Friday, 31 May 2013

Tugas-2 Biografi Yura Prasadhana


 Pemimpin yang Sukses

Hartini Hartarto lahir pada tanggal 16 mei 1937 di Sukabumi. Hartini Hartarto merupakan mantan ketua umum sebuah organisasi bernama Dharma Wanita untuk periode 1993-1998 dan periode 1993-2003. Dharma Wanita merupakan organisasi yang dibentuk pemerintah yang berisikan istri pegawai RI, pada masa itu yang dimaksud dengan pegawai RI meliputi pegawai negeri sipil(PNS), pegawai BUMN, serta anggota ABRI yang dikaryakan. Hartini Hartarto adalah anak ke 8 dari 10 bersaudara dari pasangan Ayah bernama R.Didi Soekardi dan Ibu bernama Iyar Sekarningsih. Banyak tokoh muda suka bumi memanggil Hartini Hartarto sebagai anaknya menak Sukabumi. Bagi masyarakat Sunda menak merupakan salah satu kelompok elit dengan status sosial yang tinggi. Menak juga bisa diartikan sebagai pemuka agama, bangsawan, orang terhormat dan priyayi. Inilah alasan mengapa beliau dipanggil menak karena ayah kandung dari seorang Hartini Hartarto adalah anak dari pemuka agama bernama Haji Mohammad Sidik dan beliau adalah seorang pengusaha perkebudan di Cibadak, Sukabumi.

Nama aslinya adalah Hartini Soekardi, nama Hartarto melekat pada namanya setelah beliau menikah dengan Ir. Hartarto Sastrosoenarto. Ketika lahir pada masa kolonial Belanda Hartini Hartarto tinggal di Sukabumi tepatnya di Jalan Baros no 2, Sukabumi setelah 4 tahun menetap disana orang tua mereka memustuskan untuk membuat rumah baru di jalan yang sama. Disanalah Hartini Hartarto bersama 9 saudara yang teridiri dari 2 perempuan dan 7 laki-laki menghabiskan masa kanak-kanak.  Sampai sekarang pun rumah yang pernah didiami oleh beliau masih dirawat oleh kakak tertua yaitu Djunaheni. Tidak jarang rumah beliau didatangi dan dikepung oleh tentara kolonial Belanda maupun oleh tentara Jepang. Ayahnya adalah sesorang yang sangat nasionalis yang rela rumahnya dijadikan sebagai tempat berkumpul para aktifis dan pemuda. Pada suatu hari ketika datang segerombolan tentara Belanda, Hartini mengungkapkan “semuanya takut dan panik, ayah saya yang biasanya tenang malah jadi senewen, malah ibu saya yang bersikap tenang”. Semua anak diumpatkan pada suatu ruangan, kepanikan ayahnya juga bukan tanpa sebab memang karena ada beberapa senjata dalam rumah tersebut, tapi ibunda berani berteriak kepada tentara Belanda untuk mengecek rumah alhasil tentara langsung pulang tanpa mengecek.

 Ayahnya juga sangat berjuang demi kepentingan rakyat kecil memang beliau tidak melakukan dengan menggunakan senjata tapi dia berusaha menentang tindakan Belanda dalam menekan harga daun teh dan ia juga tidak jarang melakukan pidato agar masyarakat bisa bersemangat melawan penjajahan kolonial Belanda didepan rakyat banyak. Hartini Hartarto mengenyam pendidikan pertama di SD Gadis selama 4 tahun lalu dipindahkan ke SD Mardi Yuana di Sukabumi. Ketika beliau masih SD, Indonesia sedang dijajah oleh Jepang. Menurut adik Hartini Hartarto yaitu Nini(panggilan) Hartini hartarto adalah seorang anak perempuan yang tomboy. Selesai SD di Sukabumi Hartini hartarto melanjutkan ke jenjang SMP di Bandung menyusul ayahnya yang sudah terlebih dahulu tinggal di Bandung. Ketika SMP, nenek Tine(sapaan Hartini Hartarto) aktif mengikuti kegiatan pramuka dan memiliki hobi naik sepeda bersama teman-temannya. Katika Ayah nya R.D Soekardi kembali ke Sukabumi Nenek Tine tinggal bersama istri mantan Wakil Presiden Umar Wirahadikusumah di rumah R.D Soekardi. Ketika menyelesaikan SMP, Nenek Tine melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi di SMA Negeri III-A, di Jalan jawa di kota Bandung. Pada masa SMA beliau awalnya masuk jurusan IPA, tetapi dia mengatakan tidak menyukai kimia jadi dia pindah ke jurusan IPS. Terbukti kepindahannya meningkatkan prestasi Nenek Tine dalam bidang akademisnya, nilai Aljabar dan Diplomanya bernilai 10. Dan pelajaran yang tidak disukainya adalah menggambar dan Jawa Kuno. Dimasa SMA semakin banyak aktifitas olahraga yang dilakukan Nenek Tine seperti voli, apalagi postur tubuh yang tinggi sangat menunjang olahraga tersebut. Disekolahnya pun Nenek Tine menjadi pemain andalan bahkan beliau pernah masuk kedalam tim voli Jawa Barat dalam pertandingan olahraga pelajar yang diselenggarakan di Jogjakarta. Bukan itu saja ia juga pernah terpilih menjadi anggota kontingen Jawa Barat pada Pekan Olahraga Internasional (PON) III di Medan. Diluar sekolahpun Hartini Hartarto tergabung dalam persatuan Atletik Bandung (Peratib) untuk cabang Atletik dan Tirta Merta untuk olahraga renang.

