Wednesday, 29 May 2013

Tugas-2 (Biografi) - Sarah Khairunnisa Adwiarto XI IPA 1


Mbah Suparman, Pejuang sejati tanpa pamrih.

“Halo Akung, boleh tolong bilangin ke om Heru gak, aku jadi wawancarain om Heru. Kalo besok wawancaranya gimana?”

“Oh, oke nanti Akung telfon dulu Heru nya. Nanti kalau sudah dikabarin lagi, akung telfon kamu ya Sar.”

“Oke makasih kung.”

Percakapan singkat dan mendadak di telfon antara saya dan kakek saya yang kerap saya panggil “Akung”. Saya menghubungi Akung tanggal 25 Mei 2013 dan keesokkan harinya, saat saya telfon kembali Akung saya, ia mengatakan bahwa Om Heru selaku narasumber dan anak dari seorang pahlawan yang tanpa pamrih ini di hari Minggu tanggal 26 Mei dapat meluangkan waktunya untuk berbagi kisah tentang Ayah nya ke saya. Betapa beruntungnya saya hari itu.

Di tanggal 26 Mei 2013, tepatnya pukul 12:30, saya beserta akung, eyang, ayah dan adik berangkat ke lokasi dimana kami akan bertemu Om Heru, yaitu di Taman Mini Square. Setelah itu, pada pukul 13:15 kami menunggu kedatangan beliau di sebuah restoran disana. Sambil menunggu, saya dan yang lain mulai memesan makanan dan minuman lalu duduk di meja makan. Setelah 5-10 menit, akhirnya Om Heru datang.

“Eh kok Om Heru sih? Akung Heru dong, dia kan sepupunya Eyang!” ucap Nenekku.

Setelah saya salaman, saya mengubah panggilan saya ke beliau. Setelah duduk di bangku depan saya dan sambil melahap makanannya, Akung Heru pun mulai bercerita dari benar-benar awal hingga akhir hayat Ayahnya.

Biografi


“Sebelumnya saya mau ngasih tau, kalau cerita-cerita yang akan saya ceritakan itu berasal dari teman serta kerabat seperjuangan beliau yang sering mampir ke rumah dulu, bukan dari bapak. Bapak jarang cerita”, kata Akung Heru.

Berawal dari nama ayahanda dari akung Heru yang bernama, Suparman. Karena merupakan ayahanda dari kakek jauh saya, maka saya memanggil beliau, Mbah Maman. Mbah Maman lahir pada tanggal 6 Juni 1922 di Salatiga, beliau memiliki kehidupan yang sangat sederhana pada masa kecilnya hingga akhir hayatnya. Mbah Maman ini adalah seorang anak dari tukang jahit yang menganut agama Kejawen asli. Agama Kejawen adalah ajaran spiritual asli leluhur tanah Jawa yang belum terkena budaya luar. Budaya luar yang dimaksud adalah Hindu dan Buddha. Pada saat pertama yang belum masuk ke tanah Jawa. Mbah Maman sejak kecil sangat berpegang teguh pada 6 filsafat yang dinamakan Filsafat Jawa. Filsafat ini terdiri dari:
  1. Ojo andar beni (Jangan merasa memiliki)
  2. Ojo ngasorake (Jangan merendahkan orang lain)
  3. Ojo dumeh (Jangan sok)
  4.  Ngluhur ke asmane wongtuo (Hormatilah yang lebih tua)
  5. Baktiyo gusti pangeran (Berbaktilah pada gusti pangeran*)
  6. Amemayu hayuning buwono (Peliharalah alam sekitar kita)


*Gusti pangeran pada poin kelima diartikan sebagai Tuhan Maha Esa.

