Friday, 31 May 2013

Tugas 2 Biografi-Tatar Christanto Octaviancar XI IPA 3



1.biografi
Tugas sejarah pada kelas sebelas semester 2 ini mengharuskan saya mewancarai orang sudah hidup di masa perang dan memberikan kontribusi atau peran bagi bangsa indonesia ini, oleh karena itu saya memilih untuk mewawancarai nenek saya,yaitu ibu dari ibu saya yang saat ini sudah berumur 80 tahun,umur yang sudah dapat dikategorikan tua
Kisah nenek saya berawal pada tanggal 1 september 1933 di todang raya lahirlah seorang anak perempuan yang bernama ramina saragih dan menjalani pendidikannya di sd raya dan menikah dengan ruman sinaga dan melahirkan 5 anak yang sekarang menjadi ibu,tante dan om saya
2. Peranan
                Ketika nenek saya berusia 7 tahun, beliau sudah ditinggal oleh ibunya meninggal dunia karena sakit. Di umur beliau yang masih belia itu, beliau harus menjadi sosok perempuan yang dapat mengasuh ketiga adiknya yang masih kecil. Beliau juga harus membantu ayahnya untuk mencari nafkah sehari-hari dengan menjual kayu bakar. 3 tahun berlalu, ayahnya jatuh sakit. Sakit yang mengharuskannya untuk istirahat total. Di sinilah tugasnya bertambah. Selain menjadi ibu bagi ketiga adiknya, beliau harus menjadi sosok ayah yang harus menafkahi keluarga. Keadaan ini tidak berlangsung lama. 2 bulan berselang, sang ayah wafat. Sejak saat itu beliau makin berusaha keras untuk memenuhi semua kebuthan beliau dan adek-adek nya .
Karena terjadinya hal itu beliau pun mencoba berbagai macam cara untuk mencari rezeki untuk menafkahi keluarga beliau yang tersisa saat itu,dengan mencoba berjualan,menjadi jasa cuci dan sebagainya dan saat itulah beliau, ditegah perjuangan beliau dalam mencari nafkah, beliau juga merasa terusik dan muak kepada para penjajah yang terus bertindak seenak-enaknya di tanah indonesia ini,sejak saat itulah beliau memutuskan untuk bergabung dengan  palang merah indonesia, dengan tujuan merubah nasib masyarakat indonesia khususnya masyarakat di daerah tempat asalnya yaitu medan dengan harapan bisa ikut terjun langsung ke lapangan untuk membantu semua korban perang dan penindasan belanda terhadap indonesia.
Bekerja di Palang Merah Indonesia tak selama membawa keuntungan. Banyak hal yang dipertaruhkan beliau ketika terjun ke lapanagan. Termasuknya nyawanya. Ketika beliau membantu korban yang terkena atau ranjau, beliau juga harus hati-hati dan waspada apabila ada peluru yang nyasar atau lemparan granat dari musuh. Pernah suatu waktu ketika beliau sedang mengobati salah satu korban perang, beliau tertembak di bagian tangannya. Namun setelah beliau sadar bahwa yang sedang ia tolong adalah Tan malaka
Sedikit mengulas sejarah Tan Malaka atau Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka (lahir di Nagari Pandam Gadang, Suliki, Sumatera Barat, 2 Juni 1897 meninggal di Desa Selopanggung, Kediri, Jawa Timur, 21 Februari 1949 pada umur 51 tahun) adalah Bapak Republik Indonesia, seorang aktivis pejuang kemerdekaan Indonesia, seorang pemimpin sosialis, dan politisi yang mendirikan Partai Murba. Pejuang yang militan, radikal, dan revolusioner ini banyak melahirkan pemikiran-pemikiran yang berbobot dan berperan besar dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dengan perjuangan yang gigih maka ia dikenal sebagai tokoh revolusioner yang legendaris.
Dia kukuh mengkritik terhadap pemerintah kolonial Hindia-Belanda maupun pemerintahan republik di bawah Soekarno pasca-revolusi kemerdekaan Indonesia. Walaupun berpandangan sosialis, ia juga sering terlibat konflik dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).
