Friday, 31 May 2013

Tugas 2 Biografi - Ravinda Putri Kusumaningtyas WIbowo XI IPA 4

HUTOMO dan Pembakapannya Terhadap Indonesia

Eyang Bapak merupakan orang yang sangat saya kagumi. Cerita-cerita yang beliau ceritakan selama hidup saya membuat saya penasaran akan perjalanan hidupnya. Pada hari Kamis tanggal 30 Mei 2013 saya berkesempatan mewawancarai kakek saya di kediamannya di Cilandak, Jakarta Selatan.



A. Biografi

Hutomo bin Amaroen bin Martodimejo adalah kakek dari sisi ibu saya. Beliau lahir di Semarang pada tanggal 31 Januari tahun 1933. Hutomo adalah anak terakhir dari enam bersaudara, Mas Mukmin, Buntarjo, Suntoro, Emma Sayekti, Aminah, lalu eyang sendiri.

Eyang Hutomo atau yang sering saya panggil dengan sebutan “Eyang Bapak” adalah pribadi yang tidak menyukai kehidupan yang formal walaupun mendapat kesempatan yang banyak; formal dalam hal ini diartikan sebagai pekerjaan yang mengikat dan terikat atau disebut juga dengan pekerjaan tetap jangka lama.

Eyang Bapak ditinggal wafat oleh ayahnya pada usia tiga tahun yang membuat eyang dan saudara-saudara kandungnya menggantungkan hidup pada ibu yang bernama Raden Nganten Sri Boentari. Ibu Raden Nganten Sri Boentari membesarkan keenam anaknya dengan uang pensiun dari kerja menjadi camat saat jaman Belanda. Gaji seorang camat pada waktu itu sebesar 80 Gulden (bukan Rupiah), namun ibu Raden Nganten Sri Boentari hanya menerima sekitar 56 Gulden saja. Eyang Bapak disekolahkan di sekolah Katholik Carnisius di Semarang.

Sekitar kelas tiga atau empat, Jepang mulai menjajah Indonesia menyebabkan Eyang Hutomo atau Eyang Bapak menjadi anggota Seinendan saat sekitar kelas 6 SD. Anggota Seinendan umumnya adalah para pelajar. Seinendan selalu mengadakan latihan PBB, latihan perang-perangan, dan tidak boleh memelihara rambut yang menyebabkan kepala harus gundul. Latihan-latihan ini dipimpin oleh guru-guru di sekolah. Eyang Hutomo tidak pernah ikut sampai medan perang. Jaman penjajahan Jepang, Indonesia marak dengan kemiskinan. Setiap pagi ditemukan saja orang yang mati di pasar karena kelaparan.

Saat proklamasi 17 Agustus 1945, eyang masih tinggal di Semarang dan berumur 12 tahun. Eyang Bapak masih ingat betul perasaan dan suasana hari itu. Eyang tinggal di rumah di daerah yang bernama Pandean Lamper. Hari itu banyak sekali orang yang teriak “Merdeka!”, kalau ada yang teriak “Merdeka!” harus dibalas juga dengan teriakan “Merdeka!”. Suasana ramai sekali saat itu dan eyang masih belum mengerti arti kata ‘merdeka’ itu sendiri. Hari itu PETA dibubarkan dan semua tentaranya berjalan pulang lewat jalan besar dekat rumah eyang.

Tak lama setelah kemerdekaan, mantan tentara PETA meminta senjata pada Jepang untuk membentuk tentara sendiri untuk pertahanan negara. Senjata-senjata ini diminta ke gudang Jepang. Jepang tentu tidak memperbolehkan para mantan tentara PETA ini karena semua senjata akan diserahkan ke sekutu. Hal ini menyebabkan peristiwa 5 hari Semarang yang menyebabkan eyang Bapak harus mengungsi ke suatu daerah antara Jogja dan Solo bernama Klaten. Eyang tidak tepat tinggal di kota Klaten namun di suatu desa yang sepi di dekat kota tersebut. Eyang Bapak ikut tinggal bersama pamannya yang kaya dan merupakan lurah desa. Eyang Bapak dimanjakan karena pamannya mempunyai anak yang sudah tidak tinggal satu atap dengannya. Eyang Hutomo atau Eyang Bapak diberikan seekor kuda yang setia mengantar eyang pulang dan pergi ke sekolah. Kuda ini sangat disayang oleh eyang dan sering diberi makan pisang karena kebiasaan. Kuda ini sudah hafal jalan pulang dan rajin dimandikan oleh eyang di kali.

