Friday, 31 May 2013

Tugas-2 Biografi Syifa Andini Salsabila XI IPS 3

BAPAK ALAMSYAH, SEORANG KOPRAL YANG MENJADI SAKSI SEJARAH PERMESTA, ,PEMBEBASAN IRIAN BARAT, dan G30SPKI.

Pada hari Rabu, 29 Mei 2013 saya mendapat kesempatan untuk mewawancarai seorang bapak yang merupakan veteran Kopral I, beliau bernama Bapak Alamsyah. Beliau berkediaman di daerah Pondok Cabe.  Selama wawancara berlangsung, beliau ditemani oleh istri tercintanya, Ibu Siti Halifah. Beliau berkata,”Maaf ya nak, Bapak bicaranya agak pelo. Bapak sempat terkena gejala stroke” Alhasil selama wawancara berlangsung, Ibu Siti Halifah turut mendampingi suaminya tercinta dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang saya lontarkan. 

AUTOBIOGRAFI

Cerita ini dimulai dari tujuh puluh tahun silam.  15 Juli 1942 telah lahir di Karawang seorang bayi laki-laki sehat yang dinamakan Alamsyah. Bapak Alamsyah merupakan anak bungsu dari 9 bersaudara. Ketika beliau lahir, keluarganya menyabut kehadirannya dengan suka cita. Akan tetapi kebahagiaan Bapak Alamsyah kecil tidak berlangsung lama. Ketika Bapak Alamsyah kecil berusia 1 bulan, ayahanda tercintanya dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Alhasil Bapak Alamsyah kecil diasuh oleh Ibunda dan kedelapan kakak-kakaknya.

Bapak Alamsyah menganyam bangku pendidikan sekolah dasarnya di Jakarta. Tepatnya di daerah Jatinegara. Bapak Alamsyah mengaku sangat ingin melanjutkan sekolahnya tetapi apa daya beliau tidak bisa melanjutkan sekolahnya karena setelah beliau menamatkan pendidikan sekolah dasarnya,  beliau harus mengikuti jejak kakaknya yang nomor 4 untuk tinggal di Lampung. Selama di Lampung Bapak Alamsyah membantu kakaknya yang bekerja sebagai petani di perkebunan kopi.

Setelah beberapa tahun menganggur di Lampung. Bapak Alamsyah memutuskan untuk merantau ke Jakarta. Beliau ingin mencoba keberuntungannya dalam tes pendidikan ABRI. Ternyata usaha kerasnya membuahkan hasil.  Pada tahun 1961, Bapak Alamsyah hijrah ke Ciampea, Bogor untuk mengikuti pendidikan ABRI selama beberapa bulan. Setelah mengikuti pendidikan ABRI di Ciampea, Bapak Alamsyah ditugaskan untuk berdinas di daerah Gorontalo.

Pada tahun 1964, di usia Bapak Alamsyah yang ke dua puluh dua, beliau meminang seorang gadis belia yang usianya terpaut delapan tahun darinya. Gadis itu adalah Siti Halifah. Wanita yang kini hampir 5 dasawarsa menemani beliau dalam mengarungi bahtera rumah tangga, baik dalam keadaan berduka maupun dalam keadaan bersuka cita. Ibu Siti Halifah sendiri merupakan orang asli Betawi. Setali tiga uang dengan Bapak Alamsyah, Ibu Siti Halifah sempat menghabiskan masa kecilnya di daerah perantauan keluarganya di pulau Suwarnadwipa (nama lain dari Pulau Sumatera yang berarti Pulau Emas), Bangka Belitung. Pada tahun 1962 Ibu Siti Halifah memutuskan untuk kembali ke Jakarta untuk meneruskan pendidikannya di sekolah menjahit.

“ Bapak dulu asramanya di Tanah Kusir sedangkan Ibu tinggal di daerah Pondok Pinang. Dahulu ketika Bapak dan teman-temannya datang ke daerah perumahan ibu , Ibu hanya bisa mengintip melalui jendela.”, kenang Ibu Siti Halifah.  

