Thursday, 30 May 2013

Tugas-2 Biografi Teuku Fazhamy Rafiandra XI IPA 3

"Ayahnek, dan Kisah-Kisah yang Mengiringinya."



A.    Biografi
     Pada kesempatan kali ini, saya berkenan mewawancarai seorang pelaku dan saksi sejarah pada periode pasca-kemerdekaan dan pada saat pemerintahan Presiden Soekarno. Beliau merupakan salah satu panutan saya,  yang selalu saya kagumi atas ketepatan waktunya dan kegigihan dalam berusaha. Beliau bernama Capt. Muhammad Djafar Aly. Beliau biasa saya panggil ayahnek (kakek, dalam bahasa Aceh). Ya, dia merupakan kakek saya, yang berasal dari pihak ibu. 
     Beliau lahir di Kampung Montasik, Banda Aceh, pada tanggal 20 Oktober 3 tahun sebelum kemerdekaan Indonesia. Beliau merupakan anak bungsu dari 5 bersaudara, anak-anak pasangan Muhammad Aly dan Nyak Awan, dengan pekerjaan sebagai petani. Ayahnek menghabiskan sebagian besar masa kecilnya di Kampung Montasik, dimana beliau menyelesaikan SD di kampung. Kemudian beliau melanjutkan ke SMP Muhammadiyah di Sabang.
     Setelah menghabiskan masa SMP-nya di Sabang, beliau pindah ke Jakarta untuk menamatkan SMA dan selanjutnya masuk ke Akademi Pelayaran. Setelah menamatkan pendidikannya di Akademi Pelayaran, ayahnek bekerja di sebuah perusahaan kapal kargo, dengan jabatan mualim 2. Lalu naiklah jabatannya menjadi mualim 1, sebelum akhirnya mencapai pangkat kapten kapal. Ayahnek pun mulai berpindah-pindah kerja, mulai dari Pangkalan Susu, Sumatera Utara, lalu ke Palembang, ke Medan, lalu ke Palembang lagi sebelum akhirnya pindah ke Arun, Lhokseumawe, Aceh.
     Sekitar tahun 1965, ayahnek mulai bekerja untuk PT. Pertamina, dengan jabatan awal sebagai nahkoda untuk keperluan pengiriman minyak ke daerah-daerah di Indonesia, bahkan sampai ke Singapura, dan juga untuk pengimporan minyak untuk dikirim ke Balikpapan atau Cilacap.
      Setelah itu pada tahun 1976, beliau pindah ke PT. Arun LNG yang berlokasi di Arun, Lhokseumawe, Aceh. Kemudian, beliau sempat bertugas selama setahun di Jepang untuk kepentingan pembangunan kapal, sebelum kemudian kembali lagi ke PT. Arun, dimana pada saat itu beliau bekerja sebagai kepala pelabuhan.
     Setelah lebih kurang 10 tahun bekerja di PT. Arun, ayahnek kembali lagi ke PT. Pertamina di Jakarta sebelum beliau berpindah lagi ke Bontang, Kalimantan Timur, tepatnya di PT. Badak LNG. Beliau menjabat sebagai manajer perkapalan, yang bertugas untuk pengurusan ekspor LNG ke luar negeri, terutama Jepang pada masa itu. Dan setelah lebih kurang 10 tahun pengabdiannya untuk PT. Badak, pada tahun mulainya reformasi Indonesia, kakek saya pun mengakhiri tugas-tugasnya, dan selanjutnya pindah ke Jakarta, tepatnya di Cinere, Depok untuk menghabiskan masa pensiunnya.
     Pada akhir tahun 1969, beliau menikah dengan nenek saya yang bernama Yunara Ibrahim, di Kampung Montasik, Aceh. Dari pernikahan ini mereka dikarunia 4 orang anak yang bernama: Yuswanda, Yuliandri, Astria Windrati (ibu saya) dan Mahdar. Dan pada tahun 1996, lahirlah cucu pertamanya, yaitu saya. Dan kemudian lahirlah 3 cucu lainnya yang bernama Hasya (adik saya), Livia dan Aura.
B.     Peranan dan Kesaksian Sejarah
     Ayahnek menceritakan bahwa sebelum beliau melanjutkan pendidikannya ke Akademi Pelayaran di Jakarta, terjadi pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) di Aceh. Pemberontakan ini dipimpin oleh seorang tokoh setempat yang bernama Daud Beureuh. Pemberontakan ini terjadi pada 21 September 1953.
