Thursday, 30 May 2013

Tugas-2 Biografi Taufik Ramadhanu XI IPA 4

 Belajar dan Bertahan Hidup di Masa Penjajahan

Pada kesempatan kali ini, saya akan mewawancarai nenek saya untuk menyelesaikan tugas sejarah, berikut profil pribadi:
Nama   : Sulinah
Lahir    : Bandung, 1 Apri 1938
Tempat Tinggal           : Bandung
Sekarang nenek saya berusia  75 tahun, mempunyai 6 orang anak. Telah bertahun-tahun nenek saya menjalani berbagai rintangan hidup, salah satu peristiwa yang mengesankan sekaligus menakutkan adalah saat masa kecil. Ketika itu Indonesia masih dijajah Belanda dan Jepang, nenek saya pun hidup diantara peperangan dan salah satu peristiwa yang pernah dialami nenek saya adalah BLA (Bandung Lautan Api). Maka dari itu saya akan merangkum hasil wawancara saya dengan bu Sulinah tentang peristiwa yang pernah dialami dia sewaktu masa penjajahan hingga merdeka.
 Ketika itu Bandung masih dijajah oleh Jepang, keadaan di Bandung tersebut sangat kacau. Nenek saya tinggal di daerah Lengkong Kecil yang sekarang terletak di dekat alun-alun Bandung, dia ingat bahwa di daerah rumahnya sudah berantakan  dengan puing-puing, warga setempat hanya menggunakan bambu runcing sebagai pertahanan serta jalanan diblokir menggunakan karung yang diisi pasir lalu ditumpuk agar kendaraan perang tidak bisa masuk seperti hal nya tank.
Yang biasanya membuat khawatir keluarga nenek saya adalah ketika mereka mendengar bunyi sirine yang nampaknya akan terjadi pertumpahan darah atau semacamnya. Untuk mengatasi kekhawatiran tersebut, warga Lengkong Kecil membuat bunker  dibawah tanah untuk mengamankan para warga terutama wanita dan anak-anak, hampir seluruh aktivitas sehari-hari mereka lakukan didalam bunker tersebut seperti memasak. Para warga akan kembali ke rumah mereka masing-masing jika mereka menganggap bahwa situasi sudah aman atau sudah tidak terdengar suara peperangan lagi.
Dalam masalah pendidikan nampaknya Jepang berbeda dengan Belanda.Jjika Belanda menahan para kaum pria dan kaum wanita serta anak-anak diperbolehkan meninggalkan Bandung, beda dengan Jepang yang memberikan pendidikan kepada para pemuda-pemudi Indonesia. Menurut nenek saya, pemuda dan pemudi baru boleh mengikuti pendidikan jika tangan yang satu sudah bisa memegang kuping sisi berlawanan,memang cukup aneh namun itulah salah satu syarat dapat mengikuti pendidikan ketika masa penjajahan Jepang. Pada saat itu kehidupan sangat susah, bahkan kertas dan pensil untuk belajar pun tidak ada. Walaupun beberapa kalangan sudah menggunakan kaput dan papan untuk belajar, nenek saya pernah menggunakan  lempengan batu berbentuk persegi yang diberi nama sabak dan menulisnya menggunakan batangan batu yang runcing disebut grip, lalu untuk menghapusnya mereka menggunakan kain basah. Setiap pagi hari para pelajar Indonesia diwajibkan menyanyikan lagu “Mashiro” yang sampai sekarang nenek saya masih hafal.
