Friday, 31 May 2013

Tugas-2 Biografi Rininta Ayunina XI IPA 4


Kakek saya adalah seorang pejuang. Pejuang dalam arti bukan dalam bidang ketentaraan mungkin, tetapi dalam arti luas. Ia berjuang menafkahi dirinya sendiri, keluarga yang dicintainya, berjuang menegakkan kekuasaan partai yang digelutinya, dan berjuang melawan penyakit yang merenggut ajalnya.

Ia dilahirkan dengan nama Karmani. Ia dilahirkan di Pati, sebuah kabupaten yang terletak 75 kilometer dari ibu kota Jawa Tengah yaitu Semarang. Ia dilahirkan pada tanggal 1 Februari 1932 dari pasangan orang tua yaitu ayah bernama Karnawi dan ibu bernama Sutawi.

Ia sering menyebut keluarganya sebagai “gol-kar”, namun bukan karena keluarganya semua merupakan pendukung Golkar, akan tetapi hal tersebut adalah karena semua saudaranya memakai kata awalan “Kar-“ didepan namanya. Ia dilahirkan dalam keluarga besar 8 bersaudara, yang terdiri dari Karmini, Kartawi, Karmani, Kartono, Karyoso, Kartini, Kardinah, dan Kartomo. Yang masih hidup hingga saat ini adalah Karmini, Karyoso, dan Kartomo saja.

Ayah dari kakek saya bekerja sebagai kepala sekolah di Sekolah Rakyat di kabupaten Pati, dimana kakek saya belajar. Ibunya hanya seorang ibu rumah tangga. Kakek saya melanjutkan jenjang Sekolah Menengah Pertama masih di kabupaten Pati.

Saat memasuki jenjang Sekolah Menengah Atas, kakek saya pindah mengikuti jejak kakak-kakaknya ke Semarang. Saat kakek saya menempuh jenjang sekolah menengah atas adalah merupakan masa pendudukan Jepang. Karena itulah, kakek saya termasuk anggota Tentara Pelajar. Saat pendudukan Jepang pula, orang tua dari kakek saya mengungsi ke sebuah kabupaten bernama Sale, kira-kira membutuhkan waktu ekstra 1 jam perjalanan dari Pati.

Kakek saya pun melanjutkan kuliah di Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta, dengan jurusan hukum. Kuliahnya dibiayai oleh beasiswa. Karena beliau mendapat beasiswa, syarat dari beasiswa tersebut adalah kakek saya harus bekerja untuk “mengganti” uang beasiswa tersebut. Maka dari itulah, kakek saya bekerja sebagai sekertaris pribadi menteri pendidikan saat itu yaitu Priyono. Pekerjaan ini bisa dibilang cikal bakal karir kakek saya dalam bidang politik.

Setelah pekerjaan ini selesai, barulah beliau menyelesaikan jenjang sarjana nya. Setelah beliau mendapatkan gelar sarjana, beliau pun bekerja sebagai dosen di universitas yang sekarang disebut sebagai Universitas Diponegoro, namun dahulu namanya belum Universitas Diponegoro. Dengan gelar Mister (mister adalah gelar yang sekarang disejajarkan dengan sarjana hukum), beliau menjadi dosen pada umur 27.

Kakek saya sesekali mengunjungi orang tuanya di rumah mereka di Sale, tempat mereka mengungsi dari pendudukan Jepang. Saat ini lah kakek saya bertemu dengan nenek saya. Nenek saya adalah merupakan tetangga dari orang tua kakek saya.

Nenek saya lahir di Rembang, tanggal 10 Oktober 1938, sehingga perbedaannya dengan kakek saya adalah 6 tahun. Perbedaan umur ini tidak menjadi suatu masalah bagi mereka, karena mereka cepat sekali akrab.

Kakek saya dan nenek saya menikah tanggal 13 September 1962, lalu nenek saya mengikuti kakek saya dan tinggal di Semarang, yaitu di jalan Erlangga. Saat ini rumah yang ditinggali nenek saya masih di jalan Erlangga, walaupun di rumah yang berbeda. Saat ini pula kakek saya masih bekerja di universitas yang saat ini menjadi Universitas Diponegoro.

Tahun 1963, anak pertama dari pasangan kakek saya dan nenek saya pun lahir. Anak pertama mereka dinamakan Dyah Kartika Ratri, yang merupakan bude saya. Pada tahun 1963 pula kakek saya menjadi ketua Nahdlatul Ulama (NU) di Jawa Tengah.

Sebagai ketua Nahdlatul Ulama di Jawa Tengah, kakek saya merupakan sosok yang aktif dan dikenal banyak orang. Kakek saya senang berpolitik dan dicintai oleh pendukung-pendukungnya, karena kemampuan kakek saya untuk merangkul para pendukungnya.

