Friday, 31 May 2013

Tugas 2 Biografi - Ristya Nintyana XI IPA 2


Brigadir Jendral Suprayitno, Insinyur Militer Angkatan Darat

Seluruh manusia di dunia ini memiliki sejarah nya masing-masing. Pengalaman dan cerita dari yang bahagia, sedih maupun membanggakan pasti dirasakan oleh setiap individu. Tetapi, tidak semua sejarah dan cerita tersebut diketahui oleh banyak pihak.  Masih banyak cerita-cerita yang membanggakan dan patut di apresiasikan tetapi belum terungkap.   


Biografi:
Pengalaman semakin lama semakin menimbun sejak puluhan tahun pada seseorang yang penuh semangat ini. Seorang kakek yang sering dipanggil Yangkung oleh cucu-cucu nya ini mempunyai nama asli Suprayitno. Beliau lahir di Jakarta pada tanggal 26 Januari 1934.  Beliau memiliki istri bernama Pudi Astuti dan tiga putra antara lain adalah A. Brahmantya, D. Brahmantara, dan N.B. Hendrastya yang merupakan ayah saya sebagai putra bungsu dari beliau. Beliau memiliki Sembilan cucu. Pada saat ini, beliau tinggal di kompleks Berland, Matraman, Jakarta Timur.

Perjalanan hidup beliau bermula di kota Jakarta. Tak cukup satu kota, ia memiliki berbagai pengalaman berpindah-pindah tempat tinggal dari sebuah kota ke kota lainnya akibat dari riuh nya keadaan di Indonesia pada saat itu. Pendidikan beliau bermula di Bukit Tinggi, Sumatera Barat. Beliau bersekolah di sekolah dasar tersebut selama tiga tahun. Setelah tiga tahun menuntut ilmu di pulau Sumatra, beliau berpindah ke pulau Jawa tepatnya di kota Surabaya. Di kota Surabaya, orang tua beliau memutuskan untuk menyekolahkan beliau di Sekolah Taman Siswa.  Sekolah Taman Siswa merupakan sekolah yang didirikan oleh seorang tokoh pejuang yang sangat terkenal yang bernama Ki Hadjar Dewantara, yang terkenal dengan julukan Bapak Pendidikan Indonesia. Sekolah tersebut cukup dikenal pada saat itu dan sampai sekarang. Pada saat beliau masih bertempat tinggal di Surabaya, terjadi revolusi pada tahun 1945 yang mengakibatkan beliau diharuskan mengungsi ke daerah Jombang. Beliau mengatakan bahwa beliau sempat menyaksikan para tentara-tentara berdatangan maupun yang berasal dari Indonesia dan Belanda. Dan kebetulan juga, ayah dari beliau juga merupakan pejuang tentara yang ikut berperang melawan Belanda. Akan tetapi beliau tidak menyaksikan kejadian tersebut seutuhnya secara langsung, karena beliau dahulu diharuskan untuk evakuasi dan mengungsi secepatnya. Beliau hanya mendengar dari jauh suasana peperangan yang dilakukan tentara Belanda dan tentara Indonesia, seperti pada saat tentara Belanda meluncurkan bahan peledak atau bom di laut. Beliau berkata kejadian tersebut bisa dirasakan oleh penduduk sekitar, beliau sendiri juga mengalaminya sehingga beliau dan penduduk-penduduk sekitar lainnya dievakuasi dan bersembunyi ke lokasi yang jauh lebih aman.


