Saturday, 25 May 2013

Tugas 2 Biografi - Soraya Kamila Fithrie XI IPS 2

Kakek Soewarno, Saksi Peristiwa Gerbong Maut dan Penjajahan Jepang di Bondowoso


Nama kakek saya adalah Soewarno. Kakek saya banyak menghabiskan masa kecilnya di daerah Jawa Timur, Bondowoso. Kakek saya merupakan anak dari pasangan Emat Soewarno dan Nur Sasi. Bapak dari kakek saya, Emat Soewarno merupakan seorang polisi rakyat di daerah Bondowoso. Tetapi ia sering ditempat kan di daerah – daerah di Jawa Tengah dan daerah jawa lainnya. Pada kesempatan kali ini saya akan mewawancarai kakek saya, sebagai saksi yang pernah melihat kejadian – kejadian sejarah yang terjadi pada masa kemerdekaan khususnya yang terjadi pada buyut saya yaitu Emat Soewarno, dan kejadian – kejadian sejarah yang terjadi pada kakek saya sendiri di masa orde lama, orde baru dan reformasi.

BIOGRAFI KAKEK

Nama kakek saya adalah Soewarno. Ia lahir di Bondowoso, Jawa Timur. Kakek saya menikah dengan nenek saya yang bernama Yaniek Aryani. Dari pernikahannya ini sekarang kakek saya memiliki 3 orang anak kandung. Anak pertamanya bernama Iftitah Ida Syofia, yang merupakan ibu saya sendiri. Anak kedua bernama Ireng Maulana. Dan anak ketiga bernama Jaka Hendra Ary Wardhana. Sekarang kakek saya juga memiliki sepuluh cucu yang terdiri dari 2 cucu perempuan dan 8 cucu laki – laki.

Masa kecil kakek saya banyak dihabiskan di daerah sekitar Jawa Timur, seperti di daerah Bondowoso, Jember dan Surabaya. Pada tahun 1945 Indonesia khususnya di daerah Jawa Timur dan sekitarnya masih dalam pengaruh pendudukan Jepang. Kakek saya yang pada saat itu baru berusia muda sudah sedikit banyak mengetahui tentang penjajahan yang terjadi pada saat itu, ia hanya mengetahuinya beberapa kejadian yang diceritakan dan dialami  oleh ayah beliau, Emat Soewarno, yang pada masa itu masih menjabat sebagai polisi di daerah nya dan mertuanya yang bernama H. Muhammad Roek Hasan dan Mbah Kartini.
Saat usia taman kanak – kanak kakek saya sudah dapat mengenyam pendidikan di salah satu taman kanak – kanak di Bondowoso. Kemudian Ia melanjutkan pendidikannya ke jenjang sekolah dasar, Ia bersekolah di sekolah dasar yang berada di daerah Bondowoso juga, nama sekolah dasar tersebut adalah SD Dabasah 3. Setelah selesai mengenyam pendidikan di jenjang SD kakek saya langsung melanjutkan pendidikan di SMP 1 Bondowoso. Setelah itu ia melanjutkan kembali pendidikannya di SMA Botol Kosong. Sekolah ini dinamakan SMA Botol Kosong karena sekolah ini didirikan dari hasil pengumpulan botol – botol kosong oleh para murid – muridnya.

Setelah kakek saya lulus dari jenjang SMA, kakek saya langsung bekerja terlebih dahulu di kantor pajak di daerah Bondowoso, Jawa Timur. Ia memang tidak melanjutkan kuliah terlebih dahulu, namun setelah ia mendapatkan pekerjaannya di kantor pajak Bondowoso, ia baru melanjutkan pendidikan S1 nya di fakultas Sosial Politik jurusan Administrasi di Universitas Jember. Sesaat setelah ia mendapatkan pekerjaan di kantor pajak itu lah ia menikahi nenek saya yang bernama Yaniek Aryani. Tidak lama setelah kakek saya menikah dengan nenek saya lahirlah ibu saya yang bernaam Iftita Ida Syofia. Ibu saya merupakan anak pertama dari 3 bersaudara.

Ketika ibu saya berusia 27 tahun nenek saya meninggal dunia. Hal ini merupakan hal yang berat bagi kakek saya karena pada saat itu ia harus mengurus 3 anaknya sendirian. Namun ia tetap meneruskan pekerjaannya di Kantor Pajak. Selama ia bekerja di Kantor pajak Bondowoso, ia sering dipindah tugaskan ke daerah – daerah besar seperti Surabaya, Pekanbaru dan Jakarta. Selama di Jakarta dan Surabaya kakek saya banyak melihat peristiwa – peristiwa sejarah pada masa orde lama dan orde baru.