   Pemberontakan ini didasari oleh keputusan pemerintah pusat untuk menghapuskan Provinsi Aceh, dan menyatukannya dibawah Provinsi Sumatera Utara. Hal ini tidak disetujui oleh sebagian besar orang Aceh, dikarenakan besarnya kontribusi orang-orang Aceh untuk kemajuan Indonesia. Sehingga, Daud Beureuh, menyerukan kepada seluruh penduduk-penduduk yang ada di kampung-kampung, dan juga para pemuda untuk memberontak melawan pemerintah pusat.
   Pemberontakan pertama dimulai dengan penyerangan pos-pos milik Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang berada di wilayah-wilayah kecil, sampai dengan wilayah-wilayah yang lebih besar, misalnya saja Aceh Timur. Penyerangan ini bertujuan untuk merebut senjata yang dimiliki anggota TNI sebagai modal pemberontakan.
   Setelah terjadinya peristiwa itu, maka TNI pun membalas atas kejadian ini. Hal ini yang menyebabkan para pemberontak harus berlari masuk ke hutan, untuk melakukan perang gerilya. Pemberontak DI/TII pun tetap melakukan aksinya menyerang pos-pos yang dimiliki TNI, sampai ke seluruh daerah Aceh.
   Pernah terjadi suatu peristiwa di Aceh Barat, dimana pada saat dua truk yang berisi para tentara-tentara TNI melewati suatu kaki gunung, mereka ditembaki oleh para anggota pemberontak DI/TII yang sudah bersiaga di atas gunung. Banyak jatuh korban jiwa, dan senjata milik para korban ini pun diambil oleh pejuang DI/TII untuk menjadi perbekalan senjata.
   Kira-kira seminggu setelah peristiwa tersebut, datanglah bala bantuan TNI dari Banda Aceh sebanyak 2 kompi ke kampung-kampung yang ada di sekitar gunung tersebut, tepatnya ke Kampung Pulud dan Kampung Tjok Jeumpa. Semua penduduk kampung tersebut dikumpulkan, lalu dibawa ke sebuah pantai, dan selanjutnya ditembaklah para penduduk itu. Pada saat itu, pasukan dipimpin oleh Kolonel Kamil kalau tidak salah. Aksi penembakan ke penduduk, alih-alih ke para pemberontak DI/TII dikarenakan para pemberontak DI/TII sudah terlebih dahulu kabur ke hutan, sehingga sebagai aksi balas dendam, maka yang ditembak adalah para penduduk kampung-kampung.
   Ayahnek pun pernah mengalami peristiwa yang hampir serupa, walaupun beliau masih kecil dan masih bersekolah. Pada saat itu, Kampung Montasik sempat diserang oleh anggota TNI, sehingga ayahnek kecil pun bersama para penduduk lari ke hutan selama semalam untuk berlindung di benteng-benteng yang sudah dibuat. Lalu saat pagi harinya, saat dirasa sudah aman, maka ayahnek pun kembali ke kampung. Namun Kampung Montasik sudah diduduki TNI, sehingga pada saat itu ayahnek pun hidup berdampingan dengan para anggota TNI dan mendengar kisah-kisah ini.
   Di masa pemberontakan DI/TII ini, ayahnek bersama teman-teman sebayanya yang pada masa itu masih kecil pun diperintahkan oleh komandan DI/TII setempat untuk menagih sumbangan dari warga-warga untuk perjuangan DI/TII. Pemilihan anak-anak sebagai pengumpul sumbangan ini bertujuan agar tidak menarik perhatian dari anggota TNI. Lalu hasil dari sumbangan ini diberikan kepada komandan pemberontak DI/TII yang ada di seluruh kampung, walaupun pada masa itu pun para pemberontak harus menghindar dari TNI, dimana jika ada patroli TNI datang, mereka kabur ke hutan untuk bersembunyi. Dan pada saat patroli TNI sudah pergi (karena basis anggota TNI di Banda Aceh), mereka kembali lagi ke kampung-kampung dan berbaur dengan masyarakat setempat.
   Pada tahun 1953-1958 terjadilah cease fire atau gencatan senjata oleh Daud Beureuh. Lalu gencatan senjata ini diikuti dengan turun gunungnya staf-staf Daud Beureuh, seperti Kolonel Hasan Saleh, Ibrahim Saleh. Dan sejak saat itu situasi di Aceh sudah lebih tenang, tidak lagi panas akan pemberontakan.