Kira-kira setahun sebelum merdeka, Belanda mengambil alih Bandung dari Jepang. Pada masa penjajahan Belanda kaum pria tidak boleh meninggalkan Bandung sedangkan kaum wanita dan anak-anak  diperintahkan untuk mengungsi. Nenek saya beserta  kakak dan ibunya mengungsi ke desa yang bernama Jenar, letaknya di Yogyakarta. Disitulah nenek saya melanjutkan pendidikan, di Jenar daerah yang cukup terisolasi sehingga tidak ada sama sekali sentuh tangan dari tentara Jepang dan mereka dapat menghasilkan makan sendiri karena keluarga nenek saya mempunyai sawah dan ternak ikan. Karena pekerjaan bapak dari nenek saya  sebagai PJKA dia pindah ke Yogyakarta. Sebelumnya dia harus menyusul keluarga ke desa Jenar dengan berjalan kaki selama satu bulan.  Di Yogyakarta nenek saya dengan keluarganya harus mengungsi dibeberapa tempat. Pada saat terjadi serangan selama 6 jam di Yogyakarta keluarga beserta nenek saya sembunyi diantara lubang-lubang yang tersedia untuk berlindung.  Di saat kakak dari nenek saya yang bernama Suminah sedang mencari makan, dia ditahan oleh tentara Belanda selama sehari, di penjara ia bertemu dengan teman sependidikannya di Bandung, ia adalah orang Belanda dan mengaku bahwa ia dikirim ke Indonesia hanya untuk pelatihan, dia tidak menyangka akan berperang melawan Indonesia.
Setelah menetap beberapa bulan di Yogyakarta, para keluarga dari pekerja PJKA kembali ke Bandung, ketika sampai di Bandung lingkungan rumahnya sudah rata dengan tanah tak bersisa apapun sehingga harus menetap di rumah saudara. Yang selamat harus melihat para saudara-saudarinya meninggal tergelatak ditanah dengan mengerikan.
Tahun 1945 merupakan hari kemerdekaan Indonesia, jelas rakyat Indonesia sangat bahagaia termasuk nenek saya, dia mengikuti konvoi menggunakan kendaraan konvoi. Disaat Ir. Soekarno datang ke Bandung untuk mengadakan pidato semua rakyat Bandung dari berbagai kasta dikumpulkan di lapangan Tegalega.
Setelah merdeka masalah pun belum selesai, di tahun 1946 terjadi peristiwa “Bandung Lautan Api” nenek saya dan keluarganya terpakasa mengungsi kembali ke desa Jenar karena disitulah tempat teraman, disana keluarga nenek saya mempunyai sawah dan ternak ikan sehingga dapat menghasilkan makanan sendiri.
Peristiwa Bandung Lautan Api adalah peristiwa kebakaran besar yang terjadi di kota Bandung,  provinsi Jawa Barat, Indonesia pada 24 Maret 1946. Dalam waktu tujuh jam, sekitar 200.000 penduduk Bandung membakar rumah mereka, meninggalkan kota menuju pegunungan di daerah selatan Bandung. Hal ini dilakukan untuk mencegah tentara Sekutu dan tentara NICA Belanda untuk dapat menggunakan kota Bandung sebagai markas strategis militer dalam perang kemerdekaan Indonesia. TRI diberi ultimatum oleh tentara Inggris yang bekerjasama dengan tentara NICA Belanda  untuk mengosongkan kota Bandung namun TRI dan juga rakyat menentang ultimatum tersebut. Bandung sengaja dibakar oleh TRI dan rakyat dengan maksud agar Sekutu tidak dapat menggunakannya lagi. Di sana-sini asap hitam mengepul membubung tinggi di udara. Semua listrik mati. Inggris mulai menyerang sehingga pertempuran sengit terjadi. Staf pemerintahan kota Bandung pada mulanya akan tetap tinggal di dalam kota, tetapi demi keselamatan maka pada jam 21.00 itu juga ikut keluar kota. Sejak saat itu, kurang lebih pukul 24.00 Bandung Selatan telah kosong dari penduduk dan TRI. Tetapi api masih membubung membakar kota. Dan Bandung pun berubah menjadi lautan api.
