Friday, 31 May 2013

Tugas 2 Biografi - Zahra Fathiya XI IPA 1

Eyang Jul, Melukis Indonesia Dengan Pasir



Ada berbagai macam jasa yang diberikan berbagai macam orang pada dunia ini. Ada berbagai macam jasa yang diberikan berbagai macam orang pada Negara Indonesia ini. Indonesia telah melalui berbagai macam masa. Pada setiap masa itu muncul berbagai macam pahlawan dan orang-orang yang berjasa banyak bagi dunia ini. Seiring dengan hal itu, banyak pula orang-orang berjasa yang tidak tampak di permukaan. Tidak semua pahlawan berperang, tidak semua pemenang mendapat medali, tidak semua jasa diberikan piagam.

Pada hari Kamis, 30 Mei 2013 kemarin saya menghubungi seorang mantan guru seni rupa yang berjasa bagi Indonesia dalam bidang budaya. Mungkin bukan namanya lah yang tercatat, dan mungkin banyak yang benar-benar ingat. Namun menurut saya ia salah satu orang yang berjasa bagi Indonesia dan salah satu orang yang membawa nama Indonesia ke dunia luar.

Biografi
 
Mantan guru seni ini bernama Drs. Julius Wahyanto. Saya memanggilnya Eyang Jul. Benar, dia masih merupakan keluarga besar saya. Memang bukan keluarga langsung, Eyang Jul merupakan adik Ipar dari almarhum eyang saya dari pihak ayah. Eyang Jul lahir di kota Jogjakarta pada hari Minggu tanggal 6 Januari tahun 1935. Umurnya saat ini sudah sekitar 78 tahun.

Sewaktu muda, Eyang Jul tidak memiliki banyak biaya untuk menempuh pendidikan. Akhirnya ia memutuskan untuk masuk ke SGB atau Sekolah Guru Bantu. Sekolah ini merupakan sekolah untuk menjadi guru dengan menempuh pendidikan 4 tahun, yang dibantu biayai oleh pemerintah Indonesia. Saat itulah Eyang Jul memutuskan untuk menjadi guru. Para murid dari Sekolah Guru Bantu memang mendapatkan ikatan dinas dari pemerintah. Yang dimaksud ikatan dinas adalah mendapatkan tunjangan uang untuk kebutuhan kos, makan, dan keperluan sekolah, setamat Sekolah Guru Bantu (SGB) pun dapat langsung melanjutkan mengajar dan menjadi PNS. Ia tidak memiliki banyak biaya saat itu, karena itu ini adalah jalan yang ia pilih. 

Bersekolah di Sekolah Guru Bantuan membuatnya harus tinggal di daerah Gunung Kidul pada akhirnya untuk mengajar. Daerah ini merupakan sebuah daerah yang terpelosok. Namun, ia mengatakan bahwa ia tidak betah tinggal di Gunung Kidul. Alasannya adalah ia takut akan menjadi orang gunung, katanya.

“Kalau di sini takut terus jadi orang gunung. Soalnya temen-temen udah langsung pada pacaran sama orang gunung Kidul..” tutur Eyang Jul di telepon sambil tertawa kecil.

Karena itu, selanjutnya Eyang Jul memutuskan untuk belajar seni. Eyang Jul kemudia berguru pada seseorang yang namanya mungkin tidak asing di antara banyak seniman, Hendro Djasmoro.  

Hendro Djasmoro merupakan seorang pelukis dan pematung yang lahir di Kebumen, 11 Januari 1915. Karya-karyanya yang masih dapat kita temui sampai sekarang adalah Patung Ki Hadjar Dewantoro di Pendopo Taman Siswo Yogyakarta, patung perunggu Jenderal Urip Sumohardjo di AKABRI Magelang, dan patung Jenderal Sudirman di Hankam, Jakarta. Sebagai supervisor pada pembuatan relief di Lubang Buaya dan Tugu Angkatan Udara Mayor Manuhua di Irian Jaya. Di samping gemar membuat patung pahlawan Hendro Djasmoro juga kerap mencipta patung gadis, diantaranya adalah patung Gadis koleksi Presiden Soekarno, patung Gadis Solo di Timo Salatiga, dan patung Gadis Telanjang di Hotel Ambarukmo Yogyakarta. Sebelumnya Hendro Djasmoro adalah pelukis naturalis. Ia jago membuat lukisan untuk dekor ketoprak. Tahun 1936 ikut pameran di Bandung, yang diselenggarakan oleh Jaarmark. Di antara peserta pameran itu tercatat nama-nama pelukis kondang seperti Abdullah Suriosubroto, Basoeki Abdullah, dan Baskoman. Tahun 1950 Hendro Djasmoro tercatat sebagai siswa angkatan pertama di ASRI, dan kemudian berlanjut sebagai tenaga dosen hingga masa pensiunnya, 1977. 

