Friday, 31 May 2013

Tugas-2 Biografi Vania Ardhiani Samodro XI IPA 2

Sejarah Perjalanan Hidup Kakek Akhsan Basuki

Walaupun kita sering tidak menyadarinya, nantinya segala sesuatu yang kita kerjakan di waktu sekarang akan menjadi sejarah di kemudian hari.

Sekarang ini, orang-orang yang lahir di masa-masa sebelum negara kita ini merdeka sudah menjadi saksi dari masa-masa penjajahan, saat Belanda maupun Jepang masih menduduki daerah yang sekarang kita kenal dengan nama Indonesia. Mereka sudah menjadi saksi dari saat proklamasi dibacakan di depan rumah yang berada di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, saat Indonesia pada akhirnya terlepas dari kekangan para penjajah dan dapat menentukan nasibnya sendiri, merdeka dari penjajah. Mereka sudah menjadi saksi dari upaya-upaya perebutan kembali daerah yang masih diduduki oleh para penjajah. Mereka juga sudah menjadi saksi dari gejolak politik yang terjadi mulai dari tahun 80-an sampai 90-an. Orang-orang tersebut telah menjadi saksi dari sebuah objek yang kita sebut dengan sejarah, yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti asal-usul, kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau, riwayat, pengetahuan atau uraian tentang peristiwa dan kejadian yang benar-benar terjadi di masa lampau.

Mungkin pada awalnya, tidak ada yang menyangka bahwa kelak mereka akan menjadi bukti dari sejarah di masa depan. Namun, dengan cara itulah sejarah dapat hidup di kalangan manusia, dengan bukti-bukti baik yang hidup, berupa cerita-cerita yang diambil dari kesaksian nyata seorang saksi sejarah, maupun yang tidak hidup, berupa peninggalan-peninggalan dalam bentuk yang nyata. Dengan cara tersebut, sejarah tidak akan memiliki akhir. Setiap gebrakan besar yang mempengaruhi, katakanlah, keseluruhan negara, maupun gerakan-gerakan, ataupun langkah-langkah kecil yang nantinya akan mempengaruhi banyak kehidupan orang lain akan menjadi sejarah di masa depan.

Berbicara tentang kejadian-kejadian sebelum Indonesia merdeka, ataupun saat setelah Indonesia merdeka di mana keadaan negara belum begitu stabil—terutama dalam bidang politik, kejadian di masa-masa itu, masa-masa di saat kita, bahkan beberapa dari orang tua kita belum ada di dunia ini, masih terekam di kepala orang-orang yang sudah hidup dari masa itu, orang-orang yang saat ini usianya sudah lebih dari 68 tahun—yang usianya lebih tua dari negara ini, yang dapat kita katakan sebagai orang-orang yang seumuran dengan kakek dan nenek kita, kita yang sedang menginjak bangku SMA saat ini.

Saya sendiri memiliki seorang kakek yang sempat mengalami masa sebelum Indonesia merdeka. Beliau lahir di tahun 1933, 12 tahun sebelum Indonesia merdeka. Saat ini, beliau tinggal di Pati, Jawa Tengah, dan beberapa saat yang lalu saya mendapatkan kesempatan untuk mewawancarai beliau, yang dilakukan melalui pembicaraan menggunakan telepon.

Beliau lahir dengan nama panjang Akhsan Basuki di Pecangaan, Jepara, Jawa Tengah pada tanggal 9 Juli 1935. Beliau merupakan anak ke-3 dari 7 bersaudara. Pekerjaan beliau semasa sebelum pensiun adalah sebagai guru SD. Beliau bersekolah di SD Pecangaan, Jepara, kemudian melanjutkan ke SMPN Kudus. Barulah setelah itu beliau meneruskan ke SGB (Sekolah Guru B) sebelum akhirnya mendapatkan pekerjaan sebagai guru SD. Beliau memiliki seorang istri yang bernama Handarmi yang lahir di Mojoagung, Pati, yang dulunya adalah seorang staf di sebuah pabrik gula. Bersama dengan Ibu Handarmi-lah beliau mendapatkan 4 orang anak yang bernama Endro Pramono, Arofah Yuniati Handayani, Joni Tri Samodro dan Murhartanto. Keempat anaknya tersebut sekarang telah berhasil menjadi insinyur. Sekarang, beliau sudah memiliki sembilan cucu.

