Tuesday, 28 May 2013

Tugas-2 Biografi Syadzwina Dwi Putri


EYANG KASIMAN, REMAJA PEJUANG KEMERDEKAAN

Bahkan setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia tahun 1945, Indonesia masih terus diserang oleh Belanda. Kehidupan kita yang damai dan merdeka sekarang ini, tidak lepas dari perjuangan pendahulu-pendahulu kita. Sebagai pelajar yang menikmati kemerdekaan yang diberikan oleh pejuang-pejuang tersebut, kita wajib mengingat jasa-jasa mereka.

Untuk itu, pada tanggal 28 April 2013 saya mewawancarai salah seorang veteran pejuang kemerdekaan Indonesia yang telah terlibat dalam berbagai pertempuran, diantaranya adalah gerilya Gerakan Operasi Militer I dan Perang Kemerdekaan Kedua. Beliau bernama Kasiman, seorang pejuang yang memulai perjuangannya ketika beliau masih seorang pelajar seperti kita.

Beliau bernama Kasiman, seorang veteran pejuang kemerdekaan Indonesia, anggota Badan Keamanan Rakyat Pelajar yang telah memperjuangkan kemerdekaan yang kita nikmati sekarang ini ketika masih berumur 17 tahun.

BIOGRAFI

Sekilas tentang keluarga Eyang Kasiman, beliau lahir tanggal 9 Agustus 1929 di Sumatra. Beliau merupakan salah satu dari 3 bersaudara. Sekarang, Ia memiliki empat anak; tiga laki-laki dan satu perempuan, dimana anak laki-laki pertamanya sudah meninggal. Salah satu cucunya bersekolah di SMA Labschool Rawamangun.

Dahulu, beliau merupakan anggota TNI Brigadir 17 detasemen I TRIP Jawa Timur sejak bulan Februari 1946. Sebelum menjadi bagian dari pejuang perang Indonesia, Ia bersekolah di Sekolah Teknik Negeri 4 tahun di Malang. Di tahun ketiganya, Ia secara sukarela menjadi bagian dari BKR (Badan Kemanan Rakyat) Pelajar. Saat itu beliau masih berusia 17 tahun.

Setelah berjuang selama 3 tahun, Badan Keamanan Rakyat dibubarkan tanggal 27 Desember 1949 setelah penyerahan kedaulatan Belanda kepada Indonesia. Setelah pembubaran tersebut, beliau kembali mengenyam pendidikan di Sekolah Teknik Menengah di Malang hingga tahun 1952.

Setelah menyelesaikan pendidikan di Malang, Eyang Kasiman pindah ke Jakarta. Di Jakarta, ia masuk ke Akademi Keselamatan Kerja, bagian Departemen Keguruan. Saat itu menteri Departemen Keguruan adalah Profesor Abidin. Selanjutnya ia menikah dan menetap di Jakarta hingga sekarang.


PERANAN

Perjuangan beliau dimulai ketika seorang pejuang membakar semangatnya dan pelajar-pelajar lain dengan kata-kata “Merdeka atau mati. Tidak ada kata dijajah lagi”. Karena kata-kata tersebut, ia dan pelajar-pelajar lain, dari Sekolah Guru dan sekolah-sekolah lain, perempuan dan laki-laki, bersatu secara sukarela demi kemerdekaan Indonesia. Mereka kemudian dipindahkan ke desa-desa. Beliau bercerita, ketika ia dan pelajar-pelajar perempuan dan laki-laki lainnya disatukan dalam satu grup dan ditugaskan di desa, situasi cukup aman.

Beliau berjuang tanpa pamrih, karena ia begitu menginginkan kemerdekaan. Saat jaman penjajahan Belanda dulu, beliau bercerita, tidak semua masyarakat pribumi bisa bebas berjalan ke mana pun, padahal mereka ada di negara mereka sendiri. Beberapa area dilarang dimasuki rakyat pribumi, bahkan memasang tanda “Dilarang Masuk untuk Hewan dan Orang Bumiputera”. Beliau marah rakyat pribumi diperlakukan seperti hewan, dan ketidakbebasan mereka di tanah mereka sendiri. Maka, perjuangan beliau murni untuk kemerdekaannya dan rakyat Indonesia.

Beliau bercerita bahwa waktu perang tersebut, ia tidak diberi makan, pakaian, ataupun senjata. Mereka harus usaha sendiri memenuhi kebutuhan hidup dan perang mereka. Warga sipil juga ikut membantu dengan menyediakan dan membagi makanan untuk para pejuang perang. Karena kedekatan mereka dan umur mereka yang masih muda, Ibu-Ibu di kampung-kampung yang memberi mereka makanan memanggil remaja-remaja pejuang tersebut “Mas TRIP”, julukan yang sampai sekarang masih melekat di Eyang Sukiman.

Senjata juga tidak dibuatkan oleh negara. Mereka harus terus-menerus mundur ketika diserang karena kekurangan senjata. Mereka harus membongkar gudang-gudang bekas penyimpanan senjata milik Jepang, dan menggunakan senjata apapun yang masih tersisa. Ada juga warga asal Jepang yang turut membantu mereka dalam perjuangan kemerdekaan, dan terus ikut berjuang hingga akhir perang.