Menjadi murid dari seorang pematung terkenal tentu sangat membanggakan. Terlebih lagi Eyang Jul bisa dibilang memiliki kemampuan lebih baik dari teman-teman seperguruannya saat itu. Eyang Jul melanjutkan pendidikan seninya di ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia), tempat gurunya tersebut. 

ASRI merupakan sebuah akademi seni rupa terkenal yang terletak di Jogjakarta. Sebuah perkumpulan yang memberikan kursus menggambar, yaitu Prabangkaram didirikan tahun 1948. Setelah itu berbagai anggotanya bersama para tokoh SIM (Seniman Indonesia Muda),  Perkumpulan Pelukis Rakyat, dan lainnya seperti Hendra Gunawan, Kusnadi, dan Sindusisworo merumuskan pendirian sebuah lembaga kesenian. Itulah ASRI. Selanjutnya Sejak tahun 1968 namanya berubah menjadi STSRI “ASRI” (Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia). Dan sekarang STSRI telah bergabung dengan AMI (Akademi Musik Indonesia) dan ASTI (Akademi Seni Tari Indonesia, menjadi ISI (Institut Seni Indonesia) Yogyakarta.
 
Namun pendidikan awalnya sebagai calon guru menariknya kembali untuk menjadi guru. Setelah lulus dan mendapat sarjana, Eyang Jul menjadi guru seni rupa di SMA 3 dan beberapa kali menjadi guru di beberapa sekolah sebelum akhirnya pensiun.

Eyang Jul menikah dengan Dra. Sri Mulyana, adik pertama almarhum eyang saying dari pihak ayah. Ia memiliki empat orang anak, tiga laki-laki dan satu perempuan. Dari keempat anaknya, ia memiliki sembilan orang cucu. 

Peran
 
SD Mexico  Kebayoran Baru. SD Mexico merupakan Sekolah Belanda yang telah dinegerikan oleh pihak pemerintah RI khususnya Pemda Provinsi DKI Jakarta. Sekolah ini merupakan pertukaran budaya antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Mexico yang berlokasi di Jl.Hang Lekir 5 Kebayoran Baru Jakarta Selatan. Dari hubungan Indonesia-Mexico yang melalui sekolah inilah Eyang Jul mengetahui mengenai Mexico dan sebuah perlombaan internasional yang diselenggarakan. Lomba ini merupakan sebuah perlombaan tingkat dunia yang diselenggarakan di Mexico dan diikuti banyak negara di dunia, termasuk Indonesia.

Eyang Jul mendapati bahwa orang Mexico menyukai sebuah kesenian yang dianggap sebagian besar masyarakat hanya sebuah permainan. Anak-anak mexico senang melakukan yang sering disebut Sand sculpture atau membentuk pasir menjadi sebuah bentuk. Hal ini tentu sering kita temui di pantai, anak-anak sering bermain pasir membentuk suatu bentuk. Ternyata mungkin untuk membentuk pasir menjadi sebuah bentuk yang rumit seprti orang, bangunan, dan sebagainya.

Mengetahui hal tersebut, ia merasa bahwa Indonesia dapat berpartisipasi. Indonesia merupakan sebuah negara kepulauan yang berarti Indonesia memiliki banyak pantai. Sudah sewajarnya masyarakat Indonesia dapat mengenal seni menggunakan pasir seperti sand sculpture.

Eyang Jul menunjuk salah satu muridnya yang bernama Edi Harjati. Muridnya tersebut baru berumur 11 tahun yang saat itu seharusnya sudah kelas 5 SD. Akan tetapi, pada saat itu terjadi perubahan sistem tahun ajaran. Sistem yang berubah adalah kenaikan kelas yang mulanya pada bulan Desember, diubah oleh Menteri Pendidikan saat itu, Dr. Daud Yusuf, menjadi bulan Juni, sesuai dengan pola tahun ajaran di luar negeri. Sehingga saat itu murid Eyang Yul tersebut belum naik ke kelas 5 SD.  Ia pun sebenarnya baru dalam hal mematung pasir, dan tidak tahu apa-apa tentang cara mematung pasir. Tetapi, Eyang Jul mencoba untuk belajar bersama muridnya untuk membuat karya dari pasir. 

Berbagai persiapan pun dilakukan hingga hari perlombaan. Eyang Jul dan muridnya berlatih di Ancol, salah satu kawasan pantai yang ada di Jakarta. Meskipun Ancol letaknya jauh dari SD Mexico, tetapi mereka berkali-kali pergi ke sana untuk berlatih. Dalam beberapa bulan latihan, setiap tiga hari sekali mereka menempuh perjalanan sekitar 40 Km untuk berlatih di Ancol.

