Thursday, 30 May 2013

Tugas 2 Biografi - Hasif Syahrastani XI IPS 3


KAKEK ANWAR, PENELITI SERUM HAMA SEMASA PERJUANGAN

           Pada kesempatan kali ini saya mewawancarai kakek saya sendiri yang bernama Anwar Said.  Dia merupakan kakek dari ayah saya.  Saya memilih mewawancarai beliau karena beliau terlibat dalam penelitian - penelitian yang berhubungan dengan tanaman.  Sekarang beliau menetap dan bertempat tinggal di Bogor, Jawa Barat.

BIOGRAFI

            16 November 1929 adalah hari dimana kakek saya, Anwar Said dilahirkan ke muka bumi dari pasangan Muhammad Said dan Sari Ambun.  Beliau lahir di kota Batusangkar, sebuah kota di Padang, Sumatera Barat.  Kakek saya memulai jenjang pendidikannya dengan memasuki Sekolah Dasar Adabiah di kota padang.  Dia memiliki peringkat atau ranking yang cukup baik saat SD, walau SD tersebut sedikit terpencil.

            Melewati masa Sekolah Dasar, kakek saya melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi yaitu Sekolah Menengah Pertama, sekolah yang beliau pilih yaitu SMP Adabiah, beliau melanjutkan jenjang menengah pertama ke sekolah dan yayasan yang sama saat beliau SD.  Saat SMP pun beliau selalu mendapat nilai - nilai yang bagus dan yang pasti mendapatkan ranking yang bagus.  Beliau memang tergolong orang yang pintar dan unggul dalam segala pelajaran.

            Jenjang Sekolah Menengah Pertamanya pun beliau lalui.  Kakek saya melanjutkan kembali pendidikannya ke jenjang Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) di Bogor.  Memang terkesan tidak biasa, beliau tidak melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menengah Atas (SMA) tetapi lebih memilih SPMA karena beliau lebih ingin mendalami tentang pertanian dan ingin bekerja di bidang Industri Pertanian saat itu.
            Sekilas tentang SPMA, Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA/MLS) Bogor dapat dikatakan sebagai sekolah pertanian yang paling terkemuka. Sekolah ini didirikan dengan Surat Keputusan (SK) Gubernur Jenderal Pemerintah Hindia Belanda pada Agustus 1913. SK ini menetapkan bahwa Sekolah Pertanian (Landbouw School) yang didirikan pada tahun 1903 dihentikan kemudian ditingkatkan menjadi SPMA/MLS dengan 2 (dua) minat studi yaitu Ilmu Pertanian dan Kehutanan. Seluruh siswanya mendapat beasiswa dan sebagian berstatus ikatan dinas. Sekolah Kehutanan Menengah Atas (SKMA/MBS) merupakan sempalan dari SPMA/MLS. Karena kekhususannya, maka pada tahun 1939 Pemerintah Hindia Belanda memutuskan untuk memisahkan Jurusan Kehutanan dari SPMA/MLS menjadi sekolah sendiri dengan nama Sekolah Kehutanan Menengah Atas (SKMA). Sekolah ini dipindahkan dari Bogor ke Madiun dan seluruh siswanya diikat dengan sistem ikatan dinas.

            Pendidikan di Sekolah Pertanian Menengah Atas pun dilewati oleh kakek saya.  Kemudian beliau melanjutkan pendidikannya ke tingkat perkuliahan.  Dikarenakan beliau memang sudah tertarik dengan Pelajaran dalam Bidang Pertanian maka, beliau memilih Institut Pertanian Bogor (IPB) atau yang biasa disebut Landbouwschool saat zaman kolonial Belanda.  Beliau memasuki IPB dan mengambil jurusan Fakultas Pertanian yang notabene merupakan Fakultas yang sedang digemari saat masa itu.

           Setelah menuntut ilmu di IPB kurang lebih sekitar 5 tahun, akhirnya beliau meluluskan diri nya dengan gelar Sarjana atau saat ini lebih akrab dengan sebutan S1.  Kakek saya adalah seorang yang rajin menuntut ilmu maka dari itu beliau melanjutkan pendidikannya ke tingkat yang lebih tinggi lagi.  Saat itu beliau tidak setengah - setengah untuk melanjutkan pendidikannya.  Beliau melanjutkan masa Perkuliahannya di Negeri Belanda.  Kota Wageningen adalah kota yang beliau pilih untuk melanjutkan pendidikannya tersebut. 

