Sunday, 26 May 2013

Tugas-2 Biografi Ravenska Marintan Nania


Kakek Richard, Dari Perang Gerilya hingga Deputi Ketua BKPM

                Setiap manusia tentunya memiliki pengalaman yang berbeda-beda semasa hidupnya. Suka dan duka yang dialami antara satu orang dengan yang lainnya tentunya tidak akan sama. Pengalaman yang dimiliki oleh seseorang semasa hidupnya pastilah akan berbeda antara satu orang dengan yang lain. Tidak hanya itu, kontribusi yang diberikan oleh seseorang semasa hidupnya pastilah akan berbeda antara yang satu dengan yang lain. Baik itu kontribusi terhadap keluarga, organisasi maupun negara. Atas dasar inilah, maka saya melakukan wawancara dengan Kakek saya yaitu Ir. Richard Parlaungan Napitupulu. Wawancara tersebut saya lakukan pada hari Rabu, 22 Mei 2013 untuk mengetahui pengalaman apa yang pernah ia alami, apakah kontribusi yang pernah ia berikan semasa hidupnya (khususnya kontribusi yang pernah ia berikan bagi Indonesia) dan juga untuk memenuhi tugas Sejarah.

BIOGRAFI

                Kakek saya bernama Ir. Richard Parlaungan Napitupulu. Beliau lahir di kota Sibolga, Sumatera Utara pada tanggal 10 Desember 1936. Kakek merupakan anak ke 4 dari 10 bersaudara. Kakek menghabiskan masa kecilnya di Tapanuli, Sumatera Utara. Sehingga, pendidikan Kakek pada tingkat Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama Kakek tempuh di Tapanuli. Ketika Kakek mencapai umur 15 atau 16 tahun, Kakek berpindah dari Tapanuli menuju Medan. Kakek pindah ke Medan untuk melanjutkan pendidikannya pada  tingkat Sekolah Menengah Atas. Pada tahun 1955, Kakek lagi-lagi harus melakukan perpindahan. Kali ini, perpindahan yang kakek lakukan tidak tanggung-tanggung karena Kakek tidak hanya berpindah kota tetapi juga pulau. Kakek berpindah dari Medan ke Bandung untuk melanjutkan pendidikannya di tingkat Perguruan Tinggi. Di Bandung, Kakek belajar di Institut Teknologi Bandung atau biasa disebut dengan ITB dan mengambil jurusan Teknik Elektro. Berkat ketekunan dan kerja kerasnya, pada tahun 1961 Kakek pun berhasil menamatkan pendidikannya di ITB.

Seusai menamatkan pendidikan di ITB, pada tahun yang sama yaitu tahun 1961 Kakek berpindah ke Jakarta. Tujuan dari kepindahan Kakek ke Jakarta adalah untuk mulai bekerja karena pada saat itu Kakek sudah diterima di Perindustrian. Pada tahun 1965, Kakek diharuskan untuk pindah ke Makassar selama 1 tahun untuk membantu menyelesaikan proyek Semen Tonasa.

1 tahun kemudian yaitu pada tahun 1966, Kakek pun kembali ke Jakarta. Setelah Kakek pulang ke Jakarta, Beliau melakukan pernikahan dengan Nenek saya yaitu Nelly Amasa Hutabarat tepatnya pada tanggal 28 Juli 1966. Pernikahan Kakek dan Nenek saya pada akhirnya melahirkan 5 orang anak yang terdiri dari 1 orang perempuan dan 4 orang laki-laki. Anak pertama dari Kakek dan Nenek dilahirkan pada tahun 1967 di Jakarta. Anak pertama tersebut merupakan satu-satunya anak perempuan yang dimiliki oleh Kakek dan Nenek yaitu Mama saya.

Pada tahun 1980, bertepatan dengan kelahiran anak kelima dari Kakek dan Nenek, Kakek memutuskan untuk pindah bekerja dari Perindustrian menuju ke Badan Koordinasi Penanaman Modal atau biasa disebut dengan BKPM. Kakek mengawali kariernya di BKPM dengan menjabat sebagai Kepala Biro. Pada tahun 1986, Kakek berganti jabatan menjadi Deputi Ketua BKPM. Jabatan sebagai Deputi Ketua BKPM tersebut berlangsung hingga Beliau pensiun pada usianya yang ke-60 pada tahun 1996. Selepas pensiun, Kakek tinggal di Jakarta dan menyaksikan kelima cucunya tumbuh besar. Saat ini, Kakek sudah berusia 76 tahun dengan kondisi sehat walafiat.