Kemudian di Jombang, beliau tetap meneruskan sekolahnya di Sekolah Taman Siswa hingga lulus dari sekolah dasar dan melanjutkan pendidikannya di SMP Negeri 1 Jombang. Di Jombang, beliau hidup hanya seorang diri bersama mbah dari beliau di pelosok kota Jombang. Beliau jauh dari keluarga, dari ayah maupun ibu beliau. Ayah beliau sibuk melawan tentara-tentara belanda bersama tentara lainnya, dan juga ibu dari beliau tinggal di kota Kediri, provinsi Jawa Timur yang jauh dari tempat tinggal beliau pada saat di Jombang. Sebelum lulus dari SMP Negeri 1 Jombang, pasukan tentara Belanda berhasil memasuki wilayah Jombang dan membuat wilayah Jombang menjadi tidak aman, sehingga beliau mengungsi kembali ke kota Solo dan bersekolah di SMP Negeri 2 Solo. Dalam waktu dekat, kota Solo pun juga ikut diserang oleh pasukan tentara Belanda sehingga beliau juga belum sempat untuk lulus dari Sekolah Menengah Pertama. Setelah berpindah-pindah tempat dan sekolah untuk beberapa kali, akhirnya beliau memilih untuk putus sekolah selama setahun untuk menghindari kondisi riuh yang disebabkan oleh perang antara pasukan tentara Indonesia dan pasukan tentara Belanda. Pada tahun 1950, Belanda dan Indonesia melakukan perundingan yang membuat kondisi di Indonesia yang tak beraturan sudah mulai meredup, sehingga beliau kembali berpindah ke kota Surabaya dan kembali bersekolah lagi di SMP Negeri 2 Surabaya menempati di kelas dua. Setahun kemudian, beliau pindah ke SMP Negeri 3 Praban di Surabaya sampai beliau lulus. Kemudian, beliau mengikuti ujian atau tes masuk di SMA Negeri 2 Surabaya.
 Setelah lulus dari Sekolah Menengah Atas, beliau memutuskan untuk mengikuti pendidikan guru, dan memilih jurusan pendidikan jasmani. Tetapi, pendidikan tersebut tidak berlangsung lama. Dalam jangka waktu satu tahun, beliau memutuskan untuk keluar dari pendidikan guru dan lebih memilih memasuki pendidikan militer. Beliau memasuki pendidikan militer angkatan darat dan menjadi taruna angkatan darat. Beliau memilih ingin menjadi tentara dikarenakan oleh ayah dari beliau merupakan tentara pejuang yang melawan Belanda, sehingga suasana menjadi tentara dan figur seorang tentara selalu menarik dan berkesan bagi beliau. Beliau dididik dan dibina selama empat tahun di Bandung sebagai taruna angkatan darat. Di dalam pendidian militer, beliau mempelajari banyak hal, mata pelajaran yang ada di pendidikan militer pun juga sangatlah banyak. Belum lagi, beliau ditempatkan di bagian Zeni, Zeni merupakan bagian insinyur dari pasukan militer yang bertugas pokok menyelenggarakan rekayasa teknik dan militer. Sehingga beliau diajarkan contohnya seperti membuat jalan, jembatan, konstruksi beton, mekanika tanah, dan semua hal yang memiliki unsur teknik lainnya.

Banyak pengalaman-pengalaman yang dilalui beliau selama menjadi taruna angkatan darat. Salah satu pengalaman yang berkesan menurut beliau ialah pada saat beliau menjadi Sersan Mayor Taruna. Pada saat itu terjadi pemberontakan dari PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia) dan mucul gerakan Permesta (Perjuangan Rakyat Semesta) kemudian seluruh taruna termasuk beliau mendapatkan tugas mengikuti operasi militer yang berlokasi di Padang, Sumatera Barat. Tujuan mengikuti operasi militer tersebut bagi para taruna termasuk beliau, ialah untuk melatih bagaimana peperangan sesungguhnya. Operasi Militer tersebut berlangsung selama tiga bulan, tetapi Alhamdulillah tidak ada korban jiwa dari para taruna selama operasi militer tersebut berlangsung.  Selain pengalaman dari operasi militer, pengalaman berkesan bagi beliau salah satunya adalah pada saat beliau dan taruna-taruna lainnya ditugaskan untuk memperbaiki rel kereta api di pulau Sumatera tepatnya dari kota Sawahlunto sampai ke kota Padang Panjang. Rel kereta api tersebut rusak dan terputus akibat dari ulah para pemberontak, padahal rel kereta api tersebut diperuntukkan untuk kereta yang mengangkut batu bara. Batu bara tersebut sangat diperlukan pada saat itu untuk keperluan Pembangkit Listrik Tenaga Bahan Bakar Fosil, sehingga batu bara tersebut sangat diperlukan untuk keperluan listrik masyarakat sekitar. Kota Sawahlunto memang terkenal akan kekayaan batu bara nya.