            Wageningen University adalah Universitas yang beliau pilih, disanalah beliau menuntut Ilmu untuk mendapatkan gelar Sarjana tingkat 2 atau S2 yang dimana pada masa itu seorang yang mendapat gelar S2 merupakan orang yang tergolong sangat cerdas dan terjamin dalam urusan pekerjaan.  Selama mengenyah pendidikan di Wageningen University, beliau mengambil jurusan Pendidikan tumbuhan atau sekarang disebut dengan nama Science Plant.  Wageningen University merupakan universitas yang pada saat itu terkenal dengan keunggulan pengajarnya di dalam bidang pertanian sehingga keunggulan tersebut yang menarik kakek saya untuk bersekolah di Negeri Belanda tersebut.

            Mengenai Wageningen University, pada tahun 1986 karena perubahan dari Undang-Undang Pendidikan Akademik, Wageningen University berubah fungsi dari sekolah menjadi Universitas dengan nama Landbouwuniversiteit Wageningen (LUW) (Universitas Wageningen Pertanian (Wau)).  Universitas ini bukan hanya institut tetapi melebihi dari Institut Pertanian dan namanya diubah menjadi Wageningen UR (University dan Research Center). Ini terjadi pada tahun 1997 karena ketika universitas dan DLO bergabung. Pada tahun 2009 diputuskan untuk hanya menggunakan nama bahasa Inggris dari universitas, nama resminya berubah  menjadi Universitas Wageningen (WU).

            Setelah menyelesaikan perkuliahannya di Wageningen university, kakek saya memutuskan untuk kembali ke Indonesia dan mencari kerja di Indonesia.  Sekembalinya beliau ke Indonesia, beliau diterima bekerja di Lembaga Hortikultura Departemen Pertanian sebagai Ahli Penyakit Tanaman.  Saat itu kantor yang beliau tempati adalah kantor pusat Hortikultura di daerah pasar minggu.  Walaupun kerjanya kadang selalu berpindah tempat, beliau lebih banyak menghabiskan waktu bekerjanya di Jakarta.

            Sekitar tahun 1957, kakek saya menikahi seorang wanita bernama Hasnah yang tidak lain dan tidak bukan merupakan Nenek saya sendiri.  Perkawinan mereka dikaruniai 3 orang anak dan tiga - tiga nya adalah anak laki - laki.  Anaknya yang pertama yaitu Tito Daswar said yang merupakan om saya.  Anak yang kedua yaitu Wasriniel Said yang merupakan ayah saya sendiri.  Anak terakhir dari mereka adalah Errisal Said.  Kakek dan Nenek saya juga dikaruniai sekitar 9 orang cucu.

PERANAN

            Mungkin kakek saya memiliki peranan yang sedikit berbeda dengan kakek - kakek lain yang mungkin pada zamannya lebih terlibat langsung dalam peperangan atau merupakan seorang saksi saat terjadinya peperangan.  Kakek saya tidak memiliki catatan sejarah dalam melihat terjadinya suatu peperangan, kakek saya pun tidak memiliki catatan sejarah dalam mengikuti peperangan apapun.  Kakek saya hanya mengikut ''Serunya'' peperangan melalui seperangkat radio karena pada saat itu keberadaan televisi masih sangat minim menurutnya.

            Saat wawancara yang saya lakukan di kediaman kakek saya di daerah bogor, saya meluncurkan beberapa pertanyaan seputar peranannya semasa era perjuangan.  Saya bertanya tentang apa saja kegiatan yang beliau lakukan semasa perjuangan Indonesia.

            Kakek saya menjawab bahwa selama masa perjuangan kakek saya lebih memilih melakukan penelitian - penelitian dalam bidang pertanian, kakek saya zaman dulu sering melakukan perjalanan dari Jakarta ke Kantor pertanian di puncak atau dulu hampir setiap akhir minggu kakek saya sering melakukan perjalanan ke Kantor Hortikultura di daerah Bandung untuk melakukan penelitian - penelitan terhadap tanaman yang ada saat itu.  Kebetulan pada saat itu kakek saya mendapat pekerjaan di Departemen Pertanian dengan bagian Penelitan Penyakit pada tumbuhan

            Selain itu saya juga bertanya tentang peranannya selama bekerja di bidang pertanian dan apa saja yang beliau lakukan selama bekerja di Departemen Pertanian.