Prinsip hidup seorang Hartini Hartarto adalah “Masa muda adalah masa yang paling indah, sayang kalo tidak dinikmati” dari situ terlihat jelas Hartini Hartarto dapat bergaul dengan baik diisi dengan aktifitas postif bersama teman dan beliau tidak lupa tugas utamanya yaitu belajar, hasil akademisnyapun memuaskan. Menurut pandangan Nini sejak kecil beliau adalah anak yang cerdas dibidang akademis. Banyak anak cowo sepantaranya pada masa itu tertarik dengan Tante Tine karena prestasinya dan kecantikan mukanya. Setelah lulus SMA, Hartini Hartarto melanjutkan pendidikanya ke perguruan tinggi di Universitas Indonesia (UI), jurusan Sastra Inggris. Ia beranggapan apabila bisa menguasai bahasa inggris maka ia dapat mengantarnya keliling dunia. Karena Hartini hartarto melanjutkan kuliah di Jakarta, ia mau tidak mau meninggalkan kota Bandung, di Jakarta ia tinggal disebuah rumah saudaranya bernama Ceu Dedeh di Jalan Maluku, Menteng, Jakarta. Jarak ke kampus juga dekat karena Salemba dan menteng sama-sama di Jakarta Pusat. Saat kuliah pun Nenek Tine tetap melakukan aktifitas olahraga kesukaaanya yaitu voli dan mengisi waktu luang seperti membaca buku dan nonton. Selain kuliah, Nenek Tine juga tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Djakarta(GMD) dan menjadi panitia penerimaan mahasiswa Malaysia yang mau bersekolah di UI.

Selain belajar bahasa Inggris ia juga mempelajari ilmu desain interior. Suatu saat seorang Hartini Hartarto sangat tertantang untuk dapat berbicara dalam bahasa Perancis dan mendalami ilmu desain interior, akhirnya ketika selesai di jenjang universitas ia memutuskan untuk terbang ke Paris untuk menguasai dua hal tersebut. Ketika di Paris beliau tergbung dalam Persatuan Pelajar Indonesia, disamping itu beliau mendapatkan banyak pengetahuan berharga tentang ilmu desain interior dan mulai fasih berbahasa Perancis. Lalu ia memutuskan untuk pulang ke Indonesia untuk bertemu tunangannya yang baru saja pulang dari Australia untuk menuntut ilmu. Ia juga sempat mengajar bahasa Perancis di SMA Mardi Yuana. Sekarang beliau berumur 76 tahun dan dikaruniai 5 orang anak .

Hartini Hartarto merupakan anak yang terlahir dari pasangan Ayah yang sangat nasionalis, bernama R. Didi Soekardi. Sedangkan ibunya selalu berusaha membantu ekonomi keluarga agar tetap stabil. R. Didi Soekardi melakukan beberapa cara menentang penjajahan salah satunya melawan ketika Belanda menekan harga daun teh. Pada tahun 1931 sebelum lahirnya Hartini Hartarto, beliau pindah ke Jogjakarta dan melanjutkan perjuangan disana. Bersama beberapa tokoh pergerakan seperti HOS Tjokroaminoto, RP Soeroso, Sutan Sjahrir, RM Soerjopranoto dan Dr.Soekiman, Soekardi membangunkan semangat rakyat  melalui surat kabar. Surat kabar itu bernama “Oetoesan Indonesia” didirikan oleh beliau sendiri pada tahun 1932. Sebelumnya surat kabar Oetoesan Indonesia bernama “Mustika” yang di pimpin oleh H. Agus Salim tapi setelah diambil alih oleh Soekardi nama surat kabarnya berubah.

