Thursday, 30 May 2013

Tugas-2 Biografi Sarah Astari XI IPS 3

“Kakek Riadji: Dari Kenek, Hingga G 30 S PKI”


            Sejarah merupakan bagian yang tak bisa terlepaskan dari hidup manusia.  Kita mendapat pelajaran yang sangat banyak dari sejarah.  Bukan hanya pelajaran secara akademik yang kita dapatkan di sekolah, namun juga pengalaman pribadi serta pengalaman-pengalaman orang lain yang membuat kita belajar, mengambil hal-hal yang baik, dan tidak mengulangi hal-hal yang tidak benar.
            Pada kesempatan kali ini, kami, siswa kelas XI IPS tahun ajaran 2012/2013 SMA Labschool Kebayoran diberi tugas yang sangat menginspirasi: mewawancarai saksi atau pelaku sejarah.
            Untuk menyelesaikan tugas ini, saya dan beberapa teman sempat mengunjungi sebuah panti jompo di bilangan Rempoa, Tangerang Selatan.  Namun, karena alasan tertentu kami tidak dapat menemui para penghuni dari panti jompo tersebut.
            Akhirnya, saya, Sarah Astari kelas XI IPS 3, memutuskan untuk mewawancarai kakek saya sendiri.  Sebelumnya, ada beberapa kendala dalam proses wawancara ini.  Karena kakek dari ayah saya ini bertempat tinggal di Bandung, Jawa Barat, saya hanya berkesempatan mewawancari beliau melalui telepon.  Tapi, walau hanya melalui telepon, tetap tidak mengurangi rasa antusiasme saya mendengarkan beliau menuturkan kisah hidupnya.
            Berikut adalah hasil wawancara saya dengan kakek saya, Kakek Riadji.