Ibu Siti Halifah tidak pernah menyangka akan jatuh hati pada Bapak Alamsyah yang usianya terpaut jauh darinya. Pada awalnya, Ibu Siti Halifah tidak diizinkan oleh orang tuanya untuk menikahi seorang ABRI.

Kata kedua orang tua Ibu, ABRI itu kayak burung. Selalu berpindah-pindah tugas.  Tetapi yah.. Kalo  jodoh mah gak lari kemana. Waktu itu jalannya emang cepet banget, neng. Gak kerasa udah hampir lima puluh tahun saya sama bapak.  ”, ujar Ibu Siti Halifah sambil tertawa tersipu malu yang diiringi dengan tawa kecil Bapak Alamsyah.  

PERANAN

Bapak Alamsyah saat masih aktif menjadi ABRI

Pada tahun 1961 dibuka pendaftaran pendidikan ABRI di Jakarta. Mendengar tes pendaftaran pendidikan ABRI dibuka, Bapak Alamsyah dengan semangat ingin mengikuti tes tersebut. Setelah lulus tes masuk, Bapak Alamsyah diharuskan untuk  Pendidikan ABRI yang dilaksanakan di Ciampea, Bogor. Setelah beberapa bulan di bina dalam pelatihan, tempat dinas pertama  Bapak Alamsyah adalah Gorontalo.  
Pada tahun 1961 setelah mengikuti pelatihan militer selama beberapa bulan, Bapak dikirim ke Gorontalo. Sebab mengapa Bapak dikirim ke Sulawesi adalah karena banyak terjadi ketegangan-ketegangan di daerah Sulawesi, termasuk Gorontalo. Hal tersebut disebabkan oleh pengambilalihan kekuasaan oleh PERMESTA yang merupakan singakatan dari Perdjuangan Semesta atau Perdjuangan Rakyat Semesta. Penyebab dari Pemberontakan PERMESTA ini diduga salah satunya karena Pemerintah Pusat dalam pembangunan Indonesia dinilai terlalu terpusat di daerah Ibu kota khususnya Pulau Jawa. Sehingga daerah lain diluar Pulau Jawa merasa tidak puas karena dana alokasi dari Pemerintah Pusat untuk daerah dirasakan sangat kurang dan tidak mencukupi untuk melaksanakan pembangunan. Pada akhirnya muncul upaya dari pihak militer yang mendapat respon positif dari beberapa tokoh sipil untuk melakukan koreksi terhadap kebijakan- kebijakan pemerintah.

Bapak Alamsyah merupakan satu dari banyak orang yang dikirim ke luar pulau Jawa. Beliau dengan pangkat Prajurit dua berbekal pelajaran yang telah diberikan saat pelatihan dan bermodal tekad juang ditugaskan di daerah Gorontalo. Beliau mengikuti Operasi Sapta Marga II dibawah pimpinan Letnan Kolonel Agus Pramono dengan sasaran Sulawesi Utara bagian Selatan. Salah satu peristiwa yang beliau ingat saat itu adalah ketika beliau melakukan penyergapan di suatu markas PERMESTA.

“Saat saya sampai di tempat itu, saya melihat di tempat itu ada sebuah sumur tempat pembantaian. Sumur itu digunakan sebagai tempat untuk pembantaian. Suasana saat itu sangat genting sehingga kemana-mana Bapak harus membawa senjata.”, kenang Bapak Alamsyah.
   