PERANAN

Awalnya, Kakek mengatakan bahwa Ia mengikuti kegiatan perang gerilya di Tapanuli. Perang gerilya tersebut berlangsung sebelum dan sesudah kemerdekaan. Perang tersebut dilakukan dengan tujuan membantu para tentara untuk mencapai tujuan yang mereka harapkan. Dalam perang gerilya ini, Kakek tidak ikut berperang dalam bentuk tembak-menembak dengan musuh seperti apa yang dilakukan oleh para tentara tetapi Kakek berkontribusi dalam perekrutan warga yang ingin ikut berperang. Beliau bertugas untuk mengorganisir para warga yang ingin ikut berperang dan juga memberikan pengarahan kepada para warga sebelum mereka ikut bertempur melawan musuh. Kakek berlaku demikian karena menurutnya mematahkan serangan dari musuh tidak harus dilakukan dengan berperang seperti tembak menembak tetapi dapat juga dengan menggunakan strategi. Melalui penerapan strategi tersebut, maka akan menjadi sulit bagi musuh untuk melakukan pergerakan dan tentunya mereka tidak dapat menguasai Indonesia. Sehingga, peran kakek lebih banyak berada di belakang layar yaitu dengan memberikan strategi serta petunjuk agar tujuan yang diinginkan dapat tercapai. Selain itu, Kakek juga memberikan penerangan kepada rakyat agar terus membela tanah air dan tidak membantu para musuh. Menurut Kakek, pada saat itu perang gerilya tidak hanya digerakan oleh rakyat saja. Saat itu, sudah mulai muncul beberapa partai politik yang membantu menggerakan berlangsungnya perang gerilya.

Pada hari Kemerdekaan Indonesia, Kakek masih berusia 8 tahun. Kakek mendengarkan proklamasi kemerdekaan di Tapanuli melalui radio. Tetapi menurut Kakek, meskipun sudah dilakukan proklamasi, tapi kemerdekaan belum sepenuhnya diraih oleh Indonesia pada saat itu. Hal itu dikarenakan, masih banyaknya perang yang terjadi setelah berlangsungnya kemerdekaan. Banyak daerah-daerah yang masih diserang oleh para penjajah. Kemerdekaan baru benar-benar terjadi di Indonesia 5 tahun setelahnya atau pada tahun 1950. Itupun juga tidak bersamaan, tergantung pada kapan penjajah meninggalkan daerah jajahan tersebut. Semakin cepat penjajah meninggalkan daerah tersebut, maka semakin cepat pula daerah tersebut mengalami kemerdekaan yang sepenuhnya.

Setelah Indonesia merdeka, Kakek masih memiliki peranan yang cukup penting bagi Indonesia. Peranan tersebut adalah dengan bekerja bagi salah satu badan pemerintahan di Indonesia yang disebut dengan Badan Koordinasi Penanaman Modal atau disingkat dengan BKPM. Kakek memulai kariernya di BKPM pada tahun 1980 dengan menjabat sebagai Kepala Biro.  

Tugas dari BKPM sebagai badan penanaman modal adalah menyusun strategi-strategi yang diperlukan agar penanaman modal di Indonesia dapat meningkat. Salah satu strategi yang digunakan oleh BKPM untuk meningkatkan penanaman modal tersebut adalah dengan memberikan petunjuk dan usulan bagi para penanam modal tentang apa yang sebaiknya harus mereka lakukan. Melalui penanaman modal yang dilakukan di Indonesia, maka BKPM dapat mengembangkan tugasnya untuk mencari dana yang dibutuhkan untuk dijadikan industrial. BKPM sendiri memiliki banyak cabang yang tidak hanya terletak di Indonesia saja tetapi juga di luar negeri. Saat ini, cabang BKPM yang terdapat di luar negeri ada 7 yaitu di Abu Dhabi, London, New York, Singapore, Sydney, Taipei dan Tokyo.

Di BKPM, yang dapat melakukan penanaman modal tidak hanya berasal dari dalam negeri saja tetapi juga dapat berasal dari luar negeri. Sehingga, Kakek beberapa kali melakukan perjalanan ke luar negeri selama bekerja di BKPM untuk bertemu dengan perwakilan dari instansi-instansi asing dan membicarakan mengenai  kerjasama penanaman modal di Indonesia. Untuk menarik orang asing menanamkan modalnya di Indonesia, maka Kakek harus memberikan penerangan kepada mereka agar berminat untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Kakek harus meyakinkan mereka bahwa penanaman modal di Indonesia dapat membawa keuntungan bagi mereka. Cukup banyak instansi asing yang pernah bekerjasama dengan Indonesia, namun Kakek tidak mengingat semua instansi tersebut. Kakek hanya mengingat instansi yang pernah bekerjasama dengan Indonesia diantaranya berasal dari Amerika, Eropa dan juga Jepang.

