Friday, 31 May 2013

Tugas 2 - Biografi

Dari Serambi Mekah ke Kota Metropolitan


Status Indonesia memang sudah merdeka, tetapi bukan berarti semua masalah selesai begitu saja. Setelah proklamasi kemerdekaan, banyak sekali kekacauan yang terjadi di Tanah Air kita ini, baik yang bersifat kedaerahan maupun nasional. Begitu banyaknya kekacauan, pasti banyak pula saksi dari peristiwa-peristiwa tersebut. Pada hari Kamis, tanggal 30 Mei 2013 kemarin, saya berkesempatan untuk mewawancarai seorang saksi peristiwa sejarah, yang bernama Nenek Yunara. Nenek Yunara juga merupakan nenek dari salah satu rekan saya di komunitas Rohis, juga seorang siswa kelas XI IPA3. Nenek Yunara mungkin bukanlah seseorang yang berperan langsung di medan perjuangan, tetapi beliau merupakan seorang saksi berbagai peristiwa bersejarah di Tanah Air kita ini.

Nenek Yunara lahir di Banda Aceh, pada tanggal 10 Juni tahun 1950. Nenek Yunara merupakan anak keenam dari delapan bersaudara. Ayah beliau adalah seorang pengusaha ekspor-impor yang mengadakan kerjasama dengan pedagang-pedagang dari Malaysia.
Nenek Yunara mengawali ceritanya dengan kisah sebelum Nenek Yunara mencapai usia sekolah, ayah beliau ditangkap dan dipindahkan ke Medan. Ayah Nenek Yunara dituduh telah melakukan kerjasama dengan gerakan Darul Islam, atau Negara Islam Indonesia, yang dipimpin oleh seseorang bernama Daud Beureuh. Daud Beureuh sendiri dulunya merupakan Gubernur Militer di daerah Aceh, sehingga mendapatkan pengikut untuk DI/TII tidaklah menjadi hal sulit baginya, karena ia memiliki pengaruh yang begitu besar. Kembali ke cerita Nenek Yunara, ayah Nenek Yunara dituduh melakukan kerjasama dengan DI/TII karena banyak personil-personil DI/TII yang sering singgah di kediaman beliau untuk makan. Padahal, ayah Nenek Yunara menerima orang-orang itu hanya murni sebagai pengusaha yang ingin mencari nafkah. Tak lama setelah penangkapan tersebut, ayah Nenek Yunara dibebaskan karena tak ada bukti konkrit yang menunjukkan kalau beliau benar-benar bekerjasama dengan personil-personil DI/TII.
Sekitar tahun 1956, terjadi masalah dalam bisnis ekspor-impor ayah dari Nenek Yunara. Karena masalah dengan Malaysia, barang-barang yang seharusnya dikirim maupun diterima tetap stuck di tempat. Usaha ayah Nenek Yunara mengalami kebangkrutan, dan beberapa waktu setelahnya ayah Nenek Yunara meninggal. Peristiwa itu terjadi sekitar tahun 1958, dan kemudian keluarga Nenek Yunara menetap di Medan.

Pada tahun 1965, ketika PKI mulai beraksi, Nenek Yunara dan keluarganya pun sempat terlibat.  Saat itu, masyarakat yang tinggal di daerah tempat Nenek Yunara tinggal diberitahu oleh sekelompok orang—yang dicurigai merupakan anggota PKI—untuk membuat gorong-gorong di samping rumah-rumah mereka. Nenek Yunara dan teman-temannya belum mengetahui kalau gorong-gorong itu merupakan salah satu bagian dari rencana PKI. Nenek Yunara dan teman-temannya malah sering bermain di gorong-gorong itu. Menurut pernyataan Nenek Yunara, maksud personil-personil PKI meminta masyarakat untuk membuat gorong-gorong itu adalah sebagai tempat pembuangan untuk tubuh-tubuh masyarakat itu sendiri, karena pada awalnya PKI bermaksud untuk melakukan pembantaian. Pada awalnya, personil-personil PKI itu mengatakan gorong-gorong itu adalah persiapan untuk tempat persembunyian, karena dikhawatirkan aka nada perang melawan Malaysia. Pada masa ini juga, perempuan-perempuan di daerah tempat tinggal Nenek Yunara ditawarkan untuk bergabung dengan Gerakan Wanita Indonesia atau biasa dikenal dengan sebutan Gerwani.
Gerakan Wanita Indonesia merupakan sebuah organisasi wanita yang aktif pada tahun 1950-an sampai 1960-an, dan dikatakan memiliki hubungan erat dengan Partai Komunis Indonesia. Padahal, Gerakan Wanita Indonesia merupakan organisasi independen yang bergerak di bidang feminisme dan sosialisme.
Nenek Yunara sendiri tidak ditawarkan untuk bergabung dengan Gerakan Wanita Indonesia, tetapi kakak beliaulah yang ditawarkan. Tawaran tersebut ditolak oleh banyak kaum perempuan muda, umumnya karena mereka memiliki kesibukan lain, di antaranya bersekolah.

