Friday, 31 May 2013

Tugas 2 Biografi - Syahla Putri Windayan XI IPA 3

Menonton Gerwani Menyanyi


Sejarah adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan yang meneliti dan menyelidiki secara sistematis keseluruhan perkembangan masyarakat serta kemanusiaan di masa lampau beserta kejadian-kejadian dengan maksud untuk kemudian menilai secara kritis seluruh hasil penelitiannya tersebut, untuk selanjutnya dijadikan perbendaharaan pedoman bagi penilaian dan penentuan keadaan sekarang serta arah proses masa depan.
Sejarah Indonesia meliputi suatu rentang waktu yang sangat panjang yang dimulai sejak zaman prasejarah berdasarkan penemuan "Manusia Jawa" yang berusia 1,7 juta tahun yang lalu. Periode sejarah Indonesia dapat dibagi menjadi lima era, yaitu:
1.   Era Prakolonial, munculnya kerajaan-kerajaan Hindu - Buddha serta Islam di Jawa dan Sumatera yang terutama mengandalkan perdagangan
2.   Era Kolonial, masuknya orang-orang Eropa (terutama Belanda) yang menginginkan rempah - rempah mengakibatkan penjajahan oleh Belanda selama sekitar 3,5 abad antara awal abad ke - 17 hingga pertengahan abad ke - 20.
3.   Era Kemerdekaan Awal, pasca-Proklamasi Kemerdekaan Indonesia (1945) sampai jatuhnya Soekarno (1966)
4.   Era Orde Baru, 32 tahun masa pemerintahan Soeharto (19661998)
5.   Era Reformasi yang berlangsung sampai sekarang.
Setelah kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, Indonesia masih banyak mempunyai konflik – konflik. Salah satu yang paling dikenang adalah peristiwa G30S PKI (Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia).
G30S PKI adalah sebuah peristiwa yang terjadi selewat malam tanggal 30 September sampai di awal 1 Oktober 1965 di mana enam perwira tinggi militer Indonesia beserta beberapa orang lainnya dibunuh dalam suatu usaha percobaan kudeta yang kemudian dituduhkan kepada anggota Partai Komunis Indonesia. Enam perwira tinggi militer Indonesia yang dibunuh adalah Letjen TNI Ahmad Yani, Mayjen TNI Raden Suprapto, Mayjen TNI Mas Tirtodarmo Haryono, Mayjen TNI Siswondo Parman, Brigjen TNI Donald Isaac Panjaitan, dan Brigjen TNI Sutoyo Siswomiharjo. Sementara Jendral Abdul Harris Nasution yang menjadi sasaran utama, selamat dari upaya pembunuhan tersebut. Sebaliknya putrinya Ade Irma Suryani Nasution dan ajudannya Pierre Andreas Tendean tewas dalam upaya pembunuhan tersebut.
Pada bulan Mei, saya berkesempatan untuk mewawancara ibu Sumarni, yaitu nenek saya sendiri. Beliau lahir pada tahun 1957 di Jakarta. Hingga sekarang Ibu Sumarni tinggal di Jakarta di daerah kalibata. Ia menikah dengan bapak Ali Fauzi pada tahun 1971 dan mempunyai 6 orang anak, 3 orang perempuan bernama Ria, Dian dan Farida dan juga  3 orang laki – laki bernama Farid, Novel dan Helmi. Sampai sekarang ia mempunyai 13 orang cucu, 6 perempuan dan 7 laki – laki.
Sewaktu muda ibu Sumarni dan bapak Ali Fauzi mempunyai peternakan sapi. Mereka berjualan susu sapi dan juga daging sapi berkeliling. Selain itu ibu Sumarni terkenal dengan makanannya yang sangat enak, oleh karena itu ia juga berjualan nasi uduk. Tetapi disaat peternakan sapi dilarang di Jakarta pada tahun 2000 dikarenakan oleh limbahnya yang sangat mengganggu ibu Sumarni hanya berjualan nasi uduk dan hanya beberapa saat saja. Sebelum menikah ibu Sumarni membantu ayahnya berjualan makanan, sementara ibunya bekerja di pabrik bata.