Selain Pemberontakan PERMESTA, Bapak Alamsyah juga menjadi saksi sejarah dalam peristiwa Operasi Trikora (Tri Komando Rakyat) atau bisa disebut juga dengan peristiwa pembebasan Irian Barat. Latar belakang yang menyebabkan terjadinya perisitiwa Trikora ini adalah pengklaiman daerah Papua bagian barat antara Indonesia dan Belanda.  Ketika Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, Indonesia mengklaim seluruh wilayah Hindia Belanda, termasuk wilayah barat Pulau Papua. Namun pihak Belanda masih menganggap bahwa wilayah itu masih menjadi salah satu provinsi Kerajaan Belanda. Pemerintah Belanda kemudian memulai mempersiapkan untuk menjadikan Papua negara merdeka selambat-lambatnya pada tahun 1970-an. Namun pemerintah Indonesia menentang hal ini dan Papua menjadi daerah yang diperebutkan antara Indonesia dan Belanda.


Dalam peristiwa pembebasan ini Bapak Alamsyah dengan pangkat yang masih berstatus Prajurit Dua, ditugaskan untuk mengawal mantan orang nomor satu di Indonesia pada era Orde Baru yang kita ketahui sebagai Bapak Mayor Jendral Soeharto ke Irian Barat. Pada saat itu Bapak Soeharto menjabat sebagai Panglima KOSTRAD (Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat).

“Saya waktu peristiwa pembebasan Irian Barat berperan sebagai pengawalnya Pak Harto. Kemana beliau bergerak, saya beserta teman-teman yang mengawal harus mengikuti. Tetapi Bapak gak lama di Irian Barat. Cuma sebentar karena Bapak harus mengikuti kemana Pak Harto pergi”, cerita  Bapak Alamsyah.

Atas keikutsertaan Bapak Alamsyah pada peristiwa Operasi Trikora atau pembebasan Irian Barat, Ia medapat piagam peghargaan yang ditandatangani oleh Bapak Soeharto pada 29 Mei 1985. 




 Piagam Penghargaan atas keikutsertaan Bapak Alam dalam Pembebasan Irian Barat

Pada tahun 1965, meletuslah G30SPKI, yaitu Gerakan yang terjadi pada 30 September yang diprakarsai oleh Partai Komunis Indonesia. Puncak yang paling menggegerkan adalah dengan pentargetan penculikkan pejabat tinggi militer. Setelah diculik, Jendral-jendral tersebut disiksa dan mayat mereka dibuang disuatu sumur di daerah yang dinamakan Lubang Buaya yang berlokasi di Pondok Gede, Jakarta Timur.
Keenam pejabat tinggi yang dibunuh tersebut adalah:
1.    Letjen TNI Ahmad Yani (Menteri/Panglima Angkatan Darat/Kepala Staf Komando Operasi Tertinggi)
2.    Mayjen TNI Raden Suprapto (Deputi II Menteri/Panglima AD bidang Administrasi)
3.    Mayjen TNI Mas Tirto Haryono (Deputi III Menteri/Panglima AD bidang Perencanaan dan Pembinaan)
4.    Mayjen TNI Siswono Parman (Asisten I Menteri/Panglima AD bidang Intelijen)
5.    Brigjen TNI Donald Isaac Pandjaitan (Asisten IV Menteri/Panglima AD bidang Logistik)
6.    Brigjen TNI Sutoyo Siswomiharjo (Inspektur Kehakiman/Oditur Jenderal Angkatan Darat)
Diantara ketujuh target, ada satu target utama yang selamat dari upaya penculikan dan pembunuhan tersebut. Beliau adalah Jenderal TNI Abdul Harris Nasution. Namun karena peristiwa ini, Jendral Nasution harus rela kehilangan putrinya Ade Irma Suryani dan ajudan beliau, Lettu CZI Pierre Andreas Tendean.

“Ketika jendral-jendral yang diincar tersebut diculik, Bapak langsung berjaga di sekitar rumah Pak Harto.  Untungnya, PKI itu gak ke rumah Pak Harto. Keesokan harinya, Jendral-Jendral yang selamat dari upaya penculikan diamankan di Mabes KOSTRAD di Jalan Merdeka Timur no 3”, ujar Bapak Alam sembari mengingat peristiwa yang terjadi hampir setengah abad yang lalu.