Nenek Yunara melanjutkan ceritanya. Setelah menikah, sekitar akhir tahun 1969, Nenek Yunara dan suaminya pindah ke Kota Lhokseumawe. Nenek Yunara mengatakan, saat itu di Kota Lhokseumawe terjadi kesenjangan sosial antara kaum pendatang dan putra daerah. Kesenjangan ini mengakibatkan terjadinya kekacauan di Kota Lhokseumawe, di mana banyak terjadi pembunuhan. Salah satu yang banyak terjadi adalah pembunuhan terhadap kaum pendatang, terutama orang Barat. Peristiwa ini tidak begitu banyak tersebar ke publik saat masa pemerintahan Soeharto, tetapi pasca-pemerintahan Soeharto, konflik ini bertambah semakin parah.

Kemudian, karena pekerjaan suaminya, Nenek Yunara sering berpindah-pindah tempat tinggal, dari Kota Lhokseumawe, Medan, Palembang, Jakarta, hingga Kota Bontang di Kalimantan. Pada masa reformasi, Nenek Yunara dan suaminya telah menetap di Tomang, Jakarta Barat. Beruntungnya, kediaman keluarga Nenek Yunara di Tomang dan rumah keluarga Nenek Yunara yang sedang dibangun di daerah Cinere, tidak terkena dampak buruk dari kekacauan saat itu, walaupun Nenek Yunara mengatakan ada beberapa tempat di dekat rumah beliau yang terbakar. Nenek Yunara juga mengisahkan, saat itu suami beliau pergi ke Cinere untuk melihat keadaan rumah yang sedang dibangun. Banyak mobil-mobil dan kendaraan lain yang sudah dalam keadaan terbakar atau terbalik. Rumah yang sedang dibangun itupun terkena lemparan batu, walaupun tidak begitu parah. Suami Nenek Yunara kemudian meninggalkan mobil di daerah Hang Lekir—agar tidak terkena amukan massa—dan menggunakan ojek untuk kembali ke Tomang. Nenek Yunara juga menceritakan kalau anak-anaknya yang berkuliah di Universitas Trisakti saat itu harus melompati pagar untuk keluar dan pulang ke rumah, karena ada pihak kepolisian yang menghalangi jalan keluar. Salah satu putra Nenek Yunara bahkan menderita patah tulang karena hal tersebut.

Nenek Yunara kembali mengisahkan, setelah beliau dan keluarganya pindah dari Aceh, adik dari ayah Nenek Yunara tetap bertempat tinggal di Aceh. Paman dari Nenek Yunara itu merupakan seorang pengusaha kecil-kecilan yang bernasib kurang baik.  Saat itu, Aceh memang sedang dalam keadaan kacau karena Aceh sudah dinyatakan sebagai ‘DOM’ atau ‘Daerah Operasi Militer’, karena itu baku tembak atau sejenisnya bukanlah hal yang tidak biasa saat itu, terutama saat hari mulai gelap. Tentara-tentara akan menembak siapapun yang dicurigai sebagai anggota ‘Gerakan Aceh Merdeka’ atau dikenal dengan sebutan ‘GAM’, begitu juga dengan anggota Gerakan Aceh Merdeka sendiri. Saat itu, paman dari Nenek Yunara sedang menutup tokonya setelah berjualan seperti biasa, dan tiba-tiba beliau tertembak, entah siapa yang menembak, pihak tentara atau GAM. Masyarakat sekitar tidak ada yang bisa menolong dengan segera, karena  keluar rumah saat terdengar bunyi tembakan sama saja dengan menantang maut. Ketika situasi dinilai sudah lumayan aman, masyarakat melihat jenazah paman dari Nenek Yunara sudah ditutupi oleh kertas koran.

Cerita-cerita yang dikisahkan oleh Nenek Yunara ini seolah menyadarkan kita, kalau kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 1945 tidak menjamin keamanan dan kenyamanan bagi kita untuk tinggal di Tanah Air sendiri. Semoga saja untuk ke depannya, Indonesia yang kita cintai ini bisa menjadi sebuah negara dengan kemerdekaan yang nyata, yang diisi dengan kesejahteraan rakyatnya, bukan lagi sebuah negara dengan status kemerdekaan yang kosong.

No comments:

Post a Comment