Setelah kakek saya pensiun, kakek saya bertempat tinggal di daerah Jember, Jawa Timur. Hingga sekarang ia masih tinggal di Jember, Jawa Timur. Namun sesekali ia menengok keluarga saya yang ada di Jakarta. Meskipun usianya kini sudah tidak muda lagi ia masih dapat mengingat kejadian – kejadian bersejarah yang ia lihat atau bahkan ia alami sendiri di masa lalu. Maka dari itu saya telah mewawancarai beliau dan saya akan menarasikannya ke dalam artikel ini.

PERISTIWA – PERISTIWA SEJARAH YANG DIALAMI DAN DILIHAT KAKEK SAYA

Kakek saya banyak melihat peristiwa – peristiwa sejarah yang terjadi di Indonesia, terutama peristiwa – peristiwa sejarah yang banyak terjadi di daerah Jawa Timur, khususnya di daerah Bondowoso. Banyak pengalaman yang menyenangkan, namun tidak sedikit pula pengalaman yang memilukan yang diceritakan oleh kakek saya.

Ketika kakek saya masih muda kakek saya sering sekali melihat ayah nya yaitu Emat Soewarno banyak bertugas di dalam lembaga kepolisian di Bondowoso. Salah satu momen yang diceritakan oleh kakek saya adalah ketika terjadi peristiwa gerbong maut di Bondowoso, pada saat itu kakek saya baru masuk usia muda , Saat itu yang dapat dilihat kakek saya adalah bagaimana tahanan yang ada di daerah bondowoso dipindahkan secara paksa oleh belanda. Kakek saya mendapat cerita dari buyut saya bahwa pada saat itu ia melihat betapa penuh sesaknya gerbong  - gerbong kereta yang digunakan untuk mengangkut tahanan rakyat Indonesia. Hal ini dilakukan untuk memindahkan para tahanan dari Bondowoso ke Surabaya, untuk menghindari intaian para gerilyawan RI.

Ayah kakek saya banyak mengalami dan menceritakan kejadian - kejadian saat itu kepada kakek saya. Pada waktu itu buyut saya, yang memiliki pekerjaan sebagai polisi, bertugas untuk membantu mengeluarkan para tahanan dari sel di bondowoso dan membantu memasukkan ke gerbong. Sebenarnya ia tidak ingin menyiksa dan membantu para belanda . Banyak sekali kejadian yang diceritakan oleh buyut saya kepada kakek saya diantaranya berbagai macam cara rakyat Indonesia yang ada di dalam gerbong untuk bertahan hidup. Salah satunya adalah dengan cara meminum air kencing temannya sendiri karena pada waktu itu di dalam gerbong yang seharusnya hanya diisi 10 orang malah diisi 30 orang lebih tidak ada lubang ventilasi yang cukup sama sekali. Selain itu banyak yang mati di dalam gerbong tersebut karena hawa panas dan pengap yang terasa di dalam.

Selain ayah dari kakek saya, pada saat wawancara banyak juga ternyata kejadian – kejadian yang diceritakan kakek dan ibu saya tentang perjuangan buyut saya yang berasal dari nenek saya. Buyut saya yang berasal dari nenek saya bernama H. Muhammad Roek Hasan dan Mbah Kartini. Kedua buyut saya ini sama – sama bermukim di Bondowoso. Buyut saya yang bernama H. Muhammad Roek Hasan yang sering dipanggil uyut haji hasan dulu merupakan sekertaris desa dan sekertaris Nahdlatul Ulama cabang Bondowoso. Pada wktu masa transisi dari pemerintahan belanda ke pemerintahan jepang banyak sekali perang yang terjadi antara jepang dan belanda. Pada waktu itu jepang menang atas Belanda dan banyak tentara – tentara belanda yang gugur di medan perang. Di depan rumah uyut haji hasan lah kemudian didirikan kuburan yang ditujukan untuk tentara belanda. Pada waktu itu dengan jabatan yang dimiliki oleh uyut haji hasan tersebut, ia sudah banyak dipercaya dan tidak pernah dicurigai oleh pemerintah Indonesia. Namun, meskipun dengan jabatannya tersebut, Uyut Haji hasan sempat dipaksa dan dipekerjakan sebagai pembuat rel dan stasiun – stasiun dalam romusha pada saat pemerintahan Jepang. Ia membangun rel – rel di sepanjang kabupaten Bondowoso sampai dengan Panarukan.