Eyang Sukiman adalah salah satu pejuang yang bertempur melawan Belanda dalam Perang Kemerdekaan Kedua dan Gerakan Operasi Militer I. Beliau diangkat sebagai anggota bersenjata tahun 1947. Sejak saat itu hingga penyerahan kedaulatan tahun 1949, beliau bertempur di berbagai medan perang.

Salah satu kejadian yang paling Eyang Sukiman ingat selama masa-masa yang ia habiskan untuk negara ini adalah adalah gerilya bulan Juli 1949. Insiden ini terjadi di daerah Peniwen, Kawi Selatan. Saat itu, beliau hanya bersama satu regu berisi sebelas orang. Karena suatu kesalahan, grup tersebut ketahuan oleh patroli Belanda. Saat itu mereka jelas kekurangan orang, dan harus melawan satu kompi tentara Belanda. Jumlah yang timpang tersebut diperburuk dengan posisi geografis yang merugikan grup pejuang Indonesia, karena posisi tentara Belanda lebih tinggi dari posisi grup tersebut.

Enam dan sebelas anggota grup gugur di pertempuran tersebut. Eyang Sukiman sendiri terkena tembakan peluru di tangan dan perutnya. Namun, untungnya beliau berhasil kabur ke jurang, di tempat banyak kebun jagung. Beliau bersembunyi di kebun jagung tersebut selama yang beliau rasa 3 hari, karena ia tidak bisa kabur atau bergerak kemana-mana lagi. Akhirnya, ia ditemukan oleh petani jagung setempat. Petani jagung tersebut kemudian membawa Eyang Kasiman ke rumahnya. Beliau lalu dirawat di kampung tersebut sampai penyerahan kedaulatan Belanda kepada Indonesia. Beliau kemudian dikembalikan ke rumahnya.

Kepada generasi pelajar saat ini, Eyang Kasiman berpesan, jangan lupakan jasa-jasa orang yang telah memperjuangkan kemerdekaan. Mereka dulu berjuang tanpa pamrih, tidak diberi makanan, pakaian, atau senjata, tapi tetap tidak menyerah demi kemerdekaan Indonesia. Bahwa sekarang kita sudah merdeka, dan jika suatu hari ada lagi penjajah yang datang, tugas kita adalah menolak dan melawan penjajah tersebut. Bahwa mulai sejak selesainya perjuangan mereka hingga sampai kapanpun, yang memimpin negara kita adalah orang-orang kita sendiri.

Jasa beliau terhadap Indonesia sangatlah berharga. Pengorbanan dan perjuangan beliau, meski hanya bagian kecil dari seluruh pertempuran besar melawan Belanda di negeri ini, merupakan bagian penting dari keberhasilan Indonesia merebut kembali kemerdekaan dan hak-hak kita. Beliau tidak pernah menyerah, meski dipersulit oleh kurangnya sumber daya, dan terus berusaha melakukan apa saja demi satu tujuan, yaitu kebebasan dan kemerdekaan untuk rakyat Indonesia.

Atas jasa-jasa beliau terhadap negara ini, beliau memperoleh banyak tanda-tanda jasa. Diantaranya adalah Satyalantjana Bhakti yang beliau peroleh karena pengorbanan beliau ketika tertembak peluru musuh. Beliau juga dianugerahi Satyalantjana Gerakan Operasi Militer I dan Satjalantjana Peristiwa Perang Kemerdekaan Kedua.  Eyang Kasiman juga memperoleh Bintang Gerilya, yang memberinya hak untuk dikuburkan di Taman Makam Pahlawan ketika ia meninggal nanti, menunjukkan bahwa beliau selamanya dianggap sebagai pahlawan Indonesia.

Pelajaran yang dapat diambil dari kehidupan Eyang Kasiman adalah, meskipun kondisi sangat mustahil, kita harus terus berjuang demi hak kita untuk merdeka. Pasti selalu ada jalan jika kita benar-benar menginginkan kemerdekaan tersebut, bahkan memanfaatkan hasil penjajahan itu sendiri, seperti ketika Eyang Kasiman membongkar gudang-gudang bekas militer Jepang untuk melawan penjajah dari Belanda.


Selain itu, dalam perjuangan kita tidak pernah sendirian. Akan selalu ada orang-orang seperjuangan yang membantu kita, dan kemerdekaan hanya bisa direbut jika seluruh negara bergotong-royong dan masing-masing memberi peranannya masing-masing, sekecil apapun itu; meski hanya membantu memberi makan tentara atau menyelamatkan dan merawat anggota perang yang terluka.

Sekali lagi, jangan pernah lupakan jasa-jasa pahlawan yang telah bertempur tanpa pamrih ini. Tanpa mereka, kita tidak akan ada di sini sekarang, menikmati kebebasan di negara kita sendiri.



No comments:

Post a Comment