Wednesday, 29 May 2013

Tugas-2 Biografi Sheila Riahna XI IPA 4


Pendahuluan

Pada tugas kali ini, saya ditugaskan oleh guru Sejarah saya untuk mewawancarai seseorang yang bisa dibilang berusia lanjut dan membuat biografi serta peran yang pernah dilakukan dahulu. Dikarenakan saya sudah tidak mempunyai kakek atau nenek, saya memutuskan untuk mencari seseorang yang saya tidak kenal. Akhirnya saya memutuskan untuk mewawancarai seorang kakek tetangga saya yang bernama Mohammad Muchtar. Beliau lahir di Bandung pada tanggal 5 September 1940. Sekarang beliau tinggal bersama kedua anaknya di daerah sekitar Kebon Jeruk. Kebetulan istri dari kakek Muchtar sudah meninggal dunia sekitar 4 tahun yang lalu. Sewaktu istri dari kakek Muchtar masih hidup, mereka berdua tinggal di Bandung. Tetapi setelah istri beliau meninggal, kakek Muchtar memutuskan untuk membeli rumah di kawasan Jakarta dan memanggil kedua anaknya yang sudah menikah untuk tinggal bersamanya. Sekarang saya akan menuliskan tentang sejarah kehidupan kakek Muchtar.

