Thursday, 30 May 2013

Tugas-2 Biografi Samara Talia Pattiasina XI IPS 3


Puang Aziz, Menghilang 6 Tahun, Pulang Memakai Baju Loreng dan Membawa Ajudan

Jasa  para pejuang sangatlah berarti bagi kemerdekaan Indonesia. Tanpa mereka, Indonesia tidak akan terbebas dari penjajah seperti sekarang. Walaupun hanya menjadi sukarelawan atau hanya membantu sedikit, tetap harus kita hormati dan direnungkan.

Untuk memenuhi tugas sejarah, saya ditugaskan untuk mewawancarai seorang pejuang maupun pendampingnya. Untuk itu, pada tanggal 26 Mei 2013 saya mewawancarai seorang istri dari pejuang kelahiran Bone Sulawesi Selatan yang pernah menjabat beberapa posisi yang cukup penting di Indonesia ini. Narasumber saya adalah nenek saya sendiri. beliau bernama Mujinah Abdul Aziz. Beliau merupakan istri dari kakek saya, Alm. Abdul Aziz Bostan yang pernah berjuang mengangkat senjata ikut serta secara fisik terjun dalam memerdekakan Indonesia. Berikut penggalan penggalan cerita yang diceritakan nenek saya tentang kisah nenek sendiri dan kumpulan cerita cerita tentang kakek saya (Alm) Abdul Aziz Bostam pada saat masa perjuangan Indonesia dan setelah merdeka.

Sedikit tentang narasumber (nenek), beliau lahir pada 18 Agustus 1933 dimasa penjajahan Belanda. Beliau merupakan anak kedua dari dari empat bersaudara dari pasangan  suami istri Madda Daeng Nassa (ayah) dengan I Bali Daeng Ngerang (ibu) yang diberi nama Mujinah Daeng Madda. Sejak kecil, beliau sudah akrab dipanggil Daeng Ratu karena beliau terkenal dengan wajahnya yang sangat cantik  dengan sebutan rose from Mandar. Panggilan itu menjadi Puang Ratu jika sudah berkeluarga dan mempunyai keturunan.

Pada masa sekolah  saat itu Indonesia sudah dalam masa penjajahan Jepang. Semua sekolah diambil alih oleh Jepang. Maka dari itu puang ratu sempat bersekolah di  sekolah Jepang dimasa SD. Tetapi SMP mengambil sekolah Nasional dan melanjutkan ke SMK. Sampai menginjak kelas dua SMK puang ratu bertemu dengan kakek saya, (alm) Abdul Aziz (yang dulu akrab dipanggil Puang Aziz). Puang Ratu dan Puang Aziz berkenalan dan  4 bulan kemudian menikah diumurnya yang masih 17 tahun, Puang Ratu menikah walaupun belum tamat SMK. Setahun kemudian puang Ratu melahirkan putri pertama, selanjutnya 2 tahun kemudian  putri kedua. Berturut turut selang jarak antara tiap satu sampai tiga tahun. Lahir lah 8 putri putri (tante tante dan ibu saya).

Puang Aziz di cover majalah Karya
a. Biografi

Pada Tanggal 6 Juni 1926 di Kota Mara, Kabupaten Bone, lahirlah anak dari Bustam Daeng Masiga dan Halimah. Beliau diberi nama Abdul Aziz Bostam. Puang Aziz (panggilan kakek) merupakan anak ke tiga dari duabelas bersaudara.  Kakak kakak perempuannya adalah Fatimah dan Nadirah dua perempuan tangguh dan pintar sedangkan Abdul Aziz sendiri merupakan anak laki pertama yang mempunyai karakter yang berbeda dari saudara perempuannya, Adik adik Abdul Aziz total terdiri dari 4 laki laki dan 5 perempuan, yang pada saat Aziz remaja belum semua lahir.

Semasa puang Aziz kecil,  dia adalah seorang anak laki yang keras kepala dan sulit diatur. Setiap sore bersama anak anak laki di kampung selalu bermain perang perangan. Selalu saja sandal yang dipakai bermain tidak pernah utuh pulang. Ini membuat ibunya mengeluh karena sandal / sepatu habis. Maka tidak jarang Aziz kecil tidak memakai sandal jika bermain. Kejadian ini membuat  Aziz sering dimarahi ayah dan berakibat Aziz menjadi  pendiam.

Bapak beliau (daeng Masiga) adalah seorang  Kepala sekolah merangkap Guru di sekolah MULO di Makassar.  Daeng Masiga ayah beliau sangat disegani karena pada saat itu yang bisa menjadi seorang Kepala sekolah MULO tidak pernah orang daerah/lokal. Selain pintar, dg Masiga juga sangat disiplin dan tidak segan untuk memukul murid dalam rangka menegakkan disiplin.  Karena Puang Aziz adalah anak laki laki pertama , maka lebih dituntut  oleh ayahnya untuk menjadi  seorang anak yang pintar dan disiplin dibanding kakak perempuannya. Tidak jarang puang Aziz terkena pukulan kayu dan hukuman pelajaran.

