Friday, 31 May 2013

Tugas 2 - Biografi Zayyan Misykati Razdiq XI IPA 2

Kakekku, Pahlawanku.



Siang jadi kawan, malam jadi musuh”
Sosok lelaki itu begitu gagah di mataku. Ya, dia adalah kakekku, Ayah dari Ibuku. Beliau termasuk orang yang sangat menjunjung tinggi pendidikan, beliau akan memperjuangkan  apapun untuk menimba ilmu. Beliau selalu menanyakan bagaimana perkembangan sekolah cucu-cucunya. Beliau orangnya keras juga tegas, mungkin pengaruh tempat tinggal asal dan pekerjaannya, walaupun begitu beliau juga seperti kakek-kakek lain senang memanjakan cucunya.
Abdul Radjak Soamole, biasa dipanggil Radjak, tetapi saya memanggil beliau “abah” sebutan untuk kakek dalam bahasa sunda. Abah lahir di kampung Waiboga, Sanana, Maluku Utara pada 73 tahun silam tepatnya tanggal 25 Oktober 1940. Mempunyai 5 orang anak, 2 laki-laki dan 3 perempuan serta 11 orang cucu.
Masa kecilnya cukup sulit karena tinggal di daerah, pada tahun 1944 di daerah Sanana, Maluku utara, masih pendudukan jepang. Karena masih kecil dan belum mengerti apa-apa beliau belum sadar tentang keberadaan para penjajah dari jepang. Pada saat pendudukan jepang daerah-daerah di Sanana, Maluku Utara banyak di bom. Lalu penduduk setempat lari ke hutan untuk menyelamatkan diri, di hutan masyarakat setempat membuat bivak. Rumah mereka tinggalan kosong begitu saja, lalu pada tahun 1947-1948 beliau sudah mengetahui tentang jepang dan mengerti, lalu keadaan mulai membaik. Didirikanlah SDR yaitu Sekolah Dasar.
SDR pada saat itu hanya sampai kelas 3 SD, untuk melanjutkan ke tingkat selanjutnya beliau harus sekolah di pusat kota Sanana. Perjalanan dari kampung Waiboga ke Sanana memakan waktu 3 jam. Setelah lulus dari sekolah, beliau melanjutkan ke sekolah perawatan di Bandung, Jawa Barat pada tahun 1958.
Awalnya beliau adalah  rakyat sipil biasa, tetapi ketika awal operasi Trikora ada wajib militer. Lalu abah pun menjadi anggota TNI AD (Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat). Setelah itu abah mengikuti pendidikan dan latihan selama 1 tahun untuk menghadapi Irian Barat, selesai pendidikan dan latihan tersebut beliau diberangkatkan ke Irian Barat (Papua) pada tahun 1963.
“ Perang itu berbahaya”, kata Abah.
“ Emang kenapa gitu ?”, tanyaku.
“karena kita dalam keadaan siap untuk dibunuh dan siap untuk membunuh”, jawabnya.
Saat di irian barat, masih ada campur tangan belanda, walaupun belanda sudah pergi meninggalkan Indonesia pengaruhnya yang kuat tetap melekat pada masyarakat setempat. Masyarakat yang terkena pengaruh belanda cukup kuat dialah yang menjadi musuh.
Abah berada di Irian Barat dari tahun 1963-1965 awal dari G 30 S PKI (Gerakan 30 September PKI). Beliau lalu ditarik untuk kembali dan langsung ditugaskan lagi untuk ke Senayan, beliau bertugas di Brigade I Kaveleri Kostrad, setelah mulai tenang pada tahun 1967 beliau pindah ke Bandung karena basecamp Brigade I Kaveleri Kostrad bertempat disitu. Sampai tahun 1972-1973 beliau bertugas, lalu diberi kesempatan untuk mengenyam pendidikan di Akademi Keperawatan selama 3 tahun.
Setelah lulus dari Akademi Keperawatan tersebut, beliau kembali lagi bertugas di Brigade I Kaveleri Kostrad lalu pindah tugas ke Kesdam III Siliwangi, karena sebenarnya basic beliau adalah kesehatan sejak sekolah perawat sebelum menjadi anggotan TNI AD. Beliau bertugas di Brigade I Kaveleri Kostrad sebagai Kesatuan Tambahan karna peristiwa G 30 s PKI.
Setelah itu beliau diberi tugas ke Timor-Timor, menurutnya tugas di timor-timor adalah tugas yang paling berat. Di timor-timor beliau bukan merupakan kesatuan tempur, tetapi kesatuan bantuan tempur. Abah menjadi kepala Kasi IV yaitu logistik. Kasi I adalah Intel, Kasi II adalah Operasional, dan Kasi III adalah Administrasi. Karena beliau adalah logistik beliau sering kali bertugas di teritorial. Di timor-timor itu bukan perang terbuka tetapi perang tertutup dan bergerilya sehingga sering berpindah-pindah.
