Tuesday, 21 May 2013

Tugas-2 Biografi Savanna Segara XI IPA 1


Eyang Buyar: Sersan Mayor Angkatan Cilik Republik Indonesia





Biografi
Hujan ringan mengiringi langkahku saat mengetuk pintu rumahnya. Satu, dua kali mengetuk tidak ada jawaban juga. Saat tanganku mengepal untuk bersiap mengetuk pintu lagi, sebuah suara terdengar dari dalam rumah. “Tunggu sebentar!”

Eyang Is datang menghampiriku sambil membawa kunci gembok. Beliau membukakan pintu, mempersilahkanku masuk dan duduk di sofa. “Eyang Buyar mana yah, yang?”, tanyaku sembari menyesuaikan diri di sofa, mencari posisi nyaman. “Sebentar lagi keluar kok, lagi siap-siap!” jawabnya. Tak lama kemudian aku melihat Eyang Buyar keluar dari kamar.

Nama lengkapnya adalah Buchyar Syam.  Lelaki yang biasa saya panggil dengan sebutan Eyang Buyar ini menghampiriku sambil tersenyum lembut, senyum yang memang senantiasa terpampang di wajahnya.  Beliau adalah suami dari Eyang Is, yaitu adik nenekku dari keluarga Papa. Eyang Buyar lahir di Batusangkar pada tanggal 11 Februari 1935. Beliau sebelas bersaudara. Ayah beliau adalah guru, dan Ibu beliau bekerja sebagai petani. Sempat menempuh pendidikan di UGM dalam fakultas Hukum Pidana, namun tidak sempat dituntaskan karena sudah dipanggil ke IKIP untuk menempuh pendidikan di jurusan Bahasa Indonesia. 

Eyang Buyar mempunyai banyak gelar dan sebutan di kantongnya, tetapi terakhir beliau pensiun pada tahun 2000 sebagai Direktur Pendidikan Agama Islam Sekolah Umum dan Negeri di Departemen Agama.
Eyang Is menaruh minuman di meja kami, lalu beranjak pergi. Suasana agak hening setelah Eyang Is pergi. Memang Eyang Buyar ini sedikit pendiam. Beliau bersender pada sofa di belakangnya dan membuka mulut, bersiap untuk bertanya. “Jadi, Eyang mulai cerita dari mana ini?”

Kesaksian
“Sebenarnya sih, pengalaman Eyang saja. Eyang ingatnya bagaimana, dulu suasananya gimana, dan yang terakhir kontribusi Eyang. Begitu aja sih Yang….” Ucapku, berusaha memilah kata. Sebenarnya saya sendiri bingung, mulai dari mana ya.

“Tapi Eyang tidak terlalu ingat detil-detil nya, apalagi nama…Eyang sudah banyak lupa.”

Nggak apa-apa kok Eyang! Seingat Eyang saja. Pokoknya pengalaman Eyang deh.”

“Kalau begitu, kita mulai dari awal saja ya, sebelum kemerdekaan. Dari awal abad 20, sudah terbentuk banyak sekali organisasi…..”

Eyang pun mulai menceritakan pada saya sejarah Indonesia merdeka, dari awal sekali. Eyang menjelaskan secara singkat bahwa semuanya berawal dari organisasi agama, kemudian bercabang pada Budi Utomo. Juga bagaimana menderitanya rakyat pada masa itu, Eyang menceritakan semuanya dengan cukup lengkap.

Jujur saja, saya kaget mendengar beliau bercerita. Walaupun sebelum memulai wawancara beliau sudah bilang bahwa beliau sudah lupa tidak terlalu ingat secara detil, Eyang Buyar dapat menyebutkan semua nama tokoh dan tempat kejadian dengan tepat, khususnya tentang organisasi keagamaan dan SDI, atau Sarekat Dagang Islam. Wah. Saya menjadi malu, saya saja yang diharuskan menghafal ini di sekolah tidak se fasih Eyang Buyar saat bercerita. Saya berbagi keheranan saya ini kepada orangtua saya. Bapak saya kemudian berbagi fakta cukup menarik: bahwa ternyata, kakek dari Eyang Buyar adalah salah satu tokoh pendiri Sarekat Dagang Islam. Luar biasa.

Cerita Eyang Buyar tentang sejarah organisasi dan keadaan Indonesia pada masa penjajahan Belanda cukup panjang. Tidak saya cantumkan disini karena secara kasar, ceritanya sama dengan yang ada di buku sejarah kita. Seiring berjalannya cerita, sampailah pada saat dimana Jepang sudah datang ke Indonesia. Disinilah asik dari cerita Eyang dimulai.