Saat itu puang Aziz dapat bersekolah di Mulo karena kedudukan ayahnya. Bahasa Belanda menjadi bahasa pengantar disekolah itu sehingga puang sangat fasih berbahasa Belanda disamping bahasa lainnya yaitu bahasa Jepang, bahasa Indonesia dan bahasa daerah Makassar, Bugis.

Disekolah itu Aziz muda berteman dengan anak anak Jepang dan Belanda, (yang beberapa dari mereka menjadi teman politik dikemudian hari). Akan tetapi  puang melihat perbedaan sekolah Mulo dengan sekolah negri lainnya yang kebanyakan di isi oleh anak anak Indonesia.

Karena melihat dan merasakan perbedaan /diskriminasi perlakuan antara murid  keturunan dan local, puang tertarik untuk ikut dengan TRI (tentara Rakyat Indonesia) yang pada saat  itu aktif melawan Jepang dan Belanda. Hal ini sangat bertentangan dengan kemauan sang ayah yang berkeinginan anaknya menjadi guru. Pada saat itu kedudukan sebagai guru apalagi kepala sekolah adalah sangat dihormati/disegani dan sederajat dengan bangsawan / raja daerah.

b. Peranan

Maka dimulailah titik balik perjalanan seorang Abdul Aziz untuk menjadi dirinya sendiri. Dimulai dengan kondisi dimulainya pendudukan Jepang puang Aziz  pindah ke SMP Nasional ( SMP negri) sampai tamat. Hari hari dilalui dengan pertentangan dengan sang ayah, sehingga pada saat berumur 16 tahun setamat SMP, puang Aziz dengan diam diam berbekal keberanian dan ke nekatan seorang remaja, pergi dari tanah Sulawesi Selatan menuju tanah Jawa.  Puang ikut KRI bergerilya melawan Belanda, pada saat umur 16 tahun (thn 1942). Saat itu semua pria remaja aktif ikut memanggul senjata. Entah bagaimana puang akhirnya sampai di Jogja dan disana korps beliau ditangkap Belanda.  Alhamdulillah karena beliau fasih berbahasa Belanda maka beliau dilepas.

Sejak itu beliau aktif di tanah gerilya dan salah satu kenang kenangan yang paling berkesan adalah saat tertembak dan mengenai tangan kiri beliau. Peluru menembus tangan dekat nadi sampai berlubang. Dan sampai akhir hayatnya, cacat tersebut tegas membekas di tangan kiri beliau disertai cerita cerita seru mengenai perjalanan keluar masuk hutan dan kampung dikejar Belanda.

Ada cerita lucu yang mengenai perjalanan dihutan itu. Entah dimana karena terbawa arus pelarian, akhirnya sampailah di suatu desa. Korps istirahat di perkampungan penduduk yang baik hati. Akan tetapi keberadaan korps tercium oleh Belanda atau memang ada mata mata yang memberi informasi kepada musuh. Maka dikepunglah desa tersebut dan tentara lari kocar kacir. Puang Aziz baru terbangun dari istirahatnya dan tidak sempat melarikan diri. Maka beliau bersembunyi dibelakang pintu kamar mandi. Terdengar derap langkah tegas tentara tentara Belanda mendobrak dan memeriksa semua ruangan. Saat tiba dikamar mandi, pintu didobrak , kamar diperiksa dan ditembaki peluru ketempat yang dicurigai. Alhamdulillah tidak ditemukan siapa siapa disitu padahal puang berada tepat di belakang pintu yang di dobrak. Ternyata puang selamat atau tidak terasa oleh musuh  karena saat itu beliau sangat kurus. Sehingga berdiri dibelakang pintu pun tidak terlihat walaupun pintu dibuka lebar hampir menempel dinding. Terenyuh mendengarnya, tetapi begitulah pemuda pemuda saat itu.

Kondisi gizi dan pelarian yang tidak henti tidak membuat para pemuda jera. Walaupun tidak tertulis didalam buku sejarah, puang tidak merasa berat melaksanakan itu semua karena jiwa muda dan tekad mereka saat itu benar benar pantang menyerah dan ingin merdeka.

Karena kemampuan berbahasa Belanda pula yang beberapa kali menyelamatkan nyawa kelompok puang. Setiap saat ketemu pasukan Belanda, sang komandan meminta puang untuk berbicara dengan Belanda dan Alhamdulillah selamat. Akan tetapi puang punya satu kelemahan lagi yaitu tidak bisa berenang. Sementera sang komandan jago berenang, sehingga hanya puang lah yang selalu khusus di tolong/ dibantu oleh komandan pada saat menyebrangi sungai sungai. Sebagai bayaran menterjemahkan ke bahasa Belanda.

Detik detik peralihan dari jajahan Belanda ke Jepang tidak terlalu istimewa. Karena puang sadar, siapapun yang memegang kendali selain tentara Indonesia, tetap harus dilawan. Pada saat peralihan dari Belanda ke Jepang, sementara gerilya berhenti. Masing masing pemuda saat itu berpisah . Puang Aziz kembali ke markas dan mengikuti pendidikan militer di tanah Jawa.