Mbah Maman adalah murid tamatan Hollandsch Inlandsche School atau jika disetarakan dengan persekolahan jaman sekarang HIS setara dengan Sekolah Dasar. Sebetulnya, beliau sempat bersekolah di MULO untuk beberapa saat. Sekolah ini setara dengan SMP. Tetapi dikarenakan Jepang dan Belanda sudah masuk saat itu, beliau harus berhenti dan tidak melanjutkannya lagi. Di usia remaja, beliau mulai mempelajari ilmu kanuragan yang berarti ilmu bela diri yang bersifat mistik, contoh pembelajaran ilmu kanuragan adalah belajar menghilang, belajar suatu ilmu sehingga jika ditembak tidak mati, dan sebagainya. Selagi mempelajari ilmu kanuragan tersebut, beliau juga menjalankan hobi beliau yaitu suka bertapa di Gua Selarong, Gunung Lawu. Bertapa ini bertujuan untuk mencari jati dirinya (mencari tau siapa dirinya, dari mana asalnya dan mau kemana dirinya) atau dalam bahasa Jawanya, Paraning Dumadi. Beliau melakukan hobi ini hingga ia tua.

“Memang berapa lama sih kalo bertapa?” tanyaku.

“Dulu sih bisa sampe 40 hari puasa makan minum, tapi tidak sahur” sahut Akung Heru.

Gua Selarong juga merupakan Gua tempat markas gerilya Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa (1825-1830).

Kesaksian
Setelah keluar dari MULO, Mbah Maman sempat bekerja di Pegadaian. Tidak lama setelah itu, Mbah Maman direkrut menjadi prajurit PETA. Pada saat Jepang masuk ke Indonesia, sekitar tahun 1943 Mbah Maman menjadi Chudanco atau Komandan Pleton hingga pada saat proklamasi. Lalu pada tahun 1945, beliau menjadi Tentara Keamanan Rakyat atau yang dikenal sebagai TKR. Beliau bermarkas di Ungaran, Semarang, tepatnya di Batalion 10, Kompi C, Divisi 1. Pada saat itu, komandan divisi 1 adalah Soengkono. Mulai dari sinilah Mbah Maman memperjuangkan Indonesia melalui beberapa pertempuran seperti yang terjadi di Semarang, Ambarawa, Salatiga, Tengarang, Boyolali, dan di daerah Jawa Tengah bagian utara. Perang yang terjadi di Semarang kerap dikenal sebagai Pertempuran Lima hari di Semarang. Perang ini berisi serangkaian pertempuran antara rakyat Indonesia dan Jepang. Perlawanan rakyat Indonesia di perang ini adalah perlawanan terhebat menurut sumber yang saya baca. Pertempuran Lima Hari di Semarang ini disebabkan oleh larinya tentara Jepang dan tewasnya dr. Kariadi. Serta, perang yang terjadi di Ambarawa kerap dikenal sebagai Palagan Ambarawa. Peristiwa ini terjadi ketika pasukan sekutu dan NICA sampai di Ambarawa dan Magelang untuk membebaskan para tawanan tentara Belanda, para tawanan tersebut malah dipersenjatai sehingga menimbulkan kemarahan pihak Indonesia. Pada tanggal 12 - 15 Desember 1945, pertempuran ini berlangsung dengan sengit dan Indonesia meraih kemenangannya dengan merebut Ambarawa serta Sekutu dibuat mundur ke Semarang. Peristiwa ini diikuti juga oleh Kolonel Sudirman (pada saat itu, Jendral Sudirman masih berpangkat Kolonel). Selain itu, pada pertempuran di Salatiga, beliau bertindak sebagai komandan kompi di Tengaran.

 “Ada peristiwa menarik dan aneh pada saat Mbah Maman terkepung di Salatiga.”, kata Akung Heru ditengah keseriusannya.

“Wah apa?”, ucapku penasaran.