   Setelah terjadinya cease fire, para mantan pemberontak-pemberontak DI/TII pun diberikan fasilitas-fasilitas oleh pemerintah pusat. Seperti misalnya Kolonel Hasan Saleh yang diberikan perkebunan teh seluas beberapa hektar di Jawa Barat, serta para mantan pemberontak lainnya ditampung ke dalam TNI agar nantinya mereka tidak memberontak lagi.
   Setelah DI/TII, kemudian ayahnek bercerita sedikit tentang suasana pada masa konfrontasi Indonesia dengan Malaysia. Pada masa itu, ayahnek sedang menempuh pendidikan di Akademi Pelayaran. Suasana pada masa itu dipenuhi dengan slogan-slogan “Ganyang Malaysia!” yang diperkenalkan oleh Presiden Ir. Soekarno. Slogan-slogan ini pun selalu didengungkan di kelas-kelas pada saat ayahnek masih belajar, oleh para guru-guru, atas perintah dari Presiden Soekarno. Namun, pada masa itu, ayahnek tidak direkrut menjadi tentara atau sukarelawan dalam menghadapi konfrontasi dengan Malaysia, sehingga ayahnek tetap melanjutkan pendidikannya sampai akhirnya beliau lulus.
   Lalu ayahnek pun melanjutkan ceritanya ke sekitar peristiwa Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G30S/PKI), dimana pada saat itu ayahnek sudah mulai bekerja di PT. Pertamina. Pada tanggal 1 Oktober 1965, atau sesaat setelah kejadian, ayahnek masih melewati Istana Negara untuk menuju kantornya di Tanjung Priok, dari rumahnya di Grogol. Ayahnek naik bus dari Grogol sampai Lapangan Banteng, dimana menurut beliau suasanyanya cukup sepi. Ayahnek pun cukup bingung karena suasana yang sepi dan masih belum tahu apa-apa mengenai peristiwa G30S/PKI.
   Barulah pada saat ayahnek tiba di kantornya di Tanjung Priok, ayahnek mendengar radio yang berisi siaran tentang kejadian ini. Walaupun berita yang diterima masih simpang siur, namun sudah terdengar bahwa terjadi pembunuhan enam jenderal dan satu perwira pertama oleh PKI.
   Karena suasananya waktu itu cukup mencekam, maka orang-orang pun tidak berani berkeliaran di jalan, sehingga waktu itu ayahnek pun berkumpul bersama teman-temannya mengikuti berita di radio, di rumah salah satu temannya yang terletak di Krekot Bunder. Berita yang mereka dengar pun, walaupun masih terpotong-potong, tapi sudah semakin jelas terdengar bahwa anggota PKI sudah mulai dikejar-kejar oleh TNI, lalu lokasi penguburan para jenderal pun sudah ditemukan di daerah Lubang Buaya, dan informasi-informasi lainnya. Walaupun begitu, tetap saja ayahnek dan teman-temannya serta masyarakat belum berani untuk keluar ke jalanan karena suasananya masih cukup mencekam dan karena pada masa itu pun diberlakukan pula jam malam. Sampai akhirnya pun diketahui kalau pemimpin gerakan ini adalah Letkol Untung, Komandan Batalyon I Tjakrabirawa (pengawal presiden).
   Setelah peristiwa itu pun dilakukan pengejaran dan penangkapan anggota-anggota PKI selama lebih kurang enam bulan. Para anggota tersebut ada yang dipenjarakan, dan ada juga yang dibunuh langsung. Penangkapan tersebut dilakukan oleh para anggota RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat, sekarang Kopassus). Dan pada masa ini ayahnek pun hanya menjadi “penonton” saja, dan tidak berani untuk bertindak macam-macam karena suasananya yang mencekam dan semua pembicaraan dikontrol oleh PKI.
   Demikianlah penuturan tentang berbagai peristiwa yang dilalui oleh ayahnek, mulai dari peristiwa pemberontakan DI/TII, konfrontasi dengan Malaysia, hingga peristiwa sekitar G30S/PKI. Semoga penuturan kisah ini dapat menjadi pelajaran yang berharga bagi kita semua agar selalu mengambil hikmah dibalik kisah-kisah yang telah terjadi.

“Jangan sekali-kali melupakan sejarah.” –Presiden Soekarno

Saya dan Ayahnek.

No comments:

Post a Comment