Ibu Sumarni adalah anak pertama dari enam bersaudara. Oleh karena itu setiap lebaran Idul Fitri seluruh dari keluarganya berkumpul dirumahnya selain untuk bersilahturahmi juga untuk menikmati nasi uduk yang di buat oleh ibu Sumarni. Pada tahun 2011 ibu Sumarni melaksanakan ibadah haji bersama dengan suaminya, Ali Fauzi.
Pukul 8 malam hari Jumat di bulan Mei saya mewawancarai ibu Sumarni. Saya melakukan wawancara dirumah beliau sendiri di daerah kalibata. Beliau menceritakan tentang kehidupannya dulu saat masih bersekolah di bangku Sekolah Dasar.
Pada tahun 1965 bulan September saat ibu Sumarni pulang dari sekolah bersama teman – temannya, mereka selalu melalui taman makam pahlawan kalibata. Pada saat itu ia masih duduk di bangku sekolah dasar kelas 3. Di seberang taman makam pahlawan kalibata terdapat tempat tanah kosong yang sekarang menjadi tempat parkir, dahulu tempat itu adalah tempat  para gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) berlatih menyanyikan lagu Genjer – genjer.
Gerwani adalah sebuah organisasi perempuan yang selalu diidentikkan dengan tragedi nasional tanggal 30 September 1965, dimana pada peristiwa tersebut Gerwani dikatakan telah melakukan berbagai kegiatan yang dianggap 'telah merusak kepribadian kaum wanita indonesia’, melakukan ‘penyelewengan moral’ dan ‘kontrarevolusioner’. Gerwani dianggap oleh Orde Baru sebagai salah satu organisasi yang terlibat dalam peristiwa Gerakan 30 September, dan dalam film Pengkhianatan G 30S PKI karya Arifin C Noer digambarkan menyiksa jendral-jendral yang ditangkap sebelum mereka dibunuh di Lubang Buaya.
Menurut ibu Sumarni para gerwani berlatih menyanyikan lagu genjer – genjer di dekat taman makam pahlawan dua hingga tiga kali seminggu. Mereka berlatih bernyanyi di dua tempat yaitu depan taman makam pahlawan kalibata dan di dekat lubang buaya. Para anggota gerwani berlatih di tanah lapang menggunakan speaker dan juga mengenakan baju kebaya khas jawa tengah.
Lagu genjer – genjer adalah lagu populer berbahasa Osing yang diciptakan oleh seniman asal Banyuwangi, Muhammad Arief, pada tahun 1940-an. “Genjer-genjer, nong kedok’an pating keleler, emak’e tole, teko-teko, mbubuti genjer, oleh sak tenong, mungkor sedot, seng tole-tole, genjer-genjer, saiki wis digowo muleh,” adalah bait asli dari lagu genjer genjer. Pasca G30S, syair lagu Genjer-genjer pun dipelesetkan dengan syair yang menceritakan aksi penyiksaan para jenderal korban G30S. “Jendral Jendral Nyang ibukota pating keleler, Emake Gerwani, teko teko nyuliki jendral, Oleh sak truk, mungkir sedot sing toleh-toleh, Jendral Jendral saiki wes dicekeli,” Sehingga lagu ini dianggap melecehkan dan sekarang merupakan lagu yang dilarang.
Ibu Sumarni sempat beberapa kali mendengar latihan menyanyi para gerwani, dulu ia tidak mengerti apa maksudnya dan tidak menggap itu adalah sebuah hal yang penting. Tidak lama setelah itu terjadilah Gerakan 30 Septemper Partai Komunis Indonesia.

