Wednesday, 29 May 2013

Tugas-2 Biografi Risyaddina Ihsani Nugraha XI IPA 1

ADI SASONO, INDONESIA'S MOST DANGEROUS MAN IN 1998
Biografi
Adi Sasono lahir di Pekalongan, Jawa Tengah pada tanggal 16 Februari 1943. Orangtuanya, Adnan Martawiredja dan Sasinah Ranuwihardjo, masih dikaruniai tujuh anak lainnya. Ayahnya adalah penggerak pembaruan warga pribumi dan non pribumi di Pekalongan. Kedua orangtuanya juga merupakan  aktivis sosial terutama dalam bidang pendidikan serta penyantunan anak yatim dan fakir miskin. Kepedulian besar yang dimiliki oleh ayah dan ibu Adi Sasono terhadap kegiatan kemasyarakatan khususnya bersama rakyat yang masih kurang mampu menurun pada jiwa Adi Sasono sendiri.
Cucu dari Mochammad Roem, wakil Indonesia dalam Perjanjian Roem-Royen ini setelah lulus dari Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) melanjutkan pendidikan di Institut Teknologi Bandung (ITB), jurusan Teknik Sipil, tahun 1961 sampai dengan 1966. Selama tercatat sebagai mahasiswa di salah satu institut terbaik di Indonesia, beliau tergabung dalam berbagai organisasi. Dan dalam organisasi-organisasi tersebut pun beliau tidak hanya bertindak sebagai orang sipil, namun juga memangku jabatan-jabatan sebagai berikut:
1962-1963 Sebagai Sekretaris Jenderal Himpunan Mahasiswa Sipil ITB
1962-1964 Sebagai Pimpinan Redaksi Harian Berita-Berita ITB
1964-1965 Sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Indonesia di Bandung
1965-1966 Sebagai Ketua Dewan Mahasiswa ITB
1966-1967 Sebagai Sekretaris Jenderal Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI)
1966-1967 Sebagai Ketua Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) di Bandung
Kemudian beliau meneruskan studinya ke Philips Las Centrum Utrecht Netherland, dengan major Industri Welding. Di tahun 1998 beliau dilantik sebagai Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia, dan turun jabatan pada tahun 1999.
Beliau mempersunting aktivis dari Universitas Padjajaran, Mala Maria, dan dianugerahkan lima orang anak, yaitu Arya Wibisono, Aji Erlangga, Dewi Saraswati, Aditya Krisnamurty, dan Gita Aryanti.  
Walaupun mantan menteri ini sempat menghabiskan waktunya di PT Krama Yudha sebagai yang jika diukur ketika itu membuatnya berpenghasilan tinggi, namun beliau memilih untuk aktif  dalam jalur LSM yang lebih merdeka.
Saat ini, beliau bekerja sebagai Presiden Direktur PT iPasar Indonesia juga bekerja di CO-OP Indonesia Foundation. Selain itu beliau juga aktif sebagai:
1967-sekarang Anggota Dewan Pembina Pusat Pengembangan Agribisnis
2000-sekarang Ketua Umum Induk Koperasi PERNETWORK
2000-sekarang Ketua Badan Wakaf Pusat Peranserta Masyarakat (PPM)
2001-sekarang Komisaris Utama PT Republika Media Mandiri pada Harian Republika
2007-sekarang Anggota Dewan Pembina Perkumpulan untuk Peningkatan Usaha Kecil (PUPUK) di Bandung
2007-sekarang Anggota Dewan Penasehat Masyarakat Ekonomi Syariah
2007-sekarang Anggota Dewan Penasehat Forum Komunikasi ESQ
2008-sekarang Ketua Umum Dewan Rempah Indonesia
2008-sekarang Ketua Dewan Pembina Bali International Training and Development Center
2009-sekarang Ketua Penasehat Dewan Koperasi Indonesia (DEKOPIN)
2009-sekarang Ketua Dewan Pengawas Koperasi Simpan Pinjam Dana Nusantara
2009-sekarang Ketua Dewan Pengawas Koperasi Coop Indonesia
2010-sekarang Ketua Umum Koperasi Syariah 165
2010-sekarang Anggota Dewan Kehormatan Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI)
2011-sekarang Ketua Umum Koperasi Ekonomi Rakyat Nusantara
2012-sekarang Chairman Waterland Asia Investment PTE. LTD.