“Pada saat perang di Salatiga, beliau mensyaratkan atau memberi tahu anak-anak buahnya untuk tidak berpencar. Tidak boleh lebih dari 40 langkah dari tempat beliau berdiri. Setelah itu karena semua anak-anak buahnya menuruti apa yang diperintahkan oleh beliau, tidak ada satu pun yang tertembak ataupun terluka saat itu. Saya ingat bahwa ini diceritakan oleh anak buahnya sendiri”, Kata Akung Heru.

Saya hanya tertegun beberapa saat, lalu saya menanyakan kepada Akung Heru,
“Kok bisa kayak gitu? Hebat banget”

Lalu Akung Heru menjawab, “Mungkin ini adalah ilmu kanuragan yang pernah ia pelajari dulu. Sampai hari ini masih ada buku tentang ajaran-ajaran ilmu tersebut. Ia sangat tekun dulu saat mendalami ilmu itu.”

Saat diceritakan tentang hal itu, tiba-tiba ada hal yang terbayang di kepala saya.
“Wah, apa Mbah Maman belajar ilmu kanuragan gara-gara mau ikutan membela Negara ya? Bener-bener salut pada beliau”, kataku dalam hati.

Selain itu, pada saat menjadi anggota TKR, Mbah Maman dan beberapa pejuang lainnya seperti Pangeran Jati Kusumo (Sultan Keraton Solo), Gatot Subroto, Soengkono, Soepomo mendirikan CPM pada tahun 1946 di Ungaran. CPM berkepanjangan Corps Polisi Militer. CPM ini adalah cikal bakal berdirinya Polisi Militer Angkatan Darat. Setelah itu, CPM ini disahkan oleh Kolonel Nasution dan Jendral Sudirman. Komandan yang memimpin CPM adalah Gatot Subroto.

Setelah masa revolusi selesai, sekitar pada tahun 1949, Mbah Maman menjadi tentara reguler di kesatuan CPM. Beliau mendapat kepercayaan untuk mengawal Presiden RI, yang pada saat itu menjabat sebagai presiden adalah Soekarno. Beliau menjadi paswalpres di beberapa istana (PASWALPRES: Pasukan Pengawal Presiden), sehingga pada tahun 1950-1952, Beliau menjadi Komandan Pengawal Istana Presiden Cipanas. Setelah itu di tahun 1953, Beliau menjadi Pengawal Istana di Bogor. Lalu di tahun 1953-1955, beliau berpindah lokasi lagi ke Istana Merdeka dengan pekerjaan yang sama, sebagai Paswalpres. Setelah menjadi pengawal presiden, beliau pindah ke POM Gambir. Disana beliau mengurusi kebutuhan militer.

Karena jasa beliau dalam banyak peperangan, beliau mendapatkan  penghargaan berupa bintang gerilya pada tahun 1956. Bintang gerilya adalah sebuah penghargaan dari Presiden RI untuk para rakyat Indonesia dalam usahanya mempertahankan Negara Indonesia dari tahun 1945-1950. Selain itu ia juga mendapat bintang kres 1, kres 2, GOM 1, GOM 2. Bintang GOM (Gerakan Operasi Militer) yang Mbah Maman peroleh dari keikutsertaannya dalam perang penumpasan pemberontak DI/TII. Total penghargaan berupa bintang yang beliau punya sebanyak 13 bintang. Setelah mendengar ini, saya sangat terkagum dengan prestasi yang diraih oleh beliau.

Pada tahun 1962, Mbah Maman menjadi Auditir Kejaksaan Militer. Walaupun disini adalah ajang untuk menaikkan pangkat seseorang, beliau tidak pernah menuntut apapun, perpangkatan serta jabatan yang ia miliki tidak ia urusi sampai akhir hayat nya. Beliau masih berpangkat Letnan 1 sampai hari ini.

Loh emang susah atau bagaimana caranya untuk naik pangkat kung?” Tanyaku kepada Akung Heru.

“Dengan pendekatan pada atasan, tapi dulu Mbah tidak pernah sekalipun melakukan itu.” Jawabnya.