“Saat Jepang datang, dia mulai menata Indonesia. Dia mulai mendekati rakyat, dan mendekati para pemimpin Indonesia. Tapi selain itu juga, untuk memperkuat pertahanan Indonesia, dia mulai berlaku kekerasan pada rakyat. Nah, terkenal sekali pada masa itu yang namanya kerja paksa.”

“Oh iya….membuat rel kereta api, dan sebagainya ya Yang?”

“Iya, betul. Wah, luar biasa sekali pada waktu itu….pengorbanannya luar biasa. Pada waktu itulah, Eyang melihat sendiri Jepang masuk ke kota tempat kelahiran Eyang di Batusangkar.”

“Oh iya Yang? Eyang melihat sendiri?!”

“Oh iya, tahun ’43. Datang dari Bukittinggi itu. Kebetulan kampung eyang itu dekat dari jalan di Bukit Tinggi itu, dekat Batusangkar, Eyang sedang sekolah di SD, masih berumur 8 tahun itu. Tentara itu datang hanya dengan sepeda. Bersepeda saja dia, wah banyak sekali itu bersepeda! Sampai ke Batusangkar. Nah, di waktu itulah, timbul macam-macam hal. Ya di kota juga terjadi banyak hal yang tidak baik, namun ya tetap saja Jepang telah berhasil masuk.”

“Jepang juga mulai masuk ke kampung-kampung, mencari pemuda . Untuk macam macam, ada yang untuk berperang, ada yang dibawa untuk kerja paksa ke tempat tempat lain. Namun yang sangat menyedihkan itu adalah Jepang mengambil hasil panen.”

Entah mengapa, saya sangat sedih dan juga sedikit kaget mendengar hal itu. Padahal saya sudah belajar di sekolah bahwa Jepang memang melakukan banyak hal kejam, dan saya juga sudah tau bahwa mengambil hasil panen adalah salah satunya. Tetapi mungkin nada bicara Eyang Buyar, juga ekspresi mukanya, yang membuat hati saya lebih merasakan penderitaan masyarakat pada waktu itu. Terlihat sekali bahwa bertani adalah mata pencaharian terbesar yang diandalkan masyarakat pada waktu itu, namun dirampas begitu saja oleh Jepang.

“Maksudnya diambil, gimana Yang? Diambil begitu saja?”

“Oh, iya! Orang-orang yang sedang panen dihampiri lalu disuruh mengantarkan hasil panennya  ke kota. Jadi, Eyang waktu itu, dengan kawan-kawan, menjaga padi di sawah.”

“Oh, menjaga padi? Seperti patroli begitu Yang?”

“Ya betul. Jadi, Jepang itu juga memanfaatkan orang-orang yang mempunyai niat jahat untuk mencari untung. Jadi diambil padi itu dan dibawa ke kota.”

“Nah, pada zaman Jepang itu, memang semangat jiwa militer itu dimunculkan di kalangan rakyat. Baris berbaris,  Taiso, dan lain lain. Eyang itu termasuk orang yang suka melatih teman-teman satu sekolah melatih Taiso.”

“Taiso itu apa yah Yang?”

“Taiso itu olahraga, olahraga Jepang. Wah, Eyang itu pindah-pindah sekolah untuk melatih. Nah, dengan begitu semangat….semangat juang itu meningkat! Kita disuruh berbaris baris, dan segala macam, agar kita tidak menjadi orang yang melempem, agar tetap sigap.”

“Ada juga, semasa Jepang itu….Jepang rajin betul memperlihatkan, mempertunjukkan film terbuka di lapangan. Terutama, film-film kemenangan Jepang di Asia dan di Pasifik. Bagaimana kemenangan Jepang, bagaimana mereka menaklukan Hawaii. Juga perang 6 hari di Singapura. Film nya itu, wah, bersemangat itu penontonnya! Eyang juga ikut menontonnya itu.”

“Lalu, perasaan Eyang setelah menonton film itu bagaimana?” tanyaku.

“Wah, bangga lah Eyang!” jawab beliau. Bangga? Saya sedikit bingung. “Oh, jadi Eyang…merasa bangga kenapa? Karena Jepang menang?”

“Jadi waktu itu, rasa bangga nya itu seperti ini: Jepang memang hebat, begitulah. Dan juga, karena Belanda diusir! Jadi bangga kita. Tapi, kita jadi lupa, kita dijajah Jepang. Kita menjadi miskin. Karena Jepang juga tidak terkesan betul soal tekanan terhadap agama, pendidikan, mereka tidak memperlihatkan tekanan itu. Sebab, Jepang lebih menggerakkan masyarakat untuk menghadapi perang dengan sekutu. Sekutu sudah mulai bergerak kan.”