Tan Malaka menghabiskan sebagian besar hidupnya dalam pembuangan di luar Indonesia, dan secara tak henti-hentinya terancam dengan penahanan oleh penguasa Belanda dan sekutu-sekutu mereka. Walaupun secara jelas disingkirkan, Tan Malaka dapat memainkan peran intelektual penting dalam membangun jaringan gerakan sosialis internasional untuk gerakan anti penjajahan di Asia Tenggara. Ia dinyatakan sebagai pahlawan nasional melalui Ketetapan Presiden RI No. 53 tanggal 23 Maret 1963.
Tan Malaka juga seorang pendiri partai PARI dan Murba, berasal dari Sarekat Islam (SI) Jakarta dan Semarang. Ia dibesarkan dalam suasana semangatnya gerakan modernis Islam Kaoem Moeda di Sumatera Barat.
Tokoh ini diduga kuat sebagai orang di belakang peristiwa penculikan Sutan Sjahrir bulan Juni 1946 oleh sekelompok orang tak dikenal di Surakarta sebagai akibat perbedaan pandangan perjuangan dalam menghadapi Belanda.
Mengetahui hal ini nenek saya pun merasa sangat terhormat dan bersyukur diberi kesempatan untuk membantu salah satu tokoh revolusioner yang berada di indonesia dan juga memperjuangkan kemerdekaan indonesia dengan cara berdiplomasi,nenek saya bangga akan jerih payahnya selama ini membuahkan hasil,selama masa pengabdian beliau ia sangat aktif dalam organisasi palang merah indonesia itu atau yang biasa dikenal dengan nama PMI tersebut, “adalah sebuah kebanggaan membantu dan menolong orang-orang yang berusaha keras meraih kemerdekaan kita” ucap nenek ku,oleh karena itu dia mengabdi dengan sepenuh hati dan ikhlas .
 Palang Merah Indonesia atau yang biasa dikenal dengan PMI ini juga adalah alasan dan sarana dimana nenek saya mengenal kakek saya,saat di pagi hari di mana hanya ada suara ayam berkokok beliau menghampiri seorang pria yang sedang terbaring di kasur seadanya itu dan diberi pengobatan,nenek saya bermaksud memberikan obat tambahan kepa pria itu namun ternyata takdir mempertemukan mereka dan menyatukan mereka,menurut beliau ini mungkin sebagian tanda balas jasa dari yang maha kuasa kepada beliau atas perjuangannya yang sangat menggugah hati dan dilakukan dengan sepenuh hati demi terbebasnya tanah indonesia ini dari penjajah-penjajah yang kejam dan keji.
Kemerdekaan akhirnya diraih Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Tapi kemerdekaan tidak menjamin semuanya menjadi lebih baik. Kehidupan di daerah medan masih sangatlah sulit. Di awal-awal kemerdekaan, keadaan Medan masih sangat memprihatikan. Beliau bercerita masih banyak gedung-gedung bekas perang yang dibiarkan terbengkalai. Kemudian terkadang kita masih dapat mencium bau amis darah  ,Operasi-operasi militer Inggris semakin intensif dilaksanakan dan kantor gubernur terpaksa dipindahkan ke kantor walikota. Markas Divisi II TKR dipindahkan pula ke Pematang Siantar. Demikian pula Laskar-laskar Pemuda memindahkan markasnya masing-masing ke luar kota Medan untuk mengadakan konsolidasi. Pasukan laskar masih bertempur tanpa adanya kesatuan komando, maupun koordinasi. Lambat laun mereka menyadari kelemahan ini setelah beberapa kali menderita kerugian.
Atas perakasa Dewan Pertahanan Daerah, maka diundang para komandan laskar untuk berunding di Tebing Tinggi selama 2 hari pada tanggal 8-10 Agustus 1946 untuk membahas masalah perjuangan. Akhirnya mereka sepakat membentuk Komando Resimen Laskar Rakyat Medan Area (KRLMA). Konsekuensinya dari pembentukan komando ini, Laskar-laskar dibebaskan dari organisasi induknya masing-masing. Kapten Nip Karim dipilih sebagai Komandan dan Marzuki Lubis sebagai Kepala Staf. Markas Komando berada di Two Rivers. KRLMA terdiri dari 5 batalyon dan 1 kompi istimewa dengan pembagian wilayah dan tanggung jawab pasti.