Pada tanggal 3 Oktober 1965 saat mayat keenam perwira tinggi milter ditemukan, Indonesia pun berkabung hari itu juga mayat para korban dimakamkan. Semua penduduk meninggalkan rumahnya untuk menyaksikan pemakaman di taman makam pahlawan kalibata. Semua penduduk sipil yang datang tidak dapat menahan air mata, semua mayat diletakan di peti dan di bungkus oleh bendera merah putih, bendera Indonesia.

            Setiap mobil berisikan satu mayat. Paling depan dan belakang barisan di kawal oleh dua mobil tank. Mobil – mobil itu bergerak secara sangat lambat sehingga para penduduk sipil dapat melihat secara seksama. Di seberang taman makam pahlawan, yang sebelumnya adalah tempat para gerwani berlatih menyanyikan lagu genjer – genjer dipasang beberapa meriam untuk mengamankan lokasi pemakaman, taman makam pahlawan kalibata.

            Setelah kejadian G30S PKI warga sipil merasa terancam, menurut ibu Sumarni seluruh warga dilanda oleh ketakutan yang sangat besar apalagi saat sudah masuk waktu maghrib. Pasca kejadian G30S PKI setelah diputuskan bahwa PKI adalah pelakunya, dimulainya pemberantasan PKI. Oleh warga sipil diberlakukan “jam malam”. “jam malam” yang dimaksud adalah peraturan dimana warga dilarang untuk keluar diatas pukul 6 sore atau maghrib secara berkelompok atau lebih dari 3 orang. Karena jika keluar secara berkelompok akan dicurigai sebagai anggota PKI atau membuat organisasi baru dibawah PKI.
           
            Pada pukul 6 sore semua orang masuk ke dalam rumah, setiap mendengar bunyi sirene semua lampu dimatikan karena takut dicurigai sebagai anggota PKI. Orang – orang yang dicurigai atau dilaporkan sebagai anggota PKI langsung ditangkap dan orang itu tidak akan muncul lagi. Terkadang orang yang ditangkap tidak berdasarkan bukti yang ada. Mereka ditangkap oleh karena dicurigai atau dilaporkan oleh orang yang tidak sepenuhnya terpercaya. Kira – kira 2.000.000 hingga 3.000.000 menjadi korban pemberantasan PKI. Mereka dibunuh atau diinterogasi atau dimasukan ke kamp dan disiksa. Di daerah jawa tengah dan jawa timur ada beberapa sungai tempat dibuangnya mayat – mayat sehingga terbentung “bendungan mayat”.

            Telah di buat video dokumenter tentang peristiwa Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia. Video ini ditayangkan setiap tanggal 30 September setiap tahunnya di Channel  TVRI pada masa pemerintahan Soeharto. Video ini menayangkan reka ulang dan peristiwa dikeluarkannya mayat – mayat para perwira dari lubang buaya, tanpa sensor. Video ini menunjukan kepada masyarakat Indonesia betapa sadisnya penyiksaan yang dialami oleh para perwira. Karena video ini dianggap terlalu sadis maka sekrang video ini dilarang untuk ditonton seperti lagu genjer – genjer yang dilarang didengar apalagi dinyanyikan. Sekarang lubang buaya sudah dijadikan museum bernama “Museum Pengkhianatan Komunis” yang terletak di Pondok Gede, Jawa Barat.
           
            Hingga hari ini, PKI masih dianggap sebagai dalang dari semua peristiwa ini, tetapi banyak sekali kabar burung yang beredar tentang siapakah pelaku yang sebenarnya?

            Banyak dari masyarakat menganggap Soeharto adalah otak dari peristiwa Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia. Karena lubang buaya yang merupakan tempat kekuasaan militer yang tidak sembarang orang bisa masuk. Dan juga tidak lama setelah G30SPKI Soeharto menjadi presiden Republik Indonesia menggantikan pak Soekarno. Padahal kabarnya rencana awalnya adalah presiden kedua Republik Indonesia bukan Soeharto melainkan Ahmad Yani. Oleh karena itu Ahmad Yani dibunuh dan akhirnya pak Soehartolah yang menjadi presiden Republik Indonesia selama kurang lebih 30 tahun.

            Ibu Sumarni berpesan kepada saya untuk sering – sering lah bersyukur. Bersyukur karena sudah melewati masa – masa dimana Indonesia masih tidak aman. Masa - masa dimana sekolah adalah hal yang wajib bukan hal yang harus disembunyikan. Ia juga mengatakan bahwa kita harus mengurangi mengeluh dan lebih sering belajar dari pengalaman masa lalu.

No comments:

Post a Comment