“Eyang dulu ikut organisasi pemuda gitu nggak Yang?” tanyaku.

“Waktu Jepang itu belum ya, kan masih kecil. Tetapi semangat kemerdekaan, semangat ‘Indonesia’ itu ada! Karena baris membaris, dan sebagainya.” Pernyataan Eyang tersebut membuatku berpikir. Padahal, Jepang membuat program baris-membaris tersebut agar Indonesia membantu Jepang dalam Perang Asia. Namun hal yang terjadi malah sebaliknya, masyarakat Indonesia justru jadi semakin ‘terlatih’ dan membangun semangat kemerdekaan. Luar biasa.

“Di waktu proklamasi tahun 1945 itu, Eyang baru berumur 10 tahun. Wah, sampai di desa itu semangat sekali! Semangat betul kami. Setelah kemerdekaan terjadi, di kampung, tidak terlalu banyak perubahan kita. Tenang saja. Cuman, semangat kemerdekaan itu membuat para pemuda membuat organisasi-organisasi. Nah, organisasi itu banyak kaitannya dengan militer. Nah, kalau Eyang, ikutnya ACRI. ACRI itu Angkatan Cilik Republik Indonesia.

Cilik, lucu sekali! Pikirku dalam hati. “ACRI itu pernah terjun ke lapangan gak Yang?” tanyaku.
“ACRI itu terjun ke lapangannya bentuknya adalah mencari dana untuk dikirim ke pasukan yang menghadapi Belanda di kota-kota besar. Belanda kan mulai kembali ke Indonesia, menopang tentara sekutu. Dana itu digunakan untuk membantu tentara kita. Jadi, sepanjang jalan, kalau hari pekan kita mencari dana. Kita memakai peci militer dari pandan sambil membawa kotak sumbangan. Kita juga menolong orang jika terjadi apa-apa. Contohnya adalah kalau di pasar ada orang yang mengalami kecelakaan.”

“Pada tahun 1948 terjadi Agresi Militer pertama di Indonesia. Sekampung waspada. Nah, Belanda itu masuk sampai ke kampung Eyang. Eyang melihat sendiri Belanda itu masuk. Jadilah bermacam-macam hal tidak baik. Nah, saat Belanda ingin bergerak ke tempat lain melalui tempat Eyang, itu di jalan sering dicegat oleh gerilya Indonesia! Gerilya Indonesia adalah rakyat pemuda Indonesia.”

“Suatu saat diberitahu: Belanda Naik! Dalam arti, Belanda sudah masuk. Kami yang termasuk ACRI itu berkelompok seperti gerilya, dengan membawa bom!..........Bom telur cabe. Itu adalah kerongsong telur, diisi cabe! Jadi suatu ketika, kami sedang ramai, Eyang sendiri sebagai Komandan dipercaya kan? Saat Belanda lewat di jalan, kami turun melempari mereka dengan bom-bom itu! Hahaha.”

“Tetapi mereka kan membawa senjata, wah ngeri kita. Karena itu berbahaya, kami diberitahu oleh militer dan pemuda pemuda, ‘Jangan gegabah! Nanti kalau kamu ditembak bagaimana? Untung saja mereka tidak menembak, karena kalian kecil-kecil!’”

“Tentara Belanda itu ada istilah nya di kampung, ada dua. Belanda Putih, dan Belanda Hitam. Belanda Putih itu orang Belanda betul. Benar-benar orang Belanda, atau setidaknya orang Australia lah. Nah kalau Belanda Hitam itu jahatnya luar biasa! Jahatnya itu kalau ada apapun langsung tembak saja atau dipukul saja itu! Biasanya itu orang India atau orang hitam-hitam.”

“Suatu ketika, terjadi perang di dekat desa Eyang. Sudah diberitahu ada Belanda yang ‘naik’. Rupanya tentara kita dengan rakyat yang bersenjata sudah menunggu. Eyang sudah melihat tentara datang itu. Tidak lama, terjadi peperangan. Bunyi perangnya itu! Bzzzt. Tiarap tiarap!! Nah disinilah Jepang mengajarkan kita untuk tiarap, cara berlari, kita disitu merasakan manfaatnya. Setelah selesai itu, Eyang turun ke Kampung untuk melihat siapa saja yang mati. Ada darah di jalanan.”

Demikianlah pengalaman dan kontribusi Eyang saya, Eyang Buyar, dalam masa-masa kemerdekaan 1945. Memang benar, mendengar cerita langsung dari yang mengalami itu sensasinya berbeda daripada mendengar dari yang hanya mengetahui saja.


No comments:

Post a Comment