Atas prakarsa pimpinan Divisi Gajah dan KRIRMA pada 10 Oktober 1941 disetujui untuk mengadakan serangan bersama. Sasaran yang akan direbut di Medan Timur adalah Kampung Sukarame, Sungai Kerah. Di Medan barat ialah Padang Bulan, Petisah, Jalan Pringgan, sedangkan di Medan selatan adalah kota Matsum yang akan jadi sasarannya. rencana gerakan ditentukan, pasukan akan bergerak sepanjang jalan Medan-Belawan.
Hari “H” ditentukan tgl 27 Oktober 1946 pada jam 20.00, sasaran pertama Meda timur dan Medan selatan. Tepat pada hari “H”, Batalyon A Resimen Laskar rakyat di bawah Bahar bergerak menduduki Pasar Tiga bagian Kampung Sukarame, sedangkan Batalyon B menuju ke kota Matsum dan menduduki Jalan Mahkamah dan Jalan Utama. Di Medan barat Batalyon 2 Resimen lasykar rakyat dan pasukan Ilyas Malik bergerak menduduki jalan Pringgan, kuburan China dan Jalan Binjei.
Patut diketahui, bahwa beberapa waktu yang lalu, pihak Inggris telah menyerahkan sebagian kekuasaannya kepada Belanda. Pada saat sebagian pasukan Inggris bersiap-siap untuk ditarik dan digantikan oleh pasukan Belanda, pasukan kita menyerang mereka. Gerakan-gerakan batalyon-batalyon Resimen Lasykar Rakyat Medan Area rupanya tercium oleh pihak Inggris/Belanda. Daerah Medan selatan dihujani dengan tembakan mortir. Pasukan kita membalas tembakan dan berhasil mengehentikannya.
Sementara itu Inggris menyerang seluruh Medan selatan. Pertempuran jarak dekat berkobar di dalam kota. Pada keesokan harinya kota Matsum bagian timur diserang kembali. Pasukan Inggris yang berada di Jalan Ismailiah berhasil dipukul mundur.
Sementara pertempuran berlangsung, keluar perintah pada 3 November 1946 gencetan senjata diadakan dalam rangka penarikan pasukan Inggris dan pada gencatan senjata itu dilakukan, digunakan untuk berunding menentukan garis demarkasi. Pendudukan Inggris secara resmi diserahkan kepada Belanda pada tanggal 15 November 1946.Tiga hari setelah Inggris meninggalkan kota Medan, Belanda mulai melanggar gencatan senjata. Di pulau Brayan pada tanggal 21 November, Belanda merampas harta benda penduduk, dan pada hari berikutnya Belanda membuat persoalan lagi dengan menembaki pos-pos pasukan Laskar di Stasiun Mabar, juga Padang Bulan ditembaki.Pihak Laskar membalas. Kolonel Schalten ditembak ketika meliwati di depan pos Lasykar. Belanda membalas dengan serangan besar-besaran di pelosok kota. Angkatan Udara Belanda melakukan pengeboman, sementara itu di front Medan selatan di Jalan Mahkamah kita mendapat tekanan berat, tapi di Sukarame gerakan pasukan Belanda dapat dihentikan.Pada tanggal 1 Desember 1946 pasukan kita mulai menembakkan mortir ke sasaran pangkalan Udara Polonia dan Sungai Mati. Keesokan harinya Belanda menyerang kembali daerah belakang kota. Kampung Besar, Mabar, Deli Tua, Pancur Bata dan Padang Bulan ditembaki dan di bom. Tentu tujuannya adalah memotong bantuan logistik bagi pasukan yang berada di kota. Tapi walaupun demikian, moral pasukan kita makin tinggi berkat kemenangan yang dicapai.