Kakek Mohammad Muchtar


Biografi dan Peranan

5 September 1940 merupakan tanggal kelahiran dari kakek bernama Mohammad Muchtar. Beliau dilahirkan di Bandung. Kakek Muchtar merupakan anak kedua dari pasangan Jurnadi dan Surmanigsih. Kakek Muchtar merupakan anak terakhir dari pasangan tersebut. Jadi mereka hidup berempat satu rumah di Bandung. Kakek Muchtar melalui masa kecil yang menyenangkan dan banyak cerita. Tapi pasti kata menyenangkan tersebut berbeda dari kata menyenangkan seorang anak kecil jaman sekarang. Menurut beliau dapat berkumpul dengan keluarga dan makan cukup saja sudah senang. Tahun ini merupakan tahun dimana Indonesia sedang dalam posisi yang sangat dekat untuk mencapai kemerdekaan. Kakek Muchtar menceritakan bahwa ia sejujurnya tak bisa mengingat banyak hal dikarenakan umur beliau yang masih kecil. Sekarang pastinya beliau sudah lupa mengenai apa yang terjadi saat ia masih bayi. Tapi kakek berkata bahwa ketika ia sudah remaja ia diceritakan kembali oleh ayah dan ibunya tentang situasi dan apa yang terjadi di tahun 40-an. Pada saat yang bersamaan dengan kelahiran kakek Muchtar, Perang Dunia Kedua sedang terjadi. Lebih tepatnya yang sedang terjadi adalah Perang Pasifik. Perang ini seperti namanya terjadi di kawasan Asia Pasifik. Pada perang ini yang paling dikenal adalah pengeboman oleh Jepang pada hari Minggu, 8 Desember 1941. Bom yang ditujukan untuk Amerika Serikat. Ribuan bom,torpedo, dan bahan peledak lainnya di jatuhkan ke Pearl Harbour. Seluruh dunia terguncang saat mendengar berita tersebut. Tapi serangan tidak hanya sampai disitu, perang pun berlanjut. Saat itu Indonesia sedang dijajah oleh Belanda dan Jepang. Tetapi Bandung saat itu lebih dikuasai oleh Jepang dan keadaan sangatlah kacau. Dikarenakan umur Kakek Muchtar yang saat itu masih remaja, jadi beliau tidak berperan dalam membantu melakukan sesuatu. Tapi beliau menyaksikan dan masih teringat sampai sekarang. Beliau masih ingat ketika rumahnya sudah hancur dan orang-orang berlarian ada juga yang segera masuk ke bunker. Tetapi jika keadaan sedang agak tenang biasanya anak-anak termasuk Kakek Muchtar sering main berkeliaran. Menemukan peluru bekas ditembakan atau kayu puing-puing bekas rumah dijadikan mainan.
Kakek Muchtar masih ingat kejadian Bandung Lautan Api. Bandung Lautan Api merupakan peristiwa kebakaran besar yang terjadi di kota Bandung pada tanggal 24 Maret 1946. Penduduk Bandung membakar rumah mereka lalu meninggalkan kota menuju ke pegunungan di daerah selatan Bandung. Mereka melakukan hal ini untuk mencegah para Sekutu dan NICA Belanda untuk dapat menggunakan kota Bandung sebagai markas strategis militer dalam Perang Kemerdekaan Indonesia. Kakek Muchtar berusia sekitar 5 tahun ketika Indonesia merdeka. 17 Agustus 1945, beliau sangat ingat ketika di semua radio isinya tentang kabar bahwa Ir. Soekarno akan segera membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Saat itu Kakek Muchtar dan keluarga tetap di Bandung jadi tidak dapat menyaksikan secara langsung. Tetapi euforia di Bandung sama besarnya dengan di Jakarta. Semua orang berteriak “MERDEKAA!!” dan “INDONESIA MERDEKA!”. Naskah Proklamasi Kemerdekaan yang diketik oleh Sayuti Melik, bendera Merah Putih yang dibuat oleh Ibu Fatmawati. Semuanya terasa seperti mimpi hari itu. Seperti di film-film katanya. Semua orang terlihat sangat senang karena akhirnya negara kita merdeka yang berarti bebas. Bebas dari penjajah, bebas dari semuanya. Dari yang muda sampai yang tua, semua mendengarkan radio bersama. Loncat-loncat bahagia bersama. Keesokan harinya pada tanggal 18 Agustus 1945 akhirnya disahkan Undang-Undang Dasar 1945. Ketika beliau berumur 6 atau 7, beliau memasuki Sekolah Dasar (SD) dengan anak-anak lainnya. Sekolah yang dimasuki beliau merupakan sekolah rakyat. Pada saat itu, guru masih menulis dengan kapur. Setelah lulus dari SD, beliau melanjutkan sekolah yang sederajat dengan SMP. Lalu setelah itu beliau tetap melanjutkan sekolah lagi ke tingkat yang sederajat dengan SMA. Kakek Muchtar merupakan anak yang pintar semasa sekolah. Disekolah selalu aktif jika diberi pertanyaan oleh guru dan beliau juga dikenal sebagai orang yang ramah jadi gampang membuat teman. Kadang sehabis pulang sekolah beliau sering diminta temannya untuk mengajari teman-temannya yang masih belum begitu mengerti pelajaran yang baru saja dipelajari. Kakek Muchtar sering mendapat juara semasa sekolah. Tetapi dikarenakan biaya yang kurang Kakek Muchtar tidak dapat melanjutkan untuk masuk ke universitas. Akhirnya ayahnya Kakek Muchtar berkata kalau Kakek Muchtar ingin melanjutkan sekolah, ia harus mencari duitnya sendiri. Tetapi jika sudah mempunyai pekerjaan dan tidak ingin melanjutkan sekolah juga tidak apa-apa. Menurut Kakek Muchtar, pada saat itu ayahnya tidak ingin membebani anaknya untuk mencari duit sendiri untuk bersekolah. Kakek Muchtar yang saat itu sedang di usia remaja memutuskan untuk mencari kerja sambilan. Susah sekali mencari pekerjaan untuk seseorang yang hanya lulus dari SMA. Akhirnya ia melihat ada bangunan seperti rumah atau kantor yang sedang dibangun. Beliau lalu bertanya apakah ia dapat bekerja sambilan disana dan berbicara dengan komandannya. Dan beliau diterima. Setelah mengumpulkan uang cukup banyak beliau tetap ingin melanjutkan sekolah. Saat itu universitas yang terkenal adalah Technische Hoogeschool te Bandoeng atau yang sekarang lebih dikenal sebagai ITB. Karena Kakek Muchtar merupakan orang yang pintar, ia berhasil masuk. Saat bersekolah beliau bertemu seorang perempuan bernama panggilan Siti. Rupanya Kakek Muchtar jatuh cinta dengan teman sekolahnya tersebut. Pada sekitar tahun 1955-an Kakek Muchtar dan Nenek Siti menikah. Mereka lalu berkeluarga dan mempunyai 2 anak. Pada tahun 2009 lalu Nenek Siti meninggal dunia di rumahnya yaitu di Bandung. Semenjak itu Kakek Muchtar melanjutkan hidupnya tinggal di Jakarta bersama kedua anaknya. Kedua anaknya sudah berkeluarga juga dan tinggal di beda rumah. Tetapi karena ajakan Kakek Muchtar semuanya setuju untuk tinggal bersama. Jadi sekarang Kakek Muchtar tinggal berenam yaitu Kakek Muchtar sendiri, kedua anaknya beserta istrinya, dan satu cucu dari anaknya yang kedua. Mungkin memang Kakek Muchtar ini tidak terlalu berperan dalam mengikuti perang, atau wajib militer. Tetapi menurut saya menyaksikannya saja sudah sangat bangga mengingat kejadian yang sampai sekarang dikenang orang banyak. Dan ternyata kehidupan di masa lalu jauh lebih kasar dan keras dari sekarang. Kerusuhan dan peperangan dimana-mana. Kita harus bersyukur karena generasi kita hidup di negara yang sudah merdeka dan jauh lebih tenang (stabil) dibanding jaman dahulu.

No comments:

Post a Comment