Friday, 31 May 2013

Tugas-2 Biografi Rheza Daniswara XI IPA 3

Eyang Soeroso, TNI AU Penyaksi Sejarah Kelam Indonesia


Pada kesempatan kali ini, saya akan menceritakan pengalaman dari eyang Soeroso biasa dipanggil eyang kakung atau ‘eyangkung’, yang merupakan purnawirawan tni au. Saya mewancarai beliau dan saya mendengar cerita masa lalu yang cukup bagus. Berikut saya akan menceritakan kesaksian beliau serta biografi dari beliau di sini.

Biografi

Lahir pada tahun 1931, eyang Soeroso yang bernama lengkap Soeroso Reksopramono, merupakan anak ke enam dari delapan bersaudara. Tinggal di Solo, beliau menyelesaikan pendidikan di sana. Setelah itu beliau mengambil pendidikan kedokteran, dan lulus menjadi dokter. Namun, dokter bukan satu-satunya cita-cita yang diinginkan beliau. Ada satu lagi yang beliau tekuni yaitu sebagai TNI AU.

Setelah itu beliau menikah pada tahun 1959 dengan eyang Sri Rejeki, biasa dipanggil eyang putri atau ‘eyangti’, dan mencapai usia pernikahan emas, yaitu 50 tahun yang jarang sekali terjadi. Alhamdulillah, eyangkung dan eyangti masih bisa berjalan di muka bumi walaupun usia sudah sangat lanjut. Dari pernikahan tersebut, mereka mempunyai 3 orang anak, dan Ibu saya adalah anak ketiga dari tiga bersaudara.

Dengan pangkat yang tidak terlalu tinggi, beliau sekarang sudah di hormati oleh para rekan maupun juniornya di TNI. Beliau tinggal di perumahan di dalam kompleks TNI AU yaitu Halim Perdana Kusumah sampai sebelum mempunyai cucu atau dengan kata lain sebelum saya lahir. Lalu beliau pindah ke rumah yang sampai sekarang masih ditempati mereka.

Kini beliau sudah purnawirawan, tetapi di umurnya yang sudah menginjak ke kepala delapan, beliau masih aktif sebagai pejuang, buka pejuang nasionalis lagi, tetapi menjadi pejuang medis, yaitu dokter. Sampai sekarang beliau masih membuka praktek dan mampu menyetir mobil sendiri dari rumah ke kliniknya. Saya kagum dan respect pada beliau.

Sekian biografi dari eyang Soeroso, kakek saya. Sekarang saya lanjut ke peranan dan pengalaman beliau sebagai TNI.

Peranan dan Pengalaman

Beliau bergabung dengan TNI sejak kuliah, berbarengan dengan pendidikan kedokteran beliau. Walaupun bukan perang melawan penjajah, tetapi beliau hidup di masa penjajahan dan tahu pahitnya menjadi rakyat tertindas. Beliau menceritakan bagaimana susahnya hidup, mulai dari makan sampai sekolah. Tetapi beliau juga merasakan bagaimana manisnya menyambut kemerdekaan Indonesia. Dengan masa kecil yang seperti itu, membuat beliau bercita-cita menjadi tentara.

Saya akan menceritakan sedikit tentang TNI AU, yang beliau ceritakan secara singkat. TNI Angkatan Udara (TNI-AU) adalah bagian dari Tentara Nasional Indonesiayang bertanggung jawab atas operasi udara dan dipimpin oleh seorang Kepala Staf TNI Angkatan Udara yang disingkat KASAU. Saat ini TNI-AU memiliki dua komando operasi yaitu Komando Operasi Angkatan Udara I (Koops AU I) yang bermarkas di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta dan Komando Operasi Angkatan Udara II (Koops AU II) yang bermarkas di Makassar. Semboyan TNI-AU adalah bahasa Sanskerta Swa Bhuwana Paksa yang berarti "Sayap Pelindung Tanah Airku".

TNI AU lahir dengan dibentuknya Badan Keamanan Rakyat (BKR) pada Tanggal 23 Agustus 1945, guna memperkuat Armada Udara yang saat itu berkekurangan pesawat terbang dan fasilitas-fasilitas lainnya. pada tanggal 5 Oktober 1945 berubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) jawatan penerbangan di bawah Komodor Udara Soerjadi Soerjadarma.

Pada tanggal 23 Januari 1946 TKR ditingkatkan lagi menjadi TRI, sebagai kelanjutan dari perkembangan tunas Angkatan Udara. Pada tanggal 9 April 1946, TRI jawatan penerbangan dihapuskan dan diganti menjadi Angkatan Udara Republik Indonesia, yang kini diperingati sebagai hari lahirnya TNI AU yang diresmikan bersamaan dengan berdirinya Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Pada 29 Juli 1947 tiga kadet penerbang TNI AU masing-masing Kadet Mulyono, Kadet Suharnoko Harbani dan Kadet Sutarjo Sigit dengan menggunakan dua pesawat Cureng dan satu Guntei berhasil melakukan pemboman terhadap kubu-kubu pertahanan Belanda di tiga tempat, masing-masing di kota Semarang, Salatiga, dan Ambarawa.