Pada tahun 1965, tanggal 11 Mei, ibunda saya dilahirkan. Ibunda saya dilahirkan dengan nama Intan Nurachmi. Saat keadaan sulit di dalam keluarga kakek saya karena anak pertama mereka masih berumur 2 tahun dan membutuhkan perhatian, dan ibunda saya masih baru lahir, terjadilah peristiwa Gerakan 30 September PKI. Saat peristiwa G 30 S PKI ini pecah, rumah kakek saya pun menjadi tempat pengungsian, karena aman dari sasaran. Saat itu semua orang dilarang keluar dari rumah, namun kakek saya diperbolehkan keluar. Dengan menggunakan atribut pita di lengan berwarna putih, kakek saya diperbolehkan dengan bebas memantau kejadian di luar rumah yang sedang terjadi secara ramai dan hiruk pikuk. Di saat ini, kakek saya masih merupakan seorang dosen di universitas yang saat ini merupakan Universitas Diponegoro.

Tahun 1967, keadaan sudah mulai berubah menjadi lebih tenang. Di tahun ini, kakek saya diangkat menjadi anggota MPR sebagai wakil dari Jawa Tengah. Dikarenakan sidang MPR yang berlangsung sangat jarang, maka kakek saya masih tetap tinggal di Semarang. Di tahun ini pula adik dari ibunda saya lahir. Beliau bernama Mirza Nurhidayat. Semua pekerjaan kakek saya dari tahun ini hingga tahun-tahun berikutnya berjalan lancar. Pada tahun 1969, anak terakhir dari pasangan kakek saya dan nenek saya lahir. Beliau bernama Maulana Abdillah.

Hingga tahun 1972, kakek saya menlewati masa-masa kerja yang tenang. Namun pada saat ini, kakek saya bukan merupakan dosen lagi, melainkan menjadi dekan universitas. Dapat dikatakan kakek saya merupakan salah satu pendiri Universitas Diponegoro saat ini.

Di tahun 1972, kakek saya karena peran aktifnya lalu di angkat sebagai anggota DPR sebagai perwakilan dari partai Nahdlatul Ulama. Kakek saya menjadi anggota di komisi I. Karena anak-anak beliau yang masih sangat kecil dan tidak mungkin dibawa pindah ke Jakarta (karena tidak ada saudara yang dapat membantu disana) dan kantor DPR berlokasi di Jakarta (dulu di Senayan), maka kakek saya pun hidup berpindah-pindah. Senin hingga Jumat kakek saya tinggal di Jakarta, hari Sabtu dan Minggu kakek saya pulang ke Semarang. Kakek saya biasa pulang naik bis malam atau kereta, sehingga kakek saya mempunyai banyak sekali booklet gratis dari kereta. Biasanya booklet-booklet tersebut dibagikan kepada saudara-saudara dari kakek saya yang dulu belum berkesempatan naik kereta.

Pada tahun 1977, berlaku sebuah undang-undang zaman Pak Soeharto yang mengharuskan adanya fusi partai-partai se-ideologi menjadi satu. Dengan adanya kebijakan ini, kakek saya pun otomatis masuk kedalam PPP yaitu partai dengan ideologi Islam, bergabung dengan MI, Masyumi, dan masih banyak lagi. Saat ini, Gus Dur yang merupakan pimpinan dari Nahdlatul Ulama tidak diterima didalam pemerintahan, karena berseberangan dengan Presiden Soeharto, sehingga PPP tidak menerima Soeharto. Pada saat itu menteri pendidikan Daud Yusuf memberlakukan sebuah kebijakan bahwa semua pegawai negeri sipil harus berasal dari partai Golkar. Kakek saya merupakan orang yang teguh pada pendiriannya. Dengan adanya kebijakan ini, kakek saya pun keluar dari jabatannya sebagai dekan universitas yang saat ini merupakan Universitas Diponegoro.

Akhir tahun 70an hingga 80an awal, kakek saya menjadi ketua Dewan Pimpinan Wilayah PPP Jawa Tengah, membawahi mantan menteri pertahanan Matori. Saat ini, disinyalir ada sebuah kedekatan dari Matori dan Gus Dur. Gus Dur saat itu tidak disukai oleh Presiden Soeharto, maka dari itu Gus Dur tidak bisa menjadi anggota pemerintahan. Beliau pun melobi Matori agar Nahdlatul Ulama kembali ke khittah, yaitu Nahdlatul Ulama tanpa berpolitik, hanya berfokus kepada pembinaan jamaah. Matori setuju dengan keputusan ini, tapi lain cerita dengan kakek saya. Kakek saya tidak menyetujui hal ini sehingga walaupun NU kembali ke khittah, kakek saya terus menjalani hidupnya sebagai politikus.

Saat Ketua Umum PPP adalah J Naro yang bukan merupakan anggota NU, J Naro bersikap tidak mendukung kepada anggota-anggota NU. Dengan harapan mengganti posisi J Naro, sejumlah kiai dan pengurus DPW PPP melobi menteri luar negeri saat itu, yaitu Rudini. Sejumlah kiai dan pengurus DPW PPP pun mencalonkan Karmani (kakek saya) sebagai ketua umum, namun dukungan pemerintah masih di tangan Naro karena kakek saya merupakan anggota Nahdlatul Ulama. Akhirnya Naro pun digantikan oleh Ismail Hasan Metareum sebagai ketua umum. Kakek saya mempertahankan posisinya sebagai Ketua DPW PPP Jawa Tengah.

