Friday, 31 May 2013

Tugas 2 - Biografi Sarah Nadia Avianto XI IPA 2


Slamet Soemiarno, dari Tentara ke Pendidikan

"....bangsa yang baik adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya....  oleh karena itu jangan sekali-kali melupakan sejarah...."

Sukarno, 1966

Terlintas di otak saya setelah melihat kutipan kalimat tersebut bahwa betapa besarnya peran pahlawan terhadap bangsa ini. Apakah tanpa mereka bangsa kita dapat mencapai segalanya yang telah kita raih sekarang ini? Perjalanan mereka menuju kesuksesan sangat patut untuk dibanggakan dan dihargai dengan mempelajari sejarah.

Masa-masa sebelum kemerdekaan adalah masa yang sulit untuk orang-orang Indonesia. Segala bentuk penderitaan pun dirasakan. Penjajahan atas Indonesia oleh Jepang dan Belanda merupakan hal yang berat untuk dilewati. Dengan bantuan para pemuda-pemudi Indonesia yang nasionalis pun akhirnya Indonesia bisa merdeka sebagai suatu negara kesatuan pada tanggal 17 Agustus 1945.

Masa setelah kemerdekaan tidak langsung berjalan mulus. Banyak terjadi konfrontasi dengan negara-negara terutama negara yang dulunya menjajah Indonesia yaitu Belanda dan Jepang. Pengakuan dari negara lain atas kemerdekaan Indonesia juga menjadi masalah. Selain itu juga terjadi pertikaian internal dan kebanyakan masalah perbedaan pandangan, seperti G30S/PKI, Pemberontakan DI/TII dan sebagainya. Ekonominya juga memburuk yang disebabkan oleh inflasi yang tinggi dan terjadinya blokade ekonomi. Tetapi lama kelamaan pun situasi mulai terkendali, walaupun butuh waktu yang lama.

Saya yang lahir sebagai generasi baru tentunya tidak mengalami masa-masa dimana Indonesia keadaannya masih belum stabil. Maka dari itu, hanya bisa mengetahui dari catatan-catatan sejarah di Museum dan buku-buku. Pada kali ini, saya mendapat kesempatan untuk mendapatkan informasi dari seorang saksi sejarah yaitu Eyang saya, Slamet Soemiarno. Beliau menceritakan perjalanan hidupnya di masa-masa tersebut dan terlihat sangat antusias dimana ia berperan sebagai pelaku maupun saksi peristiwa yang bersejarah.
Saya dan Pak Soemiarno



BIOGRAFI

Slamet Soemiarno yang biasa di panggil Soemiarno, lahir pada tanggal 16 Desember 1937 di Karanganyer, Kebumen. Ia merupakan anak pertama dari 10 bersaudara dari pasangan Padmosuwarno dan RA Kus.

Setelah lulus SMA, beliau lalu kuliah tetapi hanya setaun, dan kemudian masuk Akademi AU. Sebagai tentara yang bertugas di TNI AU, Bapak Soemiarno harus berpindah-pindah kota dalam melaksanakan tugasnya sejak tahun 1963. Banyak dinas dibeberapa tempat antara lain, Jawa Timur, Bandung, Kalimantan Timur. Di Kalimantan Timur, beliau menbantu pembangunan pangkalan sepingan di saat konfrontasi dengan Malaysia sehingga beliau sering mengunjungi pendalaman Kalimantan Timur sampai ke perbatasan.

Pada tanggal 22 Juli 1965 di Jakarta, Pak Soemiarno menikah dengan alm. Ibu Tati Sunarti. Mereka dikaruniai 2 anak, yaitu ibu saya yang bernama Sinta Saptarina yang dilahirkan saat beliau sedang dinas di Jakarta dan Damayanti Budiratri yang dilahirkan saat beliau sedang dinas di Bandung. Beliau memiliki 3 cucu, yaitu saya, Tania (adik saya) dan Akbar (sepupu saya).

Lalu kemudian beliau ditempatkan ke Komando Gabungan. Pada tahun 67-76, Pak Soemiarno banyak dinas di Bandung dan Jakarta. Beliau mendapatkan berbagai jabatan di Bandung. Kemudian pernah menjadi pengajar di Kementrian Keuangan, Lembaga Administrasi Negara dan terutama di TNI AU sebagai instruktur.