A. Biografi
            Namanya Riadji Ajiwiyono. Biasanya saya hanya memanggilnya dengan sebutan Kakek Riadji.  Merupakan anak ketiga dari tujuh bersaudara dari pasangan Mutaji (Atmowiyoto) dan Kamilah (Musrini).  Ia lahir di Trenggalek, Panggul, Jawa Timur pada tanggal 14 Juli tahun 1935.  Tahun ini (2013) usianya Alhamdulillah telah mencapai 78 tahun.
            Kakek Riadji mengabiskan masa kecilnya di Panggul hingga lulus SD – sekitar usia 11 tahun.  Ia mengatakan bahwa zaman dahulu, ujian masuk SD cukup dengan memegang kuping sebelah kiri dengan tangan kanan melalui kepala.  Jika sudah sanggup, maka akan dinyatakan lulus ujian masuk SD.  Mudah ya?
            Setelah lulus sekolah setingkat sekolah dasar di panggul, beliau meneruskan pendidikannya di sekolah teknik bagian pertukangan kayu.  Sekolah tersebut terletak tidak jauh dari Panggul karena saat itu, ayah dari Kakek Riadji merupakan kepala Pasar Panggul.  Ia lulus dari sekolah pertukangan kayu hanya dalam waktu 2 tahun.
            Lulus dari sekolah pertukangan, ia sempat berhenti menuntut ilmu dan memutuskan untuk bekerja sebagai kenek kendaraan umum.  Kondisi pada saat itu ketika ia harus membantu ibunya dan bertanggung jawab atas adik-adiknya, memaksa ia mencari dan mengumpulkan tambahan uang sendiri untuk melanjutkan pendidikan ke bidang selanjutnya.
            Setelah memiliki uang yang cukup, beliau memutuskan untuk menuntut ilmu di sebuah sekolah montir yang terletak di Surabaya.  Semasa belajar di sekolah montir, Kakek Riadji merupakan murid yang pintar.  Ia lulus dengan menggenggam sertifikat sebagai “Supir & Montir”, yang pada normalnya orang-orang hanya bisa mendapatkan salah satu dari dua predikat tersebut – Supir saja atau montir saja.
            Modal sertifikat tersebut ia gunakan untuk melamar kerja menjadi supir ke Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut yang pada saat itu bernama ABRI.  Ia melamar menjadi karyawan di Angkatan Laut saat itu bersama salah satu adiknya.  Kakek Riadji diterima menjadi karyawan di Angkatan Laut sebagai supir dan montir.
            Setelah beberapa tahun bekerja di Angkatan Laut, beliau mulai tertarik untuk menjadi tentara yang sebenarnya dan memutuskan untuk mengikuti ujian seleksi menjadi Angkatan Laut bersama sang adik.  Tetapi, karena saat itu usia Kakek Riadji telah mencapai 25 tahun dan usia tersebut dianggap terlalu tua untuk tentara pangkat pertama, maka ia tidak lulus ujian seleksi Angkatan Laut, sementara sang adik lulus dan menjadi tentara Angkatan Laut.
            Kakek Riadji tidak patah semangat.  Selanjutnya ia mengikuti seleksi masuk ABRI Angkatan Darat (Baret Hijau) dan lulus. Banyak kisah-kisah yang menarik, menyenangkan, lucu tetapi menginspirasi ketika beliau mengabdi menjadi ABRI.  Ia sempat ditugaskan dalam misi Pembebasan Irian dan bertugas menjaga perbatasan Indonesia pada masa G 30 S PKI tahun 1965.
            Ada cerita mengharukan ketika beliau masih mengabdi menjadi tentara.  Saat itu Kota Bandung (lokasi asrama tempat ia bertugas) sedang dalam keadaan siaga perang.  Namun, suatu hari, komandan batalyon menghampiri Kakek Riadji dengan kepala menunduk sambil memegang sebuah surat.  Ternyata, surat itu adalah surat yang dikirim dari kampung halamannya di Trenggalek yang mengabarkan bahwa ayahanda dari Kakek Riadji telah meninggal dunia.
            Namun, karena ia sedang mengabdi kepada negara, ia memutuskan untuk tetap di Bandung dan mengikhlaskan kepergian orang tua beliau meski tidak ikut mengantarkan ke peristirahatan terakhirnya.  Tetapi, karena prestasi dan kegigihan Kakek Riadji pada masa sebelum-sebelumnya membuat sang Dan-Yon memaksa Kakek Riadji untuk pulang. Dengan segera sang Dan-Yon memanggil ajudannya dan meminta secepatnya mengeluarkan surat jalan atas nama Kakek Riadji untuk mengambil senjata di Trenggalek.  Ini sebenarnya hanya taktik sang Dan-Yon agar Kakek Riadji mau tidak mau harus pergi ke kampung halamannya.  Kakek Riadji merasa terhormat karena diperlakukan seperti itu.
            Ketika ia sedang bertugas di perbatasan antara Kalimantan Barat dengan Malaysia juga banyak kisah-kisah yang menginspirasi.  Pada masa tugas itu, Kakek Riadji memiliki satu motto: “Senjata adalah istri pertama. Senjata harus disisakan satu buah peluru, agar dapat segera bunuh diri dari pada harus masuk ke negara Malaysia.”
            Sebagai pemimpin kelompok pada saat itu, Kakek Riadji dapat menjalin hubungan yang sangat baik dengan orang setempat yaitu suku dayak.  Tempat tinggal para tentara kelompok yang dipimpin oleh kakek adalah lokasi bekas pemukiman orang-orang Cina yang ditinggalkan pemiliknya mengungsi karena tindakan brutal suku Dayak menjarah barang-barang mereka.
            Pernah pada suatu hari, komandan kakek menemukan sesosok jasad wanita di hulu sungai.  Ternyata wanita tersebut merupakan salah satu anggota dari Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) suruhan Partai Komunis Indonesia (PKI).  Jasad tersebut ditemukan dalam kondisi leher dan kaki terpotong.  Kakek Riadji menyimpulkan itu adalah perbuatan suku dayak yang bermain hakim sendiri karena Gerwani adalah ‘musuh’.  Kakek dan 2 orang dari suku dayak yang mengikutinya kemudian menguburkan jasad wanita tersebut di dekat sungai dengan kondisi makam seadanya.  Kemudian Kakek mendoakannya dengan doa-doa Islam walaupun kakek tidak mengetahui sebenarnya apa agama yang dipeluk oleh wanita tersebut.
            Ada cerita yang lucu ketika Kakek ditugaskan di Jakarta.  Saat itu kakek sedang menjadi supir dari Komandan Batalyon dan sedang berkendara menggunakan kendaraan milik Dan-Yon untuk menjemput sang Dan-Yon di suatu tempat.  Sebenarnya, ada kode yang diberikan oleh supir Dan-Yon yaitu menyala-matikan lampu sorot jika di dalam mobil sedang ada sang Dan-Yon dan tidak melakukan apa-apa jika tidak ada Dan-Yon di dalamnya.
            Hari itu, kakek tidak menyala-matikan lampu sorot namun setiap prajurit yang sedang piket, sedang jalan, atau bahkan sedang bertugas di dalam gedung segera keluar dan melakukan hormat senjata.  Kakek Riadji hanya tertawa dan dengan santainya mengatakan bahwa tidak ada Dan-Yon di dalam mobil.  Tapi, hal itulah yang membuat Kakek Riadji merasakan dihormati dengan hormat senjata walaupun karena ketidaksengajaan.
            Pengalaman mengabdi kepada negara melalui bidang militer ini yang kemudia menjadi pengalaman paling tidak terlupakan.  Saking berharganya pengalaman tersebut, Kakek Riadji kemudian menamakan anak laki-laki pertamanya (ayah saya) dengan nama Bambang Heru Suseno.  “Heru itu artinya prajurit. Harapannya, sih, supaya dia jadi prajurit juga, tapi anak-anak kakek nggak ada yang mau jadi prajurit, hahaha,” tutur kakek.
            Setelah pengabdian yang terbilang cukup lama di ABRI, ia memutuskan untuk pensiun.  Seperti layaknya pensiunan biasa, ia mendapat uang bulanan setiap bulan sejumlah Rp 40.000,00 dan yang paling tinggi mencapai Rp 80.000,00.  Namun, dengan kondisi saat itu Kakek Riadji dan Nenek Een telah memiliki 4 orang anak, uang pensiun dengan jumlah tersebut belum bisa memenuhi keperluan sehari-hari keluarga tersebut.  Belum lagi ditambah dengan cicilan rumah yang pada saat itu masih dalam proses kredit.
            Kakek Riadji pun melamar pekerjaan sebagai security atau satpam di Kantor Pusat Telkom yang terletak di Kota Bandung, Jawa Barat.  Ia bekerja sebagai security selama kurang lebih 12 tahun.  Dalam waktu 12 tahun tersebut, seringkali Kakek Riadji diminta untuk menjadi pengawal pribadi para direktur utama PT Telkom yang menjabat saat itu.  Kakek Riadji sendiri bingung, dari sekian banyak personil keamanan, mengapa ia yang dipilih oleh para direktur utama itu.
            Sekarang, beliau menetap di Bandung bersama istrinya yang merupakan nenek saya, yaitu Nenek Een, serta dengan anak perempuan terakhirnya yaitu Wiji Utami.