Modal awal TNI AU adalah pesawat-pesawat hasil rampasan dari tentara Jepang seperti jenis Cureng, Nishikoren, serta Hayabusha. Pesawat-pesawat inilah yang merupakan cikal bakal berdirinya TNI AU. Setelah keputusan Konferensi Meja Bundar tahun 1949, TNI AU menerima beberapa aset Angkatan Udara Belanda meliputi pesawat terbang, hanggar, depo pemeliharaan, serta depot logistik lainnya. Beberapa jenis pesawat Belanda yang diambil alih antara lain C-47 Dakota, B-25 Mitchell, P-51 Mustang, AT-6 Harvard, PBY-5 Catalina, dan Lockheed L-12.

Tahun 1950, TNI AU mengirimkan 60 orang calon penerbang ke California Amerika Serikat, mengikuti pendidikan terbang pada Trans Ocean Airlines Oakland Airport (TALOA). Saat itu TNI AU mendapat pesawat tempur dari Uni Soviet dan Eropa Timur, berupa MiG-17, MiG-19, MiG-21, pembom ringan Tupolev Tu-2, dan pemburu Lavochkin La-11. Pesawat-pesawat ini mengambil peran dalam Operasi Trikora dan Dwikora.

TNI AU mengalami popularitas nasional tinggi dibawah dipimpin oleh KASAU Kedua Marsekal Madya TNI Omar Dhani awal 1960-an. TNI AU memperbarui armadanya pada awal tahun 1980-an dengan kedatangan pesawat OV-10 Bronco, A-4 Sky Hawk, F-5 Tiger, F-16 Fighting Falcon, danHawk 100/200.
Tugas tugas di TNI AU adalah, melaksanakan tugas TNI matra udara di bidang pertahanan, lalu menegakkan hukum dan menjaga keamanan di wilayah udara yurisdiksi nasional sesuai dengan ketentuan hukum nasional dan hukum internasional yang telah diratifikasi, kemudian melaksanakan tugas TNI dalam pembangunan dan pengembangan kekuatan matra udara, serta melaksanakan pemberdayaan wilayah pertahanan udara.

Eyang Soeroso pernah ditugaskan untuk menerbangkan beberapa pesawat, dan juga berlatih perang di daerah-daerah pedalaman, walaupun tidak sampai perang yang asli. Beliau juga menceritakan bagaimana dan semua yang terjadi pada peristiwa G 30 S, atau biasa di singkat Gestapu maupun Gestok. Peristiwa tersebut terjadi  selewat malam tanggal 30 September sampai di awal 1 Oktober 1965 dinihari. Beberapa perwira tinggi militer Indonesia beserta beberapa orang lainnya dibunuh dalam suatu usaha percobaan kudeta yang kemudian dituduhkan kepada anggota Partai Komunis Indonesia. Sehingga disebutlah peristiwa itu sebagai G30S PKI.

PKI yang merupaka singkatan dari Partai Komunis Indonesia merupakan partai komunis yang terbesar di seluruh dunia, di luar Tiongkok dan Uni Soviet. Sampai pada tahun 1965 anggotanya berjumlah sekitar 3,5 juta, ditambah 3 juta dari pergerakan pemudanya. PKI juga mengontrol pergerakan serikat buruh yang mempunyai 3,5 juta anggota dan pergerakan petani Barisan Tani Indonesia yang mempunyai 9 juta anggota. Termasuk pergerakan wanita (Gerwani), organisasi penulis dan artis dan pergerakan sarjananya, PKI mempunyai lebih dari 20 juta anggota dan pendukung.

Pada bulan Juli 1959 parlemen dibubarkan dan Sukarno menetapkan konstitusi di bawah dekrit presiden - sekali lagi dengan dukungan penuh dari PKI. Ia memperkuat tangan angkatan bersenjata dengan mengangkat para jendral militer ke posisi-posisi yang penting. Sukarno menjalankan sistem "Demokrasi Terpimpin". PKI menyambut "Demokrasi Terpimpin" Sukarno dengan hangat dan anggapan bahwa dia mempunyai mandat untuk persekutuan Konsepsi yaitu antara Nasionalis, Agama dan Komunis yang dinamakan NASAKOM.

Pada era "Demokrasi Terpimpin", kolaborasi antara kepemimpinan PKI dan kaum burjuis nasional dalam menekan pergerakan-pergerakan independen kaum buruh dan petani, gagal memecahkan masalah-masalah politis dan ekonomi yang mendesak. Pendapatan ekspor menurun, ‘foreign reserves’ menurun, inflasi terus menaik dan korupsi birokrat dan militer menjadi wabah.

Peristiwa itu diakhiri dengan turun jabatannya Presiden kala itu Presiden Soekarno, dan digantikan oleh Jendral Besar Soeharto.

Pada tahun 1973, beliau resmi menjadi purnawirawan TNI AU. Walaupun bukan penulis sejarah atau pembuat sejarah, penyaksi sejarah berperan penting untuk membenarkan dan menyalahkan isu-isu yang bertebaran tentang sejarah Indonesia, dan juga untuk memberi tahu generasi muda yang tidak tahu apa-apa tentang masa lalu yang kelam negeri Indonesia ini.

Sekian dari saya, mohon maaf apabila ada kesalahan.

No comments:

Post a Comment