Beliau dulu ternyata kenal dengan alm. Bapak Bambang Sugeng, kakek dari ayah saya yang merupakan TNI AU dan seorang penerbang. Ia pernah menjadi instruktur Pak Soemiarno di Akademi Angkatan Udara. Pada saat Pak Soemiarno lulus, keduanya pun menjadi instruktur. Setelah Pak Bambang keluar dari sekolah itu, beliau menggantikan Pak Bambang.

Menjelang pensiun Pak Soemiarno bergabung menjadi anggota DPR. Pangkat terakhir dalam TNI AU yaitu Kolonel Purnawirawan. Setelah pensiun tahun 93, bekerja di Sumatera Selatan sebagai Manager Operation di Perusahaan Kayu. Tugasnya yaitu untuk yang menebang pohon diharuskan untuk menanam kembali. Pak Soemiarno keluar dari perusahaan itu saat istrinya, Ibu Tatiek sakit dan harus dioperasi di Belanda. Setelah pulang dari Belanda ia diminta untuk mengajar di Universitas Indonesia. Dari tahun 95 - sekarang, beliau menjabat sebagai sekretaris program studi  di S2 Universitas Indonesia.

PERANAN

Saat proklamasi 1945,  Pak Soemiarno masih kecil. Pada waktu itu keluarganya berpisah, ayahnya berjuang di daerah Jawa Barat sedangkan beliau, adik-adik dan ibunya mengungsi di kecamatan Karanganyer Kebumen.

Tahun 1947, terjadi serangan dari Belanda dan kota Karanganyer digempur. Karanganyer perbatasan dan Kebumen merupakan pusat pertahanan tentara. Beliau dan adiknya tidak bersama ayahnya yang sedang bergrilya hanya dengan ibu. Lalu mereka pindah dari Karanganuer dengan menggunakan kereta barang. Lalu sempat terpisah dengan ibu dan keluarga lainnya. Tetapi akhirnya pun bertemu di Jogja. Ketika Belanda datang ke Jogja, ayahnya juga tidak bersama beliau. Mereka pindah ke rumah paman ibunya untuk beberapa lama. Di tahun 1950, beliau pindah ke Jakarta.

Beliau mengikuti operasi Pagar Betis yaitu operasi untuk mengakhiri pemberontakan Kartosuwiryo. Pemberontakan Kartosuwiryo diawali dengan penandatanganan persetujuan Renville yang mengharuskan pasukan gerilya untuk bergerak ke Jawa Tengah. Tetapi Kartosuwiryo menolak untuk pindah ke Jawa Tengah dan juga sudah tidak mengakui kedaulatan RI lagi. Maka ia memproklamirkan Negara Islam Indonesia (NII) dan ia membentuk Tentara Islam Indonesia (TII). Lalu terjadilah pemberontakan yang menumpaskan banyak korban.

Maka dari itu untuk menghentikan pemberontakan ini dilakukanlah operasi Pagar Betis dimana Pak Soemiarno pun ikut melaksanakannya. Dengan cara gerilya, ia menceritakan bahwa dengan taktik mengikuti  dan mendesak rombongan kartosuwiryo dengan mengepungnya. Ia bercerita bahwa setiap 1 tentara bersenjata akan diikuti oleh 3 orang penduduk setempat. Sehingga rombongan kartosuwiryo itu pun terkepung dan kalah jumlah.

Ia bercerita pada waktu itu, biasanya operasi militer diadakan dengan diam dan tidak boleh berteriak. Tetapi saat itu mereka dikomandokan untuk berbicara dengan keras sehingga kartosuwiryo dan komplotannya pun terintimlidasi. Pada akhirnya, Kartosuwiryo pun tertangkap dan diadili dan pada akhirnya ditembak mati oleh Suryono. Suryono, instruktur Pak Soemiarno di Akademi AU ternyata pro PKI disaat kejadian G30S/PKI tercantum namanya di pengumuman.

Pada kejadian G30S/PKI, Pak Soemiarno kebetulan sedang ada di kantor yang berada di sebelah istana yang sekarang menjadi kantor Sekretariat Negara. Awalnya tidak tahu karena hanya ada pemberitahuan singkat, padahal beliau ada di Komando Tertinggi.