Kemudian karena perebutan kekuasaan, kakek saya sempat bersitegang dengan kelompok Hamzah Haz, karena Hamzah Haz memperebutkan kekuasaan dengan Matori, dan kakek saya mendukung Matori. Namun pada akhirnya Hamzah Haz lah yang menjadi ketua umum PPP, dan kakek saya mempertahankan posisinya sebagai ketua DPW PPP Jawa Tengah untuk periode yang ketiga. Hanya kakek saya yang mempertahankan jabatan ini hingga tiga periode hingga saat ini.

Setelah periode ini berakhir, kakek saya meninggalkan jabatan 3 periodenya dan kembali menjadi anggota DPR karena hasil pemilu tahun 1999 yang menjadian partai kakek saya salah satu penempat kursi di Dewan Perwakilan Rakyat. Kakek saya kembali menjadi anggota komisi I yaitu pertahanan, keamanan, departemen luar negeri, dan sebagainya. Selama periode ini, kakek saya banyak melakukan studi banding ke parlemen negara-negara lain. Di periode ini, kakek saya tinggal di rumah dinas di Kalibata. Saya sering menghabiskan waktu di rumah di Kalibata, dan saya masih ingat bertetangga seberang rumah dengan Zain Badjeber, ketua PPP dari zaman Ismail Hamzah Metareum.

Setelah periode ini habis yaitu tahun 2004, kakek saya pun mengambil pensiunnya. Beliau pun pindah ke rumahnya di Semarang, yaitu di jalan Erlangga. Kakek saya dan nenek saya tinggal bersama anak terakhirnya, menantunya dan 2 cucunya. Saya sesekali pergi ke Semarang apabila ada waktu luang dan hari raya.

Tahun 2010, kakek saya divonis kanker paru-paru stadium 4. Kakek saya dulu merupakan perokok berat, namun sudah berhenti sekitar 30 tahun sebelum vonis kanker ini. Kakek saya merupakan salah satu jenis orang yang life-spirit nya seringkali realistis, cenderung pesimis. Apabila beliau tahu bahwa ia mengidap kanker, maka tidak akan lama lagi waktu yang kita punyai bersama beliau. Sebagai cucu yang paling dekat dengan beliau (nama saya dan kakak saya adalah satu-satunya nama dari semua cucu beliau yang dibuat oleh kakek saya sendiri) karena ibunda saya sangat dekat dengan kakek saya, saat itu keluarga saya sangat terpukul. Keluarga saya sangat sering menghabiskan waktu dengan beliau, seringkali saya menitikkan airmata hanya mengingat beliau.

Hingga akhir hayatnya, kakek saya tidak pernah tahu penyakitnya tersebut adalah kanker. Kakek saya lama dirawat di Rumah Sakit Pondok Indah, dan setiap hari saya tinggal disana hingga larut malam. RSPI hampir menjadi rumah kedua saya. Belajar, makan, mengerjakan tugas, dan lain lain semuanya saya lakukan disana. Pulang sekolah pun saya tidak kerumah, melainkan ke RSPI. Para dokter telah memprediksikan umurnya hanya hingga bulan Oktober saja (beliau divonis bulan Januari-Februari), namun takdir berkata lain.

Mulai dari akhir Desember 2010 beliau dipindahkan ke Semarang, karena tidak ada lagi tindakan medis yang dapat dilakukan. Keluarga saya sangat sedih saat itu, namun hanya bisa berdoa. Malam tahun baru saya habiskan dengan membisikkan “laa ilaha illallah” di telinga kakek saya, bukan dengan menyalakan kembang api seperti biasanya.

Bulan Januari, tepatnya tanggal 4, sekolah sudah mulai seperti biasa. Saat pelajaran Bahasa Inggris, guru saya saat itu mengabarkan bahwa kakek saya sudah tiada. Saya berlari sekencang mungkin menuju tante saya yang sudah menunggu di depan ruang guru, dan segera berkemas menuju airport untuk pemakaman kakek saya. Kakek saya dimakamkan di pemakaman Universitas Diponegoro di Semarang.

Kakek saya adalah seorang pejuang. Pejuang dalam arti bukan dalam bidang ketentaraan mungkin, tetapi dalam arti luas. Ia berjuang menafkahi dirinya sendiri, keluarga yang dicintainya, berjuang menegakkan kekuasaan partai yang digelutinya, dan berjuang melawan penyakit yang merenggut ajalnya.


(data dalam biografi ini didapat dari wawancara kepada nenek dan beberapa dari ingatan penulis)

kakek dan nenek saya dengan anak-anaknya (minus yang terakhir)

                                     
kakek saya setelah dipindahkan ke Semarang

saya dan keluarga di pemakaman kakek saya
  
kakek saya yang ganteng


No comments:

Post a Comment