Friday, 31 May 2013

Tugas 2 - Biografi Sekar Anglila Hapsari

Eyang Gunawan Hardiowasita, Perwira I Kapal-Kapal R.I.

Pada semester dua ini, saya mendapatkan tugas sejarah untuk mewawancarai seorang pelaku sejarah. Untuk memenuhi tugas sejarah ini, saya mewawancarai Eyang  saya, yang merupakan saksi dan pelaku sejarah. Saya dan 5 cucunya yang lain biasa memanggilnya Eyang Kakung.

Eyang Kakung adalah salah satu anggota Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut. Eyang Kakung temasuk dalam angkatan 1950 di Akademi Angkatan Laut. TNI Angkatan Laut adalah bagian dari Tentara Nasional Indonesia yang bertanggung jawab atas operasi laut, dipimpin oleh seorang Kepala Staf TNI Angkatan Laut. Kekuatan TNI-AL saat ini terbagi dalam 2 armada, Armada Barat yang berpusat di Tanjung Priok, Jakarta dan Armada Timur yang berpusat di Tanjung Perak, Surabaya, serta satu Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil). Selain itu juga membawahi Korps Marinir. Dan sumber Prajurit TNI AL dididik dan dilatih di Akademi Angkatan Laut, Kobangdikal, dan Seskoal.

Saya Bersama Eyang Gunawan


A. Biografi Pelaku Sejarah

Eyang Kakung saya bernama Gunawan Hardiowasita. Beliau lahir di Sine, Ngrambe, Madiun. Beliau lahir pada tanggal 24 Desember 1931. Ayah beliau bernama Kodiran Hardjowasito. Ibunda beliau bernama Kowijati. Beliau adalah anak keempat dari lima bersaudara. Kakak sulungnya bernama Kasrin (telah wafat). Lalu kakak kedua Eyang Kakung, Kasrini (telah wafat). Kakak Eyang Kakung yang ketiga adalah Moedjiyono (telah wafat). Setelah itu, anak keempat adalah Eyang Kakung saya. Dan anak yang terakhir, adiknya, Bangun Koewijon. 

Masa kecil Eyang Kakung dihabiskan di Malang. Beliau bersekolah di Sekolah Dasar selama  tiga tahun sebelum meneruskan lagi ke Sekolah Rakjat selama tiga tahun juga. Sayangnya pada saat Eyang Kakung kelas empat SD, beliau dan saudara-saudaranya kehilangan kedua orangtuanya. Sehingga Eyang Kakung dan keempat saudaranya ikut dengan nenek mereka. Eyang Kakung lalu meneruskan pendidikan ke Sekolah Menengah Pertama (SMP) selama tiga tahun lalu ke Sekolah Menengah Atas (SMA) B Madiun selama empat tahun karena sempat tidak naik kelas. Seluruh pendidikannya dihabiskan di daerah Caruban, Madiun.

Sesudah SMA, Eyang Kakung meneruskan pendidikannya ke Akademi Angkatan Laut. Beliau mendaftar sekitar tahun 1950. Lalu, Eyang Kakung lulus dari Akademi Angkatan Laut pada tahun 1954. Kelas terakhirnya di Angkatan Laut adalah IIIB.

Akademi Angkatan Laut (disingkat AAL) adalah sekolah pendidikan TNI Angkatan Laut di Surabaya, Jawa Timur, Indonesia. Akademi Angkatan Laut mencetak perwira TNI Angkatan Laut. Secara organisasi, Akademi Angkatan Laut berada di dalam struktur organisasi TNI Angkatan Laut, yang dipimpin oleh seorang Gubernur Akademi Angkatan Laut. Gubernur AAL saat ini dijabat oleh Laksda TNI Herry Setianegara, S.sos, S.H, M.M lulusan AAL angkatan 29 tahun 1983 dan Wakil Gubernur AAL Laksma TNI Achmad Taufiqoerohman, M,S.E lulusan AAL 31 tahun 1985.

Eyang Kakung menikah dengah Eyang Putri saya, Reni, pada tanggal 17 April 1943 di Malang. Eyang Kakung dan Eyang Putri akhirnya pindah ke Jakarta pada tahun 1965. Alamat terakhir Eyang Kakung di Malang  adalah di Jl. Klegen No. 45. Sekarang, Eyang Putri dan Eyang Kakung tinggal di daerah Tebet Barat.

Eyang Kakung dan Eyang Putri

Pada tahun 1967, Eyang Kakung dan Eyang Putri dikaruniai anak pertama mereka, Narendra. Narendra adalah ayah saya. Lalu anak kedua mereka Wahyu Wiraman atau biasa dipanggil Om Wahyu pada tahun 1970. Pada tahun 1972, lahir anak perempuan pertama mereka Adrina Dewani, atau biasa dipanggil Tante Ina. Dan yang terkahir, pada tahun 1984, lahir putri kedua mereka, Anggun Hapsari, atau biasa dipanggil Tante Anggi. Tante Anggi dan ayah saya, Narendra, umurnya berbeda 17 tahun.