Saya menanyakan beberapa hal mengenai keadaan sebelum Indonesia merdeka kepada beliau. Saat itu adalah saat di mana beliau masih berada di bangku sekolah, tepatnya di jenjang sekolah dasar, sehingga beliau tidak secara langsung melakukan perlawanan terhadap penjajah. Namun beliau merasakan bagaimana keadaan ketika Belanda dan Jepang menduduki wilayah Indonesia, terutama di saat proses kegiatan belajar-mengajar sedang berlangsung di sekolah. Beliau mengatakan bahwa di saat belajar, pengajar yang berasal dari Belanda pada saat masa penjajahan Belanda, akan masuk ke dalam kelas dan memberikan materi. Begitu juga dengan saat di mana Jepang menjajah Indonesia. Selain itu, beliau juga mengatakan bahwa anak-anak juga lebih sering dipaksa bekerja dibandingkan bersekolah. Dengan kata lain, anak-anak yang seharusnya masih harus belajar di sekolah untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dan hal-hal lain yang akan dibawa ke masa depan justru diperintahkan untuk bekerja. Hal ini tentu saja sangat membuat kesempatan untuk bersekolah dan mendapatkan ilmu pengetahuan menjadi hilang, dan anak-anak menjadi budak yang tidak hanya bodoh, namun juga tidak dapat melawan ketika paksaan itu diberikan oleh pihak penjajah. Selain itu, anak-anak di sekolah juga diajari militer sebagai sebuah persiapan di masa depan, jika penjajah akan menyerang.

Keadaan di saat itu, beliau katakan, masih sangat jauh berbeda dengan keadaan di masa sekarang. Jalanan masih sangat sepi dan tidak ada kendaraan yang berlalu-lalang. Kemudian, ketika Belanda datang menyerang, orang-orang akan bergegas untuk menyerang balik. Keadaan di saat itu tidak aman karena adanya kecaman dari Belanda di setiap saat.

Beliau tidak menceritakan tentang keadaan ketika Indonesia diproklamasikan merdeka. Hal ini dikarenakan oleh usia beliau yang waktu itu masih muda, sehingga fokus utama beliau adalah untuk menempuh dan menyelesaikan pendidikan, baik dibawah asuhan Belanda ataupun Jepang, maupun dilaksanakan oleh Indonesia sendiri, sehingga dampak dari kemerdekaan Indonesia tidak begitu terasa. Selain itu, letak kota tempatnya tinggal berada berjarak lebih dari 300 kilometer dari Jakarta, pusat pemerintahan dari negara Indonesia, dan juga tempat di mana proklamasi dibacakan, sehingga beliau juga tidak melihat secara langsung bagaimana proses Indonesia merdeka.

Pendidikan di sekolah dasar yang beliau jalani adalah selama 6 tahun, sama dengan di masa sekarang. Namun ada sedikit perbedaan, yaitu di zaman dulu ada 2 jenis ijazah, yang pertama adalah yang didapatkan pada tahun ke-3 sekolah, dan yang didapatkan di tahun ke-6. Kemudian beliau melanjutkan ke sekolah menengah yang lamanya selama 3 tahun. Kemudian, beliau melanjutkan ke Sekolah Guru B. Sambil bersekolah, beliau juga berjualan untuk membiayai pendidikan di masa itu. Bukan hanya untuk beliau sendiri, namun juga untuk adik-adiknya. Hal ini beliau lakukan untuk meringankan beban orangtuanya yang mempunyai 7 orang anak yang harus dibiayai, baik untuk kehidupannya sehari-hari maupun untuk pendidikannya.