Memasuki masa SMP, Eyang Hutomo tidak kerasaan untuk tinggal di desa yang sepi dan memutuskan untuk mencari sekolah sendiri di Yogyakarta. Eyang lalu bersekolah di Taman Siswa. Sampai kelas tiga SMP, eyang Bapak pindah ke BOPKRI yang merupakan sekolah Kristen. Lalu pada masa SMA, eyang memutuskan untuk bersekolah di sekolah negeri yang mempertemukan eyang pertama kali dengan wanita yang menjadi istrinya; Wanita itu satu tahun lebih muda dari dirinya.

Sewaktu SMA, eyang bapak termasuk salah satu murid yang paling miskin karena merupakan anak terakhir dari enam bersaudara yang ditanggung hidupnya oleh seorang ibu. Kalau ada acara sekolah, eyang sering tidak ikut dikarenakan menghemat biaya namun teman-temannya sering membiayai eyang untuk ikut karena perjalanan dan pengalaman tidak akan seru tanpa keberadaan eyang. Eyang juga memiliki seorang guru Bahasa Inggris bernama Pak Bagyo. Eyang Bapak berpikir untuk meningkatkan kualitas berbahasa Inggrisnya dan membentuk English Club bersama teman-teman sekolah. Murid-murid ini mencari orang Amerika yang tinggal di Yogyakarta untuk mengajari mereka Bahasa Inggris. Lalu, bertemulah mereka dengan seorang Amerika yang mengajar Bahasa Inggris di Balai Bahasa Inggris. Eyang Hutomo atau Eyang Bapak jadi ikut English Bible Club bertiga dengan teman-temannya. Kegiatan ini membuat eyang paham dan hafal kata-kata dalam English Bible atau Injil Bahasa Inggris. Ternyata isi dari Injil itu menarik dan ada beberapa hal yang menyerupai isi dari Quran.

Pada bulan Agustus 1954 eyang terikat dinas pegawai negeri di IKIP Semarang. Dinas ini mempersiapkan eyang untuk mengajar di SMA Negeri. Eyang mengambil jurusan Bahasa Perancis.

Tahun 1957, eyang menikah dan menetap di Semarang selama kira-kira dua tahun lalu pindah ke Ibukota DKI Jakarta. Eyang Hutomo disersi karena tidak mau menjadi pegawai negeri yang terikat hidupnya dengan pekerjaan formal itu, eyang pun menjadi staff pribadi menteri P&K Professor Prijono sampai beliau meninggal dunia sebagai seorang sastra timur urusan negeri Belanda walaupun iya merupakan orang Jogja. Eyang Hutomo atau Eyang Bapak lalu bekerja di departemen dalam negeri, karena mendapat fasilitas dari Departemen Kesehatan dr. Satrio karena suka membantu tugasnya walaupun eyang bukan pegawai departemen kesehatan. Hal ini menyebabkan istrinya menjadi pegawai departemen kesehatan dan berlangsung hingga istrinya pensiun. Dr. Satrio menyediakan fasilitas termasuk rumah yang boleh diapakan saja dan sampai sekarang masih ditinggali oleh Eyang Bapak yang berusia genap 80 tahun dan Istrinya di daerah Dapur Susu, Cilandak, Jakarta Selatan.

Ketidakmauan eyang Hutomo bekerja secara formal atau terikat membawa eyang ke profesi dalam bidang pers. Eyang pernah dimintai oleh menteri luar negeri untuk menghubungi orang-orang Indonesia di luar negeri yang takut pulang ke Indonesia dikarenakan peristiwa 66-67. Eyang Bapak dikirim ke Russia sebagai private mission dan sebagai pegawai non formal yang dilindungi keberadaannya dengan biaya dari negara Indonesia. Misi ini berlangsung selama kurang lebih satu setengah bulan lalu eyang kembali ke Jakarta. Eyang Bapak menjadi aktif kembali di bidang pers. Beliau membantu tim Tajuk Malang sebagai ghostwriter dan selalu bekerja secara informal atau tidak terikat.

Untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, Eyang Hutomo atau Eyang Bapak bekerja di Becathel Incorporated sebagai side manager seorang kontraktor khusus yang memimpin sekitar 2500 tenaga ahli biasa. Eyang Bapak bekerja mengawasi pengamanan proyek sampai kilang mulai melakukan kegiatan produksi. Kilang Becathel Incorporated ini terletak di East Borneo atau Kalimantan Timur. Ada dua tahap dalam pengurusan kilang ini yaitu konstruksi dan produksi. Setelah dimulai tahap produksi, Pekerja tahap konstruksi termasuk side manager kontraktor khusus ini akan diterminasi atau diberhentikan.

Eyang Hutomo bin Amaroen bin Martodimejo ini lalu memimpin Yayasan Pendidikan Kerjasama di Yogyakarta yang lama-lama kampusnya hancur akibat gempa bumi. Sebelum sempat memperbaharui kontrak gedung, bangunan sudah miring dan menjadi bahaya.

Kampus terdiri dari tiga unit yang masing-masing memiliki tiga lantai. Setelah gempa, puing-puing bangunan yang sudah hancur dan miring ini dijual untuk membayar kuli.

Dalam bidang pers, Eyang Bapak bekerja sebagai seorang Flash Photographer yang mengutamakan mutu gambar bukan kualitas foto. Mutu gambar dalam hal ini dilihat dari cerita yang dapat diceritakan oleh foto itu sendiri. Eyang Bapak atau Eyang Hutomo belajar fotografi secara otodidak atau belajar sendiri.

Eyang Hutomo juga pernah bekerja di Harian Bidikari edisi finance yang diterbitkan oleh Yayasan Bank Indonesia. Eyang lalu pindah ke Harian Pengawal Rakyat yang diterbitkan oleh Pusat Penerangan Angkatan Darat dan dipimpin oleh Bridgen Ibnu Suroto.

Sekarang Eyang Bapak menganggur dan tidak aktif lagi di bidang pers diakibatkan oleh teknologi yang sudah terbelakang. Foto-foto yang dihasilkan oleh eyang menggunakan kamera jaman dulu yang masih manual.

Sejak kecil, Eyang Bapak atau Eyang Hutomo selalu mencari orang dewasa seusia bapaknya untuk menyandarkan hidupnya dan ternyata mendapat banyak sekali pengalaman. Eyang ingin menghabiskan masa tua di Jawa Tengah sebagai desa asal eyang.

B. Peranan

Hutomo bin Amaroen bin Martodimejo bergabung dengan partai politik yang bernama Partai Murba pada tahun 1955 sesudah tamat Sekolah Menengah Atas. Tujuan dari Partai Murba adalah melaksanakan cita-cita Tan Malaka. Peran Eyang Hutomo atau Eyang Bapak dalam keaktifan Partai Murba dimulai dari menjadi pengurus di tingkat cabang lalu menjadi pengurus tingkat provinsi dan akhirnya menjadi Anggota Dewan Politik di pusat. Apa saja cita-cita Tan Malaka? Cita-citanya ditulis didalam buku pada jaman penjajahan Belanda. Tan Malaka menulis tentang Indonesia menuju Republik Merdeka. Buku ini ditulis saat Tan Malaka berada dalam pengasingan di Bangkok, ia juga pernah diasingkan di Manila, dan juga Tiongkok. Beliau tidak pernah berada di negara asalnya karena selalu dicari oleh para Belanda untuk ditangkap. Cita-citanya adalah agar Republik Indonesia terbebas dari penjajahan Belanda dan rakyatnya makmur semua tidak ada yang miskin sekali maupun seseorang yang kaya sekali. Hal ini cocok dengan penemuan Bung Karno mengenai Pancasila karena pemikiran ini cocok dengan prinsip konstitusi UUD 1945. Menurut eyang, para politikus jaman sekarang menjadi demokrasi yang hanya peduli dengan uang. Pemikiran ini dibicarakan dalam UUD 1945 pada pasal 33 dan mukadimah.

