nenek Sri sangat dekat dengan orang tua dan saudara-saudaranya, hal ini bisa kita lihat dengan hubungan Nenek Sri yang masih dekat dengan keluarganya.

Walaupun Nenek Sri merupakan 11 bersaudara, ia dan saudara-saudara nya tetap memiliki semangat menuntut ilmu yang besar terlepas dari sulitnya biaya. Meskipun keluarga Nenek Sri adalah keluarga Jawa yang tradisional, Nenek Sri sebagai anak perempuan tetap boleh bersekolah oleh orang tuanya. Nenek Sri bersekolah di Sekolah Negeri  yang terletak di sekitar tempat tinggalnya. Nenek Sri senang bersekolah, di sekolahnya beliau termasuk anak yang rajin dan berprestasi. Beliau tidak ingin dianggap bodoh atau di bodoh-bodohi karna ia seorang wanita.

Namun sayangnya kesenangan Nenek Sri untuk bersekolah harus berhenti sampai tingkat SMA. Hal itu disebabkan kurangnya biaya karena harus membiayai 11 orang anak. Nenek Sri yang taat orang tua, dekat dengan saudara-saudaranya, dan juga mempunyai hobi memasak ini akhirnya membantu orangtuanya mencari tambahan uang dengan menjual bakul nasi dan lauk yang ia masak sendiri. Dari sini terlihat bahwa walau Nenek Sri memiliki sifat yang lembut, sejak dini beliau juga sudah memiliki sifat pekerja keras.

Nenek Sri Suhartini bertemu dengan pasangan hidupnya di daerah Banyuwangi, Jawa Timur. Nenek Sri sangatlah menyayangi almahrum suami nya ini.  Nama almahrum suami dari Nenek Sri adalah Alm. Raden Moebanoe. Almahrum suami dari Nenek Sri ini merupakan keturunan dari salah satu keraton Jawa, beliau juga ternyata memiliki kota kelahiran yang sama dengan Nenek Sri, yaitu di Blitar, Jawa Timur. Nenek Sri Suhartini dan Alm. Kakek Raden Moebanoe menikah saat mereka berumur sekitar 20 tahunan. Nenek Sri sudah tidak ingat lagi tepatnya, namun bisa dibilang mereka menikah di usia yang cukup muda.

Alm. Kakek Moebanoe adalah seorang tentara sukarelawan yang mengabdi untuk Indonesia, Almahrum sering ditugaskan ke berbagai daerah. Almahrum sempat ditugaskan di Banyuwangi lalu dipindahkan ke daerah Papua setelah itu kembali lagi ke daerah Jawa Timur yaitu di Surabaya. . Karena hal itulah Nenek Sri dan Almahrum Kakek Moebanoe sering berpindah – pindah rumah dari kota ke kota. Namun Nenek Sri tetap setia mengikuti dan menemani suaminya di setiap tugasnya.

Alm. Kakek Raden Moebanoe dan Nenek Sri Suhartini memiliki tiga anak yang semuanya ber jenis kelamin perempuan. Anak mereka yang pertama bernama Nini, anak kedua mereka bernama Ninda, dan anak terakhir mereka yang bernama Ninuk. Mereka semua dilahirkan saat Alm. Kakek Moebanoe ditugaskan sebagai tentara yang memperjuangakn daerah Irian di Papua dulu. Kata Nenek Sri dulu anak-anak nya agak sulit berteman karna selalu berpindah – pindah.

Sekarang Nenek Sri Suhartini sudah berumur 73 tahun. Beliau mempunyai rumah di Surabaya dan menetap disana. Nenek Sri tinggal disana bersama pembantu rumah tangga dan salah satu cucu nya yang sedang berkuliah di daerah Surabaya. Walaupun Alm. Kakek Moebanoe sudah tidak mendampingi Nenek Sri lagi, biaya kehidupan Nenek sri tetap tercukupi dengan ditanggungi oleh anak-anaknya.

Meskipun sudah tua, Nenek Sri tidak hanya diam di rumah. Beliau tetap rajin beraktivitas, seperti mengikuti klub-klub atau perkumpulan lansia, maupun mengikuti kelas-kelas kursus hobi yang diminati. Disana Nenek Sri juga masih mengurus cucunya yang sedang berkuliah. Memang lebih sering para anggota keluarga yang datang mengunjunginya ke Surabaya karna Nenek Sri sudah cukup tua. Namun beberapa tahun sekali Nenek Sri akan datang ke Jakarta untuk mengunjungi dan melihat sanak saudara, anak-anak, serta cucu-cucunya yang lain.

