Friday, 31 May 2013

Tugas-2 Biografi Vito Muhammad Tamin

Nenek Yulizar, Bocah Kecil Saksi Sejarah




            Zaman lalu, Indonesia, sebuah negara kepulauan yang memiliki masyarakat dalam jumlah besar dan sangat beragam budayanya, berada dalam suatu keadaan yang goyah. Ketika banyak sekali ketidakselarasan yang terjadi saat itu, tidak adanya rasa saling pengertian, saling percaya, dan yang paling penting, rasa persatuan. Beberapa hal tersebut merupakan contoh dari banyak faktor penyebab kondisi Indonesia yang mengalami keterpurukan. Datangnya penjajah-penjajah asing dari luar yang pada akhirnya mereka dapat menguasai berbagai wilayah di Indonesia, memonopoli Indonesia dalam berbagai bidang, seperti perekonomian contohnya. Rakyat Indonesia yang lemah, tidak berdaya, dan tidak memiliki rasa persatuan itu tidak akan mampu menghilangkan keterpurukan negara mereka sendiri kecuali mereka membuat suatu perubahan, suatu revolusi. Baik dari zaman penjajahan Belanda, maupun saat penjajahan Jepang, selama rakyat Indonesia tidak bersatu untuk melawan penjajah itu, tentu mereka tidak akan mampu mengalahkannya. Berbagai tokoh hebat dari Indonesia mencoba untuk melakukan pergerakan, tapi pada akhirnya pergerakan itu sia-sia karena adanya faktor tadi, yaitu kurangnya persatuan. Tokoh-tokoh hebat itu terpecah dimana-mana, mereka hebat, tapi tidak bersatu dengan yang lain, lalu mereka pun akan kalah juga. Hingga akhirnya muncul kembali berbagai tokoh, berbagai pejuang, berbagai revolusioner dari kalangan tua, maupun kalangan pemuda, yang bersatu dan berkontribusi untuk menyatukan rakyat Indonesia. Mereka berunding, berbagi pendapat, bermusyawarah, sampai pada akhirnya mengambil keputusan konkrit, yaitu “merdeka”. Dengan kontribusi dan komitmen mereka lah Indonesia bisa sampai ke posisi seperti saat ini, menjadi negara yang merdeka.
            Saya berkesempatan untuk mewawancarai nenek saya yang bernama Yulizar Djamu, yang kebetulan beliau hidup pada saat Indonesia sedang berada dalam keadaan yang genting dalam memperjuangkan kemerdekaannnya. Dengan sepatah dua patah kata pertanyaan yang saya tujukan kepada beliau, beliau pun akhirnya mulai berbicara, dan menceritakan sedikit dari kisah hidupnya pada zaman itu. Kisah ini diawali beliau dengan menceritakan cuplikan kehidupan leluhurnya.
            Pada tahun 1800-an, saat itu adalah era kehidupan kakek buyut dan nenek buyut dari nenek saya. Mereka berasal dari Sumatera Barat. Kakek buyut dari nenek saya tersebut bernama Djamaludin Muluk. Konon, nama “Djamu” yang terdapat pada nama nenek saya tersebut merupakan singkatan turun-temurun di keluarga nenek saya. Kakek buyut saya saat itu bekerja dengan pemerintahan Belanda di Medan. Lalu beberapa tahun kemudian lahirlah kakek dari nenek saya, yang bernama Nurdin Djamu. Kakek saya ini lalu dibesarkan di Medan. Setamatnya beliau dari Mulo (setara dengan SMP), beliau ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya di Jogjakarta. Setelah tamat sekolah, beliau menikah dengan nenek dari nenek saya dan ia pun juga bekerja di pemerintahan Belanda. Beliau ditempatkan di berbagai daerah, beliau sering berpindah-pindah tempa ke Takengon, Langsa dan beberapa tempat lainnya. Tapi beliau bekerja tidak terlalu lama dikarenakan beliau terkena penyakit stroke, yang menyebabkan beliau tidak mampu berbicara. Lalu melalui banyak proses, kakek dari nenek saya ini mulai pulih kembali sedikit demi sedikit. Bertahun-tahun