Sang Pembela Rakyat Kecil
Pada hari Rabu tertanggal 8 Mei 2013 lalu,  saya berkesempatan untuk menemui Bapak Adi Sasono, mantan Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah kelima, juga tentu berbincang-bincang dengan beliau. Hal ini dilakukan untuk memenuhi tugas sejarah yang ketiga.
Sekitar pukul setengah tiga sore saya bersama kakek dan ibu sampai di kantor Pak Adi Sasono yang terletak di bilangan Jakarta Pusat. Awalnya, jujur saja, saya merasa kurang percaya diri untuk menghadapi beliau. Bukan apa-apa, karena saya akan berbicara dengan seorang mantan menteri, saya takut perbincangan akan terbatas pada apa yang akan saya tanyakan dalam wawancara. Saya khawatir perbincangan tidak akan mengalir begitu saja.
Karena kantor Pak Adi Sasono berada di lantai 9 gedung yang bersangkutan, lima belas menit setelah kedatangan kami pun naik. Pak Adi menyambut kami dengan sangat baik. Kemudian kami pun masuk ke ruangan tempat wawancara akan berlangsung.
Bukannya langsung memulai sesi wawancara, Pak Adi Sasono justru menanyakan kabar saya, ibu dan kakek saya, dan menanyakan keseharian kami. Hal ini membuat kekhawatiran dan ketidakpercayadirian saya berkurang sedikit demi sedikit. Dan saya pun memiliki firasat bahwa percakapan ini tidak akan seformal yang saya kira.
“Begini, Pak, akan ada beberapa pertanyaan yang ingin saya ajukan berkaitan dengan tugas sejarah yang diberikan oleh guru saya,” begitu saya ungkapkan kepada beliau.
“Oh, memang seperti apa tugasnya?” tanya Pak Adi.
“Jadi kami diminta untuk mewawancarai tokoh yang memiliki kontribusi pada negeri ini dalam level nasional,” jelas saya.
Dengan begitu perbincangan pun dimulai. Karena Bapak Adi Sasono merupakan mantan menteri dalam pemerintahan negeri ini, saya pun langsung menanyakan berbagai macam hal yang berkaitan dengan kementrian semasa beliau menjabat, terutama tentang persoalan ekonomi Indonesia. Ketika itu, banyak yang menuntut Ir. B.J Habibie untuk turun karena “belum ada tanda pemulihan ekonomi” (menurut kepala berita di Bisnis Indonesia) dan “ketiadaan legitimasi politik menghambat perbaikan ekonomi” (menurut kepala berita di Harian Ekonomi Neraca). Dikatakan bahwa Habibie tidak perlu diganti, asalkan memegang teguh beberapa azas ekonomi, misalnya dengan tidak mengobral subsidi, tidak melakukan politik populisme yang murah (semua tuntutan dilayani). Subsidi sebesar 8,5% dari PDB dianggap terlalu besar oleh banyak pengamat. Ada yang menyatakan bahwa defisit anggaran dapat dikatakan normal jika besarnya sampai 3% dari PDB. Kalau telah mencapai 3,5%-5% sudah menjadi lampu kuning bagi pemerintah dan apabila lewat dari 5% tentu menjadi beban yang sulit sekali atau bahkan tidak dapat dipikul.
Di tahun 1998, CGI memberi bantuan sebesar $14 milyar untuk membiayai defisit negara secara non-inflator. Dinyatakan pula bahwa pemerintah yang populis hanya akan meninggikan inflasi. Tentu saja mengingat persoalan ini, akan membuat orang menghubungkannya dengan Bapak Adi Sasono, karena beliau adalah Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah pada periode itu. Deklarasi yang tersebut di atas secara kontan dikritik olehnya. Beliau berpesan, “sebelum membuat pernyataan, para ekonom haruslah turun terlebih dahulu ke lapangan, ke desa, lihat penderitaan rakyat. Kondisi perekonomian saat ini* merupakan warisan rezim terdahulu dan kini kami berusaha keras untuk memperbaikinya.”
*dikutip dari Business News 10 Agustus 1998
                Ketika Bapak Adi Sasono menjabat, beliau mencanangkan program ekonomi kerakyatan. Ekonomi kerakyatan pada dasarnya merupakan suatu sistem yang identik dengan ekonomi Pancasila, yaitu ekonomi yang digerakkan berdasaarkan optimalisasi pemanfaatan sumber daya alam, sumber daya teknologi, sumber daya permodalan, sumber daya manusia (sebagai pelaksana dan pakar) yang ada sebesar-besarnya untuk kepentingan masyarakat banyak. Pembangunan ekonomi yang berpihak kepada rakyat ini diindikasikan dari berbagai ciri seperti:
1.       Alokasi anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) dan anggaran pendapatan belanja daerah (APBD) minimal 51% untuk program kegiatan yang mensejahterakan rakyat
2.       Keuntungan yang diperoleh negara dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) minimal 51% dialokasikan untuk kesejahteraan rakyat
3.       Distribusi dana tersebut menyebar ke setiap desa di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan variasi antardesa tidak melebihi 10%
4.       Mulai dialokasikan anggaran khusus untuk mengantisipasi peningkatan resiko gagal para petani akibat climate change dengan terdistribusi ke seluruh desa di Indonesia berupa Jaminan Keberhasilan Berusaha
5.       Peningkatan proporsi Jaminan Sosial kepada manula, anjal, orang cacat, pengemis, gelandangan, pemulung dan tenaga kerja yang belum mendapat kesempatan kerja
6.       Menerapkan pemberdayaan partisipatif yang lebih intensif
7.       Luasan kepemilikan lahan untuk rakyat keseluruhan dengan variasi tidak lebih dari 10%
                Hal tersebut bukannya tanpa halangan. Selama beliau menjadi menteri koperasi, banyak orang yang kurang atau bahkan tidak suka dengan sistem ekonomi kerakyatan ini. Siapa lagi jika bukan para konglomerat. Mereka yang berada di atas angin tentu khawatir pundi-pundi yang mereka kumpulkan; untuk mereka sendiri, akan memudar dan hilang seiring dengan program Bapak Adi Sasono yang berjalan mulus. Sempat pula beliau dijuluki sebagai Indonesia’s Most Dangerous Man oleh majalah Far Eastern Economic Review Desember 1998. Ketika saya tanya bagaimana rasanya diberi cap seperti itu, beliau menanggapinya dengan sikap santai.
                “Saya dianggap berbahaya, mestilah oleh orang-orang yang takut aset-asetnya jatuh, karena kita ketika itu memihak rakyat kecil. Sebisa mungkin rakyat lah yang kita dahulukan. Mereka yang di bawah tidak bisa terus-menerus di bawah karena sebenarnya mereka memiliki potensi besar untuk menjadi sumber daya manusia yang berkualitas.”
                Lepas dari julukan tersebut, Pak Adi pun dikatakan akan mencalonkan diri menjadi presiden untuk periode kepemerintahan berikutnya. Namun beliau secara terang-terangan menyatakan bahwa untuk sekedar mencalonkan diri sebagai orang nomor satu di negeri ini perlu mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Dengan nada setengah bergurau, “Jika tidak korupsi bagaimana bisa kita membayar uang dengan jumlah besar seperti itu?” lalu beliau lanjut bercerita, “Dulu sewaktu menjabat, gaji yang didapat hanya berkisar 5 juta rupiah. Padahal sebelum saya naik bisa sampai 20 juta.”
Ketika ditanya apakah tertarik untuk masuk ke dunia politik lagi dan kembali memberikan kontribusi sebagai salah satu pemimpin dalam pemerintahan, beliau menjawab dengan tegas, “Tidak. Hidup saya (di dunia politik) sudah cukup sampai disitu. Sekarang saya hanya ingin melihat negeri ini bangkit melalui tangan-tangan jiwa muda yang memiliki semangat dan pemikiran baik untuk membuat Indonesia kita ini lebih maju.”
              Pak Adi Sasono pun berpesan kepada kita, untuk menjadi sukses yang menjadi kuncinya adalah tiga hal; jujur, ide, dan network. Ide tentulah diperlukan sebab tanpa berbagai pemikiran, kita takkan dapat menghasilkan apapun. Namun ide tidak akan berjalan baik tanpa network. Membangun hubungan dengan orang lain adalah hal yang wajib karena kita tak dapat bergantung pada diri kita seorang saja. Dan bagaimanapun, segala hal yang kita lakukan tidak akan artinya tanpa kejujuran. Kejujuran lah yang membuat kita dipercaya orang lain, dan kepercayaan itulah yang akan menjadi akar dari kesuksesan kita kelak, yang tentu saja dibarengi dengan usaha dan doa.

No comments:

Post a Comment