Selain itu ia juga ikut membantu mengurus rumah tangga para petinggi Jepang yang ada di Bondowoso. Dengan keadaan seperti itu petinggi – petinggi Jepang sangat percaya kepada uyut Haji Hasan, saking percayanya mereka kepada uyut haji hasan, mereka sampai memberi apapun yang dibutuhkan uyut haji hasan, salah satu barang yang diberikan pada waktu itu adalah sepeda dan samurai khas jepang. Namun uyut haji hasan tidak begitu saja tunduk kepada petinggi jepang tersebut, ia justru menggunakan kepercayaan Jepang ini sebagai kesempatan untuk memata – matai Jepang. Namun dalam memata – matai jepang ini ia mendapat perintah langsung dari Nahdlatul Ulama yang bekerjasama dengan pemerintah Indonesia. Cara ia memata – matai jepang yaitu salah satunya dengan cara mendengarkan secara diam- diam rapat – rapat yang biasanya diadakan di dalam rumah petinggi jepang tersebut. Sembari ia mengeluarkan teh untuk para undangan yang mengikuti rapat ia biasanya mendengarkan secara diam – diam perkataan mereka. Uyut haji hasan terus mengumpulkan informasi informasi yang ia dapatkan secara diam – diam, namun ia tidak pernah dicurigai oleh petinggi jepang tersebut, ia justru semakin dipercaya oleh petinggi Jepang tersebut. Posisinya ini sangat menguntungkan bagi rakyat terutama pemerintah dan Nahdlatul Ulama dalam mencari strategi. Ketika informasi yang dikumpulkan cukup, uyut haji hasan mengundurkan diri dari pekerjaannya tersebut. Ia mengundurkan diri dan tidak pernah dicurigai oleh petinggi – petinggi Jepang. Jadi, pada masa jepang uyut haji hasan berperan sebagai mata – mata Indonesia. . Dari tugasnya memata – matai jepang ini uyut haji hasan banyak terpengaruh sifat – sifat jepang salah satunya kedisiplinan dan kerapihan. Baju  - baju uyut haji hasan yang ada di sana sangat rapih lipatannya pun tidak ada yang berantakan sebagaimana baju – baju petinggi jepang yang sangat rapih.

Setelah masa penjajahan jepang belanda kembali lagi menguasai Indonesia. Setelah beberapa tahun belanda menguasai Indonesia, muncul konflik yaitu munculnya gerakan PKI di Indonesia, tidak terkecuali di Bondowoso.

Di Bondowoso sendiri uyut Haji hasan masih menjabat sebagai sekertaris desa dan sekertaris Nahdlatul Ulama. Pada waktu itu uyut haji hasan dianggap sebagai pihak yang memihak pemerintah Indonesia dan tidak ikut campur dalam urusan PKI, karena kepercayaan pemerintah ini uyut haji hasan diikutsertakan dalam penumpasan gerakan PKI. Dulu, semasa penumpasan PKI uyut haji hasan tidak secara langsung dan terang – terangan dalam membunuh para PKI justru ia sering sekali menjadikan rumahnya sebagai tempat bersembunyi para PKI namun dengan syarat para PKI tersebut berjanji untuk tidak masuk kembali ke dalam keanggotaan PKI. Salah satu tetangga dari uyut haji hasan merupakan tentara indonesia yang difitnah ikut membantu dalam operasi PKI, karena ia sering memberi bantuan bahan makanan pokok kepada PKI. Ketika ia dikejar – kejar masyarakat, uyut haji hasan membantu menyembunyikannya di lumbung padi yang terdapat di rumah uyut haji hasan. Uyut haji hasan merasa iba dan kasihan karena tetangganya tersebut memiliki banyak anak yang masih balita. Uyut haji hasan tidak pernah dicurigai oleh pemerintah indonesia, maka dari itu banyak PKI yang meminta disembunyikan.

Tidak hanya itu, uyut haji hasan juga banyak melihat kejadian – kejadian yang tidak berperi kemanusiaan yang dilakukan untuk menumpas para PKI. Kejadian itu tidak hanya terjadi pada teman – temannya saja tetapi juga pada saudaranya sendiri. Saudara – saudara dari uyut haji hasan banyak yang menjadi pengikut PKI. Tidak hanya itu saudara uyut haji hasan juga bahkan ada yang menjadi anggota dari GERWANI, yaitu gerakan wanita yang ada di bawah naungan PKI, saudara uyut haji hasan itu bertugas untuk memimpin barisan wanita – wanita PKI. Salah satu dari mereka dibunuh dan mayatnya dibuang di dalam gorong – gorong di depan rumah uyut haji hasan.

Tidak hanya uyut haji hasan saja yang berperan dalam kemerdekaan di Indonesia, tetapi juga istri uyut haji hasan yaitu mbah kartini. Ia berjuang denga cara menyediakan rumahnya sebagai dapur umum para tentara Indonesia. Ia sering juga memberi bantuan makanan pokok untuk para tentara Indonesia di Bondowoso. Biasanya rumahnya selalu penuh dengan bahan – bahan pokok yang akan dimasak dan kemudian akan diberikan kepada para tentara Indonesia di Bondowoso.

Kakek Soewarno
Bersama saya dan keluarga
Dari wawancara saya ini saya mendapatkan banyak sekali informasi yang ternyata tidak saya dapatkan di dalam buku – buku sejarah biasa. Kini saya mengetahui bagaimana keadaan bangsa Indonesia sebenarnya pada saat masa penjajahan. Saksi – saksi sejarah yang langsung mengalami dan melihat kejadian sejarah itu telah membuat pikiran saya lebih terbuka lagi menghadapi perubahan. 

No comments:

Post a Comment