Dulu, Pak Soemiarno pernah sempat bermusuhan dengan Pak Asno, adiknya, yang merupakan mahasiswa UI fakultas hukum yang melakukan demo untuk pembubaran PKI. Sementara beliau sebagai tentara harus menjaga Istana dan tidak boleh ikut berdemo.

Latar belakang dari kejadian G30S/PKI yaitu dibentuknnya NASAKOM. Negara Indonesia pernah menerapkan NASAKOM (Nasional, Agama dan Komunis) karena Bung Karno pernah berpikir pada dasarnya orang indonesia merupakan sikular(komunis &sosialis), nasionalis dan sektarian (PSII dan Masyumi).  Dengan penyatuan tiga konsep ini (Nasionalis, Agamis dan Komunis) Sukarno berusaha untuk mengajak segala komponen bangsa tanpa melihat segala perbedaan yang ada. Baik itu perbedaan Religius maupun suku dan budaya.

NASAKOM bertahan sampai G30S/PKI karena PKI tidak puas. PKI mendesak pemerintah  agar semua pekerjaan pegawai  diharuskan ada NASAKOM. Tentara tidak boleh ada NASAKOM, mereka harus Nasionalis. Maka tentara pun banyak menolak. Sehingga pada  kejadian G30S/PKI, korbannya banyak dari AD.

Salah satunya yaitu Pierre Tendean. Pak Soemiarno  bercerita bahwa dulu Pierre Tendean merupakan teman beliau. Dulu Tendean di Akademi Teknik di IKIP, Pak Soemiarno di Akademi Angkatan Udara di pangkalan Bandung.  Lalu saat Tendean diangkat menjadi Letnan dan menjadi ajudannya Nasution sehingga ia kemudian pun terbunuh.

Setelah kejadian G30S/PKI munculah trauma pendengaran kata PKI. Anggota PKI tidak bisa dibedakan karena tentara dan PKI tergabung. Dan apabila satu batalion terdapat satu komandan PKI bisa dicurigakan satu batalion tersebut adalah PKI. Angkatan Udara dulu dicurigakan pro PKI, tetapi tidak tertuduh karena Pak Soemiarno ikut di dalam Komando Tertinggi bersama Angkatan Darat dan Angkatan Laut yang melawan PKI. Beliau mendapat mendali "Penegak" setelah G30S/PKI ditumpas. 

Peristiwa lainnya yang berkesan bagi Pak Soemiarno yaitu Operasi Dwikora. Beliau saat itu ada di Balikpapan kemudian ditarik ke Komando Operasi Tertinggi untuk menyiapkan keperluan operasi "Ganyang Malaysia". Latar belakang operasi ini yaitu saat Malaysia baru merdeka dan bergabung dengan Singapura, Brunei jadi satu dan melawan RI. Karena Inggris yang tidak suka dengan Indonesia, karena Sukarno dituduh sebagai pro komunis yang sebenarnya Nasionalis. Lalu demonstran Malaysia melakukan gerakan anti-Indonesia dengan menjelek-jelekan nama Indonesia yang membuat Sukarno semakin marah yang memutuskan untuk perang.

Beliau mendapatkan mendali wiradharma dari operasi dwikora. Dengan mendali itu beliau diangkat menjadi veteran kemerdekaan. Dan kebetulan cucunya yang paling kecil dinamakan wiradharma. Pak Soemiarno memiliki total 9 mendali saat ia menjabat di TNI AU. 
Mendai Wiradharma (kiri) dan Penegak (kanan)

Setelah pensiun, beliau menjadi anggota DPR RI dari fraksi ABRI pada tahun 1993. Setelah itu beliau berkontribusi di bidang pendidikan yaitu sebagai dosen di beberapa universitas, termasuk menjadi Pembantu Rektor I pada Universitas Bung Karno sekitar tahun 2000. Hingga saat ini kontribusinya di pendidikan masih terlaksana. Beliau masih mengajar di Universitas Indonesia dan Institut Teknologi Indonesia. Walaupun terkena penyakit mata glukoma, namun tidak menyurutkan beliau yang di usia 75 tahun ini untuk berhenti berkarya membangun negeri.

No comments:

Post a Comment