BKPM sendiri terdiri dari beberapa bagian. Ketika saya tanyakan kepada Kakek bagian apa saja yang terdapat disana, Kakek sudah lupa dan tidak begitu ingat mengenai apa saja bagian yang terdapat di BKPM. Tetapi, Kakek mengatakan bahwa setiap bagian di BKPM memiliki hubungan yang berkesinambungan antara satu bidang dengan bidang yang lain. Misalnya saja, ketika ada investor yang ingin menanamkan modalnya di Indonesia maka bagian pengarahan akan memberikan penerangan mengenai industri mana saja yang perlu dikembangkan. Lalu kemudian, jika mereka tertarik nantinya akan ada bagian yang mengurusi surat-surat yang diperlukan terkait dengan penanaman modal bagi industri tersebut. Sehingga, diperlukan kerjasama yang cukup baik antara satu bagian dengan yang lainnya agar jika ada yang ingin menanamkan modalnya di Indonesia semua prosedur dapat terlaksana dengan baik dan melalui penanaman modal tersebut, industri di Indonesia juga dapat semakin maju dan berkembang.

Pada tahun 1986, Kakek berganti jabatan menjadi Deputi Ketua BKPM. Sewaktu menjabat sebagai Deputi Ketua BKPM, Kakek mulai bertemu dengan orang-orang penting di negeri ini. Salah satunya adalah Presiden kedua Republik Indonesia yaitu Bapak Soeharto. Bersama dengan Ketua BKPM yang menjabat saat itu yaitu Bapak Sanyoto Sostriwardoyo, Kakek melakukan pertemuan dengan Pak Harto. Pertemuan yang Kakek lakukan dengan Pak Harto bertujuan untuk membicarakan mengenai peningkatan penanaman modal yang terjadi di Indonesia pada saat itu.

Ketika saya tanyakan kepada Kakek mengenai keuangan, ternyata uang yang diperoleh dari penanaman modal tersebut langsung masuk dan digunakan untuk keperluan pengembangan industri. Tidak ada uang yang masuk ke BKPM karena seperti yang telah disebutkan di atas, BKPM hanyalah sebuah sarana untuk membantu penanaman modal di Indonesia yang berguna bagi perkembangan industri. Karena maraknya kasus korupsi yang terjadi di Indonesia saat ini, maka saya menanyakan pula kepada Kakek apakah pada saat ia bekerja di BKPM, ia pernah mendengar ada pegawai BKPM yang melakukan korupsi. Ternyata, korupsi sudah terjadi sejak dahulu. Kakek pernah mendengar adanya kasus korupsi yang terjadi di kalangan pegawai BKPM. Namun, Kakek tidak mengurusi hal tersebut karena sudah ada petugas yang akan menangani kasus tersebut. Tentunya, pegawai yang melakukan korupsi tersebut akan menerima hukuman atas perbuatan mereka.  Jika tingkat korupsi yang dilakukan besar, maka pegawai tersebut akan diberhentikan namun jika tingkat korupsi yang dilakukan masih tergolong kecil, belum diberhentikan namun mendapatkan peringatan.

Itulah yang dapat saya uraikan dari hasil wawancara saya dengan Kakek. Karena pengalaman Kakek dalam mengikuti perang gerilya dan juga kontribusi Kakek di BKPM sudah berlangsung berpuluh tahun yang lalu, maka hanya itulah yang dapat Kakek sampaikan karena Beliau sudah mulai lupa. Awalnya Kakek menyarankan saya untuk mencari arsip-arsip kerja Kakek di BKPM agar ia dapat mengingat lebih banyak hal dan saya dapat mengerjakan tugas ini dengan lebih maksimal. Namun, arsip itu belum dapat ditemukan. Meskipun begitu, saya sudah cukup puas dengan hasil wawancara yang saya dapatkan dari Kakek. Karena, melalui wawancara ini pengetahuan saya menjadi bertambah. Selain itu, melalui wawancara ini saya pun menyadari bahwa pada zaman Kakek, setiap orang memiliki kontribusi yang berbeda antara satu dengan yang lain dan tanpa kontribusi dari orang-orang tersebut maka Indonesia tidak dapat menjadi seperti sekarang ini.
Saya dan Kakek
 

No comments:

Post a Comment