Yang paling saya lihat dari seorang Nenek Sri Suhartini adalah kepeduliannya terhadap sesama. Ia sangat peduli dan menyayangi keluarga-keluarganya. Nenek Sri pun bukan lah orang yang pantang menyerah. Meski harus membantu orang tuanya mencari tambahan uang untuk biaya hidup, harus menemani suami nya bertugas ke bermacam daerah, sampai sekarang ia ditinggal oleh Almahrum suaminya, Nenek Sri masih sangat menghargai kehidupan yg diberikan kepadanya oleh Tuhan. Kita harus bisa meniru salah satu sifat Nenek Sri yang sangat bersyukur ini.

Nenek Sri Suhartini (paling Kanan) dengan 2 anaknya.


PERANAN
Nenek Sri Suhartini yang lahir di Blitar ini menghabiskan masa kecilnya di Surabaya dan Blitar. Nenek Sri lahir pada tahun 1940. Pada tahun 1945, kita semua mengenali peristiwa yang terjadi Surabaya yang sekarang diperingati sebagai hari pahlawan di Indonesia yang jatuh setiap pada tanggal 10 November. Pertempuran di Surabaya melawan sekutu ini tidak lepas kaitannya dengan peristiwa yang mendahuluinya, yaitu usaha perebutan kekuasaan dan senjata dari tangan Jepang yang dimulai sejak tanggal 2 september 1945. Perebutan kekuasaan dan senjata yand dilakukan oleh para pemuda berubah mejadi situasi revolusi yang konfrontatif antara pihak Indonesia dengan Sekutu.

 Pada tahun itu Nenek Sri sedang tinggal di Surabaya. Menurut sepengingatan Nenek Sri, sewaktu ia kecil, Nenek Sri harus mengungsi karena adanya kerusuhan ini di Surabaya. Banyak sekali warga Surabaya yang mau tidak mau harus mengungsi karena hal ini. Nenek Sri dengan keluarganya mengungsi kembali ke kota kelahirnya, yaitu di Blitar. Mereka kembali menetap di Blitar cukup lama sampai masalah di Surabaya benar – benar meredam.

Lalu saat Nenek Sri sudah menikah dengan Alm. Kakek Raden Moebanoe, ia tinggal berpindah – pindah mengikuti suaminya. Almahrum Kakek Moebanoe adalah seorang tentara sukarelawan. Pada saat itu Alm. ditugaskan ke daerah Papua untuk memperjuangkan Irian Barat.

Usaha ini dikenal dengan nama Trikora (Tri Komando Rakyat), juga disebut Pembebasan Irian Barat. Pada tanggal 19 Desember 1961, Soekarno (Presiden Indonesia) mengumumkan pelaksanaan Trikora di Alun-alun Utara Yogyakarta. Soekarno juga membentuk Komando Mandala. Mayor Jenderal Soeharto diangkat sebagai panglima. Tugas komando ini adalah merencanakan, mempersiapkan, dan menyelenggarakan operasi militer untuk menggabungkan Papua bagian barat dengan Indonesia.

Sebuah operasi rahasia dijalankan untuk menyusupkan sukarelawan ke Papua bagian barat. Walaupun Trikora telah dikeluarkan, namun misi itu dilaksanakan sendiri-sendiri dalam misi tertentu dan bukan dalam operasi bangunan. Hampir semua kekuatan yang dilibatkan dalam Operasi Trikora sama sekali belum siap, bahkan semua kekuatan udara masih tetap di Pulau Jawa . Walaupun begitu, TNI Angkatan Darat lebih dulu melakukan penyusupan sukarelawan, dengan meminta bantuan TNI Angkatan Laut untuk mengangkut pasukannya menuju pantai Papua bagian barat, dan juga meminta bantuan TNI Angkatan Udara untuk mengirim 2 pesawat Hercules untuk mengangkut pasukan menuju target yang ditentukan oleh TNI AL.

Nenek Sri menemani suaminya dalam tugas ini dan ikut tinggal di papua. Sesuai cerita dari Nenek Sri, disana HAM belum terlalu ditegaskan. Banyak sekali ibu rumah tangga yang tidak hanya menyusui anak-anaknya namun juga harus menyusui babi-babi ternak mereka.



Kesimpulan yang saya dapat dari cerita kesaksian Nenek Sri Suhartini ini adalah kita harus jauh lebih menghargai hidup kita di Indonesia sekarang. Dimana semua hal sudah lebih maju dan HAM sudah dijunjung tinggi. Indonesia pun sudah merdeka lama dan stabil, sehinga kita tidak harus was-was setiap ada terjadi kerusuhan atau perang. Kita tidak harus mengungsi ke daerah- daerah lain. Kita harus bisa mempertahankan negara kita Indonesia yang sudah diperjuangkan oleh para leluhur dan berusaha membuat Indonesia untuk menjadi lebih baik.

No comments:

Post a Comment