“Tadinya bentuknya ngga karuan. Bentuknya Cuma bisa kayak ember-ember begitu. Tapi, lama-lama kita menemukan motif.”

Baik Eyang Jul dan muridnya pada awalnya sama sekali belum bisa membentuk apa-apa dari pasir. Mereka hanya bisa membuat bentuk silinder menggunakan cetakan ember. Tetapi setelah beberapa bulan berlatih akhirnya lama-kelamaan mereka berhasil menemukan cara membuat motif-motif dan pola, hingga akhirnya berhasil membentuk pasir menjadi patung orang sedang bersujud. Sungguh luar bisaa kegigihannya untuk menciptakan karya dari pasir dan memenangkan kejuaraan tersebut sehingga ia dapat membimbing muridnya dari keadaan tidak bisa sama sekali sampai akhirnya bisa membentuk pasir serupa dengan orang bersujud.

Akhirnya Eyang Jul dan Om Edi Harjati berangkat ke Mexico. Eyang Jul menceritakan bahwa ini adalah kali pertamanya ia bepergian menggunakan pesawat. Bagi orang yang baru pertama kali naik pesawat, dan terlebih lagi langsung ke Mexico yang berjarak sekitar 17.000 Km, tentu akan merasa takut. Perasaan takut itu dihilangkan dengan cara tidur dan beristirahat di pesawat. Tadinya Eyang Jul mengira bahwa tidak akan selama itu, namun ternyata perjalanan membutuhkan waktu sehari semalam, sehingga pada pengalaman pertamanya ia langsung merasakan rasanya bermalam di pesawat.

 Sesampainya di Mexico, Eyang Jul mendapati bahwa pasir di Mexico jauh lebih baik daripada pasir di Jakarta. Hal ini terutama disebabkan pantai Ancol yang dipenuhi sampah. Sehingga jauh lebih mudah untuk menggunakan pasir di Mexico daripada di Jakarta. Namun tentu dibutuhkan adaptasi terhadap jenis pasir yang baru tersebut.

Namun pada akhirnya, Om Edi Harjati di bawah bimbingan Eyang Jul berhasi merenggut piala ke dua dalam kompetisi ini, mengalahkan banyak negara lain yang juga berkompetisi. Semua kerja keras yang dilakukan selama berlatih dan persiapan pun terbayar dan tentu hal ini membawa nama Indonesia dalam bidang kesenia ke muka internasional.

Mungkin bukan Eyang Jul yang menyimpan piala atau piagam kemenangan. Mungkin bukan juga namanya yang diingat dan dicatat dalam kompetisi itu. Namun kegigihannya untuk mendidik muridnya dari tidak tahu sama sekali mengenai sand sculpture hingga dapat mendapatkan juara kedua dalam sebuah kompetisi yang diikuti berbagai negara di dinia tentu harus diapresiasi. Berkat jasanya pula dalam kompetisi itu nama Indonesia sekali lagi didengar oleh negara-negara di dunia dan kesenian di Indonesia akan terus berkembang.

Meskipun telah mencapai hal tersebut dan memiliki kebanggaan luar biasa pada masa itu, Eyang Jul mengaku bahwa ia merasa bahwa anak-anak dan pendidikan sekarang pada umumnya sudah lebih baik. Sebab, bahkan anak kecil sekarang sudah terbiasa dikelilingi berbagai alat yang dapat menunjang pengetahuan dan pelajaran, seperti gadget-gadget yang sudah tidak asing lagi bagi anak-anak. Tidak seperti zaman dulu, ketika semuanya belum seperti sekarang, belum semudah sekaran. Dulu masih sulit untuk mencari informasi sampai merasakannya sendiri. Sedangkan sekarang ilmu pengetahuan sangat sulit didapat. Namun Eyang Jul berpesan agar anak-anak tidak terlalu sering berkutat dengan gadget nya sehingga melupakan pelajaran dann kewajibannya.

Itulah tadi cerita singkat mengenai peran Eyang Jul bagi Indonesia yang saya dapat dari obrolan singkat di telepon. Ia membuktikan bahwa tidak perlu memegang senjata, menjadi ahli ekonomi, menjadi ilmuan, menjadi orang kaya, ataupun menjadi orang terkenal untuk dapat menaikkan nama Indonesia di dunia Internasional. Pendidikan merupakan hal penting. Dan dari sanalah tercipta bibit-bibit yang dapat mengharumkan nama bangsa lebih jauh lagi. Ia membuktikan bahwa seember pasir bisa menjadi symbol rasa syukur pada Tuhan. Bahwa suatu hal kecil dan tampak sepele bisa menjadi sebuah kebanggaan.

No comments:

Post a Comment