            Dengan muka tersenyum kakek saya menjawab pertanyaan saya tersebut.  Kakek saya merupakan Pemimpin dari sebuah group kecil yang saat itu adalah satu - satu nya group yang meneliti tentang Penyakit - penyakit pada tumbuhan.  Group kecil tersebut hanya beranggotakan 5 orang dan kakek saya memimpin group itu dalam semua penelitian yang mereka lakukan.  Saat zaman perjuangan tersebut semua orang sangat terkfokus dalam terjadinya peperangan tetapi konklusi tersebut tidak berlaku bagi kakek saya dan group penelitinya tersebut.

            Memang kakek saya memiliki pengalaman yang menarik semasa masih bekerja di Departemen Pertanian dulu, sangat berbeda drastis dengan kakek - kakek lain yang kemungkinan besar lebih terfokus dalam peperangan.  Selanjutnya saya bertanya tentang apa saja yang dilakukan group kecil tersebut dan apa saja yang diteliti oleh group kecil tersebut.

            Kakek saya menjawab bahwa Group kecil kakek saya tersebut lebih terfokus dalam penelitian cara pemberantasan hama - hama tanaman, berhubung pada zaman  -  zaman tersebut sangat minim orang yang melakukan penelitian dalam bidang pertanian dan kakek saya melakukan penelitian tersebut untuk menemukan serum dan obat pembasmi terhadap hama tanaman. Berhubung pada era perjuangan tempo dulu belum ada peneliti yang meneliti tentang serum untuk mengusir hama, maka kakek saya melakukan penelitian tersebut dan melakukan penelitan terhadap tanaman yang sudah terkena hama.  Tujuan kakek saya dalam melakukan penelitian pada waktu tersebut agar bisa menerbitkan serum anti hama buatan dalam negeri.

            Setelah penjelasan yang sangat jelas dari beliau, saya bertanya lagi tentang apa lagi memori - memori yang masih teringat selama beliau bekerja di Departemen Pertanian.

            Kakek saya bercerita bahwa sekitar tahun 1963 beliau melakukan kegiatan penanaman pohon di Kebun Raya Bogor yang sekarang terkenal dengan pohon - pohonnya yang rindang.  Beliau bercerita bahwa saat penanaman pohon tersebut, beliau berkesempatan untuk berjabat tangan dengan Presiden pertama Republik Indonesia yaitu IR. Soekarno.  Berhubung kakek saya saat itu sebagai penganggung jawab lapangan saat penanaman pohon tersebut berlangsung maka kakek saya bisa berkesempatan untuk berjabat tangan dengan sang presiden pertama tersebut.

            Diakhir wawancara saya dengan beliau, saya bertanya tentang pendapat beliau yang berkaitan dengan indonesia tempo dulu dengan indonesia saat ini.

            Beliau menjawab dengan jelas bahwa Indonesia zaman dulu sangatlah berbeda dengan Indonesia saat ini, menurutnya Indonesia saat ini lebih terfokus dalam pembangunannya dan tidak terlalu memikirkan rakyat kecil sementara pada masa - masa terdahulu, Indonesia adalah negara yang antar warganya saling membantu dan pemimpinpun masih memikirkan kehidupan rakyat  kecil, tidak seperti saat ini yang dimana - mana terjadi korupsi dan lain - lain.

            Kesimpulan dari wawancara saya diatas adalah bahwa kakek saya memiliki peranan yang berbeda dengan peranan kakek - kakek lain, kakek saya lebih terfokus di bidang pertanian karena pada masa perjuangan kakek saya merupakan satu dari beberapa peneliti yane meneliti tentang serum anti hama di Indonesia. 

            Buat saya, beliau adalah orang yang memiliki inteligen tinggi terlihat dari prestasinya selama sekolah sampai bekerja di Departemen Pertanian, beliau adalah orang yang enak untuk diajak berbicara dan memiliki pola pikir yang terbuka.
Kakek Anwar Said

No comments:

Post a Comment