“Kenapa?” tanyaku.

“Beliau sangat perpegang teguh pada enam filsafat jawa, terdapat diantaranya, ‘Jangan Merasa Memiliki’. Hal ini beliau pegang selama perjuangannya di beberapa peperangan. Beliau juga pernah mengatakan ‘Aku berjuang bukan untuk diriku, tetapi untuk bangsaku. Aku menjalankan fitrah sebagai manusia karena Gusti Pangeran’”, jawabnya.

Saya terkagum-kagum untuk beberapa menit, dan saya kembali bertanya
“Kalau misalkan dulu Mbah Maman melakukan pendekatan keatasannya, mungkin gak sekarang beliau seterkenal Jendral Gatot Subroto?”, tanyaku.

“Iya, mungkin aja. Tapi dia bener-bener gak mau menonjolkan kalo dia pejuang perang. Sampe akhir hayatnya saja, dia gak pernah sekalipun pulang kampung dengan pakaian tentaranya” jawab Akung Heru.

SubhannAllah, pada saat itu, saya hanya dapat bersyukur dan terkagum-kagum dengan Mbah Maman. Saya sangat bangga ternyata ada anggota keluarga jauh saya yang memiliki sifat yang sungguh patut untuk dicontoh semua orang.

Pada tahun 1970an, Mbah Maman akhirnya berpindah agama dari kejawen murni menjadi seorang muslim. Beliau melihat, ajaran-ajaran yang terdapat pada kejawen juga tertera di kitab suci Al-Quran, bahkan lebih lengkap dan terperinci. Oleh karena itu, beliau mejadi penganut Islam yang kafah atau mutlak. Mulai saat inilah, ia sangat keras kepada anak-anaknya tentang ibadah disetiap harinya.

“Beliau pernah berpesan seperti ini ‘Her, ini berkas-berkasku, tolong jika aku mati nanti jangan kuburkan aku di pemakaman pahlawan, kuburkanlah saja di pemakaman biasa.” Kata Akung Heru.

Mbah Maman meninggal di usia 63 tahun dengan pangkat Letnan 1 akibat jatuh.

Saat beliau hendak di kuburkan, pesan beliau tentang kuburkan di pemakaman biasa tidak dipenuhi, beberapa hal yang mempengaruhi peristiwa ini yaitu, 1) Komandan Garnisum Kolonel Norman Sasono mengajukan permohonan pada keluarga Mbah Maman untuk menguburkan Mbah Maman di Taman Makam Pahlawan, 2) Adik dari Mbah Maman, Soemanto, yang dahulu adalah Marinir mengajukan juga hal yang sama. 3) Pertimbangan keluarga, untuk menjadikan salah satu dari dua orang keluarga Mbah Maman yang menjadi seorang pejuang (Mbah Maman dan Mbah Manto) sebagai panutan keluarga, dan akhirnya yang terpilih adalah Mbah Maman untuk dikuburkan di pemakaman pahlawan. Akhirnya karena beberapa pertimbangan tersebut, Alm Mbah Maman dikuburkan di pemakaman pahlawan Kalibata.

Intisari yang dapat saya ambil dari cerita-cerita tentang Mbah Maman adalah, beliau adalah seorang yang tak kenal pamrih, pemegang erat prinsip hidup, dan pejuang yang setia. Tak kenal pamrih, karena beliau melakukan segala perjuangan demi Indonesia, bukan untuk dirinya. Pemegang erat prinsip hidup, karena beliau tidak terkecoh akan lingkungannya yang menomor satukan jabatan, dan tidak sama sekali goyah dalam memegang prinsip tersebut. Lalu pejuang yang setia, pejuang dengan banyak jasa, pejuang yang ikhlas dan rela mati untuk negaranya, pejuang yang tidak pamrih dan berjung demi Indonesia dan bukan demi dirinya sendiri.







No comments:

Post a Comment