Seperti yang sudah kita semua ketahui, setelah Indonesia merdeka, masih terdapat banyak perjuangan-perjuangan yang dilakukan oleh pahlawan-pahlawan kita untuk menghadapi para pemberontak yang ingin memisahkan diri dari Indonesia, juga untuk merebut wilayah-wilayah yang masih diduduki oleh Belanda. Beliau bukanlah seorang tentara yang bertugas untuk menumpas orang-orang dan merebut kembali wilayah Indonesia, maupun seorang yang melakukan perundingan-perundingan untuk melakukan perjanjian agar Indonesia dapat kembali bersatu.

Walaupun begitu, secara tidak langsung, beliau telah memberikan kontribusi kepada negara ini, yaitu dengan menjadi seorang guru di tingkat sekolah dasar. Beliau bercerita beberapa hal mengenai pekerjaannya sebagai guru. Setelah lulus dari Sekolah Guru B, beliau memulai pekerjaannya sebagai guru, tepatnya pada tahun 1954, ketika beliau berusia 21 tahun. Beliau mengatakan, uang yang diberikan oleh pemerintah pada saat itu adalah sebesar 45 rupiah. Sementara gaji yang beliau dapatkan yaitu sebesar 200 rupiah per bulan dengan uang makan 100 rupiah per bulan. Kemudian beliau membandingkan nilai mata uang pada zaman dahulu dengan saat ini—gajinya per bulan pada masa beliau masih bekerja tidak akan berarti apa-apa di zaman sekarang. Satu porsi makanan yang berisi nasi dan lauk sederhana, tidak akan bisa didapatkan dengan 200 rupiah, bahkan satu buah kerupuk sekalipun sekarang ini berharga lebih dari 500 rupiah. Hal ini dikarenakan oleh devaluasi yang terjadi pada tahun 1978, 1983, 1986 dan 1996 yang kemudian menyebabkan nilai mata uang turun.

Beliau masih terus menekuni pekerjaannya sebagai guru hingga saat beliau pensiun di 1989 ketika beliau berusia 56 tahun. Jabatan terakhir yang beliau miliki sebelum akhirnya pensiun adalah sebagai penilik sekolah. Beliau menjadi guru selama 35 tahun, dan selama 35 tahun itulah beliau melaksanakan kewajibannya untuk memberikan ilmu pengetahuan kepada ribuan anak sebagai dasar untuk melanjutkan pendidikan maupun menjalani kehidupan selanjutnya. Itulah kontribusi beliau untuk negara Indonesia ini, yaitu melahirkan calon-calon penerus bangsa yang nantinya akan mengambil alih kekuasaan di negara ini, yang nantinya akan membawa perubahan kepada negara ini dengan mengajarkan berbagai macam ilmu pengetahuan. Sebuah pekerjaan yang nampaknya sederhana, namun dipandang sangat mulia oleh kebanyakan orang. Guru, seorang pahlawan tanpa tanda jasa.

Walaupun sudah pensiun semenjak 24 tahun yang lalu, sampai saat ini beliau masih aktif dalam pengurusan pensiunan PGRI wilayah Pati dan sekitarnya.

Pada dasarnya, semua hal yang kita alami, semua hal yang sedang kita jalani, semua hal yang kita ketahui dan semua hal yang sedang kita saksikan akan menjadi sejarah di masa depan. Dan apa yang kita telah lakukan, sedang lakukan atau akan lakukan, walaupun sedikit, tapi pasti akan mempengaruhi orang lain juga. Dengan cara itu, di masa depan nanti kita semua pasti menjadi orang yang telah memberikan kontribusi terhadap suatu komunitas atau lingkungan, atau bahkan negara maupun dunia. Oleh karena itu, selagi kita masih bisa memberikan kontribusi yang maksimal di saat ini, untuk masa depan, kita harus memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin.


Mungkin yang kita lakukan saat ini adalah mencari infomasi dari informan yang benar-benar tinggal di masa saat Indonesia belum merdeka. Tapi masa depan nanti, kitalah yang akan menjadi saksi sejarah dari apa yang terjadi di saat ini—Indonesia pada masa ini, Indonesia pada tahun ini, Indonesia pada detik ini.

No comments:

Post a Comment