Narendra, sekarang ini, telah menikah dengan Riana Permasari selama 17 tahun. Mereka mempunyai dua anak, yaitu Sekar Anglila Hapsari (saya) dan Damar Prana Anggakara (adik saya). Saya adalah cucu tertua. Lalu Wahyu Wiraman, atau Om Wahyu, telah menikah dengan Yulyati, dan mempunyai dua anak, yaitu Nabila Ayu Dewanti dan Akila Mustika Lestari.

Adrina Dewani, atau biasa dipanggil Tante Ina, telah menikah dengan Arry Dwianto, dan mempunyai dua anak yaitu Alisha Cahya Lestari Ningrum dan saudara termuda saya, Angga Permana Rasyid. Dan putri terakhir Eyang Kakung dan Eyang Putri, Anggun Hapsari, baru saja menikah dengan Noel Timothy Brian. Bahkan, baru beberapa bulan yang lalu Eyang Kakung dan Eyang Putri pulang dari Inggris untuk bertemu keluarga Om Noel.

Sekarang, Eyang Kakung masih sehat walafiat dan sudah berumur 82 tahun . Beliau mempunyai 4 anak yang sudah menikah semua. Selain itu, beliau juga 6 cucu. Alhamdulillah, Eyang Putri juga masih sehat walafiat.

B. Peranan Pelaku Sejarah

Akademi Angkatan Laut IV 1954-2004

Eyang Kakung telah menghabiskan kurang lebih 8 tahun hidupnya sebagai Angkatan Laut. Setelah Eyang Kakung lulus dari Akademi Angkatan Laut pada tahun 1957, beliau diangkat sebagai Letnan Muda Pelaut pada bulan September tahun 1957. 

Pada tahun 1958, Eyang Kakung diberi tugas untuk menjadi Perwira Muat kapal R.I. Halmahera. Saat itu beliau masih Letnan Muda. Pada tahun yang sama, beliau menjadi Perwira Navigasi kapal R.I. Tenggiri. Saat itu, beliau telah diangkat menjadi Letnan.

Pada tahun 1959, beliau bertugas sebagai Perwira Layar di kapal R.I. Derwaruci. Kapal ini melakukan muhibah ke Kamboja, Vietnam, dan RRC selama kurang lebih 3 bulan. Menurut Eyang Kakung, pengalaman ini adalah salah satu yang paling berkesan. Karena, Eyang Kakung dapat jalan-jalan melihat-lihat tempat-tempat di Kamboja, Vietnam, dan RRC.

Pengalaman berkesan yang kedua adallah pengalamannya bertugas mengambil kapal R.I. Teluk Langsa di San Diego, California pada tahun 1960. Eyang Kakung ingat sekali, beliau pertama naik pesawat Angkatan Laut Amerika Serikat menuju Seattle. Belaiu melewati Manila, Guam, Hawaii dan Portland, Oregon. Lalu beliau melakukan perjalanan ke Washington sampai akhirnya ke San Diego untuk dilatih oleh Angkatan Laut Amerika Serikat selama kurang lebih 9 bulan. Setelah itu, Eyang Kakung berlayar kembali ke Indonesia sebagai Perwira Navigasi kapal R.I. Teluk Langsa. Saat berlayar kembali, beliau melewati Hawaii, lalu Guam. Di Guam, Kapal R.I. Teluk Langsa hampir terkena badai. Akhirnya, kapal tersebut terkena dibagian ekor setelah memasuki daerah tengah Manado. Kapal tersebut lalu berlayar ke Jakarta sampai akhirnya ke Surabaya.

Pada tahun 1961, beliau menjadi Perwira I, atau Kapten, di Kapal R.I. Teluk Langsa.

Pada Tahun 1962, beliau ditugaskan mengambil kapal R.I. Selamet RIyadi di Wladiworstok, Russia. Itu berlangsung kurang lebih selama 9 bulan. Beliau pun kembali menjadi Kapten atau Perwira I pada kapal R.I. Selamet Riyadi. Ini adalah salah satu pengalaman paling berkesan bagi Eyang Kakung. 

Pada tahun 1964, beliau menjadi Komandan Detasemen Markas Kojen Jelru, yaitu singkatan dari Komando Jenis Penjelajah dan Pemburu. Lalu menjadi Komandan (Kapten) kapal R.I. Yos Sudarso pada tahun yang sama.

Pada tahun 1965, Eyang Kakung menjadi Perwira Operasi Konjentrol, atau Komando Jenis Patroli. Pada tahun yang sama, beliau dikeluarkan dari Angkatan Laut untuk dipindahkan ke Kompartemen Maritim. 

Setelah dipindahkan ke Kompartemen Maritim, Eyang Kakung dipindahkan ke Departemen Pertambangan.
Pada tahun 1966, Eyang Kakung mengambil Kapal Motor Takari I di L├╝beck, Jerman Barat selama kurang lebih dua minggu. Setahun kemudian, yaitu tahun 1967, beliau mengambil Kapal Motor Takari VI di Bremerhaven, Jerman Barat. Tugas tersebut dilakukan Eyang Kakung selama kurang lebih dua minggu. Pada tahun yang sama, anak pertama Eyang Kakung dan Eyang Putri, Narendra atau ayah saya, lahir di Jakarta.
Pada tahun 1973 Eyang memutuskan untuk berhenti dari Departemen Pertambangan karena ingin berwiraswasta.

