Friday, 31 May 2013

Tugas 2 - Biografi Rizky Agung Prabowo XI IPA 2

Untuk memenuhi tugas sejarah ini, saya diberi kesempatan untuk mewawancarai nenek Erna di kediamannya di daerah Petukangan. Nenek Erna lahir di Padang pada tanggal 20 Juni 1947. Beliau merupakan 5 bersaudara yang terdiri dari 4 perempuan dan 1 laki-laki.

Pada tahun  1953 merupakan tahun pertama beliau bersekolah. Beliau bersekolah di SR(Sekolah Rakyat) atau pada saat ini setara dengan sekolah dasar. Sekolah ini sama seperti sekolah dasar pada masa sekarang ini, dengan masa pendidikan selama 6 tahun. Ketika itu,belum terdapat buku-buku paket seperti yang digunakan oleh siswa sekarang ini. Alat tulis dan keperluan sekolah lainnya pun masih sangat terbatas. Beliau menduduki bangku SMP di tahun 1959. SMP pada saat itu juga tidak jauh berbeda dengan sekarang, yaitu dengan masa pendidikan selama 3 tahun. Setelah SMP, beliau tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya, yakni SMA. Karena, pada saat itu di daerahnya rata-rata orang menikah dini di umur 19 tahun. Beliau juga mengatakan bahwa pada saat itu listrik belum masuk ke daerahnya, yang menyebabkan informasi sulit di dapat. Tidak ada televisi, telepon, dan radio. Informasi di dapat melalui berita yang dibawa oleh orang-orang di daerahnya yang sehabis pulang merantau.

Beralih dari bidang pendidikan, beliau pernah mengalami masa-masa sulit ketika perang PRRI. Perang ini terjadi ketika beliau masih menganyam pendidikan di bangku sekolah dasar. Oleh karena itu beliau tidak berkontribusi secara langsung dikarenakan usianya yang masih tergolong anak-anak. Pernah saat beliau sedang bermain bersama teman-temannya di sekolah, ada sebuah pesawat yang ukurannya cukup besar melintas diatasnya. Mereka pun bersorak-sorai karena jarang ada pesawat  yang melintasi daerah itu pada saat itu. Tiba-tiba pesawat itu malah menembaki sebuah daerah di dekat situ. Kembali ke perang PRRI. Sebelumnya, saya akan membahas sedikit tentang perang PRRI. PRRI merupakan singkatan dari Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia. PRRI dilatarbelakangi oleh pertentangan antara pemerintah daerah dengan pemerintah pusat (Jakarta) yang dideklarasikan pada tanggal 15 Februari 1958 dengan keluarnya ultimatum dari Dewan Perjuangan yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Ahmad Husein di Padang, Sumatera Barat, Indonesia. Dan kemudian gerakan ini mendapat sambutan dari wilayah Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah, dimana pada tanggal 17 Februari 1958 kawasan tersebut menyatakan mendukung PRRI.
Konflik yang terjadi ini sangat dipengaruhi oleh tuntutan keinginan akan adanya otonomi daerah yang lebih luas. Selain itu ultimatum yang dideklarasikan itu bukan tuntutan pembentukan negara baru maupun pemberontakan, tetapi lebih kepada konstitusi dijalankan. Pada masa bersamaan kondisi pemerintahan di Indonesia masih belum stabil pasca agresi Belanda. Hal ini juga memengaruhi hubungan pemerintah pusat dengan daerah serta menimbulkan berbagai ketimpangan dalam pembangunan, terutama pada daerah-daerah di luar pulau Jawa. 

Namun apa yang menjadi pertentangan ini, dianggap sebagai sebuah pemberontakan oleh pemerintah pusat yang menganggap ultimatum itu merupakan proklamasi pemerintahan tandingan dan kemudian dipukul habis dengan pengerahan pasukan militer terbesar yang pernah tercatat di dalam sejarah militer Indonesia. Pada saat itu keadaan ekonomi kian memburuk. Itulah yang dirasakan oleh beliau. Orang-orang juga tidak bisa bebas pergi kemana-mana karena tidak di semua daerah aman. Reaksi dari pemerintah pusat adalah dengan ditangkapnya tokoh-tokoh PRRI. Tidak semua tokoh dalam pemerintah pusat setuju dengan keputusan ini. Salah seorang yang menentang keputusan ini adalah Mohammad Hatta. Sebagai Wakil Persiden dia muncul ke depan menentang keputusan ini. Dia mengirim utusan ke Padang untuk menemui Ahmad Husein dan meminta agar Dewan Banteng menghindari konflik bersenjata dengan pemerintah pusat namun entah mengapa utusan ini tidak pernah sampai ke Padang. Karena pengiriman utusan gagal maka Mohammad Hatta berusaha untuk mendekati Persiden Soekarno agar mengurungkan niatnya agar tidak meletus perang saudara. Namun usaha ini juga gagal. Pada tanggal 20 dan 21 Februari 1958 serangan ke Padang dimulai. Serangan dipimpin oleh Kolonel Ahmad Yani dengan diangkat menjadi Komandan Komando Operasi 17 Agustus. PRRI mendapat dukungan rakyat Sumatra Tengah.

Serangan dilaksanakan. Pemerintah pusat menyerantg Padang. Padang dijatuhi bom-bom yang mengakibatkan kota ini hancur. Banyak rakyat padang yang mengungsi ke daerah Solok dengan membawa barang-barang seadanya yang dapat ibawa. Tokoh-tokoh PRRI ditangkap. PRRI mendapat dukungan Permesta. Akhirnya PRRI dapat ditumpas. Setelah PRRI berhasil ditumpas maka untuk mencegah munculnya pemberontakan serupa Suprapto diangkat menjadi Deputi Republik Indonesia Staf Angkatan Darat Untuk Wilayah Sumatra yang bermarkas di Medan. Peristiwa ini meninggalkan trauma bagi rakyat Sumatra. 

Demikian hasil wawancara saya dengan beliau. Kita sebagai generasi penerus bangsa harus bisa bangkit dan kuatkan mental agar bisa menjadikan Indonesia lebih baik untuk kedepannya. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat.



No comments:

Post a Comment