sebelum terkena penyakit stroke, kakek dari nenek saya ini sudah berkeluarga dan memiliki banyak anak, salah satunya ialah ayah dari nenek saya, yang lahir di Aceh pada tahun 1914. Beliau bernama Effendy Djamu. Setamat sekolah, beliau bekerja menjadi guru di HIS (Sekolah Belanda, setara dengan SD). Saat itu pada tahun 1930-an, di Indonesia sedang mulai banyak pergerakan-pergerakan, revolusi pun sedikit demi sedikit dimulai. Tahun 1938, beliau memutuskan untuk berhenti menjadi guru di sekolah Belanda tersebut dan beliau membuat sekolah sendiri di daerah Langsa. Sekolah itu bernama Onsoschool (Setara dengan SD). Mayoritas dari seluruh saudara beliau berprofesi menjadi guru, yang mengajar di berbagai sekolah saat itu. Pada pertengahan tahun 1938, beliau menikah dengan seorang wanita bernama Khadijah, yang lalu pada tahun 1939, lahirlah seorang bayi perempuan bernama Yulizar Djamu. Nenek saya itu lahir di Langsa. Saat ini mulai terjadi pemberontakan terhadap Belanda di sekitar daerah tempat tinggal nenek saya. Dan sekolah milik ayah dari nenek saya pun menjadi terbengkalai, dikarenakan banyak siswa yang kurang mampu, terdapat orangtua siswa yang jarang membayar uang sekolah, dan sebagainya. Lalu ayah dari nenek saya itu memutuskan untuk menutup sekolah itu. Beliau lalu pindah bekerja ke Kotaraja (sebutan untuk daerah yang saat ini dikenal dengan Banda Aceh). Beliau bekerja di suatu perusahaan swasta persuratkabaran. Akhirnya nenek saya yang masih berumur sekitar 4-5 tahun itu juga pindah ke Kotaraja dan bersekolah di Frobel (setara dengan TK). Saat nenek saya mulai memasuki pendidikan SD, nenek saya lalu diajak untuk tinggal bersama bibinya, atau kakak dari ibu nenek saya dikarenakan orangtua nenek saya merasa kerepotan dalam mengurus banyak anak. Dan bibi dari nenek saya ini kebetulan hanya memiliki 1 anak, lalu nenek saya pun lalu tinggal bersama bibinya di Langsa. Saat nenek saya memasuki pendidikan SD itu, wilayah Indonesia sudah diambil alih oleh Jepang, tentara Belanda sudah banyak yang tewas, melarikan diri ke kampung halamannya dengan terpaksa, bahkan banyak pula yang menjadi tawanan tentara Jepang. Saat itu nenek saya juga berkata bahwa dengan pesawat tempurnya, Jepang menembaki berbagai daerah di Indonesia dengan maksud membasmi semua tentara Belanda yang masih menempati wilayah Indonesia. Demi kepentingan penduduk setempat, penduduk di yang tinggal di sekitar rumah bibi dari nenek saya bergotong royonh untuk menggali lubang besar di tanah yang bertujuan untuk dijadikan tempat persembunyian dan tempat perlindungan yang aman dari seluruh tembakan-tembakan pesawat tempur Jepang. Jadi ketika mulai ada tanda-tanda datangnya pesawat, sirine di sekitar tempat tinggal bibi dari nenek saya itu dibunyikan dan warga sekitar berlari membawa seluruh keluarganya ke lubang tersebut. Nenek saya yang masih anak-anak dan belum banyak mengerti, hanya tertawa-tawa saja bersama dengan teman-teman di sekitar rumahnya. Ketika sirine dibunyikan, mereka tertawa sambil berlari ke lubang persembunyian. Ketika keadaan sudah aman, mereka pun bermain kembali.