Selama dua tahun, dari tahun 1973 hingga tahun 1975, Eyang Kakung bekerja di perusahaan PT. All Indonesian Enterprises. Eyang kakung bergerak dalam bidang Salvage, Ship Repair, serta Trading.

Dari tahun 1976 hingga tahun 1987, Eyang Kakung bekerja di PT. Komaritim. Beliau bergerak dalam bidang Shipping, Underwater Construction, Diving, dan juga Survey. Pada tahun 1987, Eyang Kakung bekerja sebagai part timer di PT. Indosal Inti pada bidang Salvage.

Pada tahun 1989 hingga tahun 1999, Eyang bekerja di PT. Rinjani Sakti Jayatama. Di perusahaan ini, beliau bekerja pada bidang Pelayaran dan Keagenan Kapal. Pada saat yang sama, Eyang Kakung bekerja di perusahaan yang lain, yaitu PT. Cakrawala Tatamarina dalam bidang yang sama, yaitu Pelayaran dan Keagenan Kapal.

Akhirnya, pada tahun 2000 sampai sekarang ini, Eyang Kakung bekerja pada perusahaan PT. Bina Nusantara Perkasa dalam bidang Pelayaran dan Keagenan Kapal. Memang, umur Eyang Kakung sudah 82 tahun, akan tetapi, Eyang Kakung masih sehat dan kuat untuk bekerja sampai sekarang.

Alasan Eyang Kakung bersekolah di Akademi Angkatan Laut adalah karena Eyang KAkung tidak mempunyai biaya untuk sekolah. Sehingga, Eyang Kakung memilih bersekolah di Akademi Angkatan Laut. Tetapi, pada akhirnya, Eyang Kakung bangga sekali dan serius dalam melakukan semua tugas yang telah diberikan kepada beliau.

Selama Eyang Kakung mengabdi di Angkatan Laut selama kurang lebih delapan tahun, Eyang Kakung telah mendapat berbagai tanda jasa. Pertama adalah mendapatkan Lencana Sewindu, karena Eyang Kakung telah mengabdi selama delapan tahun. Lalu ada juga Bintang Tanda Jasa saat perang di Teluk. Sebenarnya masih ada banyak, tetapi karena Eyang Kakung sudah tua sekali, Eyang Kakung sudah lupa penghargaan apa saja yang telah diterima beliau serta dimana beliau menyimpannya.

Eyang Gunawan (foto kedua dari kiri)
PENUTUP

C. Kesimpulan

Dari hasil wawancara ini, saya menyadari bertapa hebatnya Eyang Kakung, Saya sangat bangga mempunyai Eyang seperti Eyang Kakung. Juga, kita harus beryukur dengan apa yang kita punya sekarang. Dulu, Eyang Kakung merasakan susahnya kehidupan. Beliau dan saudara-saudaranya harus mencari biaya sendiri untuk meneruskan pendidikan sebab telah ditinggalkan kedua orangtuanya sejak kecil dan mengikuti nenek mereka. Saya bersyukur sekali saya masih punya kedua orangtua saya hingga sekarang. Alhamdulillah.

Selain itu, sebagai generasi muda, kita harus terus belajar untuk memperbaiki Negara Indonesia ini. Menurut Eyang Kakung pada masa Orde Lama, korupsinya sedikit sekali dan pemerintah hanya memikirkan Negara. Berbeda sekali dengan sekarang yang marak akan korupsi. Selain itu, menurut Eyang Kakung, generasi muda zaman sekarang kurang akan budi pekerti dan rasa hormat. Beda dengan zaman dahulu yang generasi mudanya sangat sopan dan santun.

Mungkin kalau Eyang Kakung boleh memilih, Eyang Kakung akan lebih memilih cara hidup di Orde lama, katanya. Tapi, kan kita tidak boleh begitu, jalani saja apa yang ada di depan kita dan berharap untuk yang terbaik ujarnya.

D. Saran
Saat saya bertanya kepada Eyang Kakung apakah ada saran untuk kita, Eyang Kakung langsung menjawab bahwa sumber pendidikan kita, yaitu sekolah, harusnya gratis. Jadi, semua orang dapat menuntut ilmu untuk memajukan bangsa. Eyang Kakung juga menyarankan diberlakukan lagi pelajaran Budi Pekerti, sepeti zaman dahulu. Agar anak-anak bisa belajar sopan santun, rasa hormat kepada orangtua, serta tidak berkelahi antara satu sama lain.

Sebaiknya kita mulai belajar yang giat dan terus beperilaku baik, agar dapat ikut serta berperan dalam pembangunan Indonesia tercinta ini.

Eyang Gunawan


No comments:

Post a Comment