Karena merasa terdesak, Belanda meminta kepada Pimpinan RI agar tembak menembak dihentikan dengan dalih untuk memastikan garis demarkasi yang membatasi wilayah kekuasaan masing-masing. Dengan adanya demarkasi baru, pasukan-pasukan yang berhasil merebut tempat-tempat di dalam kota, terpaksa ditarik mundur.Selagi kita akan mengadakan konsolidasi di Two Rivers, Tanjung Morawa, Binjai dan Tembung, mereka diserang oleh Belanda. Pertempuran berjalan sepanjang malam. Serangan Belanda pada tanggal 30 Desember 1946 ini benar-benar melumpuhkan kekuatan laskar kita. Daerah kedudukan laskar satu demi satu jatuh ke tangan Belanda. Dalam serangan Belanda berhasil menguasai Sungai Sikambing, sehingga dapat menerobos ke segala arah.Perkembangan perjuangan di Medan menarik perhatian Panglima Komandemen Sumatera. Ia menilai bahwa perjuangan yang dilakukan oleh Resimen Lasykar Rakyat Medan Area, ialah karena kebijakan sendiri. Komandemen memutuskan membentuk komando baru, yang dipimpin oleh Letkol Sucipto. Serah terima komando dilakukan pada tanggal 24 Januari 1947 di Tanjung Morawa. Sejak itu pasukan-pasukan TRI memasuki Front Medan Area, termasuk bantuan dari Aceh yang bergabung dalam Resimen Istimewa Medan Area.
Dalam waktu 3 minggu Komando Medan Area (KMA) mengadakan konsolidasi, disusun rencana serangan baru terhadap kota Medan. Kekuatannya sekitar 5 batalyon dengan pembagian sasaran yang tepat. Hari “H” ditentukan 15 Februari 1947 dan jam “j” adalah pukul 06.00. Sayang karena kesalahan komunikasi serangan ini tidak dilakukan secara serentak, tapi walaupun demikian serangan umum ini berhasil membuat Belanda kalang kabut sepanjang malam. Karena tidak memiliki senjata berat, jalannya pertempuran tidak berobah. menjelang subuh pasukan kita mundur ke Mariendal. Serangan umum 15 Februari 1947 ini adalah serangan besar terakhir yang dilancarkan oleh pejoang-pejoang di Medan Area.
Sampai menjelang Agresi Militer ke I Belanda, yang mana pasukan RI di Medan Area berjumlah yang riel sebesar 7 batalyon dan tetap pada kedudukan semula yang membagi Front Medan Area atas beberapa sektor, ialah Medan timur, Medan selatan, Medan barat dan Medan utara. Dan begitu pula membagi Medan atas 4 sektor yang sama, dan dengan demikian mereka langsung berhadapan dengan pasukan kita.Pada saat terjadi Agresi Militer Belanda ke I, Belanda melancarkan serangannya terhadap pasukan RI ke semua sektor. Perlawanan terhadap Belanda hampir 1 minggu, dan setelah itu pasukan-pasukan RI mengundurkan diri dari Medan Area.
Kesimpulan:Pertempuran di Medan Area merupakan perlawanan yang paling sengit dan panjang di Sumatera Timur, yang berlangsung hampir 2 tahun. Dalam peristiwa ini ialah motivasi rakyat dan Pemuda Pejuang yang tidak mau dijajah dengan disertai sikap ulet dan pantang menyerah. Tapi walaupun demikian bagaimana pun kuatnya motivasi, tanpa dilandasi kerjasama dan koordinasi yang baik, maka setiap kegiatan dapat mengalami kegagalan. Sejarah telah membuktikan betapa pahitnya keadaan ini.
Tahun – tahun pun berlalu dijalani beliau,akhirnya beliau memutuskan untuk menikahi pria yang ia tolong, rawat dan obati itu dan pada akhirnya mereka pun menikah dan melanjutkan perjalanan hidup mereka berdua,mereka pun menempuh hidup yang indah dan melahirkan 5 orang anak yang bernama jhon sinaga,jelly rita sinaga,arlide devi sinaga, norman tua sinaga dan aliddin sinaga , sayangnya masa-masa indah mereka tidak berlangsung terlalu lama sebab tidak lama setelah kelahiran anak ke 5 yaitu paman saya aliddin sinaga, almarhum kakek saya mengalami sakit yang cukup parah dan akhirnya dia meninggal kan dunia ini bersama keluarganya yang bahagi dan baru terbetuk.


No comments:

Post a Comment