Bapak Alamsyah juga mengatakan bahwa teman beliau, Bapak Sukirman ketika itu sempat tertangkap oleh PKI ketika sedang mengendarai sepeda. Tetapi entah bagaimana caranya temannya, Sukirman ketika sampai di Lubang Buaya bisa lolos dengan mudahnya.

Akibat peristiwa G30SPKI yang cukup menggemparkan seluruh pelosok tanah air, orang-orang yang diduga terlibat dengan PKI langsung dicari dan disergap. Bapak Alamsyah mengaku sempat mengikuti misi penyergapan seseorang yang diduga sebagai anggota PKI di Bogor dan di Pulogadung.

“Iya waktu menjalankan misi itu, Bapak ingat sekali Bapak nggak pakai baju seragam yang biasa bapak kenakan saat berdinas. Bapak ketika itu menggunakan sarung, baju dan topi yang serba rombeng.”, kenang Bapak Alam sembari tertawa terbahak-bahak mengingat peristiwa yang dianggapnya unik tersebut.

Pangkat terakhir Bapak Alam adalah KOPRAL 1. Beliau pensiun pada tahun 1989. Selama tugasnya, Bapak Alam cenderung sering berjaga di Markas KOSTRAD di Gambir. Pada saat terjadi peristiwa separtis di Timor-Timur pada tahun 1999 beliau sempat ingin dikirim. Akan tetapi mengingat istri dan keenam anaknya, beliau mengurungkan niatnya tersebut.

 Pangkat terakhir Bapak Alam adalah KOPRAL 1.  Beliau pensiun pada tahun 1989. Selama tugasnya, Bapak Alam cenderung sering berjaga di Markas KOSTRAD di Gambir. Pada saat terjadi peristiwa separtis di Timor-Timur pada tahun 1999 beliau sempat ingin dikirim. Akan tetapi mengingat istri dan keenam anaknya, beliau mengurungkan niatnya tersebut.    

Setelah pensiun sebagai ABRI, Bapak Alamsyah beserta istrinya cenderung lebih sering beristirahat di rumah mereka di bilangan Pondok Cabe.

“Iyanih. Setelah pensiun saya sibuk jadi Baby sitter. Saya sangat senang bisa mengurus kesebelas cucu-curu saya.”, ungkap Bapak Alamsyah.   
           
Setelah selesai mewawncarai Bapak Alamsyah, saya sempat berbincang-bincang dengan Ibu Siti Halifah dan Bapak Arif Fadila selaku putra Bapak Alamsyah yang nomor dua. Ibu Halifah mengajak saya untuk melihat-lihat foto album Bapak dan foto keluarga. Sedangkan dengan Bapak Arif Fadila, saya menanyakan bagaimana sosok seorang Bapak Alamsyah di mata beliau.

“Bapak merupakan sosok yang saya jadikan sebagai panutan. Ketika masih muda Bapak sangat karismatik. Meskipun beliau seorang ABRI yang biasanya digambarkan sebagai sosok yang keras dan tegas, tetapi sikap kerasnya tersebut tidak berlaku kepada anak-anaknya. Bapak memperlakukan kami sangat baik. Bapak jarang marah bahkan Bapak tidak pernah memukul kami. ”, cerita Bapak Arif Fadila  

“Alhamdulillah meskipun Bapak tumbuh tanpa sosok Ayah, beliau menjadi figur ayah yang baik bagi anak-anaknya. Meskipun tidak sampai kuliah, keenam anak kami juga bisa menyelesaikan pendidikan mereka dan bisa memiliki pekerjaan yang cukup layak”, sambung Ibu Halifah seraya mengakhiri wawancara ini.

Sekian dari saya. Semoga hasil wawancara saya dengan Bapak Alamsyah ini dapat memberikan manfaat bagi yang membacanya.
-Syifa Andini Salsabila    



Piagam Penghargaan



      Saya bersama Bapak Alamsyah

1 comment:

  1. Menarik untuk berbincang bincang bapak alamsyah. Dimana alamat beliau ?

    ReplyDelete