Partai Murba diejek sebagai partai kecil padahal anggotanya merupakan orang-orang yang memaksa dan membujuk Bung Karno dan Bung Hatta untuk tidak percaya dengan janji Jenderal Terauchi dari Jepang yang menjamin kemerdekaan dan membujuk mereka untuk melakukan proklamasi. Partai Murba akhirnya tidak aktif lagi.

Pada usia 16 tahun, Eyang Hutomo atau Eyang Bapak pernah menjadi kurir atau pembawa surat. Di suatu tempat di Yogyakarta bagian Selatan terdapat pasar di jalan jurusan ke Bantul. Pasar ini bernama Pasar Miten. Pasar ini sudah dibakar, untuk menyeberangi pasar ini, Eyang harus menunggu sampai jam empat sore karena dijaga oleh tank-tank patroli Belanda. Kejadian ini berlangsung sekitar tahun 1947. Waktu itu, Eyang Bapak tidak sabar menunggu karena apabila menunggu sampai sore, makanan di markas akan habis dan eyang akan kelaparan. Karena ketidaksabaran eyang, ia dan rekannya yang bernama Pramono memutuskan untuk menyeberang. Sebelum menyeberang eyang dan rekannya mendengarkan aspal untuk mengetahui apabila ada tank patroli yang berada di dekat mereka. Eyang Hutomo dan Pramono menyeberang sekitar jam sebelas siang. Saat menyeberang, tahu-tahu mereka melihat tank yang mesinnya dimatikan dan diparkir. Tiba-tiba keluarlah tentara Belanda yang menembaki mereka dengan senapan mesin dengan jarak kira-kira lima belas meter. Eyang ketakutan den menggelinding ke sawah yang belum panen. Rekannya, Pramono, berlari hingga berjarak kira-kira 5 km dari yang tadinya menyeberang bersama. Eyang Bapak menunggu di sawah tersebut hingga Maghrib dan pasukan Belanda sudah pergi. Pasar disapu habis dengan tembakan untuk mencari eyang dan rekannya. Dari peristiwa tersebut, eyang hanya terluka akibat terguling ke sawah yang kasar dan tajam. Sampai sekarang, eyang tidak pernah bertemu dengan Pramono lagi.

Eyang Hutomo bin Amaroen bin Martodimejo ini juga pernah menjadi asisten seorang dokter yang bernama dr. Ahmad; Beliau melihat eyang sebagai anak yang pintar membantu. Dokter Ahmad adalah dokter pribadi Soekarno saat masih berpangkat kolonel di Semarang. Eyang Bapak sering diajak oleh dr. Ahmad jika ada yang sakit hingga pernah ikut dan bertemu dengan Soekarno. Saat bekerja di Bontang, Kalimantan, Soekarno pernah mengadakan kunjungan yang eyang tidak tahu akan meninjau apa. Saat melihat eyang bapak, Presiden Soekarno tersenyum dan menghampirinya, ia pun bertanya “Kenapa kamu ada disini?” dengan menggunakan Bahasa Jawa halus. Eyang kaget karena Presiden masih mengenalinya lalu menjawab “Saya kerja disini.” Yang juga dibalas dengan bahasa Jawa halus. Peristiwa ini membuat orang lain terheran karena eyang dikenal oleh sang Presiden dan dikira orang penting, sejak saat itu eyang diperlakukan khusus hingga tugasnya selesai. Dokter Ahmad juga merupakan orang yang menggeret eyang untuk bekerja di departemen kesehatan padahal eyang bukan orang departemen kesehatan namun suka membantu.

Eyang Hutomo masih mempunyai banyak sekali cerita namun cukup untuk wawancara kali ini.



Visi eyang untuk Indonesia adalah bahwa eyang akan membakapkan* masa tuanya pada perjuangan Indonesia menuju masyarakat yang berkeadilan dan berbudaya.

 *to give all you have freely


1 comment:

  1. Terima kasih dinda atas kisah singkat alm mbah tomo. .. Aku saja tidak tahu persis kisah alm mbah soentoro amaroen .. :'(
    Minta tolong dong buat artikel leluhur kita hingga amangkurat 1 ... Salam untuk mbah putri di cilandak, tante sari/om riki, om dewa, om gatot dll. .. Ttd. Fii

    ReplyDelete