Tokoh pahlawan yang terkenal menurut nenek saya adalah Mohammad Toha, dia rela berkorban dengan membiarkan dirinya ditangkap oleh tentara belanda lalu meledakkan granat bersama dirinya di tempat tahanan. Sementaramunculnya lagu “Halo-Halo Bandung” berasal dari peristiwa Bandung Lautan Api.
Berlanjut ke tahun berikutnya yaitu 1947, agresi militer Belanda I mulai dilancarkan. Mereka masuk melalui Bandung untuk menuasai Jawa Barat, para TKR hanya bisa menahan tentar Belanda untuk sementara saja yang akhirnya dapat menguasai daerah Bandung, nenek saya kembali mengungsi ke desa Jenar tempat pelarian keluarga nenek. Tak banyak yang bisa diceritakan dari agresi militer tersebuat karena nenek saya sudah lupa.
Seakan tidak pernah berhentinya para penjajah masuk ke Bandung, nenek saya mengatakan bahwa pada tahun 1949-an APRA (Angkatan Perang Ratu Adil) datang menyambangi Bandung untuk melakukan kudeta. Ketika itu para warga Bandung telah membuat kembali bunker di bawah tanah untuk proteksi.
 Westerling merupakan pendiri APRA, organisasi rahasia yang mempunyai pengikut sekitar 500.000 orang. Laporan yang diterima Inspektur Polisi Belanda J.M. Verburgh pada 8 Desember 1949 menyebutkan bahwa nama organisasi bentukan Westerling adalah "Ratu Adil Persatuan Indonesia" (RAPI) dan memiliki satuan bersenjata yang dinamakan "Angkatan Perang Ratu Adil" (APRA).
Westerling secara diam-diam membangun basis kekuatan bersenjata yang digunakan untuk memukul Republik Indonesia, yang direalisasikannya pada 23 Januari 1950, dalam usaha yang dikenal sebagai "Kudeta 20 Januari". Secara membabi buta Westerling dan anak buahnya menembak mati setiap anggota TNI yang mereka temukan di jalan. 94 anggota TNI dari Divisi Silwangi tewas dalam pembantaian tersebut, termasuk Letnan Kolonel Lembong, dan tak ada korban di pihak APRA.
Di usia kerjanya, nenek saya berprofesi menjadi guru. Sebelumnya nenek saya mendaftar untuk menjadi perawat namun ibunya melarangnya. Nenek saya akhirnya  mengambil sekolah guru, dia mengajar anak Sekolah Dasar dan memang menjadi guru merupakan pilihan dan kemauannya sendiri. Sedangkan kakek saya bekerja sebagai dosen sambil mencari kerja dan akhirnya dapat perkerjaan di PJKA yang sekarang disebut KAI (Kereta Api Indonesia).
Pada saat peristiwa gestapo, kakek saya masih kuliah. Dia harus membakar semua buku yang berhubungan dengan Ir. Soekarno karena pada saat itu situasi tidak kondusif dengan beredarnya kabar enam perwira tinggi militer Indonesia beserta beberapa orang lainnya dibunuh dalam suatu usaha percobaan kudeta yang kemudian dituduhkan kepada anggota Partai Komunis Indonesia.
Cerita diatas merupakan hasil wawancara saya dengan nenek Sulinah, dia menjadi saksi mata penjajahan Jepang, agresi militer Belanda, peristiwa Bandung Lautan Api, datangnya APRA, dan peristiwa Gestapo (G-30S/PKI). Mungkin semua kakek dan nenek teman-teman saya juga pernah merasakan hal yang sama, mereka inilah beberapa ribu orang dari jutaan rakyat Indonesia yang selamat dari peristiwa-peristiwa tersebut. Jasa para pahlawan dan semua rakyat Indonesia turut andil besar dalam membangun negara ini. Oleh karena itu, saya mengucapkan terimaksih kepada orang-orang terdahulu yang masih ada maupun telah tiada. Terima Kasih.

No comments:

Post a Comment