B. Peranan
            Semasa hidupnya, ada beberapa hal yang sangat menginspirasi dan membuat saya terkagum-kagum ketika mendengar penuturan beliau.  Seperti ketika dia menjadi salah satu dari pasukan yang dikirim ke Indonesia bagian Timur untuk misi Pembebasan Irian Barat (TRIKORA).  Pada misi tersebut, Kakek Riadji yang masih menjadi tentara tingkat awal tidak diterjunkan langsung dalam pelaksanaannya.  Beliau ditugaskan di Pulau Sulawesi, menjadi bagian persiapan untuk misi Pembebasan Irian Barat.  Biarpun begitu, beliau tetap bangga karena dapat berkontribusi dalam misi tersebut.
Kakek Riadji juga pernah ditugaskan untuk menangani pemberontakan DI/TII yang berpusat di Jawa Barat, tepatnya daerah sekitar Garut dan Ciamis.  Saat itu, pemimpin DI/TII yang bernama Kartosuwiryo mencetuskan bahwa ia ingin menjadi presiden dan mengubah Indonesia menjadi negara teokrasi dengan agama Islam sebagai dasar negara.  Tetapi pada akhirnya sang pemimipin DI/TII, Kartosuwiryo, ditangkap oleh tentara dan dieksekusi pada tahun 1962.
            Selain itu, ketika menjadi ABRI beliau sempat ditugaskan kurang lebih selama satu tahun di perbatasan Kalimantan Barat dengan Malaysia pada masa konflik Gerakan 30 September 1965 (G30SPKI).  Pada saat itu Kakek Riadji menjabat sebagai pemimipin kelompok dan tinggal selama setahun bersama liarnya hutan Kalimantan.  Saat pertama kali ditugaskan, Kakek Riadji harus rela meninggalkan Nenek Een yang saat itu sedang dalam keadaan hamil anak pertama dengan usia kandungan kurang lebih 3 bulan.  Selama bertugas di Kalimantan, Kakek beberapa kali mendapat kiriman foto dari Bandung yang berisi gambar Nenek dan keluarga di rumah.
            Pada tahun 1967, yaitu ketika acara Peresmian Waduk Jatiluhur, Kakek Riadji juga diminta oleh komandannya untuk menjadi pasukan pengawal presiden.  Beliau menuturkan bahwa saat itu ia melihat sendiri presiden kedua Republik Indonesia, Soeharto, turun dari pesawat.  Kakek Riadji merasa bangga karena merupakan suatu kehormatan bagi seorang prajurit untuk dipilih mendampingi presiden.
                       

            Pada akhir wawancara, Kakek Riadji berpesan kepada pemuda-pemudi Indonesia agar menuntut ilmu setinggi-tingginya selagi bisa, dan berbakti kepada orang tua karena sesungguhnya semua yang kita inginkan tidak akan tercapai tanpa restu dan doa dari orang tua.  Beliau juga menambahkan agar pemuda-pemudi menghargai jasa para pahlawan baik yang telah berjuang mendapatkan kemerdekaan maupun mereka yang menjaga kedamaian di bumi Indonesia ini.


Jakarta, Mei 2013

S.A.


No comments:

Post a Comment