Salah seorang tante pernah bercerita kepada nenek, mengenang masa kepergian puang aziz dari tanah Sulawesi. Seperginya puang, ibunya sangat sedih. Tetapi karena takut pada suami, jadi tidak diperlihatkan dan akhirnya sakit. Kemudian keluarga besar pindah ke Pare Pare. Enam tahun sejak Puang Aziz kabur dari rumah, keadaan ayah (Daeng Masiga) juga sakit sakitan. Mungkin terpikirkan dan khawatir karena keadaan kondisi perang dan tidak adanya kabar dari si anak. Tante teringat suatu hari saat ayah tidak bisa bangun karena sakit, tiba tiba ada mobil singgah di depan rumah. Muncullah puang Aziz dari mobil berseragam loreng tentara didampingi seorang ajudan.  Daeng Masiga menjadi sangat lega , begitu juga saudara saudara lainnya, karena selama ini tidak ada kabar. Apalagi kondisi saat itu yang sangat mengkhawatirkan.

Lucunya, puang Aziz juga kaget karena baru berjumpa dengan adik baru yang tidak dia kenal karena kepergiannya yang cukup lama. Sejak itu, ayah Daeng Masiga merelakan anaknya menjadi tentara (hanya puang Aziz yang menjadi tentara , adik dan kakak beliau melanjutkan pendidikan dan beberapa dari mereka bersaudara menjadi dosen di beberapa universitas / institusi).

Sejak saat itu, puang Aziz meninggalkan tanah Sulawesi dan meneruskan karirnya di Jawa.walaupun demikian, beliau secara rutin tetap mengunjungi keluarga di Sulawesi. Pada kunjungan di tahun 1951 itulah puang bertemu dengan bunga dari tanah Mandar.  Karena tuntutan tugas maka tidak lama berkenalan, langsung mengajukan lamaran untuk menikahi puang Ratu.

Kehidupan Tentara jaman itu berpindah pindah, sehingga anak anak beliau lahir di beberapa kota yang berbeda. Jenjang karir beliau sejak kemerdekaan sangat berkaitan dengan strstegi dan pendidikan. Ternyata walaupun bergerak di bidang militer, ternyata jiwa pendidik melekat di darah beliau.

Dari catatan riwayat hidup puang, saat berumur 24 tahun beliau menjadi anggota seksi urusan tawanan perang dikarenakan kemampuan beberapa bahasa . Setelah itu beliau menjadi kepala bagian territorial salah satunya adalah pengadaan sandang tentara. Nenek juga sempat bercerita, saat  puang Aziz diberi tanggung jawab pengadaan kain baju tentara, nenek yang ditugasi menggunting kain kain tersebut (jumlahnya  puluhan roll besar) ukuran  tertentu dan dibagikan ke pos pos. Sisa kain dikumpulkan, dijahit dan untuk dibuat baju dan celana dalam anak anak tentara lainnya.

Piagam Puang Aziz pada saat
lulus dari sekolah AD
Dimulai tahun 1954, puang Aziz mulai lebih konsentrasi di bidang pendidikan militer dan setahun kemudian menjadi Insrukstur di PPI Koplat Bandung. Selanjutnya berpindah pindah kota antara Makasar, Bandung dan Jakarta.

Kehidupan keluarga tentara mulai teruji lagi saat menjelang 1965 – G30S PKI. Nenek bercerita tentang perpisahan selama lebih dari setahun dan tidak mendapat kabar. Karena kesimpang siuran politik saat itu disertai ancaman terhadap militer, maka sempat komplek tempat tinggal keluarga militer tidak diperbolehkan menyalakan lampu dan pemberlakuan jam malam selama setahun. Saat saat menanti kabar tentang keselamatan puang Aziz adalah hal yang paling menghawatirkan bagi para keluarga yang hidup di komplek militer.

Piagam Puang Aziz setelah
lulus dari sekolah militer
di USA
Puang Aziz sendiri saat itu bergerilya terhadap teman sendiri, Sulit membedakan mana lawan dan siapa kawan.  Sempat  difitnah dan melarikan diri ke gunung selama beberapa bulan. Saat itu benar benar tidak terlihat ujung perjuangan sampai dimana dan kemana arahnya.

Pada akhirnya masa kritis tersebut bisa dilewati dan mulai kembali ke masa pembangunan.  Puang sempat mengambil pendidikan militer dan management di USA, beliau juga mendapat kesempatan bertemu dan saling mengunjungi teman teman ex MULO.

Alhamdulillah diberkahi kesehatan, sehingga puang sanggup memikul beberapa tugas sebagai TNI yang dibebankan antara lain SUAD 2, Pangdam Hasanuddin, Danjen Kobangdiklat, Aster Kasad, Aster Hankam, dan terakhir  sebagai Dubes Indonesia untuk New Guinea. Beliau juga sempat aktif di DPR / MPR
Piagam Puang Aziz setelah menjadi Dubes di New Guinea

Beliau menghembuskan nafas pada konfrensi Dubes Asia Pasific di Manila tahun 1982 pada usia 56 tahun.
Kumpulan Medali Puang Aziz 
Puang Aziz bersama Pak Harto
 












No comments:

Post a Comment