            Paman dari nenek saya, atau suami dari bibi nenek saya itu adalah seorang tentara pada zaman itu. Dikarenakan hal tersebut, rumah tempat tinggal bibi dari nenek saya tersebut sering sekali dikunjungi oleh tentara Jepang, dengan tujuan menangkap paman dari nenek saya yang merupakan seorang tentara. Bahkan nenek saya yang masih anak-anak melihat langsung kejadian itu. Saat tentara-tentara Jepang itu datang, lalu mulai menggeledah isi rumah untuk mencari paman dari nenek saya. Akan tetapi, dengan sigapnya paman dari nenek saya itu hampir selalu berhasil bersembunyi dari penggeledahan tersebut, kadang ia melarikan diri, kadang ia juga bersembunyi di suatu tempat. Sampai suatu ketika akhirnya paman dari nenek saya ini pun tertangkap, lalu ia ditahan oleh tentara Jepang. Ternyata selama ditahan, paman dari nenek saya beserta tahanan yang lain menjadi korban kerja paksa oleh Jepang. Akan tetapi, Jepang membuat kebijakan bahwa dalam periode tertentu, keluarga tahanan boleh datang mengunjungi tahanan untuk bertemu dan melepas rindu sesaat. Hari demi hari berlalu dan akhirnya tiba pula saatnya untuk bibi dari nenek saya, beserta nenek saya berkunjung ke tempat tahanan tentara Jepang tersebut untuk bertemu dengan pamannya. Lalu sebuah keberuntungan pun terjadi. Saat nenek saya berkunjung kesana, salah seorang petinggi dari tentara Jepang tersebut datang menghampiri nenek saya, dan ia terlihat tertarik dengan nenek saya. Ia lalu berkata bahwa nenek saya memiliki wajah yang sangat mirip dengan anaknya yang saat ini berada di Jepang, dan saat itu ia sangat merindukan anaknya. Sejak hari itu, terjalin hubungan yang cukup baik antara paman dan bibi dari nenek saya dengan tentara Jepang itu. Dengan  berbagai alasan, akhirnya paman dari nenek saya pun dibebaskan dan dapat kembali pulang ke rumah.
            Beberapa waktu kemudian, dalam hitungan tahun, mulai tersebar berita di berbagai surat kabar bahwa Jepang telah kalah. Dan Indonesia pun merdeka. Akan tetapi nenek saya berkata, meskipun sudah merdeka, masih banyak juga sisa-sisa perang, atau pemberontakan-pemberontakan yang terjadi di daerah tempat nenek saya tinggal. Beliau berkata masih terdapat perang pada saat itu. Lalu, dikarenakan di Kotaraja, tempat tinggal orangtua dan keluarga nenek saya saat itu sedang dalam kondisi yang kurang baik atau dapat dibilang sedang dalam keadaan rusuh peperangan, ayah, ibu, beserta adik-adik nenek saya akhirnya berpindah kembali ke Langsa dan tinggal disana. Nenek saya pun akhirnya kembali tinggal bersama orangtuanya, dan melanjutkan sekolahnya. Akan tetapi, saat nenek saya duduk di kelas 5 SD, ayah dari nenek saya mendapat pekerjaan baru di daerah pelabuhan Belawan, disana ia menjadi jawatan pelabuhan, bertugas sebagai Book Hower, atau pada zaman sekarang itu dikenal sebagai profesi akuntan. Nenek saya beserta keluarganya lalu pindah ke daerah sekitar pelabuhan. Tidak lama tinggal di Belawan, ketika lulus SD, nenek saya dan keluarganya pindah lagi ke Palembang, disana nenek saya kembali melanjutkan sekolahnya, ia menamatkan pendidikan SMAnya di Palembang. Dan pada saat itu, sudah tidak ada lagi pemberontakan, sudah tidak ada lagi peperangan, keadaan di Indonesia sudah berjalan semakin baik seperti sebagaimana mestinya.
            Tidak banyak kisah yang dapat diceritakan oleh nenek saya, tidak banyak juga kontribusi yang diberikan nenek saya terhadap kemerdekaan di Indonesia, berhubung dengan usianya yang masih sangat dini dan juga pada saat itu ia belum mengerti akan banyak hal  yang terjadi. Akan tetapi, beliau menjadi salah seorang saksi sejarah yang masih hidup pada zaman sekarang yang sudah memasuki era modern ini. Bayangan-bayangan kisah masa lalu itu pasti akan dikenang oleh beliau seumur hidupnya.


Foto bersama nenek

No comments:

Post a Comment