“ Siang jadi Kawan, Malam jadi musuh”
Seperti saat di Irian Barat, disini musuhnya itu adalah masyarakat setempat. “Siang mereka memberi makanan, bertegur sapa dll. Ketika malam masyarakat setempat bisa saja langsung membunuh. Jadi kalau malam harus siap senjata”, begitu ceritanya. Abah itu orangnya serba bisa, walapun tugas pokoknya itu adalah logistik, beliau bisa bantu-bantu mengobati orang karena dasaranya beliau adalah kesehatan, beliau juga cukup ahli dalam urusan agama sehingga beliau dapat mengislamkan 17 kepala keluarga beserta anggotanya yang dahulu tidak memiliki agama karena beliau adalah rohis.
Disini beliau membina masyarakat setempat, untuk mengenal lebih jauh tentang Indonesia dan membuat mereka patuh kepada tanah air ini. Beliau juga membina masyarakat dan merekrutnya sebagai hansip dan mempersenjatai mereka untuk membantu operasional TNI AD.
Ada suatu kejadian yang tidak terlupakan olehnya, suatu ketika jam 4 sore ada hansip yang melapor padanya bahwa dia melihat Maukaro seorang pimpinan fretelin (kumpulan orang-orang yang tidak mau bergabung dengan Indonesia) membawa 15 orang bersamanya sedang mengumpulkan warga di suatu kampung untuk dipengaruhi agar ikut golongan fretelin. Mendengar ini para Kasi langsung mengadakan rapat, ketika itu diputuskan untuk membuat pasukan 30 orang atau 1 pleton untuk menghentikan mereka. Tetapi Kasi I,II, dan III tidak berani menghadapi kelompok Maukaro. Akhirnya abahpun menyanggupi untuk membuat pasukan tersebut dengan syarat beliau sendiri yang memilih anggotanya. Setelah sampai di kampung tersebut. Beliau membagi pasukan menjadi 3 kelompok berjumlah 10 orang. Satu kelompok di kanan ditambah 2 hansip, 1 kelompok ditengah ditambah 1 hansip dan dipimpin oleh abah sendiri, lalu 1 kelompok lagi ada di sebelah kiri dan ditambah 2 hansip.
Mereka membuat suatu formasi, kelompok kanan jalan terlebih dahulu diikuti oleh tengah lalu terakhir kiri, dengan jarak 3 menit. Saat itu hari sudah malam, ketika mereka sedang merayap di tengah hutan dan gelap gulita. Akhirnya melihat golongan fretelin dan Maukaro sedang berkumpul dengan posisi Maukaro berada di tengah lingkaran masyarakat anggota fretelin tersebut, lalu seorang hansip yang berada di tengah tidak sabar, dan merayap ke sela-sela golongan fretelin. DUAAR! Suara tembakan terdengar lantang, lalu kemudian hiruk pikuk tembakan terjadi, banyak orang yang tertembak karena banyak darah yang terlihat, tetapi yang tertembak dan mati oleh tembakan hansip tersebut adalah pelayan pribadi Maukaro dengan kondisi yang mengenaskan, usus kemana-mana.
Saat kejadian itu terjadi abah tidak bertindak langsung seperti hansip tersebut karena harus menunggu putusan. Tetapi pada akhirnya sampai tugas abah selesai pada tahun 1981 Maukaro tidak ditemukan dan tidak tahu keberadaanya.
Setelah tugas di timor-timor abah ditugaskan di teritorial yaitu Komando Residen Maulana Yusuf Banten, bertugas sampai tahun 1982. Abah lalu pindah ke bandung lalu bertugas kembali di Komando Residen II. Setelah itu beliau bertugas di Kodim Cimahi samapai tahun 1989. Akhirnya beliau pindah ke Kodam III Siliwangi karena putusan pusat koperasi TNI AD abah dibutuhkan ditempat tersebut. Beliau bertugas di Kodam III Siliwangi dari tahun 1989-1995. Lalu pada tahun 1995 beliau pensiun.
abah dan cucunya (saya paling kanan)
Dilihat dari pengalamannya selama hidup, saya sangat mengaguminya. Seorang anak dari pulau antah-berantah nan jauh disana, yang sangat bersemangat untuk sekolah agar mengubah nasib keluarganya, beliau dapat sekolah di bandung dan menjadi TNI AD untuk memperjuangkan tanah air ini. Saya mewawancarai beliau melalui telephone.








 



1 comment:

  1. maukaro 305 ? dia tewas ditenmbak TNI sekitar 1990

    ReplyDelete