Lalu ia memutuskan untuk kembali ke Sukabumi untuk melanjutkan usaha perkebunannya. Beliau juga tidak jarang keluar-masuk penjara bahkan setelah merdeka ia masih mendekam dipenjara untuk beberapa saat. Bagi Hartini Hartarto mungkin sulit untuk melupakan masa kecilnya, beliau sering melihat bagaimana tentara Belanda dan Jepang menggeledah rumah, selain itu ia juga sering melihat penjajah kolonial merebut harta milik rakyat. Hal ini terjadi pada ayah nya sendiri, pada suatu hari ketika truk-truk yang dimiliki ayahnya untuk mengangkut hasil perkebunan dirampas oleh tentara Jepang. Seperti apa yang saya ceritakan sebelumnya di bagian Biografi dari Hartini Hartarto, kejadian mencekam ketika rumahnya dikepung tentara Belanda tidak hanya terjadi sekali.

Pernah pada suatu pagi, tentara Belanda tiba-tiba mengepung  rumah untuk mencari bendera merah putih. Tapi ketika melihat patung Yesus Kristus milik Ceu Djeunah kakak paling tua yang beragama katolik, tentara Belanda mundur tidak jadi masuk. Padahal dirumah ada bendera merah putih dan bisa saja R.D Soekardi ditembak mati, pasalnya ketika jaman kolonial belanda orang pribumi tidak boleh memiliki dan menyimpan bendera merah putih. Pernah juga suatu kejadian yang mungkin tidak pernah dilupakan Hartini Hartarto, ketika beliau berumur 8 tahun, Hartini Hartarto bersama keluarganya digusur dari rumah mereka untuk mengungsi di Padabenghar, karena sempat diisukan depo bahan bakar yang berjarak beberapa meter dari rumahnnya akan dibombamdir oleh tentara Jepang. Padabenghar sendiri merupakan suatu daerah yang arahnya ke Pelabuhan Ratu.

Tetapi ada satu orang saudara yang tidak ikut pergi mengungsi bernama Gandhi Sukardi karena ia tidak yakin depo bahan bakar akan dibom. Tentara NICA pun jadi melaukan bombardir dengan meriam dengan melamparkan bom ke pemukiman. Pada saat itu ayah Hartini Hartarto menyuruh anak-anaknya untuk bersembunyi didalam bunker. Tetapi rumah mereka tidak hancur, karena mereka takut rumahnya dijarah oleh penjarah ibunda bernama Iyar Sekarningsih mengajak sekeluarga untuk kembali kerumah. Ayah dari Hartini Hartono juga sempat menjadi penghubung prajurit PETA dimana kedua kakaknya ikut berperan aktif yaitu Eddie Soekardi dan Harry Soekardi. Ketika terjadi perang kemerdekaan di Sukabumi Tentara Republik Indonesia dibawah komando kakak kandung dari Hartini Hartarto yaitu Eddi Soekardi pasukan lawan bisa dipukul mundur.

Hartini Hartarto juga pernah menjabat sebagai ketua Dharma Wanita Persatuan untuk dua periode. Dharma Wanita Persatuan adalah organisasi berisikan istri pegawai RI yang sengaja dibentuk untuk meningkatkan kesejahteraan para anggotanya. Pernah pada suatu saat Semakin tinggi tingkatan/jabatan istri di organisasi ini karena jabatan suami sebagai pemerintah RI juga tinggi. Pernah pada suatu saat ketika suami masih sebagai pegawai eselon II, suatu ketika Hartini Hartato mengajukan pertanyaan yang kritis. Tiba-tiba beberapa hari kemudian ia malah diadili, hal tersebut lah yang mendorong Hartini Hartarto merubah kultur organisasi yang kurang baik. Baru ketika suami diangkat menjadi Menteri, Hartini menjadi ketua Dharma Wanita. Alhasil ketika beliau menjabat sebagai ketua, ia tanggap kepada tuntutan yang ada, Dharma Wanita tidak lagi dicampur adukan dengan kepentingan politik tetapi menjadi oraganisasi yang bergerak dibidang Sosial, pendidikan dan budaya.  Setelah terjadi perubahan nama menjadi Dharma Wanita Persatuan, terjadi juga perubahan yang tadinya berupa organisasi yang dicampur adukan dengan politik dan nampak jelas KKN menjadi organisasi kemasyarakatan istri pegawai negeri sipil(PNS) dalam rangka memberdayakan istri PNS.

Saya mendapat informasi wawancara dengan cara BBM melalui handphone teman saya di IPS 2, kebetulan dia adalah cucu dari adik Hartini hartanto. Karena kebetulan dia sedang berada di rumah Nining Mulyoto(Adik perempuan Hartini [Hartarto) untuk melakukan wawancara tentang suami dari Nining Mulyoto, saya menanyakan hal tentang Hartini Hartarto sebagai salah satu saksi sejarah dan ketua sebuah organisasi bernama Dharma Wanita melalui beliau. Jadi apa yang dituliskan melalui pesan singkat adalah pendapat dia tentang Hartini Hartarto. Semoga apa yang saya tulis disini oleh saya dapat bermanfaat bagi para pembaca yang membacanya. 












No comments:

Post a Comment