Setelah beliau tamat dari pendidikan tersebut, ia dilantik menjadi Letnan Dua Angkatan Darat, kemudia beliau ditempatkan di Batalyon Zeni yang berlokasi di kota Medan, Sumatera Utara. Selama karir beliau menjadi tentara, beliau sering berpindah-pindah lokasi tempat tinggal dari satu kota ke kota lainnya. Setelah menempat di Medan, beliau dipindahkan ke Ujung Pandang, atau yang sekarang bernama kota Makassar di provinsi Sulawesi Selatan. Dari Ujung Pandang, Sulawesi Selatan, beliau lagi-lagi dipindahkan lagi ke kota Jakarta, tidak lama saat beliau berada di Jakarta, beliau ditugaskan menjadi Wakil Komandan bidang Pendidikan di kota Bogor, Jawa Barat. Pengalaman beliau terus bertambah dengan ditambah adanya kesempatan untuk beliau ditugaskan untuk pergi ke Amerika. Tepatnya di Monterey, California, beliau disekolahkan dan dilatih kembali kurang lebih selama 4 bulan. Sepulangnya beliau ke tanah air, beliau dimasukkan kedalam Staf TNI Angkatan Darat, di Markas Angkatan Darat Pusat. Selama karir beliau sebagai angkatan darat, tidak sedikit pengalaman-pengalaman yang berharga yang telah beliau lewati. Beliau berkata bahwa beliau juga pernah membuat jembatan di Langga Payung yang merupakan suatu desa yang ada di kecamatan Sungai Kanan, Kabupaten Labuhanbatu Selatan, provinsi Sumatera Utara. Jembatan tersebut kira-kira memiliki panjang sekitar 80 meter. Selain pengalaman membuat jembatan, beliau juga memiliki pengalaman dalam membuat jalan. Beliau pernah membuat jalan dari Kabupaten Kolaka ke kota Kendari. Tidak hanya pengalaman membuat konstruksi-konstruksi, beliau juga pernah bertugas menjaga sepanjang jalan di Matraman pada peristiwa Malari (Malapetaka Limabelas Januari) dan pada saat itu beliau menjadi Komandan Batalyon Zeni Konstruksi 11.

Pangkat perwira yang terakhir beliau sandang adalah Perwira Tinggi Angkatan Darat atau yang sering disebut Pati. Perwira Tinggi (Pati) merupakan pangkat perwira yang tertinggi dalam organisasi militer. Di perwira tinggi, beliau menyandang pangkat sebagai Brigadir Jenderal TNI (BrigJen).

Peranan:
Seperti yang telah disebutkan beberapa di dalam biografi di atas, beliau dari kecil sudah mengalami ricuhnya peperangan antara Belanda dan Indonesia. Walaupun tidak menyaksikan peristiwa-peristiwa tersebut secara langsung, beliau mendengar dan mengalami keadaan yang tidak aman tersebut. Beliau sempat berpindah-pindah tempat tinggal selama beberapa kali demi menghindar dari kericuhan yang disebabkan oleh peperangan. Selain itu, pada saat beliau sudah menginjak usia remaja, beliau memutuskan untuk mengikuti keinginan dirinya untuk menjadi tentara Indonesia. Selama menjadi tentara, beliau melakukan banyak hal yang berguna bagi masyarakat sekitar. Diantaranya, beliau berjasa dalam pembetulan rel kereta api yang seharusnya berfungsi untuk mengangkut batu bara yang akan digunakan sebagai pembangkit listrik tenaga bahan bakar fosil pada saat beliau menjadi taruna angkatan darat. Kemudian, beliau merupakan salah satu tentara yang ikut dalam operasi militer di Padang melawan para pemberontak dari PRRI.

Tidak hanya berperan pada saat beliau menjadi taruna angkatan darat, setelah beliau tamat dari pendidikan di angkatan darat dan meniti karir beliau sebagai tentara, beliau pernah membangun beberapa jembatan, jalan, dan lainnya seperti pembangunan jembatan yang ada di Langga Payung dan pembangunan jalan Kolaka-Kendari. Selain pembangunan, beliau juga pernah menjadi Komandan Batalyon Zeni Konstruksi 11 dan mengkondisikan atau menjaga jalan di sekitar daerah Matraman pada saat peristiwa Malari (Malapetaka Limabelas Januari). 

No comments:

Post a Comment